Saturday, July 18, 2009

Naik Taksi Kota Sungai ke Barito

Hari kedua di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Cuacanya cerah sekali. Hari itu memang kami rencanakan untuk pergi ke Pasar Terapung Muara Kuin di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin.

Aku mau mereportase perjalanan ke pasar tradisional yang sohor di Indonesia itu. Temanku, Wisnu, fotografer harian Kompas, juga ingin memotret aktivitas pedagang di sana. Romauli, wartawati Sinar Harapan, juga ingin sekali menulisnya.

Pukul 4.30 WITA atau sekitar pukul 3.30 WIB, kami meninggalkan tempat penginapan di Hotel Batung Batulis di Jalan Ahmad Yani. Kami takut telat sampai di sana.
Kata orang Banjar, pasar itu akan tutup jam 9.00. Pada jam-jam segitu, sudah tidak akan menemui kegiatan pedagang.

Kami jalan kaki ke dermaga kecil. Orang sana menyebut lokasi itu Pelabuhan Provinsi. Letaknya sekitar dua puluh meter dari penginapan. Jadi, kami tinggal jalan kaki ke sana. Sampai di pelabuhan, perahu yang sebelumnya sudah kami sewa sudah siap.

Aku lebih familiar menyebut tumpangan kami itu sebagai perahu. Kalau di Muaragembong, Kabupaten Bekasi, tempat pertama kali aku naik perahu semacam ini, itu dinamai Perahu Kelotok. Perahu yang digerakkan oleh mesin diesel. Berbahan bakar solar.

Perahu yang akan kami tumpangi ini dibuat dengan bahan dasar kayu. Ukuran badannya sekitar 6x2 meter. Bagi orang Banjar, benda ini namanya bukan perahu, melainkan
Taksi Kota.

Aku agak lama bisa menerima penyebutan perahu pelotok menjadi Taksi Kota. Mungkin karena, dalam konsep berpikirku, yang namanya taksi itu ya kendaraan roda empat, ber AC, yang bergerak di jalan raya beraspal.

Aku tidak mau berdebat dengan istilah. Tapi pengalaman ini menegaskan bahwa agar jangan sering-sering menerima konsep-konsep tentang sesuatu pengalaman. Karena akan menjadi susah menerima suatu ketika menemukan perbedaan.

Tapi, yang terpenting terletak pada prinsip kerjanya. Perahu dan taksi prinsip kerjanya sama. Yaitu berfungsi untuk transportasi. Karena di Jakarta kondisi sungainya tidak mendukung, maka masyarakat tidak menggunakan perahu untuk bepergian jauh. Ibukota lebih banyak jalan darat, maka taksinya jalan di darat.

Sedangkan kalau di Banjarmasin, umumnya lalu lintas warga di sana memanfaatkan jasa perahu untuk bepergian. Karena memang di daerah ini sangat banyak daerah aliran sungai yang menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya.

Pemilik Taksi Kota sudah siap. Namanya Pak Ismit Inunu. Dia berusia 60 tahun. Pak Ismit berdiri di bibir Taksi Kota. Dia menjaga posisi perahu dengan bangunan dermaga agar ketika kami melangkah ke perahu, perahunya tidak bergerak menjauh. Kami melompat ke atap Taksi Kota sebelum masuk ke dalam perahu.

Lalu, kami harus merunduk sedalam-dalamnya agar bisa masuk Taksi Kota. Kalau tidak begitu, kepala bisa terbentur atap perahu. Di dalam Taksi Kota tidak ada tempat duduk semacam bangku. Melainkan, hanya gelosoran di ruangan kosong yang dihampari karpet.

Kami duduk bersila sambil mencari tempat yang tidak basah karena embun. Aku duduk di dekat Pak Ismit yang mulai mengoperasikan Taksi Kota. Taksi ini suaranya mirip mesin bajaj yang jarang dibawa ke bengkel dibersihkan mesinnya. Berisik bukan main. Beberapa waktu kemudian, taksi ini mulai menembus kegelapan Sungai Martapura.

