Showing posts with label ceritera. Show all posts
Showing posts with label ceritera. Show all posts

Thursday, June 3, 2010

Gocing (15)

PERNYATAANKU dalam pertemuan di aula balaikota dianggap sikap perang terhadap kebebasan wartawan nakal di Gunung Jaya. Heboh sudah barang tentu terjadi setelah itu. Bonarman membenciku.

Bahkan, dia menghasut teman-temannya untuk ikut-ikutan menjauhiku, Pak Rosyid, dan Prilia. Aku tidak peduli soal itu. Pikirku, tanpa merekapun sebenarnya aku bisa bekerja sendirian.

Aku tahu kelemahan Bonarman. Si Gigi ini wartawan yang sama sekali tidak kreatif, kecuali mengakali narasumber agar mau memberi hadiah.

Pernyataan kerasku di balaikota, mungkin hanya membuatnya jera untuk tidak menjual namaku dan mediaku untuk kepentingan pribadinya. Tapi, aku yakin, dia tetap tidak tahu malu untuk menerima amplop atau meminta uang pada narasumber.

Dan kalau itu yang terjadi, sudah pasti teman-temannya selalu dia jadikan tumbal. Menggunakan nama kelompok, biasanya memang lebih mudah untuk membuat narasumber atau pihak tertentu memberi uang.

Aku ingin mengerjai Bonarman lagi. Wartawan yang suka cari proyek dari dinas –dinas pemerintah ini harus dijauhkan dari teman-teman lainnya. Ingin kupecah belah kelompoknya.

Terpikir untuk melakukan itu karena suatu siang si Suroso bilang kepadaku kalau dia sesungguhnya marah pada Bonarman. Apa yang sampai bikin orang yang selama ini setia pada Bonarman ini? Tiap kali si Gigi memperoleh uang dari narasumber, kata Suroso, lebih sering disimpan sendiri, dari pada dibagi secara adil. Kalaupun dibagi-bagikan, jumlah uangnya pasti sudah dikurangi.

Suroso ini dulu pegawai pabrik di Kabupaten Brajasara. Lewat teman, dia mulai kenal dunia publistik. Karena dia anaknya rajin, tidak lama kemudian, Suroso diangkat jadi wartawan radio. Aku kenal anak yang selalu sisiran dengan membelah tengah rambutnya ini lewat Tudji.

Tak hanya soal jatah yang sering ditilep Bonarman yang membuat Suroso kesal. Sebenarnya Bonarman sudah tidak bekerja di media lagi. Dia dipecat karena berkelahi dengan redaktur kantor pusat. Setelah diselidiki, pangkal masalahnya ialah karena redaktur itu tidak pernah dapat bagian dari uang amplop yang selama ini Bonarman terima dari narasumber. Sehingga redaktur marah.

“Astaga,” kataku.

“Tapi, dia sampai sekarang masih petentang-petenteng dengan kartu pers di kantor walikota dan kantor polisi,” kata Suroso.

Menurut Suroso, Bonarman sangat keterlaluan. Dia masih berani minta uang pejabat dengan selalu membawa nama teman-teman yang biasa bermarkas di kantor polisi, tentu saja termasuk Suroso.

Saking marahnya, Suroso menyebut-nyebut Bonarman sebagai wartawan bodong atau gadungan. “Bloon.”

Aku bilang kepadanya, kenapa masih mau bergabung dengan si Gigi itu. Lalu Suroso jawab karena dia masih butuh Bonarman. Sebab, informasi berita dari kepala polisi selalu lewat si Gigi.

“Cing, jangan bilang ke Bonarman soal yang kukatakan tadi. Sebenarnya aku salut sama kamu. Konsisten.” Aku mengangguk dan menaruh tangan kananku di pundaknya. Lalu kami jalan ke luar dari warung kopi yang terletak di dekat lapangan sepak bola.

Di lain hari, pada waktu ada liputan di salah satu kampung, aku bertemu Tudji. Tidak biasanya si Tudji jadi pendiam seperti itu. Kemana si Bonarman. Kemana pula si fotografer penjual foto walikota itu. Aku jadi curiga.

“Sudah berani liputan sendiri kamu Dji. Katanya takut kalau tidak bareng teman-temanmu.” Tudji tidak jawab.

Setelah kudesak-desak, barulah dia mulai sedikit-sedikit menceritakan permasalahannya. Isi ceritanya kurang lebih sama dengan yang disampaikan Suroso tempo hari.

“Sial betul bang Bonarman, dia suka pakai nama mediaku juga kalau mau ketemu narasumber,” katanya sambil mengumpat.

Aku tertawa terbahak-bahak. “Bukannya itu sudah biasa Dji. Apa kamu tidak kebagian uang dari dia.”

“Masalahnya, dia itu sudah tidak kerja di media. Tapi masih kelayapan cari dana. Kamu tahu sendirilah, Cing.”

Kataku, “tentu saja aku tahu. Makanya aku berani teriak-teriak di balaikota soal bosmu itu.”
Tudji diam saja. Tudji mirip wartawan pemula yang masih culun. “Memangnya enak namamu dijual-jual si Gigi, Dji,” kataku sambil menertawakannya. Akhirnya kami pergi. Dia ke kantor polisi dan aku ke warnet.

Tibalah waktunya rencana memecah belah kelompok Bonarman, pikirku begitu sampai di depan warnet.

Beberapa hari kemudian, aku menemui Suroso dan Tudji agar kalau mengetik berita di warnet tempatku saja. Semula mereka keberatan. Tapi setelah kubilang, teman-temanku semuanya baik dan tidak pelit informasi.

“Aku, Pak Rosyid, dan Prilia juga selalu dapat informasi dari polisi seperti Bonarman itu,” kataku.

Kuceritakan pada mereka bahwa teman-teman di warnet justru lebih jago dan lebih kreatif dalam mengembangkan berita. Tidak melulu berita peristiwa kriminal. Jaringan narasumber anak-anak warnet juga lebih luas, buka cuma di kepolisian, masuk ke semua lini di Gunung Jaya.

Suroso dan Tudji seperti baru dengar pernyataan seperti itu. Kulihat wajah mereka tidak sesuram sebelumnya. Akhirnya kedua teman ini mau kuajak mengetik di warnet.

Sejak itu, mula-mula tiga hari sekali si Suroso dan Tudji mau mengetik di warnet. Lama-lama makin sering. Sampai akhirnya, beberapa teman Bonarman lainnya juga gabung di warnet.

Ternyata, keinginanku ‘mengobrak-abrik’ kelompok Bonarman berjalan mulus. Tidak sampai empat bulan setelah pertemuan besar yang diadakan walikota di balaikota, mereka mencoret nama masing-masing dari grup wartawan polres.

Ada kabar baru lagi setelah wartawan kantor polisi tercerai berai. Aku dapat kabar Bonarman sudah dapat kerjaan baru. Dia kerja di salah satu media bidang ekonomi. Kantor pusatnya di Jakarta. Sebenarnya dia akan dipekerjakan di Jakarta, tetapi entah bagaimana dia beralasan, akhirnya redaksi membiarkan dia bertugas di Gunung Jaya.

Tetapi, kelompoknya sudah tidak eksis lagi. Sebagian besar teman-temannya tidak mau lagi begadang di markasnya. Mereka pindah tempat nongkrong di warnet. Tinggal beberapa wartawan mingguan yang kadang medianya terbit kadang tidak terbit, yang gabung dengan si Gigi.

Keadaan itu betul-betul tidak menguntungkan Bonarman. Dia tidak punya otoritas untuk memaksa teman-temannya kembali ke grup yang pernah dia bangun.

Si Gigi kini bukan lagi wartawan kriminal, melainkan fokus ke ekonomi. Mau tidak mau dia harus belajar lebih banyak tentang permasalahan pembangunan di Gunung Jaya yang merupakan kawasan yang sedang berkembang. Isu soal pembangunan, teman-temankulah yang menguasai.

Sejak dia pindah media, aku berkali-kali menemukannya sedang murung di komplek walikota. Mungkin karena dia sering kebobolan berita penting tentang kebijakan publik. Kalau sudah begitu, pasti dia juga sering dimarahi redaktur.

Dalam keadaan seperti itu, aku yakin dia ingin berteman denganku dan teman-temanku yang biasa liputan tentang permasalahan pembangunan. Tetapi, aku yakin, dia tidak nyaman untuk minta pendapat pada kami. Aku membiarkannya sampai dia yang inisiatif datang bergabung.

Gocing (14)

KASUS pencatutan nama oleh Bonarman kuceritakan kepada teman-teman baikku. “Aku curiga, jangan-jangan dia tidak hanya minta uang lebaran pada kepala polisi, bisa jadi walikota dan humas pemerintah juga ditipu pakai nama kita.”

Damin yang sejak dulu geram terhadap Bonarman, langsung setuju usulanku untuk menyelidiki perilaku Bonarman. “Kita harus ketemu walikota,” kataku. Pak Rosyid dan Prilia sepakat.

Lalu, aku menelepon walikota untuk minta waktu ketemu. Pada waktu ditanya ajudan untuk keperluan apa kami menemui walikota, aku bilang ingin wawancara terkait dengan lebaran. Dengan begitu, bisa lebih gampang menemuinya.

Hari yang ditentukan tiba. Kamu datang ke balaikota. Kebetulan pada waktu kami tiba di ruang walikota, dia sedang bersantai. Mungkin karena suasana lebaran. Jadi, tidak banyak pekerjaan.

Setelah ngobrol sana-sini, barulah masuk ke tujuan utama kami. Pertama-tama, aku tanya kepada walikota mengenai perilaku para wartawan di saat lebaran tiba. Walikota yang suka blak-blakan ini langsung tertarik untuk menanggapi.

“Di meja itu banyak banget permohonan permohonan sumbangan tunjangan hari raya dari LSM. Dari teman-teman kalian juga banyak,” katanya.

“Siapa di antara teman-teman kami yang minta uang lebaran, pak,” kataku. Kemudian, walikota menyebutkan sekitar lima nama kelompok wartawan, di antaranya grup pers yang dibentuk Bonarman.

Karena kedatangan kami ke kantor walikota sebenarnya untuk memeriksa perilaku Bonarman, kami langsung minta walikota menunjukkan surat yang mengatasnamakan kelompok wartawan yang diberikan si Bonarman alias si Gigi itu.

“Ternyata benar, nama kita dicatut dia,” bisikku kepada Prilia yang duduk di sampingku. Lalu, Prilia panggil Pak Rosyid dan Damin agar mendekat. Kami semua saling pandang.

“Tiga hari lalu, Bonarman datang sama dua temannya. Sebenarnya wartawan itu agamanya apa sih. Tiap ada hari raya, minta uang THR terus. Dia minta supaya semua nama yang ditulis di suratnya itu dikasih jatah merata,” kata walikota.

Rupanya walikota tidak paham dengan penjelasanku pada waktu aku bertemu dia bulan lalu atau ketika si Gigi datang bersama fotografer untuk menjual foto. Waktu itu, aku minta walikota jangan pernah memberi uang pada jurnalis. Dalam hati, aku mengumpat walikota, kenapa dia mesti takut kepada wartawan. Jangan-jangan walikota ini memang punya kasus besar yang mengancam jabatannya.

Aku gondok juga. Kalau begini caranya, aku harus menjelaskan lagi kepada dia. Bahwa, aku dan teman-temanku ini bukan wartawan seperti Bonarman yang tidak punya malu untuk minta uang kepada narasumber. Kami wartawan yang masih memegang kode etik jurnalistik.

“Pak walikota, tolong lain kali kalau ada wartawan bawa-bawa nama kami untuk minta uang, jangan dituruti,” kataku. “Ini masa lebaran, pastinya banyak kelompok wartawan minta jatah.”

Pada saat itu, timbul niatku untuk mengerjai si Bonarman Gigi dan kawan-kawannya. Aku berpikir keras bagaimana caranya. Aku dapat ide. Karena aku dan walikota sudah kenal baik, aku berani minta tolong agar diatur waktu untuk pertemuan dengan para wartawan Gunung Jaya.

Awalnya, walikota keberatan. Karena kalau tidak ada kepentingan buat pemerintah, buat apa ketemu wartawan. Tapi setelah aku jelaskan ini untuk kepentingan bersama. Tujuannya supaya tidak ada pejabat yang diperas dan tidak ada wartawan yang dicatut namanya oleh kelompok pers.

Tapi akhirnya walikota setuju. Dia minta rincian rencana pertemuan. Kusarankan kepada dia bahwa acaranya nanti harus bertema seputar lebaran, misalnya halal bihalal. Aku yakin semua wartawan akan dengan senang hati datang.

Walikota menganggul-angguk tandak paham maksudku. Dia minta aku, Pak Rosyid, dan Prilia yang jadi semacam koordinator untuk mengumpulkan wartawan. Kami siap. Setelah walikota sepakat semuanya, kami pergi dari kantornya.

Tidak terlalu sulit mengundang wartawan di Gunung Jaya. Undangan tidak perlu formal. Cukup dilontarkan dari mulut ke mulut atau lewat pesan singkat. Tidak butuh waktu lama, rencana acara halal bihalal yang bertempat di kantor walikota sudah sampai ke semua telinga wartawan.

Sepekan setelah lebaran, acara silaturahmi antara walikota dan pers dilaksanakan. Seperti dugaanku, acara ini dihadiri oleh banyak wartawan. Bahkan, aku kaget, jumlah orang yang datang melebihi jumlah media yang selama ini kuketahui.Ternyata, banyak sekali nama media yang masih asing di telinga yang tercatat di buku pendataan yang dipegang humas pemerintah.

“Busyet, kang. Banyak sekali media di Gunung Jaya ini ternyata ya,” kataku kepada pegawai humas yang bawa buku data tamu wartawan.

“Iya, aku juga tidak tahu, media ini terbit di mana, sepertinya tidak pernah ada di ruang humas,” kata staf humas yang sudah lama akrab denganku itu. “Kebanyakan media mingguan. Coba lihat, ini ada juga nama media yang mirip dengan mediamu, Cing.”

