Tuesday, July 20, 2010

Wartawan Mabuk

SENANG bukan main senangnya si wartawan koran ekonomi satu ini. Dia menang lomba penulisan karena tulisannya menarik bagi BUMN tempat dia bertugas selama ini. Sudah pasti bangganya dobel. Dapat penghargaan sekaligus dapat uang.

Tiba waktunya penyerahan hadiah. Ternyata, hadiahnya tergolong luar biasa kalau diukur gaji yang dapat diberikan perusahaan media kepadanya pada jaman itu. Bahkan gaji tiga bulan plus bonus pun masih kalah nilainya.

Selesai seremoni, ia berpikir sambil buang air di toilet sudut gedung BUMN paling gemuk di Tanah Air. Katanya, kalau penghargaan sampai dikasih tahu ke redaksi, bisa-bisa hadiahnya dipotong rata sama bos-bos di kantor. Lebih baik, dirahasiakan saja.

Pikiran si wartawan pemenang lomba ini ada benarnya juga. Lebih baik hadiah dari BUMN itu dibuat pesta ramai-ramai bersama teman-teman yang bertugas di sana.

Di akhir pekan, pergilah mereka ke salah satu pusat pijat plus-plus terkenal di Ibukota. Usai acara, uangnya belum habis. Masih banyak. Lalu, pergilah mereka ke karaoke, tentunya sambil mabuk.

Keesokan harinya, kebetulan mereka libur. Kumpul lagi di restoran bonafit. Makan-makan. Selesai makan, dihitung-hitung lagi, uang masih sisa banyak.

Lalu, mereka pergi ke karaoke lagi. Kali ini di tempat karaoke yang lebih mewah dan pelayanan kelas atas. Singkat cerita, jam 02.00 WIB, sambil teler-teler, mereka hendak bayar ke kasir.

Dirogoh-rogoh, di cari-cari di tas, kosong. Ternyata uang si wartawan pemenang lomba itu hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat naik taksi. Jadilah mereka urunan. Tapi sial. Uang urunanpun tidak cukup untuk bayar karaoke. KTP pun disita.

Anak Kucing

JAM-JAM berangkat kerja, depan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pasti ramai kendaraan. Kalau sudah begitu, sepertinya hampir semua orang di jalan raya hanya memikirkan dirinya masing-masing. Tak terlalu penting mendahulukan orang lain. Itulah awal mula kesemrawutan di sekitar Gambir.

Tetapi, pagi itu ada pemandangan yang lain. Benar-benar lain, karena tepat di tengah jalan persimpangan lampu merah, antara Stasiun Gambir dan Gereja Immanuel, ada seekor anak kucing. Ia panik karena setiap kali mau minggir, ada kendaraan lewat. Tiap kali mau menepi, ada kendaraan di depannya.

Tapi, si kucing tidak putus asa. Ia terus bergerak ke sana kemari. Kadang-kadang meloncat untuk menghindari gilasan roda mobil. Gerakan kucing itu menjadi perhatian salah satu pengendara sepeda motor yang kemudian menepi.

Pemilik sepeda motor berlari menuju ke tengah jalan untuk mendekati kucing. Sambil memberi aba-aba kepada pengemudi kendaraan agar tidak ngebut, pria itu mengangkat kucing, merapatkannya ke dada, lalu pelan-pelan kembali ke sepeda motor.

Anak kucing itu tidak dilepas di trotoar atau dilempar ke dalam area stasiun, melainkan langsung dibawa pergi oleh pengemudi sepeda motor tadi. Setelah seratus meter jalan, ia berhenti lagi. Lalu, melepas kucing di dekat Taman Tugu Monas.

Orang-orang yang berdiri di dekat halte melihat tindakan pria itu tadi sambil terbengong-bengong.

Friday, July 16, 2010

Bike to War

KALAU berangkat ke redaksi di bawah jam tujuh pagi, biasanya ruteku, Jalan Medan Merdeka Utara – Jalan Thamrin – Jalan Sudirman, relatif lancar.

Kalau jalan lancar, rasanya bisa menikmati perjalanan. Seperti pagi itu, ketika sedang lewat di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara.

Dari kejauhan aku kagum dengan seorang tentara yang berpakaian lengkap mengendarai sepeda angin atau onthel. Menurutku, ini patut di contoh. Hmm.. coba kalau semua orang seperti beliau, ibukota ini pasti bebas dari macet. Tentu saja ramah lingkungan.