*********

Aku memandang langit. Sangat cerah. Bulan bersinar penuh. Bintang-bintang sangat terang. Rasi bintang Salib Selatan atau rasi layang-layang (Gubuk Penceng) terlihat sangat jelas. Bintang inilah yang digunakan orang tradisional sebagai penunjuk arah Selatan.

Pemandangan langit seperti yang tentu tidak mungkin dilihat dari Ibukota Jakarta. Kalau di Jakarta, polusi cahaya dan udara telah membatasi mata manusia untuk menyaksikan betapa indahnya luar angkasa.

Kami menyusuri Sungai Martapura. Setelah agak lama berjalan di atas sungai besar itu, Pak Ismit membelokkan perahu. Kami memasuki Sungai Kuin. Sungai ini menghubungkan ke Sungai Barito yang menjadi tujuan kami.

Bangunan-bangunan beton seperti yang kami lewati di sepanjang Sungai Martapura, kini sudah tidak tampak. Sekarang, kami melewati perkampungan tradisional. Aku menyebutnya tradisional karena rumah-rumah penduduk di sini letaknya menjorok ke sungai. Tiang-tiang penyangga rumah tertanam ke dasar sungai.

Sebagian besar rumah menghadap ke sungai. Itulah yang paling kukagumi. Betapa mereka menghargai dan menghormati eksistensi sungai. Seolah-olah sungai sebagai taman rumah. Dan tentu saja, mereka akan menjaga keindahan sungai itu agar elok.

Aku bilang, orang Banjar ini sangat menyintai sungai. Seperti orang kampungku, menyintai sawah. Sebagian penduduk yang tinggal rumah-rumah tepi sungai, pagi itu pada duduk di papan kayu depan rumah. Awalnya, kupikir mereka sedang buang air besar. Tapi ternyata tidak.

Mereka sedang menggosok gigi. Mereka pakai gayung untuk mengambil air kali dan digunakan untuk berkumur-kumur. Ada juga yang cuci muka, ada juga yang mandi. Betapa pemandangan itu sangat indah.

Lalu aku membuat kesimpulan. Sungai di Banjar, sungai yang sangat dihargai manusia yang menetap di sekitarnya. Betapa bahagianya sungai ini. Atau betapa senangnya manusia di sini dilayani semua kebutuhan dasarnya oleh sungai dengan baik seperti itu.

Kata Pak Ismit, orang Banjar memang umumnya menggantungkan hidup kepada sungai. Kepada alam. Itu sebabnya, mereka menganggap sungai sebagai bagian dari keseharian. Dalam pengertian, mereka ikut melestarikan sungai.

Seperti Pak Ismit sendiri. Sungai adalah tempat usaha. Tiga puluh tahun lamanya dia menjadi nahkoda Taksi Kota. Berkeliling Kalimantan. Dia berhasil menghidupi enam orang anaknya. Itu semua karena jasa sungai.

Begitu juga dengan penduduk lainnya, mereka menggunakan sungai untuk tempat berdagang makanan, mencari ikan, dan lain sebagainya. Orang Banjarmasin banyak yang bisa naik haji juga karena jasa sungai.

Maka itu, wajib hukumnya bagi penduduk tradisional ini untuk menjaga sungai sebaik-baiknya.

Di beberapa titik kuperhatikan ada pos keamanan. Kata Pak Ismit, pos itu tempat penjagaan. Namanya LSA, Lalu Lintas Air. Mereka bertugas untuk menjaga keamanan sekaligus kontrol kebersihan sungai. Oh, luar biasa, pikirku. Benar-benar membanggakan.

*****

Pak Ismit selalu menyalakan senter dan menyorotkan cahayanya ke arah depan, tiap Taksi Kelotok yang kami tumpangi hendak berpapasan dengan Taksi Kota lainnya.
Menurutku, sorot senter itu merupakan komunikasi bagi satu nahkoda dengan nakoda lainnya. Sebagai penjelasan bahwa ada perahu di depan dan harap hati-hati. Atau juga bisa dimaknai, sukses buat anda, hati hati di jalan, dan jaga keselamatan penumpang.
Lampu adalah bahasa lain dari klakson. Taksi Jakarta, umumnya menggunakan klakson untuk memberi peringatan, walau memang kadang pakai lampu mobil juga kalau malam.