Aku geli juga. Aku bisa menebak. Ini pasti kebanyakan wartawan jadi-jadian. Wartawan bodrek. Asal sebut nama media. Kalau ada acara seperti ini, kata staf humas temanku, humas pemerintah kota selalu pusing. Soalnya, tiap selesai acara, wartawan memburu pegawai humas untuk minta uang transportasi.

“Pernah aku hampir dipukuli, Cing. Gara-gara tidak memberi uang,” katanya sambil menunjuk ke beberapa orang yang duduk di barisan kursi paling belakang di ruangan pertemuan. Orang-orang itulah yang akan memukuli temanku ini.

Di bagian depan kursi yang diperuntukkan bagi wartawan, kulihat si Gigi, Tudji, dan si fotografer yang pernah menjual foto walikota. Mereka selalu bergerombol. Benar-benar teman sejati.

Begitu mengetahui posisiku dekat dengan staf humas, Bonarman dan Tudji melambai-lambaikan tangan untuk menyapa.

Tidak butuh waktu lama, ruangan aula balaikota berubah berkabut. Asap rokok mengepul. Aku ingat suasana seperti ini juga terjadi kalau di salah satu rumah di kampungku ada kondangan. Semua orang merokok. Pakaian jadi bau tengik.

Di depan sana, walikota didampingi sekretaris daerah yang dari tadi duduk di kursi menghadap ke tempat duduk wartawan mulai berdehem. Itu pertanda dia segera membuka acara. Dia bicara seperti sedang meresmikan jembatan baru. Formal sekali. Tetapi, intinya, dia ingin mengantarkan acara ini ke inti yang sebenarnya.

Yaitu, untuk acara bebas berpendapat bagi wartawan Gunung Jaya. Boleh mengritik pemerintah, boleh juga menyanjung pemerintah.

Tiba waktunya untuk tanya jawab antara wartawan dan walikota. Tudji berdiri. Dia seperti mewakili teman-temannya. Dia menyanjung-nyanjung pencapaian pembangunan pemerintah. Dia juga minta agar walikota dan humas lebih memperhatikan wartawan Gunung Jaya yang setiap hari meliput acara-acara pejabat.

Geli juga mendengar Tudji bicara seperti itu. Tapi, itulah dia. Si Tudji, wartawan kaki tangan si Gigi. Usai Tudji bicara, kelompok wartawan lainnya secara bergilir juga angkat suara. Apa yang mereka sampaikan tidak jauh-jauh dari yang disampaikan Tudji.

Menanggapi hal itu, walikota tertawa senang. Dia menyampaikan banyak terima kasih kepada pers yang selama ini jadi mitra pemerintah. Tapi, dia juga minta pers juga harus bisa berperan sebagai pihak yang kritis. Sebab, kalau pers tidak kritis, tidak banyak kelalaian pejabat di lapangan yang terungkap.

Walikota memuji tulisanku soal pembangunan waduk. Dia bilang, itu contoh tulisan bagus. Menjelaskan secara gamblang proyek pembangunan. Tapi juga sekaligus mengkritisi. Sehingga pemerintah bisa berbenah agar pembangunan tidak terlalu merugikan masyarakat.

Setelah walikota selesai bicara, tiba giliranku untuk menyampaikan uneg-uneg. Aku bicara keras. Aku membalikkan kata-kata walikota tadi. Dia minta wartawan kritis, tapi di satu sisi dia senang memberi uang pada pers. Berarti itu sama artinya menjebak wartawan untuk melempem.

Di sisi lain, kataku, wartawan juga yang nakal dan suka memanfaatkan kekuasaannya. Kusebut nama Bonarman. Dia suka minta uang ke pejabat. Kusebut juga dia suka mencatut nama wartawan untuk minta uang.

Perilaku macam ini, kataku, sangat memalukan dan merugikan. Memalukan nama wartawan yang dicatut dan memalukan pers. Aku sudah bertekad untuk membikin Bonarman malu setengah mati. Sehingga aku tidak perlu tedeng aling-aling lagi.

Lalu, kusebut namaku serta media tempatku bekerja. Kalau lain kali ada wartawan yang berani-berani mencatutku lagi, wartawan yang bersangkutan akan kulaporkan ke polisi.

Aku juga menyinggung kebiasaan wartawan di Gunung Jaya yang minta jatah tiap hari Jumat ke humas. Mereka datang ke humas dengan membawa klipingan berita tentang pembangunan pemerintah. klipingan berita itu jadi semacam tanda bukti untuk dan ditukar dengan uang.

Bahkan di Gunung Jaya ini juga kerap kali terjadi kasus pemerasan. Misalnya setelah wartawan ramai-ramai memberitakan suatu kasus, kemudian mereka mendatangi pihak yang diserang untuk minta uang. Ada istilah untuk menggertak pejabat atau pengusaha di Gunung Jaya, “mau panjang atau mau pendek.”

Masih di depan alat pengeras suara, aku bilang humas juga ikut terlibat dalam memberi peluang terjadinya kebobrokan sebagian besar wartawan di Gunung Jaya. Karena ada anggaran yang disediakan pemerintah kepada pers. Maka, sebagian wartawan mengejarnya. Mereka merasa berhak mengambil uang. Sebab, kalau tidak diambil, nanti uangnya bisa dikorupsi staf humas.

Kudengar, hanya Pak Rosyid, Damin, Prilia, pegawai humas dan walikota yang tepuk tangan begitu aku selesai bicara. Wartawan lain diam saja. Aku tidak tahu, apakah para wartawan itu marah padaku atau malu. Kulirik Bonarman. Dia cuma celingak-celinguk.

Gocing (13)

KALAU sudah menikmati pekerjaan, rasanya waktu berjalan lebih cepat, walau sebenarnya waktu tidak cepat dan tidak juga lambat. Bulan itu menjadi pekan pertama bagiku berlebaran di Gunung Jaya. Sepekan menjelang lebaran, teman-teman wartawan yang biasa meliput di kantor polisi ribut sekali.

Terutama Bonarman yang menjadi semacam ketua geng wartawan kriminal Gunung Jaya. Dia sibuk mendata nama-nama wartawan. Aku tidak tahu data itu mau diapakan, aku Cuma menduga mungkin untuk pembuatan kartu pers liputan kantor polisi.

Aku tidak mau terlibat dalam proses pendataan untuk kepentingan macam itu. Soalnya, redakturku di Jakarta mewanti-wanti agar aku tidak usah jadi anggota kelompok wartawan di daerah. Bisa-bisa nama media disalahgunakan oleh kelompok-kelompok pers.

Dua hari sebelum hari H lebaran, aku datang ke ruang kepala polisi. Waktu itu dapat penugasan dari kantor untuk minta data evaluasi kasus kriminal menjelang libur lebaran di Gunung Jaya.

Wajahku sudah familiar di lingkungan kantor polisi ini. Jadi, dengan mudah aku diterima kepala polisi. Dia memberikan semua data yang kuperlukan. Iseng-iseng kuperhatikan kertas karton seukuran post card di atas meja kepala polisi. Kebetulan posisinya, di dekatku.

Ternyata, post card kuning itu berisi nama-nama wartawan yang selama ini sudah kukenal. Nama-nama teman Bonarman ada di urutan paling atas. Kemudian di bagian bawah, ada namaku, Pak Rosyid, Damin, dan Prilia. Kemudian di sisi atas kartu, tertulis ucapan selamat hari raya kepada kepala polisi.

Melihatku tertarik pada kartu itu, pak polisi yang suka bicara blak-blakan ini, bilang kartu ini diberikan tiga hari lalu oleh Bonarman. “Bonarman itu kadang-kadang menyebalkan juga. Waktu menyerahkan kartu ini, dia juga minta uang hari raya juga,” kata dia.

Sambil menyodorkan kartu itu padaku, dia bilang, “Bonarman minta semua wartawan harus dikasih jatah THR.”

“Terus bapak berikan uang kepada Bonarman,” kataku untuk menyelidiki.

“Iya, masing-masing wartawan aku beri Rp 100 ribu. Memangnya kamu belum kebagian. Uangnya dibawa Bonarman sama Tudji kemarin,” ujar kepala polisi seraya memperhatikan kartu ucapan yang kupegang.

Tiba-tiba aku geregetan juga mengetahui kenyataan ini. Aku sudah mengingatkan Bonarman agar namaku jangan sekali-kali masuk ke pendataan yang dilakukannya pekan lalu. Dia mengiyakan. Tapi ternyata dia tetap mendataku. Bahkan kemudian datanya dipakai untuk minta uang ke kepala polisi.

“Pak, si Bonarman itu tidak beres. Saya tidak pernah minta dia memasukan nama ke kartu ini. Nama saya dicatut di sini. Kartu ini sih modus bodrek aja pak,” kataku kepada kepala polisi.

Aku ceritakan juga, Bonarman juga telah mencatut nama-nama temanku lainnya. Tapi rasanya percuma juga bicara panjang lebar dengan kepala polisi itu. Dia tidak respon.

Mungkin kepala polisi merasa tidak rugi juga memberi uang kepada wartawan. Soalnya, dengan memberi uang kepada wartawan, maka wartawan itu bisa melempem.

Tetapi paling tidak, kepala polisi ini tahu pendirianku dan teman-teman seperti Pak Rosyid, Damin, dan Prilia. Maksudku, lain kali kalau si Bonarman minta uang lagi dengan memasukkan namaku dan teman-temanku itu jangan sampai dipenuhi.

Pak polisi cuma senyum-senyum saja melihat aku menceritakan sikap soal amplop. Mudah-mudahan dia paham maksudku. Aku pamit kepadanya.

“Namamu Gocing, kan ya. Cing, ini ada bingkisan lebaran. Ambil saja tidak apa-apa. Kemarin Bonarman juga mengambil ini,” katanya. Aku tertawa sama kepala polisi dan dia tertawa juga. Aku tidak mengambilnya dan langsung pergi keluar ruangan.

Rupanya, Bonarman dan teman-temannya tahu aku baru ketemu kepala polisi. Aku langsung bilang ke Bonarman. “Bang, tolong kembalikan uang yang diberikan kepala polisi ke abang.”

Merah wajah dia. Tudji dan teman-teman di ruangan itu sepertinya juga kaget. Orang tua itu clingak-clingkuk. Lalu dia mengajakku keluar ruangan. Tapi, aku tidak mau. Aku minta dia mengembalikan uang waktu itu juga.

Tudji diam saja di sudut ruangan. Soalnya, dia sudah dapat bagian uang dari kepala polisi. Sementara, teman-teman wartawan lain berdiri dan menagih uang hadiah lebaran ke Bonarman yang masih clingak-clinguk.

“Semua nama teman-teman di sini diberi uang lebaran sama kepala polisi, aku dengar sendiri tadi soal itu,” kataku. Sengaja kusampaikan itu supaya Bonarman makin clingak-clinguk.

“Iya, nanti aku buka uangnya. Belum aku buka nih amplopnya,” kata Bonarman.

“Bang, aku minta uangku dan uang Pak Rosyid, Damin, dan Prilia dikembalikan sekarang juga,” kataku lagi.

Dalam keadaan seperti itu, Bonarman seperti orang yang sedang tersiksa bathinnya. Akhirnya dia bilang, “Ya sudah, aku kembalikan sekarang.”

Setelah uang jatah untuk teman-temannya Bonarman dibagi-bagi, Bonarman pergi ke ruang kantor kepala polisi. Tentu saja aku menemaninya. Kalau tidak kutemani, bisa jadi dia bohong.
Kepala polisi hanya tertawa melihat kami datang untuk mengembalikan uang.

“Lain kali aku bisa marah kalau abang sampai pakai namaku lagi,” kataku setelah keluar dari ruang kepala polisi.

Tuesday, June 1, 2010

Gocing (12)

SEMINGGU setelah aku mengirim surat kepada keluarga dan teman-teman di kampung, aku dapat kiriman balasan. Tiga hari sebelum aku terima surat, Peci menikah dengan tetangga. Tulisan suratnya jauh lebih rapi dari surat-surat sebelumnya. Pasti sobatku itu lagi mencapai puncak-puncak kebahagiaan.

Dia bercerita, nenekkulah orang yang paling berperan menyukseskan pesta perkawinan yang diadakan secara kecil-kecilan. Seekor sapi jantan peliharaan nenek disembelih. Nenek menjual hewan piaraan itu dengan harga sangat murah kepada keluarga si Peci.

Masih dalam surat Peci, kalau saja nenekku tidak menjual harga hewan piaraan itu dengan harga murah, mustahil pesta perkawinan Peci bisa dilaksanakan. Karena awalnya, mereka tidak ingin mengadakan pesta.

Pikirku, Peci memang patut mendapatkan itu karena dia orang yang sangat baik dengan keluargaku. Selama ini selalu membantu kami. Terutama ketika aku berangkat sekolah ke kota Wonogiri. Dengan setia dia mencarikanku asrama, kemudian dia selalu membawa titipan lauk pauk dari nenek untukku.

Peci juga bercerita bagaimana dia melamar calon istrinya. Katanya, mula-mula dia tidak yakin akan diterima orang tua si perempuan. Karena, pada waktu itu, sebenarnya calon istri Peci masih ingin sekolah. Tapi karena Peci orangnya santun dan taat mengaji, akhirnya lamaran diterima.

Cerita di malam pertama yang membuatku tertawa. Waktu itu, istri Peci, sangat takut. Dan Peci sendiri malu untuk tidur satu ranjang. Akhirnya, Peci memilih tidur di bawah. Situasi seperti itu berlangsung sampai tiga hari. Begitu masuk malam ke empat, kata Peci, dia sudah tidak malu-malu lagi. Begitu juga dengan istrinya.

Aku senang kehidupan Peci setahap demi setahap berkembang. Surat dari Mangun dan Cepuk datangnya juga hampir bersamaan tidak lama setelah suratnya si Peci kuterima. Kehidupan mereka juga membaik.

Mereka juga sudah menetapkan hari pernikahan. Berarti tidak lama lagi, Mangun dan Cepuk akan berumah tangga. Itu artinya, cita-cita mereka jadi mantri sudah tercapai.

Jalan hidup teman-temanku memang sederhana. Sekolah tidak perlu tinggi-tinggi, yang penting bisa bekerja dan tetap melayani sesama di kampung. Setelah itu berkeluarga dan merencanakan punya anak.

