Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts

Monday, November 14, 2011

Air Minum untuk Rusa Monas

BERAWAL dari obrolan di twitter tentang nasib rusa di Taman Monumen Nasional (Monas), yang diberitakan media massa mengalami kekurangan makan dan  minum.  Teman-teman yang selama ini sama-sama memiliki perhatian kepada satwa pun terpikir untuk ikut andil dalam membantu memecahkan masalah itu.

Termasuk beberapa teman yang aktif di media sosial. Seperti Mbak Anny Djati, Bang Iwan Piliang, Mbak Lidia, dan Bang Dani. Secara spontan, mereka sepakat kopi darat. Tujuannya untuk berdaya bareng-bareng mengkonkritkan gagasan menyalurkan air minum bagi rusa di Taman Monas.

Tuesday, July 20, 2010

Anak Kucing

JAM-JAM berangkat kerja, depan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pasti ramai kendaraan. Kalau sudah begitu, sepertinya hampir semua orang di jalan raya hanya memikirkan dirinya masing-masing. Tak terlalu penting mendahulukan orang lain. Itulah awal mula kesemrawutan di sekitar Gambir.

Tetapi, pagi itu ada pemandangan yang lain. Benar-benar lain, karena tepat di tengah jalan persimpangan lampu merah, antara Stasiun Gambir dan Gereja Immanuel, ada seekor anak kucing. Ia panik karena setiap kali mau minggir, ada kendaraan lewat. Tiap kali mau menepi, ada kendaraan di depannya.

Tapi, si kucing tidak putus asa. Ia terus bergerak ke sana kemari. Kadang-kadang meloncat untuk menghindari gilasan roda mobil. Gerakan kucing itu menjadi perhatian salah satu pengendara sepeda motor yang kemudian menepi.

Pemilik sepeda motor berlari menuju ke tengah jalan untuk mendekati kucing. Sambil memberi aba-aba kepada pengemudi kendaraan agar tidak ngebut, pria itu mengangkat kucing, merapatkannya ke dada, lalu pelan-pelan kembali ke sepeda motor.

Anak kucing itu tidak dilepas di trotoar atau dilempar ke dalam area stasiun, melainkan langsung dibawa pergi oleh pengemudi sepeda motor tadi. Setelah seratus meter jalan, ia berhenti lagi. Lalu, melepas kucing di dekat Taman Tugu Monas.

Orang-orang yang berdiri di dekat halte melihat tindakan pria itu tadi sambil terbengong-bengong.

Friday, July 16, 2010

Bike to War

KALAU berangkat ke redaksi di bawah jam tujuh pagi, biasanya ruteku, Jalan Medan Merdeka Utara – Jalan Thamrin – Jalan Sudirman, relatif lancar.

Kalau jalan lancar, rasanya bisa menikmati perjalanan. Seperti pagi itu, ketika sedang lewat di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara.

Dari kejauhan aku kagum dengan seorang tentara yang berpakaian lengkap mengendarai sepeda angin atau onthel. Menurutku, ini patut di contoh. Hmm.. coba kalau semua orang seperti beliau, ibukota ini pasti bebas dari macet. Tentu saja ramah lingkungan.

Setelah kendaraanku berada di belakang sepeda yang ditunggangi tentara, mataku tertuju pada stiker bulat di bawah tempat duduk sepedanya. ‘bike to war.’

Tulisan itu, menurutku tidak umum. Biasanya, kan stiker-stiker yang sering dipakai para pengendara sepeda angin begini: ‘bike to work.’

Justru karena tidak umum, kreativitas tentara itu membikinku tertawa sepanjang jalan. Mentang-mentang tentara, bikin lelucon juga tidak jauh-jauh dari perang. Ia punya cara sendiri untuk kampanye bersepeda.