Perahu-perahu yang berpapasan dengan kami sebagian mengangkut sayur mayur. Mungkin mereka baru saja belanja di pasar apung Barito. Sayur-sayur yang banyak itu tentunya bukan untuk kebutuhan sendiri, melainkan untuk dijual kembali ke kampung-kampung.

Betul juga perkiraanku. Di beberapa lokasi, kuperhatikan ada perahu berjalan pelan di pinggir sungai. Mereka menawarkan sayur, kelapa, dan buah-buahan, kepada penduduk yang tinggal di rumah-rumah panggung. “Sayur, sayur, sayuuur….” katanya.

Mereka jualan menyusuri sungai. Dan akan berhenti di tepat di bawah pintu rumah, jika ada penduduk yang ingin belanja. Transaksi yang sangat mengesankan. Inilah kehidupan di sungai. Sungai telah memberikan banyak manfaat, sungai telah memberikan banyak pelayanan kepada manusia.

****

Ketika gelombang sinar matahari mulai menggantikan terangnya bulan dan bintang, perahu Pak Ismit tiba di Sungai Barito.

Sungai Barito berukuran lebih besar dari Sungai Kuin. Karena sungai ini merupakan muaranya Sungai Kuin. Sungai terkenal ini lebarnya kira-kira setengah kilometer dan kedalamannya kata orang mencapai lebih dari 20 meter.

Aktivitas di sungai ini kelihatan lebih berat. Di ujung sana ada kapal tongkang yang mengangkut batu bara. Tidak jauh dari Taksi Kotaku, sedang terparkir tongkang pengangkut kayu. Di sebelahnya berdiri dengan seramnya, kapal tua pengangkut jeligen-jeligen besar, entah apa isinya.

Sungai ini rupanya punya kewajiban jauh lebih berat. Mereka harus memberikan pelayanan ekstra kepada manusia. Aku berharap kerja keras air sungai di sini juga dihargai. Paling tidak manusia-manusia pengendali kapal-kapal besar itu tidak merusak lingkungan dan membuang limbah asal-asalan. Dengan begitu ekosistem sungai tetap terjaga.

Taksi Kota Pak Ismit berjalan dengan segagah-gagahnya. Makin banyak perahu-perahu pengangkut yang berpapasan dengan kami. Di sebelah kami, ada Taksi Kota lainna yang ngebut dan menyalip Taksi Kotaku. Perahu Kelotok itu rupanya membawa turis. Mungkin mereka ingin ke pasar apung juga.

Di sebelah tengah sungai ada perahu beratap berhenti. Lama-lama diperhatikan, ada sesuatu yang unik terjadi di sana. Oh, rupanya itu rumah makan. Rumah makan terapung. Namanya Warung Tatamba Lapar. Menunya sop, soto Banjar, rawon, gabus, dan lain sebagainya.

Rupanya di dalam perahu itu ada banyak orang sedang makan. Perahunya sebesar Taksi Kota ini. Tapi didesain sebagai rumah makan, ada bangku-bangku pendek sebagai tempat meletakkan mangkok-mangkok wadah makanannya.

Makan soto dan minum teh panas di atas air di tengah Sungai Barito. Mereka bergoyang-goyang ketika ada perahu melintasi air dekat warung makan. Fantastik.

****

“Buah-buah, kelapa, kelapa,” kata salah satu pedagang. Yang di ujung sana juga bilang, “sayur, sayur, sayur.”

Kami sudah sampai di pasar apung Barito. Puluhan perahu kecil berderet di atas sungai dari pinggir sampai tengah sungai. Ibu-ibu dan bapak-bapak mengenakan caping besar.