Aku pun juga ingin merasakan kebahagiaan seperti yang ditempuh teman-temanku. Hanya saja, aku mengambil jalan berbeda, pergi merantau ke ibukota, mengenyam pendidikan lebih tinggi di universitas, dan mengadu nasib.

Aku bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan universitas dengan hasil yang baik. Aku tidak menganggur lama-lama karena segera mendapat pekerjaan di kantor media massa yang bagus.

Setelah merapikan kamar kos, aku pamit kepada ibu kos, untuk berangkat kerja. Hari itu, aku akan wawancara walikota Gunung Jaya seperti rencana semula.

Sebelum berangkat, aku memberitahu tempat liputanku ke Pak Rosyid, Damin, dan Prilia. Para wartawan memang punya kebiasaan seperti itu. Tujuannya untuk koordinasi.

Sampai di komplek kantor walikota, aku ketemu Bonarman. Dia bersama temannya yang kuketahui sebagai fotografer yang tempo hari ketemu di kantor polisi. Tapi, tidak kulihat Tudji di sana.

Mereka bawa-bawa foto walikota. Foto itu sudah dimasukkan ke frame yang memiliki ukuran besar. Aku tanya ke Bonarman, foto kepala daerah Gunung Jaya ini mau dikirim kemana.

“Biasa Cing, ini mau diberikan kepada yang berhak,” kata Bonarman. Aku jadi penasaran. Dalam pikiranku muncul tebakan-tebakan kecil, mungkin foto ini mau diserahkan kepada walikota.

Setelah itu, aku naik ke lantai dua kantor walikota. Sementara, Bonarman dan fotografer koran tadi duduk di ruang humas pemerintah. Lewat bantuan ajudan yang sebelumnya sudah kukenal, aku dapat dengan mudah ketemu walikota di kantornya.

Aku tidak menyia-nyiakan waktu. Aku langsung wawancara dia. Sekitar dua puluh menit kemudian, ajudan menyelewa waktu wawancara untuk memberitahu tamu kepada walikota. Tamunya wartawan. Karena wartawan, walikota mengizinkan masuk.

“Selamat pagi bapakku. Semoga sehat selalu hari ini,” kata Bonarman. Senyum Bonarman tidak putus-putus. Dia mencium tangan walikota dua kali. Fotografer tadi juga mengikuti Bonarman.

Kalau Bonarman ada, suasana sudah pasti menjadi lebih meriah. Karena dia sepertinya sangat senang mengobrol dan sangat senang pidato. Kadang-kadang berusaha melucu, padahal tidak lucu. Gara-gara si Bonarman ini, terpaksa wawancaraku berhenti, karena walikota rupanya lebih tertarik dengan aksinya.

“Maaf bapakku, menyela wawancara dengan Gocing sebentar saja,” kata Bonarman.

Aku betul-betul merasa terganggu. Kecewa. Tapi ya, tidak bisaberbuat-apa-apa. Jadi, akhirnya hanya bisa memperhatikan Bonarman mengobrol dengan walikota di ruangan yang sama. Sambil melihat ke Bonarman, aku berpikir-pikir, julukan apa yang tepat buat dia. Gigi. Ya, Gigi saja. Karena struktur gigi Bonarman ini tidak teratur dan bagian depan maju semua.

Ajudan walikota rupanya juga menunggu di dalam ruangan. Mungkin dia takut atasannya dikerjai oleh Bonarman.

Dugaanku semula ternyata terbukti. Bonarman dan si fotografer botak itu sedang menawarkan foto walikota dengan pakaian dinas. Mereka merayu walikota supaya mau membayar foto. Bonarman sampai memajang foto raksasa tadi di atas kursi sambil mengelus-elus kacanya di bagian kaki gambar walikota.

Walikota yang tadinya tidak tertarik pada foto yang menggambarkan wajah angker itu akhirnya menyerah oleh kelihaian pemasaran Bonarman. Lantas, walikota memanggil ajudan. Setelah dibisiki, ajudan pergi. Dua menit kemudian datang lagi sambil membawa dua amplop coklat.

“Makasih banyak bapakku. Mohon diri. Maaf mengganggu,” kata Bonarman diikuti si fotografer.

Iseng-iseng aku tanya kepada walikota. Berapa yang yang dikeluarkan untuk membeli foto karya fotografer teman Bonarman tadi. “Tidak banyaklah, kasihan sampai merayu-merayu begitu. Kenapa temanmu si Bonarman itu selalu minta uang,” kata walikota. “Suka maksa kalau minta, seperti yang kamu lihat tadi.”

Aku menjawab. “Lain kali bapak tidak usah memberi uang ke wartawan. Menurut saya itu jadi kebiasaan.”

“Mana bisa tidak dikasih, kamu lihat sendiri tadi. Dia bawa barang ini, lalu dibuat alasan untuk minta,” kata walikota.

Aku ingat kata-kata Pak Koting. Lalu kuceritakan pada walikota. Menghadapi wartawan sebenarnya tidak perlu takut. Biasanya mereka bilang akan memberitakan kebijakan pemerintah yang jelek-jelek.

“Kalau bapak merasa kebijakan-kebijakan pemerintah sudah benar, ya tidak usah takut. Paling mereka cuma menggertak saja,” kataku.

Sebenarnya aku tidak mau panjang-panjang mengobrol soal perilaku wartawan model Bonarman. Tapi, karena walikota sepertinya orang baik dan jujur, aku pun menanggapinya. Tentu saja kompensasinya, dia harus memberiku data-data penting untuk bahan berita.

Selesai wawancara aku segera pamitan untuk meninggalkan ruangan walikota. Tapi, sebelum itu, walikota merogoh kantongnya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang Rp 100 ribu. Diserahkannya uang itu padaku.

“Pak walikota tidak perlu memberiku uang. Terus terang saja ya pak, kadang-kadang yang menjerumuskan wartawan untuk menyukai amplop itu narasumber juga.”

Walikota sepertinya tidak enak hati karena uang yang diulurkannya kutolak. Lalu dia memasukkan uang itu lagi ke kantong celana. Mungkin dia menganggapku orang aneh.

Tugas pertamaku hari itu selesai dengan baik. Data untuk bahan berita lengkap. Aku juga dapat pengalaman baru lagi tentang modus wartawan nakal mencari uang.

Gocing (11)

AKU makin banyak tahu sisi-sisi buruk para wartawan. Ternyata Pak Koting di perkuliahan benar. Perilaku mbodrek alias ngamplop sudah bukan jadi rahasia umum lagi di lapangan. Kantor redaksi boleh kampanye antiamplop, tapi kenyataannya, amplop telah jadi mata pencaharian.

“Yah Cing, kalau mengandalkan gaji kantor yang tidak naik-naik, mana bisa hidup kita,” kata Bonarman suatu pagi ketika para wartawan kumpul di kafe. “Lagipula bos-bos kita juga pada main sendiri. Sekarang sih, prinsipku, tidak memeras sajalah.”

“Beda bang, kalau di tempat kerjaku, bisa dipecat kalau ketahuan terima amplop. Kalaupun tidak bisa menolak, uang itu harus diserahkan ke kantor,” kataku.

Pernyataanku malah jadi bahan tertawa teman-teman. Tudji bertanya balik padaku. “Kau tidak tahu yang sebenarnya terjadi, bos-bos kita itu, mainnya lebih canggih, Cing. Main proyek.”

“Realistis ajalah. Kalau dikasih uang terima saja, yang penting tidak minta paksa,” tambah Bonarman yang diiyakan teman-teman lainnya.

Lama-lama aku jadi seperti mahasiswa yang didoktrin. Dengar pernyataan –pernyataan teman tadi, aku jadi merenung. Mungkin informasi mereka benar, bos-bos di redaksi media di Jakarta, pasti ada yang nakal juga. Tapi levelnya lebih tinggi daripada wartawan di lapangan.

“Tidak bang, aku tetap begini saja. Aku tidak akan merusuhi kalian kalau terima amplop. Tapi, aku tidak. Aku nanti malah malu,” kataku.

Setelah semua pesanan kami datang, kami makan ramai-ramai. Namanya juga baru liputan jauh, jadi kami makan seperti orang belum makan selama seminggu. Aku sudah benar-benar dekat dengan kelompok Bonarman.

Di lain hari, wartawan yang ngumpul di balai wartawan ini jumlahnya banyak sekali. Banyak yang belum kukenal. Ternyata banyak sekali wartawan di Gunung Jaya. Mungkin karena sikap dan wajahku ndeso sekali, para wartawan yang baru datang itu kasihan sehingga mengakrabiku.

Kami semua jadi teman. Waktu itu malam setelah makan ramai-ramai di kafe. Kepala polisi datang ke balai wartawan. Kulihat dia panggil Bonarman. Sebelum polisi pergi lagi, dia menyerahkan beberapa lembar uang Rp 100.000 kepada Bonarman.

Setelah Bonarman kembali masuk, dia mengajak beberapa orang diskusi. Kira-kira intinya uang itu akan dibelanjakan atau dibagi-bagi. Ada yang minta dibagi saja. Tapi, sebagian besar minta dibelanjakan saja.
“Beli anggur saja, bang,” kata Tudji. Teman-teman yang lainnya kemudian setuju usul Tudji.

Jadilah kemudian, Tudji dan dua orang wartawan pergi keluar untuk beli anggur. Tapi, sebelum mereka pergi, Tudji menyarankan agar minumnya tidak di balai wartawan.

Dalam hati, mengerikan juga ini teman-temanku. Aku tidak menunggu Tudji pulang dari beli anggur. Aku pulang karena hari sudah larut malam. Soalnya, besok harus bangun pagi-pagi untuk wawancara walikota Gunung Jaya tentang rencana pembangunan waduk.

Awalnya, Bonarman mencegah aku pulang duluan karena acaranya belum selesai. Dia bilang, sekali-sekali aku mesti ikut pesta persahabatan.

Sepanjang pulang, aku tertawa sekaligus kasihan juga sama teman-teman. Mereka diberi uang sama kepala polisi, aku yakin, pemberian uang tadi tidak bebas nilai. Pasti ada sesuatu yang diinginkan dari polisi itu, misalnya lain kali kalau ada kasus yang menyudutkan korps polisi, wartawan jangan terlalu galak dalam menulis berita.

Tapi, teman-temanku sepertinya senang-senang saja menerimanya. Bahkan menanggapi itu rejeki nomplok yang harus benar-benar disyukuri. Aku jadi ingat kata Bonarman tadi, toh, ada bos media suka pesta macam itu. Tapi, levelnya lebih canggih dan orang yang membiayai juga lebih berpengaruh.

Sampai di kos, aku mencatat pengalamanku barusan. Nanti, pengalaman ini juga akan kuceritakan kepada nenekku di kampung. Belakangan adik dan ibuku juga tertarik untuk mengetahui soal pekerjaanku sebagai wartawan.

Tentu saja, si Peci, Mangun, Cepuk, dan Gendut, tidak akan pernah melewatkan cerita-ceritaku. Mereka ini orang-orang sederhana yang selalu membuatku semangat dan kuat.

Gocing (10)

KESUKAANKU begadang malam di depan kantor polisi, kegesitanku mengejar mobil polisi yang hendak menuju ke tempat kejadian kriminal. Ketelatenanku wawancara narasumber. Ternyata itu diperhatikan oleh Bonarman dan teman-teman. Lama-lama mereka memperhitungkan keberadaanku di antara mereka.

“Cing, nanti kalau ada mobil TKP keluar, kabari aku ya,” kata Tudji. “Serius Cing, jangan sampai aku ditegur kantor karena kamu membobol berita lagi.”

“Siap, nanti tak kabari. Tapi jangan tidur. Lagi pula, kenapa kamu tidak ikut nongkrong di luar sini denganku,” kataku.

“Anak-anak pada di dalam semua,Cing. Tidak enak aku kalau di sini sendirian,” jawab Tudji. “Kan, ada aku di sini, bro,” kataku. Tidak lama kemudian, Tudji masuk.

Kalau lagi di kantor polisi, wartawan kelompok Bonarman memang selalu berada di ruang pers. Ruang yang dianggap seperti tempat mengerikan bagi kelompok Pak Rosyid. Bagaimana tidak, di sana isinya wartawan yang suka amplop semua. Wartawan yang gatal pantatnya kalau tidak dapat amplop dalam sehari.

Aku sendiri juga baru sekali masuk ke ruangan itu. Sekali-sekalinya masuk ke sana, aku diceramahi Bonarman. Ruangannya pengap dan bau rokok. Semua kain di sana bau rokok. Pada waktu baru keluar dari ruangan itu saja, pakaianku jadi bau rokok. Makanya, aku juga malas ke sana.

Sejam setelah Tudji masuk ke ruang wartawan, ada mobil TKP polisi keluar. Aku buru-buru menelpon Tudji. Tidak lama kemudian, semua meluncur mengejar mobil.

Dari hal-hal semacam itu juga, lama-lama aku jadi akrab dengan teman-teman Bonarman. Setelah tiga bulan di Gunung Jaya, aku sudah bebas masuk ke ruang pers atau menurut Pak Rosyid, ruang peras itu. Walau begitu, aku jarang berlama-lama di sana karena pengap.

Sejak itu, pekerjaanku menjadi lebih ringan. Karena Bonarman, Tudji, dan teman-teman wartawan lain selalu memberiku kabar kalau ada kejadian penting. Sebaliknya juga begitu. Aku pasti mengabarkan semua hal terkait berita kepada mereka.

Dalam situasi aman seperti itu, timbul niatku untuk menyelidiki operasi amplop yang sering dilakukan teman-teman itu. Ternyata, Bonarman sangat dekat dengan kepala polisi. Hampir tiap pagi, dia menunggu kepala polisi datang untuk bersalaman.

Setelah itu, kepala polisi menyelipkan sesuatu ke kantong pakaian Bonarman. Aku bisa tahu sedetail ini karena aku juga ikut Bonarman menunggu kepala polisi beberapa kali.

Terkadang, amplop berisi uang itu, dipakai Bonarman untuk menraktir teman-teman di ruang wartawan. Misalnya, beli kopi, rokok, mie ayam. Kalau perabot ruang wartawan rusak, Bonarman minta uang ke kepala polisi untuk membeli perabot baru.