Setelah kendaraanku berada di belakang sepeda yang ditunggangi tentara, mataku tertuju pada stiker bulat di bawah tempat duduk sepedanya. ‘bike to war.’

Tulisan itu, menurutku tidak umum. Biasanya, kan stiker-stiker yang sering dipakai para pengendara sepeda angin begini: ‘bike to work.’

Justru karena tidak umum, kreativitas tentara itu membikinku tertawa sepanjang jalan. Mentang-mentang tentara, bikin lelucon juga tidak jauh-jauh dari perang. Ia punya cara sendiri untuk kampanye bersepeda.

Thursday, June 3, 2010

Gocing (15)

PERNYATAANKU dalam pertemuan di aula balaikota dianggap sikap perang terhadap kebebasan wartawan nakal di Gunung Jaya. Heboh sudah barang tentu terjadi setelah itu. Bonarman membenciku.

Bahkan, dia menghasut teman-temannya untuk ikut-ikutan menjauhiku, Pak Rosyid, dan Prilia. Aku tidak peduli soal itu. Pikirku, tanpa merekapun sebenarnya aku bisa bekerja sendirian.

Aku tahu kelemahan Bonarman. Si Gigi ini wartawan yang sama sekali tidak kreatif, kecuali mengakali narasumber agar mau memberi hadiah.

Pernyataan kerasku di balaikota, mungkin hanya membuatnya jera untuk tidak menjual namaku dan mediaku untuk kepentingan pribadinya. Tapi, aku yakin, dia tetap tidak tahu malu untuk menerima amplop atau meminta uang pada narasumber.

Dan kalau itu yang terjadi, sudah pasti teman-temannya selalu dia jadikan tumbal. Menggunakan nama kelompok, biasanya memang lebih mudah untuk membuat narasumber atau pihak tertentu memberi uang.

Aku ingin mengerjai Bonarman lagi. Wartawan yang suka cari proyek dari dinas –dinas pemerintah ini harus dijauhkan dari teman-teman lainnya. Ingin kupecah belah kelompoknya.

Terpikir untuk melakukan itu karena suatu siang si Suroso bilang kepadaku kalau dia sesungguhnya marah pada Bonarman. Apa yang sampai bikin orang yang selama ini setia pada Bonarman ini? Tiap kali si Gigi memperoleh uang dari narasumber, kata Suroso, lebih sering disimpan sendiri, dari pada dibagi secara adil. Kalaupun dibagi-bagikan, jumlah uangnya pasti sudah dikurangi.

Suroso ini dulu pegawai pabrik di Kabupaten Brajasara. Lewat teman, dia mulai kenal dunia publistik. Karena dia anaknya rajin, tidak lama kemudian, Suroso diangkat jadi wartawan radio. Aku kenal anak yang selalu sisiran dengan membelah tengah rambutnya ini lewat Tudji.

Tak hanya soal jatah yang sering ditilep Bonarman yang membuat Suroso kesal. Sebenarnya Bonarman sudah tidak bekerja di media lagi. Dia dipecat karena berkelahi dengan redaktur kantor pusat. Setelah diselidiki, pangkal masalahnya ialah karena redaktur itu tidak pernah dapat bagian dari uang amplop yang selama ini Bonarman terima dari narasumber. Sehingga redaktur marah.

“Astaga,” kataku.

“Tapi, dia sampai sekarang masih petentang-petenteng dengan kartu pers di kantor walikota dan kantor polisi,” kata Suroso.

Menurut Suroso, Bonarman sangat keterlaluan. Dia masih berani minta uang pejabat dengan selalu membawa nama teman-teman yang biasa bermarkas di kantor polisi, tentu saja termasuk Suroso.

Saking marahnya, Suroso menyebut-nyebut Bonarman sebagai wartawan bodong atau gadungan. “Bloon.”

Aku bilang kepadanya, kenapa masih mau bergabung dengan si Gigi itu. Lalu Suroso jawab karena dia masih butuh Bonarman. Sebab, informasi berita dari kepala polisi selalu lewat si Gigi.

“Cing, jangan bilang ke Bonarman soal yang kukatakan tadi. Sebenarnya aku salut sama kamu. Konsisten.” Aku mengangguk dan menaruh tangan kananku di pundaknya. Lalu kami jalan ke luar dari warung kopi yang terletak di dekat lapangan sepak bola.

Di lain hari, pada waktu ada liputan di salah satu kampung, aku bertemu Tudji. Tidak biasanya si Tudji jadi pendiam seperti itu. Kemana si Bonarman. Kemana pula si fotografer penjual foto walikota itu. Aku jadi curiga.