Mereka duduk di antara sayur-sayuran yang tertata rapi di perahu. Begitu juga dengan dagangan buah-buahan. Semuanya ditata rapi sehingga terlihat cantik di atas sungai. Umumnya yang dijual di sana adalah hasil bumi.

Ibu-ibu menyapa perahu-perahu yang baru datang. Mereka menawarkan dagangannya. Untuk oleh-oleh bagi para pelancong. Atau untuk didagangkan kembali bagi pedagang eceran.
Kami beli jeruk dan sawo. Jeruknya berkulit hijau. Kalau dimakan ada yang kecut, ada juga yangmanis. Tidak mengapa. Bukan rasa yang sedang kami cari, melainkan fantasi ketika sedang bertransaksi di atas sungai yang eksotis ini.

Ada banyak cara ibu dan bapak pedagang itu menjual dagangan. Ada yang hanya berhenti dan menunggu orang mendekati mereka. Ada juga sambil mendayung perahu untuk berkeliling sekitar pasar untuk menjajakan dagangan.

Pak Ismit mesti hati-hati di sini. Karena perahunya bisa secara tidak sengaja disodok perahu pedagang yang keliling itu. Kalau perahu pedagang mau lewat, biasanya mereka berteriak kepada Pak Ismit agar diberikan ruang untuk maju. Pak Ismit dengan sabar menuruti perintah-perintah semacam itu.

Kalau belanja dengan perahu yang keliling itu enak, kami tinggal duduk di perahu dan mereka menyodorkannya ke kami. Tapi kalau yang kita mau membeli sesuatu, sementara perahu kami tidak bisa mendekati perahu pedagang, maka, harus berteriak-teriak.
Biasanya juga, kami harus menggunakan semacam kayu untuk memilih-milih barang karena jaraknya yang agak jauh dengan perahu milik pedagang.

Wisnu, fotografer Kompas, sibuk menemukan sudut pandang untuk memotret. Romauli sibuk membuat pengamatan. Aku sendiri sibuk memperhatikan bule-bule di atas perahu yang sepertinya ramai sekali di tengah-tengah para pedagang.

Bule-bule itu belanja makanan dan memakannya di tempat. Mereka minta tolong sopir Taksi Kotanya untuk memotret diri mereka. Bule ini ingin menjelaskan betapa mereka ingin memeluk dan mencium sepuas-puasnya Pasar Barito ini.

Pak Ismit bilang, pasar ini memang menjadi tujuan wisata. Pasar ini termasuk salah satu pasar tertua di Pulau Kalimantan.(bersambung)

Friday, July 17, 2009

Memaknai Kebebasan dari Mbah Surip

Beberapa hari ini, nada tunggu telepon genggam fungsionaris Partai Gerindra, Haryanto Taslam, berubah. Lagunya tidak lagi bertema kampanye calon presiden Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, melainkan, ‘tak gendong, ke mana-mana, tak gendong…”

Itu adalah lagunya Mbah Surip. Seniman yang kehadirannya seperti keajaiban di blantika musik Indonesia. Pelan-pelan tapi pasti, melejit.

Haryanto menyukai karya Mbah Surip. Itu sebabnya, Haryanto memutuskan langsung mengganti nada tunggu teleponnya.

Mbah Surip. Namanya mulai sohor belakangan ini. Selama ini dia bergabung dengan beberapa komunitas pecinta seni. Antara lain, komunitas seniman Teguh Karya, Aquila, Bulungan, sampai komunitas seniman di Taman Ismail Marzuki.

Dengan gaya slebor dan tawa khasnya, Mbah Surip kemudian menapak dunia rekaman. Lalu dia merekam albumnya di cakram rekaman. Antara lain Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan Barang Baru (2004).

Sosok Mbah Surip ini begitu digemari oleh fans-nya. Dia dianggap tokoh yang mewakili orang dengan jiwa bebas. Berpikiran bebas. Dan semangat hidup dan berkarya dengan bebas pula.