“Kenapa kamu kalau dikasih amplop tidak mau, kan kita tidak minta, cuma dikasih,” kata Bonarman.
“Bagiku, itu tetap tidak boleh bang. Aku sendiri sedang latihan disiplin untuk tidak menerima hadiah-hadiah, supaya aku netral. Ditambah lagi kantor melarangku dengan keras.”

“Ambillah, tidak apa-apa. Aku tidak akan bilang kantormu,” kata Bonarman lagi. “Sayang ini uang kalau udah dikasih ke kamu, terus tidak diambil.”

“Lebih baik uangnya buat teman-teman sajalah. Aku tidak mau, takut,” kataku minta supaya pembicaraan amplop yang baru saja dikasih oleh kepala polisi dihentikan saja.

Lama kelamaan, teman-temanku di kantor polisi ini memahamiku. Aku ceritakan kedekatanku dengan anak-anak yang biasa nongkrong di kantor polisi dengan teman-temanku yang biasa nongkrong di warnet. Pak Rosyid salut juga denganku bisa masuk ke kelompok Bonarman.

Kedekatanku ini juga sangat menguntungkan dari sisi informasi berita. Bonarman selalu dapat info kejadian dari polisi. Kalau dia dapat info, pasti memberitahu kepadaku. Nah, aku tentu tidak mungkin menyimpan sendiri, semuanya aku sampaikan juga ke teman-temanku seperti Pak Rosyid, Damin, dan Prilia.

Gocing (9)

SUATU hari, semua jurnalis berkumpul di kantor polisi. Ada Damin, Pak Rosyid dan Prilia. Semua teman-temannya Bonarman juga kumpul di sana. Kami semua berada di ruang aula menunggu dimulainya acara konferensi pers yang akan diberikan kepala polisi.

Kuperhatikan, teman-teman dekatku sama sekali tidak mau bergabung dengan kelompok Bonarman sejak berada di luar aula. Mereka tidak peduli satu sama lainnya. Kalau aku, posisinya netral. Karena waktu dapat tugas di Gunung Jaya tidak ada perintah untuk ikut konflik.

Aku ngobrol dengan siapa saja, termasuk Bonarman, walau dia agak kikuk. Mungkin karena perilaku ngamplopnya kuketahui pas liputan berita kriminal malam itu. “Pak Bonarman, kasih tahu aku dong kalau ada info-info berita, biar aku tidak kebobolan,” kataku. Bonarman bilang. “Siap.”

Teman-teman wartawan Jakarta yang baru datang ke acara ini, ketika melihat formasi duduk wartawan Gunung Jaya itu, mungkin tidak merasa ada sesuatu yang janggal. Formasi duduknya adalah formasi perang dingin. Dan mereka saling buang muka.

Ketika kepala polisi sudah memulai siaran pers, semua terdiam. Begitu dibuka sesi tanya jawab, sebagian wartawan melontarkan berbagai pertanyaan. Tapi, di antaranya yang bertanya, hanya Prilia dan Pak Rosyid yang kritis. Menusuk ke akar masalah.

Sedangkan beberapa pertanyaan yang dilontarkan Bonarman, terkesan cuma formalitas dan sebenarnya tidak perlu ditanya, aku saja wartawan baru sudah paham. Dari apa yang terjadi dalam siaran pers itu, aku tahu wartawan mana yang berkualitas dan mana yang masih perlu banyak belajar.

Usai siaran pers, seperti biasa, ramai-ramai ke warnet langganan. Tapi sebelum jalan ke tempat parkir kendaraan, salah satu teman Bonarman, Purwoko, datang tergopoh-gopoh. “Ini, ada titipan dari humas,” kata Tudji.

Tudji menyerahkan uang Rp 50-an ribu beberapa lembar ke arah Pak Rosyid. “Bos, kembalikan uang itu ke humas,” kata Pak Rosyid dengan nada agak keras. “Udah dikasih Pak Rosyid, bagaimana ini,” jawab Purwoko. Lalu, Pak Rosyid mengajak kami semua pergi, kecuali Tudji.

Sampai di warnet, Pak Rosyid bilang. “Bodrek banget anak-anak itu. Pantatnya akan panas kalau sehari saja tidak dapat amplop.”

Pada waktu itu, aku cerita pengalamanku waktu liputan kriminal bareng teman-teman Bonarman, termasuk si Tudji tadi. Pola ngamplopnya sama. Setelah pulang, mereka memberi uang.

“Pak Rosyid, mereka tidak tahu malu juga ya, sudah ditulis di media, masih saja kelakuannya seperti itu,” kataku.

Kami ngobrol kelakuan wartawan dan amplop. Memang benar bahwa Bonarman dan teman-teman berasal dari media yang pemilik modalnya pelit sehingga gaji wartawannya kecil. Tapi, apa itu bisa membenarkan wartawan menerima amplop, sedangkan kode etik jurnalistik jelas-jelas melarangnya.

“Bukan cuma karena redaksinya pelit menjamin kesejahteraan pegawainya sehingga di lapangan, mereka cari sampingan seperti amplop, tapi juga kembali ke mental wartawannya,” kata Prilia.

Aku tambah pengetahuan lagi. Pak Koting, dosenku, memang sempat menyinggung soal mental wartawan. Kini, aku benar-benar berada di antara mereka yang punya mental seperti itu.

Satu lagi yang tak habis pikir ialah kenapa Bonarman dan Tudji memberi uang kepada kami. Dan mereka selalu bilang uang titipan. Apa mereka selalu mencatut nama media kami. Terus mereka pura-pura menyerahkannya pada kami, karena mereka tahu, kami akan menolak.

Jadi, itu semacam teknik antisipasi, jika suatu hari nanti humas polisi menelpon kami untuk mengatakan uang amplop sudah dibagi-pagi kepada wartawan lewat perwakilan. Kalau begitu caranya, kotor sekali mereka.

“Itulah kenapa kami dulu sampai menulis kelakuan mereka, mereka juga suka main proyek,” kata Pak Rosyid.

Melalui cerita-cerita teman yang sudah lebih senior jadi wartawan itu, pelan-pelan membangun sikapku sebagai jurnalis muda. Jadi, ada dua golongan wartawan di Gunung Jaya ini, ada yang hobi amplop atau idealis seperti teman-temanku. Nah, tinggal, aku memutuskan memilih jalan yang mana.

Tentu saja aku bangga punya teman-teman wartawan seperti Pak Rosyid, Damin, dan Prilia. Mereka membikinku semangat untuk jadi wartawan yang punya kehormatan. Tidak mau jadi jurnalis yang biasa-biasa saja atau tidak punya prestasi, tapi gemar mengejar amplop.

Sunday, May 30, 2010

Gocing (8)

KARENA setiap hari harus menulis minimal tiga berita, dalam waktu sepekan, aku mulai bisa lancar menyusun data-data hasil wawancara menjadi baris- baris kalimat. Motivasi teman-temankulah yang membikin aku tetap bersemangat sampai akhirnya redakturku jarang protes karena tulisanku kacau balau.

Saat sudah memasuki pekan ke empat. Sudah banyak wartawan yang liputan di daerah Gunung Jaya yang kukenal. Sehabis mengirimkan berita ke redaksi dari warnet langganan, aku iseng-iseng main ke ruang wartawan di kantor polisi. Ternyata di sana ada beberapa wartawan yang usianya sudah tua.

Salah satunya bernama Bonarman. Dia sering hadir mengikuti acara-acara konferensi pers yang dilakukan polisi. Waktu aku masuk dan dia melihat kedatanganku, sikapnya seperti sedang punya masalah besar denganku.

Dia bicara nyerocos yang intinya tidak menyukai teman-temanku yang biasa mengetik satu warnet denganku. Dari cerocosan Bonarman bisa disimpulkan kalau saat ini sedang terjadi konflik besar antar wartawan. Kelompoknya Bonarman tidak suka dengan teman-temanku karena belum lama ini mereka pernah menulis tentang wartawan yang menerima kucuran uang dari pengusaha.

Wartawan yang terima uang dari pengusaha itu tidak lain adalah kelompoknya Bonarman ini. Aku tahu itu karena Bonarman mengakui sendiri.

“Menerima uang itu urusan masing-masing wartawan. Yang penting tidak mempengaruhi berita. Kenapa juga hal ini mesti ditulis sama mereka,” kata Bonarman.

Dan karena aku dekat dengan Damin, Pak Rosyid, dan Prilia, maka Bonarman pidato tentang ketidaksukaannya dengan teman-temanku itu. Dan secara tersirat, Bonarman juga menolak kehadiranku di lingkungan kantor polisi yang sepertinya ingin dikuasainya.

“Aku tidak tahu soal itu. Aku masih baru di sini dan ingin banyak belajar dengan teman-teman semua,” kataku berharap agar Bonarman diam.

Dalam hatiku, wartawan macam Bonarman inilah yang dimaksud oleh Pak Koting sebagai wartawan amplop. Wartawan yang merusak citra dunia pers. Mereka merasa benar sendiri.

Aku cuma diam saja. Bonarman bicara macam-macam. Sampai akhirnya dia diam sendiri setelah mobil polisi keluar. Belakangan aku tahu, mobil itu sedang menuju ke tempat kejadian perkara kriminal. Karena Bonarman dan teman-temannya langsung lari menuju sepeda motor dan selanjutnya mengejar mobil polisi, akupun ikut dengan motorku sendiri.

Aku berada di baris paling belakang rombongan Bonarman. Malam ini aku mulai belajar lebih banyak. Watak wartawan itu beda-beda, ada yang tidak suka diganggu kalau terima duit dari narasumber, tapi ada juga yang idealis dan berani menulis perilaku nakal wartawan di lapangan.

Dalam perjalanan mengikuti mobil polisi, aku juga bersyukur, rupanya begini cara kerja wartawan kriminal. Naluri berita harus sensitif. Kalau melihat mobil polisi jalan dari kantor polisi, aku harus curiga. Pasti ada kejadian penting.

Benar saja. Ada perampokan di salah satu kampung. Begitu tiba, polisi tadi segera menemui korban dan setelah bincang-bincang sebentar mereka melakukan olah tempat kejadian perkara begitu.

Sepanjang liputan di tempat itu, Bonarman dan teman-temannya tidak ada yang mau bersahabat denganku. Mereka sepertinya tidak menginginkanku berada di tempat ini. Tapi, aku cuek saja. Tanpa mereka, aku sudah bisa, karena aku sudah banyak belajar liputan bersama teman-temanku lainnya.

Aku wawancara korban sendirian. Aku wawancara warga. Aku juga wawancara komandan polisi sendirian. Tapi sebelum minta keterangan komandan itu, aku perkenalkan diri.

Komandan itu agaknya senang juga dengan gayaku. Logatku yang kental Jawa, membikin dia tertawa. Bolehlau komandan tertawa, tapi kompensasinya, aku wawancara dia panjang sekali mengenai kronologis kasus perampokan di rumah pengusaha garmen ini.

Begitu selesai, rombongan Bonarman datang. Mereka cuma dapat kesempatan sebentar untuk wawancara komandan polisi. Sebab, waktu itu, komandan ingin segera pergi dari lokasi. Kudengar, komandan minta Bonarman dan teman-temannya bertanya saja kepadaku karena semua keterangan sudah diberikan padaku.

Ada yang lucu lagi. Pada waktu komandan akan naik mobil, Bonarman masih menempelnya. Lalu, kulihat, dari dalam mobil, komandan memberikan beberapa lembar uang kepada Bonarman. Setelah itu, Bonarman pergi bargabung ke teman-temannya.

Waktu itu, aku tidak segera pergi meninggalkan tempat kejadian perkara, walau polisi telah selesai melakukan pemeriksaan. Soalnya, aku ingat pesan komandan yang berlogat Batak tadi agar Bonarman dan kawan-kawan minta data kepadaku. “Bang Bonarman jadi minta data tidak ini,” kataku.

Bonarman bilang, “lain kali kalau wawancara bareng dong, biar polisi tidak dua kali memberi keterangan.”

“Abang kemana aja tadi, jadinya aku duluan yang minta keterangan. Lagi pula, teman-teman lainnya juga tidak mau waktu kuajak wawancara bareng,” jawabku. Bonarman tidak jawab lagi.

Karena keterangan polisi sangat penting untuk melengkapi berita dan data, akhirnya Bonarman seperti anak manis di depanku. Kubacakan semua data yang diberikan komandan tadi kepadanya. Dan dia mencatatnya. Sekali-sekali dia minta aku mengulang.

Akhirnya selesai. Sebelum kami semua pergi. Bonarman bilang kepadaku, tadi ada titipan dari komandan. Maksudnya, ada uang yang diberikan komandan lewat Bonarman. Dia memberiku Rp 50 ribu. “Buat abang aja. Aku tidak mau,” kataku. Dia masih mencoba memberikan uang lagi, tapi akhirnya dia kantongi sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang, aku senang. Aku sudah punya satu berita kriminal bagus. Aku juga menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, Bonarman mempermalukan dirinya dengan minta uang. Itu membuatku merasa lebih percaya diri jadi wartawan.

Saturday, May 29, 2010

Gocing (7)

“Nek, kuliahku sudah selesai dan aku tidak bisa pulang karena kupikir, lebih baik aku langsung cari kerja dulu,” tulisku di surat yang kukirim ke nenek di akhir musim hujan.

Aku ceritakan ke nenek. Aku berhasil menyelesaikan kuliah dengan baik. Nilaiku semuanya A. Dan aku termasuk, salah satu mahasiswa yang berprestasi di kampus. Tidak sia-sia perjuanganku dan semangat yang selalu dikobarkan nenek dan teman-temanku di Wonogiri selama ini. Setidaknya, untuk sementara ini aku bisa bangga.

“Aku sudah mengirimkan surat ke kantor koran yang bagus, nek. Kuharap secepatnya dapat panggilan,” tulisku di surat yang kukirim ke nenek di lain hari. “Salam hormat.”

Dalam keadaan tidak punya kegiatan seperti sekarang, aku kangen juga mendapat kiriman makanan dari nenek. Dulu, waktu masih SMA, aku sering dititipi lauk pauk lewat bantuan si Peci. Sekarang, aku sudah di Jakarta. Tidak mungkin nenekku mengirimi lauk lagi seperti waktu itu. Hidup di ibukota benar-benar harus mandiri.