Wednesday, October 14, 2009

Kotoran Gorila Selamatkan Bumi

Tahi Gorilla bisa jadi ialah jalan keluar bagi planet ini. Pakar lingkungan dan alam liar terkemuka di Inggris, Rabu (14/10) mengatakan, melindungi primata besar tersebut dapat memberi cara mudah perbaikan pemanasan global, yang dikampanyekan program internasional yakni penghijauan kembali hutan

Amerika dan negara industri lain tengah mencari program penghijauan hutan di Afrika, Asia Tenggara dan Amerika Selatan demi menghadang efek perubahan iklim. Namun Ian Redmond, duta besar PBB untuk gorila, mengatakan, negara industri akan membuat kesalahan jika tak berkomitmen pada pelindungan gorila, sebagai bagian diskusi upaya penghijauan kembali hutan pada negosiasi perubahan iklim di Kopenhagen, Desember nanti.

"Jika kita menyelamatkan pohon namun hewan tidak, maka kita akan menyaksikan kematian lambat hutan-hutan tersebut," ujar Ian seperti yang dilansir Guardian. "Yang saya desakkan kepada pengambil keputusan di Kopenhagen, ialah mempertimbangkan gorila bukanlah barang mewah. Jika ingin kesehatan jangka panjang hutan terpelihara, anda harus melindungi mereka pula,".

Gorila, atau yang Ian sebut "tukang kebun milik hutan," adalah penting untuk melawan perubahan iklim. Hewan herbivora itu menyantap buah dan tumbuhan sebagai makanan utama. Hasil buangan pencernaan, ketika melewati sistem tubuh mereka, membantu bibit atau tumbuhan muda untuk tumbuh.

Peran besar nyata para gorila memang tak cukup jelas. Namun Ian meyakinkan, sejumlah besar spesies tumbuhan tidak dapat hidup dan berkembang tanpa hewan tersebut, atau gajah liar dan mamalia besar lain yang penting dalam pertumbuhan tanaman.

Gorila--yang terbunuh di area konflik perang sipil, menjadi korban pemburu ilegal dan tersingkir dari habitat gara-gara rumah mereka dijadikan tambang dan industri kayu--mulai terancam punah di penjuru Afrika. Bisa jadi, argumen Ian Redmond dapat membantu hewan tersebut dengan bentuk perlindungan beru.

Hutan-hutan dunia memang terbukt beraksi sebagai perangkap emisi karbon, menyedot sekitar 4,8 milyar ton karbon per tahun. Dalam perjalanan menuju pertemuan perubahan iklim di Kopenhagen, berkembang fokus terhadap program penghijauan kembali hutan di Afrika, Asia Tenggara dan Amerika Selatan.

Hanya, selama ini tidak ada perhatian langsung terhadap peran hewan mamalia besar--seperti gorila--dalam proses alami pertumbuhan tanaman atau lantai hutan.

Ian mengatakan, gorila sangat penting dalam pemeliharaan siklus hidup hutan tropis di kawasan bejana Kongo. Hutan di kawasan itu telah menyedot 1 milyar ton karbon setiap tahun. "Inilah manfaat sepesies tersebut. Mereka bukan ornamen. Mereka bukan sekedar hal menarik untuk dikaji, melainkan bagian dari ekosistem besar," tegas dia.

Semua spesies kera besar dianggap terancam punah. Dalam perang sipil selama hampir 20 tahun di wilayah Great Lakes, Afrika menjadi saksi perusakan lingkungan. Peledakkan tambang dan penebangan kayu ilegal dilakukan para militan demi mendapat uang untuk senjata.

Dua gorila dibunuh di Republik Demokrasi Kongo saban pekan dan tubuh mereka dijual sebagai daging ilegal. Fakta itu terungkap dari temuan investigasi oleh Spesies Terancam Punah Internasional.

Masih banyak gorila tinggal di luar dengan perlindungan relatif kecil dari taman nasional. Makhluk tersebut kehilangan habitat asli mereka karena urbanisasi yang kian cepat. Penduduk desa menjelajah semakin dalam ke hutan, menebang pohon untuk memproduksi arang.

By Republika Newsroom
Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 16:33:00
Penerjemah: itz