Itulah yang menginspirasi Haryanto Taslam. Kebebasan semacam itulah yang harusnya menjadi tujuan.

Gaya fisik Mbah Surip tidak perlu diperdebatkan secara serius. Tapi bagaimana dia mampu mengekspresikan apa yang jadi keinginannya itulah yang menarik dan perlu jadi bahan diskusi.

Mbah Surip ingin menjelaskan bahwa menjalani dan menuntaskan hidup ini kuncinya ialah semangat dan bebas itu. Bebas dalam pengertian tetap sadar bahwa orang lain juga memiliki kebebasan hidup di dunia ini.

Si embah itu juga telah menjelaskan bahwa orang yang tidak boleh begitu saja dikendalikan oleh konsep-konsep yang dianut pada umumnya masyarakat. Karena jika hal ituyang terjadi, maka orang akan terkungkung dan tidak lepas. Kebebasan Mbah Surip dimunculkan lewat karya dan gaya hidupnya.

Gaya Mbah Surip memang berbeda dengan orang yang menjalani bidang profesional lainnya. Tetapi, dalam konteks ini, yang terpenting ialah masing-masing professional itu memiliki kebebasan pikiran sehingga memiliki semangat yang maksimal.

Sekarang ini banyak orang yang tidak mampu berpikir merdeka. Sebab, mereka hidup dalam lingkaran tekanan-tekanan atau batasan-batasan yang diciptakan sistem tertentu.

“Where are you going? Ok I'm where are you going? Ok my darling.”

Sunday, July 5, 2009

Sujiwo Tejo Buka-bukaan

Siapa orang Indonesia yang tak kenal Sujiwo Tejo. Sujiwo dikenal sebagai seorang dalang dengan gaya eksentrik, musisi etnik, pelakon, dan penulis. Dia juga tipe orang yang ngeyelan (suka berdebat).

Ada satu sisi lagi dari dia. Pria kelahiran Jember 1962 ini adalah pengikut golongan putih alias golput jika tiba waktu Pemilihan Umum. Puluhan tahun pikiran Sujiwo Tejo diselubungi sikap pesimistis dengan hasil Pemilu. Tejo pun menjauh dari segala macam pernik Pemilu.

Itu dulu. Tahun ini ada perubahan radikal dalam alam pikir yang berambut gondrong itu. Tejo mendapat pencerahan yang menuntunnya agar tidak Golput lagi pada Pemilihan Presiden 8 Juli 2009.

Yang membuat Sujiwo Tejo sadar ialah wejangan orang tuanya. “Kata orang tuaku, hidup jangan hanya untuk diri sendiri,” kata Tejo yang baru-baru ini mencukur pendek rambutnya demi bermain di film Calo Presiden.

Sekarang dia sudah optimistis. Menurutnya orang harus punya pilihan politik. Tapi pilihan itu harus jujur, bukan atas kehendak dan kepentingan orang lain. “Pertimbanganku agar pemilihan ini bisa lebih baik. Aku ingin Indonesia ini lebih baik,” kata mantan wartawan Harian Kompas itu.

Lalu siapa yang akan dipilih Sujiwo Tejo pada 8 Juli nanti? “JK (Jusuf Kalla) – Wiranto.”

Bagi Tejo, duet JK-Wiranto telah mendobrak mitos bahwa yang pantas memimpin Indonesia hanyalah orang Jawa. Tapi kehadiran JK yang merupakan representasi etnis Bugis dan Wiranto mewakili Jawa telah mementahkannya.

Tejo mengatakan suksesnya Kerajaan Sriwijaya di masa lalu menguasai Nusantara bukan hanya karena etnis Jawa. Tapi dibantu oleh etnis-etnis lainnya.

Itu sebabnya Tejo tidak setuju dengan mitos bahwa hanya Jawa yang unggul. Dia mengatakan justru sebaliknya, kekuatan Nusantara ada pada keanekaragamannya.