Korespondensiku dengan teman-teman di Wonogiri masih tetap terjaga setiap sebulan sekali. Terutama adik perempuanku yang kini sudah masuk SMP. Dia lebih berbahagia dibandingkan aku. Dia lebih dekat dengan ibu dan bapak tiriku.

Mencuri kelapa, mengolesi balsam pada anus sapi tetangga, merusak pagar tetangga atau dimaki-maki orang dewasa yang meteran listriknya kumatikan. Aku tertawa sendiri tiap ingat itu. Atau mengerjai si Botak gendut di asrama masjid. Aku sungguh kasihan padanya.

Supaya tidak terlarut dalam rasa bosan, kalau lagi sendirian di kos, aku selalu berlatih membuat cerpen. Temanya tentang masa kecilku.

Di minggu pertama bulan Januari ini, tiba-tiba telponku berdering. Ternyata aku dapat panggilan kerja dari salah satu media nasional. Aku girang bukan main. Sore hari ini juga aku diminta datang ke sekretariat redaksi untuk bertemu koordinator liputan.

Sampai di redaksi, aku langsung bertemu dengan koordinator liputan. Aku langsung dapat surat penugasan sebagai pengganti ID Card untuk sementara waktu. Aku ditugasi untuk meliput Kota dan Kabupaten Gunung Jaya. Tempatnya masih berdekatan dengan Jakarta.

Dari redaksi aku pulang lagi ke kos. Malam ini juga aku bersiap-siap pindahan. Barang-barang ini tidak mungkin kubawa sekaligus besok. Harus bertahap. Setelah selesai mengepak aset pribadi, aku sama tidak bisa tidur. Aku senang dan bangga betul. Cita-citaku untuk masuk ke media akhirnya tercapai.

Pagi buta aku meluncur ke Gunung Jaya. Daerah yang sama sekali masih asing buatku. Pertama-tama yang harus kulakukan ialah mencari kos. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Ada kos bagus dan agak luas di dekat masjid pusat Kota Gunung Jaya. Selesai bayar kos, aku bisa langsung menyimpan barang di kamar.

Hari ini waktunya mempraktekkan ilmu jurnalistik yang sudah kupelajari. Aku ingat kata koordinator mediaku, aku harus kenal teman wartawan yang sudah lebih dulu meliput di kota ini. Tempatnya kalau tidak di sekitar kantor polisi ya di sekitar kantor pemerintah.

Teman pertamaku namanya Damin. Dia wartawan dari media nasional yang kantor pusatnya di Jakarta. Orang senasib di daerah, tidak perlu waktu lama untuk saling akrab.

“Gocing, sehabis liputan, ikut aku saja. Aku punya warnet langganan di daerah ini,” kata Damin ketika kami meliput berita di salah satu kelurahan di Gunung Jaya.

“Baik, aku ikut. Tadinya aku juga berpikir-pikir soal warnet. Semoga tempatnya nyaman Min,” sahutku.
Liputan pertamaku adalah tentang kasus perampokan. Selesai wawancara aku dan Damin meluncur ke warnet. Tidak sampai seperempat jam, kami sampai di warnet langganan Damin. Tempatnya agak kecil. Ruangannya ber-AC.

Aku pakai salah satu komputer di pojok. Damin pakai komputer di sebelahku. Kubuka catatanku. Pada waktu yang bersamaan, kudengar, keyboard temanku sudah berbunyi. Tandanya dia sudah memulai menyusun data menjadi berita.

“Min, aku masih bingung. Rasanya aku belum tahu apa yang menarik yang harus kutulis jadi berita. Menulis berita, berbeda dengan menulis fiksi. Karena tulisan berita terikat pada kaidah jurnalistik.
“Kamu tulis saja Cing. Jangan berpikir macam-macam yang penting, kamu pindahkan datamu dari buku catatan ke komputer.”

Rasanya aku makin panik mendengar Damin makin cepat mengetik. Sepertinya suara keyboardnya tidak putus-putus. Lancar betul logika si Damin kurus ini. Baiklah, aku harus memulai. Sambil melirik jam yang menunjukkan waktu yang hampir deadline pengiriman berita, satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata dan seterusnya.

Setengah jam lebih aku menyelesaikan satu tulisan berita. Ternyata si Damin sudah dua laporan yang tuntas. Melihatku panik, di amalah nyerocos. Dia menasihatiku supaya aku tidak usah berpikir tentang kaidah, yang penting tulis dulu sampai tuntas. Baru setelah itu dibaca lagi tulisannya sambil dibetul-betulkan kalau ada yang kurang tepat.

Berat sekali sore ini. Aku hampir menangis sambil menulis berita. Rasanya, aku tidak akan bisa menulis sampai selesai. Yang bikin aku merasa putus asa ialah di dalam hatiku, terus menuntut agar tulisanku langsung sempurna. Padahal, semua harus lewat proses.

Akhirnya aku berhasil menyelesaikan semua tulisan berita, walau redakturku di Jakarta mengatakan lewat telpon kalau aku telat mengirimkan berita. Aku bilang kepadanya, aku masih susah menyusun berita.

Damin sepertinya teman yang bisa diandalkan. Dia menghiburku di saat susah dan putus asa seperti ini. Dia cerita kalau semua wartawan yang baru terjun ke lapangan akan mengalami situasi sulit menyusun berita seperti yang kualami sekarang.

“Makasih ya Min. Tapi aku tidak habis pikir, jago benar kamu nulis berita ya,” kataku. Damin tertawa. Lalu, kami pergi ke warung makan. Makanlah kami di sana sambil ngobrol sana-sini.

Tidak lama setelah kami makan, beberapa orang datang. Mereka ternyata juga wartawan yang tadi mengetik di warnet. Ternyata warnet ini tidak hanya tempatnya Damin mengetik, wartawan lain pun juga bekerja di sana.

Damin mengenalkanku dengan beberapa wartawan yang baru tiba. Yang perempuan namanya Prilia, dia wartawan koran sore. Sedangkan yang satu lagi bapak-bapak. Namanya Rosyid. Pak Rosyid asalnya dari koran lokal.

Aku senang mengobrol dengan teman-teman baru ini. Mereka sepertinya bisa merasakan kesusahanku menulis berita tadi di warnet. Teman-teman saling menceritakan pengalaman masing-masing. Seperti kata Damin tadi, merekapun pada awalnya susah bukan main untuk menyusun berita.

Bahkan, Prilia bilang sampai nangis karena tidak bisa nulis. Berjam-jam di warnet, dia bengong di depan komputer karena tidak tahu harus memulai darimana. Waktu itu yang ada di kepalanya sama denganku, nafsu besar ingin menulis sempurna, tapi justru malah tidak percaya diri.

“Aku malah dibilang redakturku, laporan yang kukirim mirip proposal skripsi,” kata Pak Rosyid.
Aku agak tenang. Aku merasa tidak terlalu susah. Aku yakin, pasti aku bisa. Makin sering nulis berita, mestinya makin membentuk kepintaran penulisnya.

Hari pertama yang susah, tapi sekaligus senang karena punya teman-teman baik.

Thursday, May 27, 2010

Gocing (6)

AKU kuliah di salah satu kampus terbaik di Ibukota Jakarta. Studi yang kuambil adalah jurnalistik. Dalam hati, akhirnya aku bisa masuk juga. Bidang studi yang selama ini terngiang-ngiang di kepalaku. Studi ini terinspirasi dari para mahasiswa Yogya yang KKN di kampungku.

Para mahasiswa itu, dengan percaya diri berdialog dengan kepala desa dan dengan tokoh desa untuk membicarakan masalah-masalah pembangunan. Dulu, aku iri betul dengan mereka. Karena hasil dialog mahasiswa KKN biasanya selalu ditulis menjadi karangan panjang dan kemudian dipajang di papan pengumuman kantor desa.

Di kampus, aku mendapat ilmu menulis berita, menulis feature, teknik investigasi, teknik fotografi, etika jurnalistik, sampai manajemen media massa. Mata kuliah yang kusukai adalah etika jurnalistik. Karena ternyata belakangan aku tahu kalau semua wartawan harus tahu betul soal etika. Itu sebabnya, ilmu ini menjadi semacam dasar bagi para jurnalis sebelum terjun ke lapangan.

Karena aku suka, aku cepat menangkapnya. Semua materi dari dosen kubaca. Dan bukan cuma lewat perkuliahan, aku juga banyak baca buku-buku tentang ilmu jurnalistik. Soalnya, kalau cuma lewat dosen, tidak cukup banyak yang dapat kuserap, jadi harus mencari wawasan lewat disiplin baca buku.

Nah, ini merupakan pengalaman hidup baru. Di masa-masa penyesuaianku di Jakarta, pengalaman macam ini, tentu saja kuceritakan kepada keluargaku lewat surat.

Aku bilang sangat bangga, dimana pada akhirnya mulai tahu tentang dunia jurnalistik. Pengetahuan yang mungkin sekarang ini sangat sedikit diperhatikan anak-anak sebayaku di kampung. Teman-temanku seperti si Peci, si Mangun, si Cepuk, sudah pasti kukirimi juga surat dan kuceritakan pada mereka dunia seputar wartawan.

“Aku senang kamu bisa serius belajar,” kata si Peci suatu kali ketika membalas suratku. “Kuharap, jadilah dirimu sendiri, di sana. Ingat, jauh-jauh dari kampung, kamu harus punya prestasi di Jakarta.”

Senangnya. Nasihat-nasihat sederhana seperti itu selalu disampaikan teman-temanku di Wonogiri lewat surat yang hampir datang tiap bulan. Kami memang tidak pernah lupa untuk berkorespondensi satu sama lainnya.

Di lain hari, dalam perkuliahan etika jurnalistik. Salah satu tema yang cukup hangat dibahas dalam kelas ialah tentang wartawan dan suap dari narasumber atau yang dikenal amplop. Di ruang kuliah, dosen bilang kalau amlop dilarang dalam kode etik jurnalistik, harusnya semua wartawan dan redaksi media harus benar-benar konsisten pada kode etik yang sudah mereka sepakati bersama.

Amplop, katanya, akan berhubungan dengan karya jurnalistik. Uang sogokan bisa mempengaruhi sikap wartawan dalam menulis. Atau sikap media terhadap suatu kasus.

“Tapi, kenyataannya untuk menegakkan anti amplop itu memang susah. Banyak problem yang berkembang di lapangan,” kata dosen tua yang kupanggil Pak Koting.

Pak Koting ini dulunya wartawan senior di media besar. Jadi dia bisa menjelaskan lebih banyak tentang liku-liku amplop, wartawan, dan media. Dia tahu betul detail soal ini. Makanya, dia tahu jenis rupa-rupa sogokan kepada orang-orang media seiring dengan perkembangan jaman.

Ada yang berbentuk uang, souvenir, tiket perjalanan, sepeda motor, rumah, sampai jabatan dan masih banyak lagi. Pak Koting merangkumkan untuk mahasiswa tentang tujuan dari amplop. Yaitu hadiah yang sepertinya gratis, tapi sebenarnya ingin mempengaruhi otak wartawan. Bahkan juga kebijakan media.

Bagi Pak Koting, apapun alasan wartawan atau media menerima pemberian dari narasumber, itu tetaplah haram hukumnya. Dia tidak bisa menerima alasan menerima hadiah narasumber, misalnya bilang karena kesejahteraan kurang, bilang karena tidak akan terpengaruh dan tetap akan netral.

Menurut dosenku yang flamboyan itu, tidak juga menerima sumbangan dari narasumber karena ada alasan bahwa kantor redaksinya punya kebijakan membebaskan wartawan menerima hadiah. Bagi Pak Koting, dilarang ya tetap dilarang. Semua sudah terikat pada kode etik.

“Lebih baik cari mata pencaharian lain yang membolehkan menerima uang dari orang lain. Jangan jadi wartawan kalau mau cari untung lewat cara menerima amplop,” kata Pak Koting.

Pak Koting selalu menekankan bahwa wartawan harus bersih, kecuali memang dapat pemasukan dari honor tulisan atau gaji dari kantor. Atau hasil jerih payah lewat mengajar atau menulis buku.

Aku agak paham dengan dengan penjelasan Pak Koting. Selesai kuliah hari ini, aku tanya ke dia, bagaimana solusinya agar wartawan tidak cari tambahan lewat amplop.

“Pengusaha media itu harus menjamin bisa menggaji layak karyawannya,” kata dia. “Kalau tidak mampu, jangan bikin media. Karena kalau kesejahteraan kurang, tentu akan tergoda juga untuk menerima sogokan.”

“Tapi yang sering saya dengar itu, komunitas pers yang bikin kode etik sendiri juga memberi toleransi jumlah uang dari narasumber yang bisa diterima,” kataku. “Atau mereka membuat aturan apa saja pemberian dari narasumber yang boleh diterima wartawan atau media.”

“Bagaimana kalau yang terjadi seperti itu, wartawan boleh terima uang, asalkan masih di batas yang ditoleransi itu,” aku tambahkan. “Kan komunitas ini yang bikin aturan.”

Pak Koting bilang. Dilarang tetap dilarang. Kalau ada toleransi-toleransi, berarti komunitas pers itu harus diragukan idealismenya. Dari kuliah-kuliah di kampus, Pak Koting terasa benar idealismenya. Pendapatnya malah lebih radikal lagi. “Daripada kode etik masih saja diakal-akali, lebih baik aturan anti amplop dihapus saja. Masa ada toleransi, ini apaan.”

Kudengar, orang tua ini dulunya keluar dari media tempat dia bekerja setelah membongkar permainan proyek yang dilakukan pemimpin redaksinya. Atasannya selalu dapat kucuran dana atau kue iklan besar dengan kompensasi semua karya tulis media mengangkat yang baik-baik tentang partai itu.

Bahkan, dia sering lihat bosnya ketemu dengan calon ketua partai secara diam-diam di sebuah kafe. Esok harinya, si bos perintahkan semua anak buah untuk memberi porsi lebih besar pada kandidat ketua partai yang telah melaksanakan deal-deal tertentu dengannya.

Pak Koting juga sering mendengar obrolan bosnya di toilet redaksi. Si bos suka ngobrol dengan bahasa-bahasa menjilat seorang pengusaha yang dikenal sebagai pengemplang pajak. Pak Koting tahu itu pengusaha karena beberapa kali si bos menyebut nama pengusaha itu. Si bos sering kali memuji-muji setinggi langit si pengusaha kakap hitam itu.

Itulah sebabnya, Pak Koting sangat kecewa dengan redaksi tempatnya bekerja. Wartawan dituntut untuk idealis, wartawan diprotes kalau nulis berita dengan sikap beroposisi dengan partai tertentu. Tapi ternyata bos di redaksi juga mafia kasus dengan kedok ajaran idealisme di kantor.

Pak Koting memang jago bicara. Dia piawai mengobarkan semangat para mahasiswa jurnalistik. Sehingga tiap kali ada mata kuliahnya, kelas sudah pasti penuh. Semua mahasiswa masuk. Bahkan, mahasiswa grup lain, terkadang juga ikut nimbrung untuk dengar perkuliahan dosen ini.

Pada pertemuan kesekian kalinya di pertengahan semester, Pak Koting juga cerita soal jenis media di Indonesia. Ada koran kuning. Tapi ada juga koran yang masuk golongan bukan kuning. Media kuning biasanya untuk kelas bawah. Sedangkan media bukan koran kuning segmentasinya kalangan atas.

Koran kuning, lebih berani mengangkat berita yang bersifat menuduh, tanpa ada data kuat dan konfirmasi dengan yang bersangkutan. Mereka suka membesar-besarkan isu. Tujuannya tidak lain demi mendapatkan keuntungan materi. Uang bisa cair ke redaksi dari pihak yang dihajar lewat berita. Misalnya sogokan atau iklan.

Pengelola koran kuning juga paling suka mengangkat berita-berita bombastis. Soal politik sampai soal selangkangan. Mereka senang mempublikasikan hal-hal yang berbau seks. Karena masalah ini pasti disukai sebagian besar orang. Otomatis, tiras koran makin meningkat.

Kalau koran bukan koran kuning, biasanya agak cermat menerapkan kode etik. Koran yang masuk golongan ini sadar dengan citra. Segmentasi mereka umumnya diarahkan untuk orang-orang yang lebih mapan secara ekonomi. Jadi gengsi juga diperhatikan betul.

Tetapi, dari buku-buku yang kubaca, media non kuning sebenarnya juga sering tidak peduli kode etik. Mereka juga suka menabrak etika, tapi tentu saja pengelola media ini punya seribu argumentasi untuk membenarkannya. Bahkan, media ini kerap kali suka ikut berafilisasi ke politik tertentu atau pengusaha bermasalah.

Di lain semester, aku minta waktu untuk diskusi dengan Pak Koting. Aku ingin tahu soal dapur redaksi media. Media suka membenarkan bila mereka melanggar kode etik. Misalnya mereka tidak memenuhi syarat netralitas pemberitaan. Misalnya, ikut jadi partisan atau berafiliasi dengan partai tertentu atau pengusaha tertentu.

Media macam ini, selalu mengangkat-angkat partai atau mengawal bisnis yang pengusaha bermasalah yang didukung media. Bahkan, juga ikut membentengi bila yang partai atau pengusaha yang didukung itu punya masalah hukum. Dengan teknik-teknik jurnalistik, media ini sangat lihai memainkan pemberitaan. Tapi sebenarnya sedang melakukan pembelaan pada pihak yang sebenarnya salah.

Kalau hal-hal yang positif dan menguntungkan partai atau pengusaha, mereka kerap menjadikannya sebagai bahan untuk berita utama. Seringkali, media partisan selalu menulis dari sudut pandang yang terasa menjilat partai atau pebisnis yang didukungnya.

Media memang pintar, mereka mengakali kemasan berita biar seolah-olah netral, kuat dengan bahasa-bahasa bagus. Tapi kalau dicermati, sebenarnya pemberitaannya berbau uang kotor. Tentu saja, kemasan pemberitaannya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah telah memenuhi semua standar jurnalistik.

Menjawab pertanyaanku itu, Pak Koting hanya bilang, “Soalnya, di Indonesia ini, yang paling berkuasa ada beberapa sektor, kalau bukan partai politik ya pengusaha.”

“Jadi, mereka yang selalu ikut mengendalikan arah media. Mereka bisa beli saham, mereka bisa gelontorkan iklan ke media itu sehingga itu bisa mempengaruhi arah media juga.”

Perkuliahan jurnalistik menjadi sangat menggairahkan karena Pak Koting orangnya lurus. Dia selalu tertarik untuk mengutarakan apapun tentang kecurangan-kecurangan yang dilakukan media atau kenakalan-kenakalan para wartawan di redaksi maupun di lapangan.

Dia juga bilang terkadang para jurnalis itu juga sangat munafik. Teriak-teriak anti amplop, tetapi sebenarnya mereka suka menerima berbagai rupa-rupa bantuan dari narasumber. Yang selalu mereka katakan ialah, asalkan bantuan itu tidak mempengaruhi berita, ya tidak apa-apa. “Itu sama saja kalian bohong,” pikirku.

Kalau mereka bersalah dalam memberitakan, mereka tidak terima digugat. Mereka selalu minta mediasi dan diselesaikan dengan damai. Terkadang, mereka tidak mau mengakui kesalahannya. Padahal, apa yang mereka beritakan itu sudah mencemarkan nama baik narasumber.

Kalau begitu caranya, egois juga para pekerja media. Walau memang tidak semua media seperti itu. Aku sering tidak habis pikir dengan mereka. Apa yang kurasakan ini selalu kucatat. Dan catatannya sebagian kuceritakan kepada teman-teman sekolahku dulu di Wonogiri.

Yang paling sering membalas suratku si Mangun dan si Peci. Kalau si Mangun, dia jadi guru sekolah dasar di kampung. Dulu kupikir dia mau mengabdikan diri sebagai mantra desa, meneruskan bapaknya yang sudah pensiun setahun lalu. Sedangkan si Peci, jadi guru ngaji.

Nenekku juga sangat senang menerima suratku. Lewat surat-suratnya, nenek bercerita kalau ibuku dan bapak tiriku juga bangga. Bagaimana tidak bangga, anaknya bisa mengikuti kuliah dengan baik. Dan makin jago menulis pengalaman hidup di Jakarta lewat surat.

Kubilang pada mereka lewat suratku yang berikutnya. Kalau baca koran yang biasa ditempel di kantor desa, jangan terlalu percaya seratus persen. Soalnya, terkadang, media digunakan oleh penguasa untuk menyuntikkan pengaruh. Seolah-olah semua kebijakan pemerintah itu sudah benar.

Padahal, kalau dicermati, kebijakan pemerintah banyak yang hanya mementingkan orang-orang kaya dan merugikan orang-orang kecil. Rata-rata berita koran lokal di provinsiku, selalu mengambil sudut pandang pemerintah saja kalau menulis tentang kebijakan baru.

Apalagi kalau menjelang pemilihan kepala daerah. Hampir semua koran menulis tentang kehebatan-kehebatan calon. Tidak banyak yang mengupas secara lengkap siapa calon itu dan apa alasannya dia harus dipilih rakyat.

Karena media mengambil untung dari pemberitaan macam ini, mereka tidak terlalu peduli apakah berita ini dibutuhkan orang atau tidak. Yang penting nama calon itu dimunculkan di media. Dengan begitu, media mendapat kue iklan dari mereka yang ditulis besar-besar.

Gocing (5)

Aku berkirim surat pada nenek, ibuku, dan adiku. Kukabarkan tentang perkembanganku di kota. Mulai dari pengalamanku di asrama sampai teman-teman yang menyenangkan di kos baru. Di tempat baru, benar-benar aku bisa mengatur jadwal belajar, jadwal pertemuan dengan teman, sampai jadwal mencari penghiburan.

Di tempat baru ini, aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa kulakukan di asrama. Sebelum berangkat sekolah, misalnya, biasa olah raga di komplek perumahan. Ketemu orang-orang yang juga melakukan kegiatan sepertiku di jalan, itu sangat menyenangkan.

Aku punya teman namanya Mangun. Mangun juga anak kos yang suka olah raga pagi. Aku juga kenal Cepuk. Mangun dan Cepuk adalah anak desa. Di tempat asalnya, mereka dihormati teman sebaya. Dua orang ini sama-sama anak mantri desa. Jabatan yang cukup disegani di kampung.

Ternyata kedua anak ini, satu sekolah denganku. Bedanya, kedua teman ini masuk di siang hari, sedangkan aku masuk sore.

Sebulan kemudian, aku terima surat balasan dari nenekku yang ditulis oleh si Peci, temanku yang kuceritakan selalu membantuku itu. Nenek memang yang paling sering merespons surat-suratku.

Nenek sungguh senang aku bisa menikmati kota dan punya teman-teman baru. Nenekku selalu bilang, jangan nakal lagi. Nenek memang membikinku selalu gemas. Tapi bagaimanapun juga, cuma dia yang tahu betul tentangku.

Banyak kegiatan menarik di luar sekolah yang dapat dikerjakan di kos. Bukan cuma saling mengunjungi teman atau belajar bersama. Tapi juga jalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah.

Pada suatu hari, Mangun mengagetkanku. Dia mengajakku naik sepeda onthelnya untuk keliling pusat kota. Aku, Mangun, dan Cepuk jalan-jalan sore ketika hari libur. Karena aku tidak punya sepeda, jadi, membonceng sepeda kepunyaan Mangun.

Kebersamaan semacam ini biasanya kami pakai untuk sharing soal pelajaran sekolah, entah yang membosankan sampai yang menyenangkan. Tetapi, sore sore ini, kami jalan ke taman kota. Lokasinya di persimpangan jalan dekat asrama atau penjara anak yang pernah kutinggal dulu. “Pohon beringin ini besar sekali. Tapi jarang orang main memperhatikannya.”

“Pohon ini seperti memiliki perutnya gendut. Seperti si Botak gendut yang suka menyemir sisa rambutnya itu.”

Mangun dan Cepuk tertawa terbahak-bahak. Mereka sudah tahu siapa si Botak. Soalnya, sudah kuceritakan segalanya tentang si Botak penanggung jawab asrama menyebalkan itu. “Kamu kualat nanti. Ini pohon keramat, pohon yang disakralkan orang sini,” kata Cepuk.

“Iya, ini pohon yang harus dihormati. Ini dipelihara di pusat kota ini supaya orang-orang bisa berziarah dan berdoa di sini, bukan untuk diejek-ejek,” sahut Mangun sambil memperhatikan patung.

“Aku tidak peduli. Bagiku, pohon berakar ini kalau dipikir-pikir lucu, mirip si penguasa asrama dulu,” ujarku. “Entah kenapa, tiap kali lewat sini, dan melihat lekukan besar di pohon, ingatanku tertuju pada si Botak buncit si raja asrama.”

“Ayolah, jangan terlalu fanatik. Menghormati pohon ini bukan berarti harus memberhalakannya.
“Kalau kalian terus berpikir soal menyakralkan pohon, aku malah jadi ingat lagi orang-orang di kampungku yang suka datang ke kaki bukit untuk menyerahkan sesajen ayam goreng dan telur.”

Ingat sajen, lalu aku cerita tentang masa kecilku yang suka mencuri ayam panggang dan telur di singgetan yang menurut orang tua, sajian itu untuk sesuatu yang dianggap bisa ikut memutuskan tentang jalannya rezeki.

Tiba-tiba meledak tawa Mangun. “Aku juga pernah melakukan itu.” Lalu dia menjabat tanganku sebagai tanda kesamaan sifat nakal.

“Ah, itu sama artinya kalian bodoh. Tidak menghormati kepercayaan leluhur,” Cepuk ikut berpendapat. “Itu tidak boleh dilakukan, orang tidak boleh mengganggu sesajen.”

Dibanding Mangun, Cepuk lebih fanatik pada kepercayaan pada pohon yang biasa ditaati orang kampungku. Itu bisa dilihat dari posisinya yang selalu menjadi pengkritik pendapat kami sepanjang malam di taman kota yang sudah tua itu.

Cepuk selalu bicara keras berargumen untuk menunjukkan bahwa dialah yang paling benar dalam hal memberi sesajen.

Cerita-cerita seperti itu selalu jadi bahan untuk disampaikan ke nenekku di kampung. Aku selalu menulis dengan teliti. Dan tiap kali nenek membalas suratku, dia seperti sedang sedih. Tapi, aku bisa merasakan, dia bangga punya cucu macam aku ini.

Kegundahan hati nenekku selalu terungkap lewat surat-suratnya untukku yang ditulis si Peci. Terkadang aku jadi bingung. Nenek suka mengirim sesaji ke pohon tua, tapi dia selalu minta aku taat shalat di masjid. Tapi, biasanya aku tidak mau berdebat soal itu. Susah mengalahkan nenek.

Kalau pendapat nenek kuceritakan kepada Cepuk. Dia pasti ikut mendukung nenek dan menyalahkanku. Tapi, aku tidak peduli. Itu tidak penting. Aku juga tidak bisa mengubah apa yang jadi kepercayaan orang.

Di lain hari dan seterusnya, kalau tidak main di taman pusat kota. Kami bertiga jalan-jalan di dekat gereja terbesar di kota ini. Letaknya berseberangan dengan asrama mengerikan itu. Di sana, kami menonton kemegahan bangunan gereja tua Katolik. Kami sering main ke sini.

Di lain waktu, kami juga suka menonton pameran kepolisian di Gelanggang Olah Raga. Main ke bendungan besar di kaki gunung. Terkadang di kumpul-kumpul di kosku saja sambil membantu ibu kosku berdagang. Soalnya, terkadang kami diminta bantuan untuk belanja tetek bengek barang-barang rumah tangga di pasar.

Kehidupan di kos dan sekolah di kota membuatku cepat tumbuh dewasa. Tetapi terus terang, tidak banyak kebijaksanaan yang kuserap dari guru-guru di sekolah, kecuali ilmu yang terkait dengan keterampilan. Bagiku mereka sama otoriternya dengan orang-orang dewasa di kampungku dalam memperlakukanku.