Secara pribadi Tejo menyukai pembawaan JK yang orisinil. “Ceplas-ceplos,” katanya. Ceplas-ceplos yang dimaksud Tejo ialah cara JK bicara di depan publik selalu cair, tidak dibuat-buat, dan penjelasannya rasional.

“Bayangkan, betapa capeknya kalau berteman sama orang yang penuh aturan dan kaku,” katanya.

Itulah sebabnya Tejo yakin JK-Wiranto serius untuk membangun Indonesia lima tahun ke depan. Salah satu bentuk kecintaannya pada duet itu, Tejo dan Ipank Wahid merancang iklan kampanye politik. Skenarionya dibikin Tejo, sedangkan visualnya oleh Ipank.

Ide pembuatan iklan muncul pada 8 Juni 2009. Setelah konsepnya disetujui tim JK-Wiranto, mulailah iklan itu digarap 27 Juni 2009.

“Setelah iklan muncul, lumayanlah hasilnya. Ada orang yang kemudian mempertimbangkan ulang untuk tidak pilih calon presiden, selain kepada JK,” kata drop out Institut Teknologi Bandung itu.

Tapi, ada juga orang mengritik. Misalnya mengapa dalam iklan itu Tejo harus bilang bahwa demi ibunya, Sulastri, maka tidak golput. “Kata mereka, demi itu harus demi Allah, bukan yang lain. Tapi, bagiku, ibuku itu sangat dekat denganku,” katanya.

Dia menggambarkan kecintaannya pada ibu. Waktu kecil, setiap kali hendak pergi, Tejo selalu sujud di depan pintu dengan menghadap ke arah utara dan selatan. Lalu, ibunya diminta untuk melangkahi badannya.

(Penulis: wes yo ceritanya. Ini dulu. Bahan ceritanya masih ada sih, nanti disambung lagi.... ;-)salam VIVAnews)

Sepeda Motorku Negeriku

Aku punya sepeda motor. Bisa dibilang usianya agak tua. Walau begitu, mesin motorku ini tidak pernah ngadat. Itu sebabnya, tidak pernah kuganti. Lancar diajak kemana pun keliling Jakarta. Rileks dan praktis dibandingkan jenis kendaraan lainnya untuk menemani selama di Ibukota.

Tapi, tiap kali teman-teman melihat motorku, pastilah berkomentar. Ada yang bilang kotor. Ada yang bilang geli. Ada yang bilang jorok. Ada yang bilang kasihan. Ada yang tanya, apa motor ini baru jatuh dari got. Sebagian lagi tanya, apa motor ini baru baru diajak balapan di sawah.

Sampai-sampai pak kos dan ibu kosku tiap dua hari sekali mengingatkanku supaya mampir di tukang cuci Golden Truly. Pernah ada juga yang iseng, di knalpot sepeda motorku ditulisi ‘motor jorok, cuci dong.’

Terus, tiap kali aku berhenti di lampu merah di pagi hari, pengendara kendaraan di sekitarku, pasti melihat ke arah motorku. Mungkin mereka berpikir, ini motor betul-betul kacau, sekacau pengendaranya.

Intinya mereka bilang bahwa aku ini pemilik motor yang tidak bertanggung jawab. Hanya memaknai motor sebagai seonggok mesin belaka, tapi tidak mau melihat dari sisi sosial dan loyalitas yang dihasilkan mesin kepada manusia yang telah menciptakannya.

Mereka mengatakan kepadaku bahwa aku hanya memikirkan urusan sendiri, tanpa mempertimbangkan bagaimana kesiapan segala sesuatu yang mendukung proses untuk menyelesaikan urusan-urusan nafkah.

Apapun yang mereka amati atas motorku kemudian digunakan untuk menilaiku, itu masuk akal. Tidak ada argumentasi untuk mementahkan kekotoran tadi.

Sebenarnya memang sudah agak lama teman mesinku yang paling setia ini tidak dicuci. Terakhir kucuci di Kota Bekasi pada akhir 2008.

Ketika kucuci itu, Jakarta masih musim penghujan. Dan sekarang ini rupanya sudah musim kemarau dan sebentar lagi mau musim hujan lagi.