Justru, pertemananku dengan sahabat-sahabat yang punya sifat baik seperti Mangun dan sifat fanatik seperti Cepuk atau rajin seperti Gendut-lah yang membentuk kepribadianku menjadi semakin matang. Pengetahuan-pengetahuan yang kami peroleh dari ngobrol, membaca, dan menonton berbagai pertunjukkan publik, lebih banyak masuk ke kepalaku, ketimbang monolog dari guru di sekolah.

Salah satu guruku yang galak namanya Bewok. Itu sebutanku padanya. Soalnya, dia memang brewok. Aku pernah bermusuhan dengannya. Gara-garanya, aku sering tidak masuk kelas kalau dia mengajar. Suatu hari aku dipanggilnya untuk menghadap di ruang guru.

Dia tidak bertanya mengapa aku tidak masuk. Tidak bertanya apa aku bisa menguasai pelajarannya atau tidak. Tapi dia mengatakan aku sebagai anak tolol dari kampung. Tidak tahu terima kasih pada orang tua yang jauh-jauh menyekolahkan aku. Pernyataan seperti itu sama juga yang pernah dikatakannya pada teman sekelasku lainnya kalau tidak masuk sekolah.

Aku malas ikut pelajaran dia karena dia sering genit sama murid perempuan. Tapi dasar tidak tahu malu. Dengan murid laki-laki, dia kerap kali pakai kata-kata kasar dan sewenang-wenang bila terhadap mereka yang yang tidak belum mampu menguasai ilmu mengetik di mesin tik seperti yang diajarkannya.

Aku tidak protes pada waktu aku dinasehati dengan kasar. Karena aku tidak mau dipukul, seperti ketika dia menghantam temanku hanya karena beberapa kali bolos mata pelajarannya. Si Bewok ini seperti darah tinggi. Mengajar anak sangat kaku. Tidak bisa membangun suasana belajar yang asyik. Kalau dia mengajar, semua anak tegang.

Nah, di lain hari, aku akhirnya tahu kelemahan guru mata pelajaran mengetik ini. Dia seorang wali kelas. Berarti, untuk dapat nilai baik dari sekolah, dia harus mampu menguasai murid. Misalnya soal jumlah kehadiran murid di kelas. Kalau dia tidak mampu, maka dia gagalan. Kalau dia gagal, kepala sekolah bisa menegurnya.

Kukerjai dia. Aku makin sering tidak masuk tiap kali ada kelasnya. Pikirku, masa bodoh. Yang penting, aku sudah tahu ilmu mengetik, karena aku sudah belajar mengetik setiap hari menggunakan mesin kepunyaan ibu kosku. Aku jauh lebih jago dari teman-temanku yang umumnya hanya belajar mengetik di sekolah. Lagi pula, semester lalu, nilaiku tertinggi di mata pelajaran mengetik. Itu yang bikin aku percaya diri untuk tidak masuk.

Agaknya, dia makin meradang. Di saat upacara bendera awal pekan, dia pernah melotot seperti sedang menahan amarah kepadaku. Mungkin sebelumnya, dia kena tegur kepala sekolah karena tidak mampu membuatku disiplin masuk kelas.

Sikap keras kepalaku dipahami teman-teman lain. Bewok memang guru paling galak. Dia jadi simbol perlawanan bersama. Dan nasibku yang selalu dimarahi dia, membikin teman-teman lain bersimpati denganku.

Pertengahan catur wulan, aku pernah berhasil mengajak teman-teman membandel. 90 persen temanku tidak masuk kelas. Waktu itu, si Bewok mau memberikan pelajaran ekstrakurikuler karena kemampuan rata-rata teman-temanku dalam ilmu mengetik masih kurang.

Mangun, temanku yang semester ini pindah ke kelas sore, ikut tidak masuk. Dia menjadi salah satu provokator yang ikut aksi pemboikotan. Aku bangga juga dengan dia. Makin kritis. Walau, sebenarnya kebandelan ini bisa membuat para orang tua kami marah kalau sampai mereka dengar.

Sampai suatu hari di catur wulan ganjil, ada berita menggembirakan. Bewok mengundurkan diri dari sekolah karena berdasarkan hasil evaluasi pendidikan, dia gagal membuat murid maju. Kami semua bersenang-senang. Apalagi, guru pengganti Bewok masih mbak-mbak.

Pelajaran sekolah tetap sama membosankannya. Tetapi kebersamaan dengan teman-teman mengalahkan kebosanan itu. Sampai akhirnya ujian akhir tiba. Hasilnya, aku lulus sekolah dengan predikat cukup baik. Seandainya aku tidak sering bolos sekolah dan membangkang sama guru, kemungkinan besar, aku tergolong anak-anak dengan hasil predikat terbaik. Mangun masuk golongan pas-pasan. Dan Cepuk masuk golongan cukup baik.

Memang tidak terasa lama waktu tiga tahun ini untuk menuntut pendidikan di pusat kota yang jauh dari kampung. Banyak pergaulan dengan teman-teman yang asyik, banyak aktivitas di luar gedung sekolah yang kuikuti, itu semua membikin masa sekolah ini sangat menyenangkan.

Kami harus memilih jalan hidup masing-masing. Aku memilih melanjutkan kuliah di Ibukota Jakarta. Sedangkan kedua temanku, Mangun dan Cepuk, pulang kampung. Mereka tidak bicara soal rencana, tetapi aku menduga mereka lebih tertarik jadi mantri seperti orang tuanya.

Aku pulang. Si Peci memang luar biasa baik. Tiga tahun lalu, dia yang mengantarku ke kota, kini dia yang menemaniku pulang ke kampungku lagi. Tentu saja perjalanan di bis tidak sesusah dulu. Tidak sefrustasi dulu. Kini aku bangga karena punya ijazah SMA. Ijazah yang masih jarang dipunyai anak-anak kampungku.

Pendapat orang-orang dewasa di kampungku sudah pasti berubah seperti yang kuduga. Bagaimanapun, dalam hati kecil mereka, pasti ada pengakuan bahwa wawasanku pasti lebih luas. Betapa tidak, pak lurah saja tidak lulus SMA di kota. Orang-orang yang dulu kekerjai, kini jadi baik. Mataku sampai berkaca-kaca ketika ada penyambutan kecil-kecilan di rumah.

Masa bernostalgia di kampung tidak kunikmati lama-lama. Aku harus ke Jakarta. Aku akan kuliah di sana. Itu impianku. Tidak sampai sebulan aku di kampung. Karena memang ini masanya penerimaan mahasiswa baru. Sebelum ke Jakarta, selain pamitan ke bapak tiriku yang jarang senyum, ibuku, adikku, nenekku, anak-anak kampung sahabatku, juga si Peci yang pernah mengantarku ke asrama, juga si Gendut, Mangun, dan Cepuk. Kalau si Gendut, rupanya dia juga mau melanjutkan sekolah ke Jakarta.

Tuesday, May 25, 2010

Gocing 4 (r)

AKU berhasil lulus SD. Lalu aku melanjutkan sekolah ke SMP. Tak perlu kuceritakan masa-masa kenakalanku di SMP. Tidak ada yang berubah. Aku masih suka membikin onar kampung. Singkat cerita, walau nakal, aku tergolong anak paling menonjol di sekolah.

Buktinya, di akhir pertengahan tahun 2004, aku berhasil menyelesaikan studi SMP. Nilaiku sangat bagus. Semuanya berada di atas rata-rata. Aku menyabet juara pertama.

Di keluargaku, neneklah orang yang pertama kali tahu itu. Soalnya, beliau yang mengambil rapor di sekolah.

Dia bangga sekali pada waktu menerima rapor. Setelah acara pengumuman yang diselenggarakan sekolah selesai, kami pulang. Di tengah jalan, nenek bilang ingin menraktri makanan enak. Tempatnya, di salah satu tempat makan yang berada di pusat pemerintahan kecamatan. Aku makan sepuas-puasnya di sana.

“Ini untuk mensyukuri pencapaianmu,” nenek berkata. “Jangan lupa, jadilah anak yang bergunak nanti.”

“Terima kasih nek,” sahutku tanpa menoleh ke arah nenek.

Nenek makan dengan sangat-sangat menikmati makanan. Jarang kulihat dia makan seperti itu. Aku tahu, dia sangat menyayangiku. Pencapaianku di bidang pendidikan ini seolah telah membayar kekecewaan beliau atas kenakalanku di kampung.

“Ayo langsung pulang. Besok kita undang teman-temanmu untuk syukuran di rumah,” ujar nenek setelah menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan.

Ibu dan bapak tiri baru tahu raporku tiga minggu kemudian. Soalnya, mereka memang biasa pulang ke kampung hanya sebulan sekali. Raporku membuat mereka tersenyum.

“Kamu harus sekolah lagi di SMA,” kata ibu ketika menyiapkan sarapan untuk adikku yang baru akan berangkat sekolah.

Aku mengangguk. Dan aku sangat senang dengan dukungan ibu. Jarang-jarang aku mendengar dia berkata dan bersikap seperti itu. Sebab yang kulihat selama ini, dia sungguh keras.

***

Aku berangkat ke Wonogiri. Wilayah ini merupakan pusat pemerintahan daerahku. Aku diantar seorang teman. Naik sepeda motor ke kota kecamatan, lalu naik bus besar menuju ke Wonogiri. Aku akan tinggal di kompleks masjid paling besar dan paling mewah di kotaku. Di sana nanti, aku tinggal di bangunan asrama.

Perpindahanku dari kampung ke kota untuk bersekolah di tingkat atas membuat orang-orang kampungku senang. Biang kerok telah pergi, mungkin begitu pikir mereka. Anak-anak aman. Tidak ada lagi yang meracuni anak-anak mereka untuk melawan dominasi para orang dewasa.

Siang itu, aku bawa tas besar. Rasanya menderita sekali. Tas yang satunya lagi dibawakan oleh temanku, Peci. Peci ini usianya lebih tua sedikit dariku.

“Di asrama nanti, kamu akan tinggal bersama anak-anak sekolah lainnya,” kata si Peci.

Aku sebut dia Peci karena anak ini suka sekali pakai pecinya yang kecokelatan, padahal peci itu awalnya hitam. Pada waktu kami sama-sama duduk di bangku SD, dia memang paling sering kukerjai. Tapi dia tidak pernah memusuhiku.

Pamannya adalah seorang guru agama di Wonogiri. Itu sebabnya Peci sering pergi ke kota untuk mengunjungi pamannya. Lewat pamannya, dia punya banyak kenalan ustad. Salah satu ustadnya yang memimpin masjid tempat aku akan tinggal selama SMA.

“Ci, aku agak sedih. Aku tidak kenal siapa-siapa di sana. Tidak punya teman baik lagi,” kataku.

“Tidak apa-apa, di sana nanti kamu akan punya teman-teman baru. Mereka pasti sama menyenangkannya dengan teman-temanmu di kampung,” hibur Peci.

“Kamu kan harus maju. Lebih maju dari teman-teman di kampung yang tidak mau lanjut sekolah lagi.”

“Percayalah, kamu pasti senang.”

Si Peci sok tahu ini lama-lama membuat hatiku tenang. Dasar sok tahu. Apa dia tahu yang betul-betul kupikirkan. Lihatlah keluargaku, tetanggaku senang betul aku tidak di kampung lagi. Entah mereka mendukungku sekolah atau tidak, tapi sikap mereka yang sama sekali tidak merasakan kehilangan, itu yang bikin aku susah.

Setidaknya aku lebih maju dari mereka. Para orang tua yang keras hati, tidak cukup pandai memahami kemauan anak, tapi selalu ingin menang. Baiklah, aku akan maju. Aku akan berkembang. Akan kukepakkan sayapku. Nanti, nanti, nanti akan kubalikkan pikiran kalian yang salah kalau terus menerus membatasi kreatifitas anak demi yang namanya ketaatan, kesopanan, dan banyak aturan-aturan yang intinya kalian ingin dihormati saja.

Bis yang kutumpangi berjalan cepat. Akhirnya bus berhenti di tengah kota. Dua jam lalu, aku menapak tanah kampung. Sekarang, aku di kota besar. Mungkin sebenarnya ini hanyalah kota kecil. Tapi karena aku baru pertama kali datang, ini jadi kota besar, kota metropolitan, di beberapa tempat kulihat gedung bertingkat. Hebat. Seperti yang sering ditayangkan di televisi.

Peci membantu membawakan tas ketika semua barang diturunkan dari bus. Seandainya tidak ada Peci, setengah mati aku membawanya. Ukuran tas lebih besar dari badanku. Isinya, sebagian besar makanan bawaan dari nenek.

Kami berjalan menyusuri trotoar. Orang-orang yang berpapasan dengan kami cuek-cuek. Tidak menengok ke arahku. Beda dengan orang di kampungku, tiap kali berpapasan denganku, seperti menguapkan energi kemarahan.

Sampailah kami di gedung yang berhalaman sangat-sangat besar. Gedung itu rupanya masjidnya. Berlantai empat. Di sisi kanan halaman, berdiri menara tinggi. Di puncak menara, ada enam toak. Toak itulah juga ada di masjid kampungku. Tapi, di kampung tidak sampai enam biji.

Di kampung, aku sering rebutan untuk meneriakkan adzan. Aku yang sering menang, karena aku pasti akan berkelahi kalau aku sampai tidak dikasih kesempatan. Biasanya setelah adzan kumandangkan, aku langsung pulang. Aku jarang ikut salat di masjid. Nanti setelah teman-temanku pulang dari masjid, barulah kuajak mereka bermain.

Aku betul-betul merasa asing ketika masuk ke komplek masjid ini. Apa mungkin aku bisa punya teman-teman banyak lagi di sini. Apa kepala kompleks ini mau mengizinkanku main atau keluyuran kemana-mana.

“Ci, aku ngeri,” kataku untuk memecah kebisuan.

Peci tertawa. “Ngeri sama apa. Mencuri kelapa tengah malam saja kamu tidak takut.”

“Sialan kamu. Maksudku, baru masuk ke kompleks ini saja aku merasa tidak nyaman,” kataku sambil mengajak Peci berhenti di teras masjid.

Aku memikirkan bagaimana caranya agar tidak langsung masuk ke asrama. Lalu, mempertimbangkan untuk mencari tempat penginapan lain. Tapi, Peci keburu jalan lebih dulu. Menyebalkan anak ini.