Pelek roda yang dulu mengkilap, sekarang coklat karena tanah. Besi-besi kerangka motor juga berdebu tebal. Body motornya juga coklat. Blok mesin penuh oli. Kaca lampu depan berwarna coklat. Lampu mati, lampu kiri kanan mati.

Pokoknya, kalau melihat motor itu dari sudut pandang manapun, pasti kesimpulannya ialah menyedihkan.

Baiklah. Menyedihkan. Menyusahkan. Jorok. Kacau. Ketidakpedulian dan lain sebagainya. Kuterima dengan kesadaran.

Tapi, sesungguhnya aku punya penjelasan sendiri soal semua itu.

Sengaja aku tidak pernah mencucinya karena ingin melihat seperti apa kalau motor sangat kotor. Apa yang akan terjadi kalau mesin motor kubiarkan tak terurus. Tak pernah kuikuti sistem pemeliharaan mesin sebagaimana diatur oleh perusahaan yang menciptakan motor itu.

Sepeda motor jorok tiap hari lewat jalan utama ibukota, Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Tiap hari lewat Istana Merdeka. Lewat gedung-gedung pencakar langit yang melambangkan modernitas dan optimisme Jakarta di mata dunia.

Aku juga ingin melihat seperti apa reaksi orang-orang Jakarta ini ketika melihatku dan sepeda motorku. Aku ingin menikmati sebagai orang yang akan dianggap jorok di jalanan. Sejorok polusi udara dan polusi cahaya yang sesungguhnya tiap menit juga dihasilkan oleh penghuni Ibukota.

Aku ingin membayangkan motorku adalah negeriku Indonesia. Dan aku berimajinasi sebagai orang yang sedang memimpin negeri itu. Besi, aluminium, plastik dan karet yang tersusun menjadi sebuah alat berjalan yang disebut sepeda motor yang kupakai itu kugambarkan sebagai masyarakat. Sebagai elemen-elemen yang membentuk sistem pemerintahan.

Semua itu tidak kuurus. Kubiarkan berjalan sendiri-sendiri. Aku sebagai pemimpin, tapi berlaku tidak mau bertanggung jawab atas tanah air udara yang menyediakan penghidupan bagi rakyat yang dipimpin.

Singkat cerita, bayangkan, jika pemimpin negeri ini betul-betul sepertiku. Sengaja tidak berperan sebagai penanggung jawab karena hanya berpikir untuk diri sendiri. Tidak berperan menjadi pemimpin yang semestinya dan menjalankan pemerintahan sekehendak penafsirannya.

Lalu, apa yang kelak terjadi. Ya motorku itu realitasnya. Kondisi di mana hanya kekacau balauan.

Jadi, kuharap, siapapun pemimpin Indonesia yang kelak dihasilkan dalam pemilihan presiden 2009, dapat mengelola negeri tidak seperti menangani sepeda motorku ;-)

Thursday, October 16, 2008

Optimis

Ada pengalaman menarik tentang bagaimana memunculkan semangat mengelola media online. Menarik karena setiap individu punya wajah cerah saat mengerjakan tugas jurnalistik, baik di redaksi maupun di lapangan.

Awak redaksi bukan sekedar memenuhi perintah ataupun asal ada laporan berita. Tetapi, bekerja berdasarkan kesadaran. Kesadaran untuk meningkatkan kualitas. Lalu, tim redaksi mempunyai rasa optimis. Optimis bahwa media ini pasti maju dan punya reputasi bagus.

Pertama, kesadaran semacam itu terbentuk melalui energi yang disalurkan dari roh pengelola media. Roh di sini ialah semangat pemimpin redaksi, redaktur dan reporter. Bentuk energi ini macam-macam. Misalnya, pimpinan mengamati secara detail hasil jurnalistik. Selalu membaca berita-berita yang sudah dipublikasi.