Kami diterima oleh pemimpin asrama. Orangnya sudah agak tua. Pakai sarung putih dan baju koko. Di kepalanya pakai sorban. Ustad ini rupanya sudah berteman baik dengan si Peci. Agaknya, sebelum kami datang, Peci sudah menginformasikan kepada ustad bahwa aku berniat menjadi anggota asrama.

Peci langsung cium tangan ustad. Sedangkan aku hanya jabat tangan sambil mengucap salam. Aku tidak biasa cium tangan. Setelah namaku dicatat di buku milik ustad, aku langsung diantar ke salah satu kamar. Kamarku dekat dengan ruangan sekolah Tempat Pendidikan Alquran.

***

Matahari sudah terbenam. Kupikir Peci akan menginap untuk sementara waktu bersamaku. Ternyata dia memutuskan untuk tetap pulang saat itu juga, walau sudah berusaha kucegah. Setidaknya untuk malam itu.

Sepulang temanku kembali ke kampung, aku disergap perasaan kehilangan. Kini, aku tinggal di asrama. Sepi. Penghuni asrama ini tidak begitu peduli denganku. Mungkin karena belum kenal. Mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Usai shalat, ada yang langsung belajar, ada yang diskusi, ada juga yang tidur.

Di lain hari, aku mulai kenal satu persatu para penghuni asrama. Tidak butuh waktu lama aku menjadi teman mereka. Aku paling kecil sehingga lebih mudah untuk masuk.Walau usia mereka lebih tua, ternyata anak-anak itu juga baru sepertiku. Rata-rata, orang-orang itu juga baru sekali menginjakkan kaki di kota. Sama juga denganku, mereka datang ke kota untuk sekolah.

Tidak butuh waktu untuk menyesuaikan dengan lingkungan asrama. Karena, situasinya hampir mirip dengan di kampungku. Semuanya serba takluk pada peraturan yang tentu saja dibikin orang dewasa yang berkuasa.

Aku berusaha sadar dengan posisiku. Aku adalah anak asrama. Jadi, aku harus menunjukkan kepatuhan pada aturan itu. Bangun pagi buta. Membersihkan lantai, halaman, dan taman di kompleks masjid. Memasakan nasi dan lauk untuk orang-orang yang lebih tua di asrama, membersihkan kamar mereka. Lalu, menyapu dan mengepel asrama secara keseluruhan.

Aku mulai betul-betul familiar dengan keadaan semacam itu setelah tiga bulan berada di sana.
Setiap hari, aku memperhatikan teman-teman seasrama. Di antara mereka banyak juga yang bandel. Ada juga yang jujur menunjukkan kebandelannya. Tapi, ada yang pura-pura rajin. Dan aku lebih cepat akrab dengan mereka yang tidak terlalu taat pada aturan. Walau begitu, aku juga sangat disenangi oleh teman lain yang taat pada aturan.

“Aku shalat di lantai bawah saja ya. Kalian yang salat berjamaah di atas,” kataku pada teman sekamar. Dia kupanggil Gendut. Tebal badannya tiga kali lipat dari badanku.

“Kenapa begitu, nanti kamu dicari ustad,” jawab temanku.

“Jangan bilang-bilang kalau begitu. Yang pentingkan aku shalat, walau tidak ramai-ramai.”

“Nanti aku yang dicecar,” kata dia lagi.

“Bilang saja aku ikut shalat, tapi di urutan belakang,” kataku.

Biasanya teman-temanku tidak suka berdebat. Lagipula, pasti mereka tidak akan berlama-lama untuk bertanya-tanya tentang alasanku kenapa tidak mau shalat berjamaah di lantai dua. Soalnya, sudah tidak ada waktu karena jam shalat hampir dimulai shalat.

“Ya sudah. Terserah kamu saja. Jangan sampai seperti dua teman lainnya, dimarahi karena tidak ikut shalat bersama,” katanya sebelum pergi.

Aku pergi gudang tempat penyimpanan tikar. Tempatnya di bagian bawah tangga besar. Tangga ini merupakan tangga utama masjid. Di sana, aku langsung tidur lagi. Ruangannya cukup hangat. Empuk karena banyak tikar dan karpet kain.

Aku baru bangun setelah ada bunyi semprotan air dari taman. Temanku lagi menyiram tanaman. Ada-ada saja, pagi-pagi menyiram tanaman, pikirku. Si Gendut sok rajin.

Begitu dia menoleh, aku lagi menyeret-nyeret karpet. Ini modus supaya kelihatannya akupun sedang kerja keras.

“Duh, berat sekali ini tikar. Kotor pula abis dipakai kemarin,” teriakku sambil melirik ke arah gendut.

“Hebat sekali kamu. Diseret lewat mana tadi tikarnya, kok, sudah sampai di depan gudang saja,” Gendut meletakkan selang dan bergerak ke arahku. “Taruh situ saja, nanti aku bantu.”

“Tidak apa-apa, aku kuat sendiri,” kataku. Gendut mendekat. Dan aku ajak dia bicara. “Kamu rajin sekali ya. Aku tidak terlalu rajin di tempat ini.”

Gendut bilang dia rajin karena tidak punya pilihan lain. “Sebenarnya aku juga tidak betah di sini. Tapi aku takut sama orang tuaku kalau aku bilang begitu.”

“Nanti mereka akan bilang, aku anak tidak mau maju.” Lagipula, katanya, dia sangat segan sama pemimpin asrama. Dia takut kualat.

“Kenapa takut. Kita anak sekolah. Kalau bukankah sebenarnya sekolah itu untuk membebaskan diri kita.”

“Ingat tidak pesan khotbah Jumat lalu, Jadilah dirimu sendiri. Berkembanglah, karena kamu adalah kamu.”

Aku tidak tahu apakah yang kusampaikan barusan akan dianggap temanku sebagai sikapku yang sok-sokan atau apa. Yang jelas, dia seperti sedang memikirkan sesuatu setelah mendengarnya.

Sungguh tabu apa yang kulakukan itu. Sebab, teman-temanku, walau bandel, mereka tetap takut dan melakukan perintah pemimpin asrama. Waktu shalat, ya shalat, waktu belajar ya belajar, waktu tidur, ya tidur. Seperti sudah jadi hukum yang mutlak harus ditaati seumur hidup.

Enam bulan di asrama, aku sudah punya teman baik. Maksudku, ikut-ikutan aku tetap tidur di saat jam shalat Subuh. Tapi, tidak ikut aku tidur di gudang, mereka tidur di dekat menara.

***

Asramaku tidak punya televisi. Mungkin tujuannya untuk mencegah pengaruh buruk televisi. Tapi rasanya tidak akan efektif memfilter pengetahuan lewat cara seperti itu. Inikan sudah jaman terbuka.

Akhirnya, kami suka cari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan nonton televisi. Di terminal angkutan dalam kota yang bertempat di dekat stasiun di kaki gunung ada televisi besar. Kami sering main ke sana.

Dalam hati, aku protes dengan kebijakan pengelola asrama. Sebagai anak sekolah, harusnya kami mengetahui berbagai informasi publik. Bukan justru ditutup seperti ini.

Yang mengasyikkan lagi ialah aku dan beberapa teman, termasuk si Gendut, suka beli bubur kacang ijo di dekat pasar besar. Biasanya, kami tidak makan satu orang satu mangko. Soalnya, uang yang kami miliki sangat terbatas. Jadi, urunan beli duadua mangkok dimakan bertiga.

Biasanya, kami baru pulang setelah puas menonton televisi, terkadang sampai tengah malam. Kami selalu dicekam rasa takut ketika hendak masuk ke kompleks asrama. Takutnya kalau kepala asrama tahu kami sedang kabur. Terus, dia menunggu di pintu.

Jadi, untuk menghindari pengawasan yang mungkin dilakukan pengelola asrama, kami menyelinap lewat pintu samping. Lalu mengendap di balik semak-semak menuju ke kamar masing-masing.

***

Suatu hari, Peci mampir ke asramaku. Waktu itu dia baru mengunjungi pamannya. Aku senang melihatnya. Kurangkul dia. Rasanya, selama ini aku tidak pernah merangkul orang, kecuali nenek. Itupun ketika aku masih kecil. Sekarang aku melakukannya lagi.

“Bagaimana kabar keluargaku Ci,” kataku.

“Semuanya baik-baik saja,” jawab dia.

“Nenekku bagaimana,” kataku lagi.

“Beliau sehat. Malah lebih sehat sekarang dibanding dulu ketika kamu di rumah,” ujar Peci.

“Sialan kamu Ci. Kuhajar kamu,” kataku. Lalu kami tertawa bersama-sama.

Nenek titip pesan lewat Peci agar aku berusaha betah tinggal di asrama. Tahan-tahan dulu. Apapun yang terjadi, anggap saja sekarang ini sebagai massa penggodokanku.

Nenek memang selalu bisa menyentuh perasaan terdalamku. Kalau sudah begitu, rasanya dia selalu tahu isi hatiku.

“Nenekmu selalu mendoakanmu supaya maju,” kata temanku. “Nenekmu juga titip lauk pauk buatmu.”

Si Peci juga berpesan kepadaku supaya patuh pada semua aturan di sini. Ingat nama baik orang tua. “Ingat posisimu di sini.”

Sebelum Peci pamit pulang, dia terus menyerocos menyampaikan pesan nenek. Seolah-olah sore itu adalah pertemuan terakhir. Kalau sudah begitu, aku mesti mengurungkan niat untuk mengutarakan yang sebenarnya terjadi. Aku tidak betah dan ingin pindah dari asrama ini.

***

Lagipula, aku sebenarnya tidak suka dengan penanggung jawab asrama yang dikasih kepercayaan oleh pemimpin asrama. Orangnya pendiam. Tapi begitu dia bicara, itu harus dikerjakan anak-anak asrama. Kepalanya seperti pulau tak berpenghuni. Soalnya rambutnya hanya tumbuh di bagian pinggir, sedangkan di bagian tengahnya botak. Aku panggil dia si Rambut Pulau.

Suatu hari dia bilang begini kepadaku. “Kamu tidak boleh ajak temanmu main ke sini. Ini asrama.”

“Aku ajak teman ke asrama itu bukan untuk main, tapi untuk mengerjakan soal sekolah, apa tidak boleh?” kataku.

“Tidak boleh, tujuan aturan ini supaya asrama tetap aman,” kata Rambut Pulau.

“Aman dari apa. Memangnya temanku pencuri. Aku mengajak teman, tentu saja teman yang sudah kupercaya,” kataku lagi.

“Kamu ini cerewet ya. Pokoknya tidak boleh,” kata dia.

Kamu tidak boleh bangun kesiangan. Ini bukan rumahmu.” Sementara dia sendiri, kulihat sering tidak ikut shalat Shubuh berjamaah. Tidur.

Suatu hari, saking sebalnya, kukerjai si Rambut Pulau. Dia biasa mengkilatkan sisa rambutnya tiap pagi sebelum mengajar. Oh iya, Rambut Pulau ini mengajar anak-anak SMP di dekat kantor kelurahan. Nah, semir rambut kesukaannya kusembunyikan di bawah lemari di gudang.

Di lain hari, sampai berkeringat si Rambut Pulau mengucur, dia tidak mampu menemukannya. Dia berteriak. “Hai kalian anak-anak, ada yang tahu semir rambutku.”

Tanpa semir itu, sepertinya dia sungguh tidak percaya diri. Rasakan kamu, kamu mesti merasakan ketidakpercayaan diri seperti itu. Makanya jangan suka otoriter sama anak-anak, pikirku.

Sampai akhirnya, si Rambut Pulau menyerah. Tapi, aku biarkan saja semir itu di sana. Sampai suatu hari ada temanku yang menemukan. Bukannya dia menyerahkan ke si botak. Malah dia bawa ke sekolahan dia buat menggambar di pagar.

***

Aku hanya tahan sepuluh bulan di ‘penjara’ ini. Sepulang sekolah, waktu itu hujan deras, aku pamit kepada ustad temannya Peci. Aku akan pindah ke kos yang bertempat di dekat sekolah. Tentu saja aku tidak bilang alasanku yang sebenarnya. Aku cuma katakan ingin tinggal di dekat tempat pendidikanku.

Ternyata tinggal di asrama sama saja dengan lingkungan rumah di kampung. Tidak memberi kesempatan kepada remaja untuk kreatif. Yang beda cuma, ini di kota besar. Sebenarnya harus diakui tinggal di tempat ini menambah wawasan, walau sedikit. Kendati begitu, selalu timbul pemberontakan.

Bagaimana tidak memberontak, di kompleks asrama tidak ada media informasi dan hiburan bagi penghuni. Nah untuk mendapatkan kebutuhan semacam itu, kami sampai harus mencuri-curi untuk mencari di tempat lain. Lalu, tiap hari kami harus melayani mereka yang lebih tua.

Makan saja diatur. Sudah seperti ayam ternak di kampung. Padahal, yang namanya lapar itu tidak bisa diajak kompromi. Tapi, kalau terlambat makan, penghuni pasti tidak dapat bagian karena sudah habis dimakan teman yang lain. Kalau sudah begitu, harus tahan lapar.

Anak-anak penghuni asrama harus mengalah pada orang dewasa. Misalnya kami harus rajin bekerja, sedangkan mereka bisa bermalas-malasan. Kalau mereka tidak ikut shalat Subuh berjamaah, tidak ada yang menghukumg. Coba kalau kami, pasti dimarahi.

Pemimpin asrama seperti raja. Tidak mau dibantah. Bantah berarti durhaka, kira-kira begitu. Sehingga aku makin kesal. Ini seperti orang tuaku. Aku paling tidak cocok dengan lingkungan yang otoriter. Tidak suka diskusi dan tidak suka mendengar pendapat orang lain.

Setelah hujan reda, kuangkut secara bertahap pakaianku ke kos baruku. Kos baruku sederhana. Cuma satu kamar. Tapi di sini, aku merasa akan bisa mengatur hidupku dengan caraku sendiri.

Aku berterima kasih pada temanku, si Peci. Terpaksa aku mengecewakan dia. Aku juga berterima kasih pada ustad teman Peci yang telah memberiku tempat di asrama yang sudah kuanggap jadi penjara anak ini.