Dengan demikian, para pengampu itu selalu dapat mengikuti perkembangan. Lagipula, bila tim redaksi mengetahui pimpinan serius membaca tulisan-tulisan, tentu mempunyai pengaruh psikologi pada yang lain. Anak buah pasti senang dan tambah semangat.

Pimpinan bersedia memuji hasil kerja yang baik. Ia memberi masukan pada karya yang mesti diperbaiki. Membedakan pengaruh pimpinan yang baik dan yang biasa saja ialah ketika mereka tidak pernah memuji atau mengritik secara konsisten. Kepala yang baik selalu mengeluarkan kata-kata penilaian terhadap karya. Itu artinya ia punya respek.

Pujian atau kritikan dari pimpinan redaksi akan dilihat sebagai wujud kerja oleh redaksi. Meskipun pernyataannya hanya kata-kata sifat, tapi akan membuktikan bahwa ia mengikuti irama kerja. Lalu, pasti redaksi akan tertanam rasa tanggung jawab. Tanggung jawab untuk meningkatkan jurnalistik. Jujur dan menjaga reputasi.

Memberi toleransi pada kesalahan yang masih bisa diralat. Tapi, ia mesti tidak memberi toleransi pada pelanggaran-pelanggaran kode etik jurnalistik. Disiplin semacam ini akan menumbuhkan etika dalam diri awak redaksi. Tentu dampaknya akan menjalankan pekerjaan secara serius, tapi gembira. Bukan sekedar asal memampang berita. Tapi ada semangat untuk mencari-cari berita mempunyai manfaat bagi publik.

Pimpinan tidak segan-segan turun untuk mengontrol sekaligus mengedit karya yang kurang bermutu. Hasilnya Kontrol itu dijelaskan di depan ruang redaksi sehingga semua orang melihat dan belajar dalam waktu bersamaan. Upaya semacam ini biasanya dilakukan dengan mengadakan milis redaksi. Tapi, itu tidak cukup. Harus disampaikan secara langsung.

Pimpinan mesti menunjukan sikap seorang intelektual. Bersedia mendengarkan argumentasi. Memberi argumentasi. Mau membudayakan diskusi setiap saat. Sebab, sebagian pengelola media di Indonesia tidak punya ketabahan semacam itu. Mereka cenderung otoriter demi kepentingan tertentu yang tidak memihak etika jurnalistik.

Harus konsisten untuk menerapkan kode etik jurnalistik. Membudayakan akurat, mendekati lengkap sehingga pembaca tahu kontek berita. Sebab, sebagian besar media online sering mengorbankan syarat berita itu demi mengisi halaman dan mendahului publikasi media lain. Itulah sebabnya, karya berita sering kacau.

Tentu saja pimpinan mesti mempunyai sifat humoris. Dunia jurnalistik merupakan profesi yang bebas. Semua disiplin ilmu pengetahuan bisa bergelut di sini. Dibilang serius, ya serius. Sebab, karya jurnalistik punya tanggung jawab hukum. Punya tanggung jawab sosial. Tapi dibilang santai, ya santai. Kalau terlalu serius, cepat tua. Jadi serius tapi santai.

Yang penting lagi ialah pimpinan mesti sering membawa kabar baik. Misalnya, cerita tentang hal-hal yang optimis bahwa media ini pasti berkembang. Biasanya cerita-cerita semacam ini didapat bila ia banyak mengikuti perkembangan di luar redaksi. Banyak mengikuti diskusi-diskusi bermanfaat. Membaca peta bisnis media di dunia dan lain-lain.

Bila pimpinan media hanya seperti katak dalam tempurung, awak redaksi tentunya tidak optimal semangatnya.

Nah, tidak bagus juga bila awak redaksi terlalu bergantung pada pimpinan. Mereka mesti aktif mengembangkan sumber daya diri. Mau memainkan keahliannya semaksimal mungkin untuk mengoperasikan media.

Artinya di sini ialah, antara awak redaksi dengan pimpinan media mesti berjalan bersama dengan semangat menyala. Tetap semangat untuk maju. Dan percaya diri.