“Sudah berani liputan sendiri kamu Dji. Katanya takut kalau tidak bareng teman-temanmu.” Tudji tidak jawab.

Setelah kudesak-desak, barulah dia mulai sedikit-sedikit menceritakan permasalahannya. Isi ceritanya kurang lebih sama dengan yang disampaikan Suroso tempo hari.

“Sial betul bang Bonarman, dia suka pakai nama mediaku juga kalau mau ketemu narasumber,” katanya sambil mengumpat.

Aku tertawa terbahak-bahak. “Bukannya itu sudah biasa Dji. Apa kamu tidak kebagian uang dari dia.”

“Masalahnya, dia itu sudah tidak kerja di media. Tapi masih kelayapan cari dana. Kamu tahu sendirilah, Cing.”

Kataku, “tentu saja aku tahu. Makanya aku berani teriak-teriak di balaikota soal bosmu itu.”
Tudji diam saja. Tudji mirip wartawan pemula yang masih culun. “Memangnya enak namamu dijual-jual si Gigi, Dji,” kataku sambil menertawakannya. Akhirnya kami pergi. Dia ke kantor polisi dan aku ke warnet.

Tibalah waktunya rencana memecah belah kelompok Bonarman, pikirku begitu sampai di depan warnet.

Beberapa hari kemudian, aku menemui Suroso dan Tudji agar kalau mengetik berita di warnet tempatku saja. Semula mereka keberatan. Tapi setelah kubilang, teman-temanku semuanya baik dan tidak pelit informasi.

“Aku, Pak Rosyid, dan Prilia juga selalu dapat informasi dari polisi seperti Bonarman itu,” kataku.

Kuceritakan pada mereka bahwa teman-teman di warnet justru lebih jago dan lebih kreatif dalam mengembangkan berita. Tidak melulu berita peristiwa kriminal. Jaringan narasumber anak-anak warnet juga lebih luas, buka cuma di kepolisian, masuk ke semua lini di Gunung Jaya.

Suroso dan Tudji seperti baru dengar pernyataan seperti itu. Kulihat wajah mereka tidak sesuram sebelumnya. Akhirnya kedua teman ini mau kuajak mengetik di warnet.

Sejak itu, mula-mula tiga hari sekali si Suroso dan Tudji mau mengetik di warnet. Lama-lama makin sering. Sampai akhirnya, beberapa teman Bonarman lainnya juga gabung di warnet.

Ternyata, keinginanku ‘mengobrak-abrik’ kelompok Bonarman berjalan mulus. Tidak sampai empat bulan setelah pertemuan besar yang diadakan walikota di balaikota, mereka mencoret nama masing-masing dari grup wartawan polres.

Ada kabar baru lagi setelah wartawan kantor polisi tercerai berai. Aku dapat kabar Bonarman sudah dapat kerjaan baru. Dia kerja di salah satu media bidang ekonomi. Kantor pusatnya di Jakarta. Sebenarnya dia akan dipekerjakan di Jakarta, tetapi entah bagaimana dia beralasan, akhirnya redaksi membiarkan dia bertugas di Gunung Jaya.

Tetapi, kelompoknya sudah tidak eksis lagi. Sebagian besar teman-temannya tidak mau lagi begadang di markasnya. Mereka pindah tempat nongkrong di warnet. Tinggal beberapa wartawan mingguan yang kadang medianya terbit kadang tidak terbit, yang gabung dengan si Gigi.

Keadaan itu betul-betul tidak menguntungkan Bonarman. Dia tidak punya otoritas untuk memaksa teman-temannya kembali ke grup yang pernah dia bangun.

Si Gigi kini bukan lagi wartawan kriminal, melainkan fokus ke ekonomi. Mau tidak mau dia harus belajar lebih banyak tentang permasalahan pembangunan di Gunung Jaya yang merupakan kawasan yang sedang berkembang. Isu soal pembangunan, teman-temankulah yang menguasai.

Sejak dia pindah media, aku berkali-kali menemukannya sedang murung di komplek walikota. Mungkin karena dia sering kebobolan berita penting tentang kebijakan publik. Kalau sudah begitu, pasti dia juga sering dimarahi redaktur.

Dalam keadaan seperti itu, aku yakin dia ingin berteman denganku dan teman-temanku yang biasa liputan tentang permasalahan pembangunan. Tetapi, aku yakin, dia tidak nyaman untuk minta pendapat pada kami. Aku membiarkannya sampai dia yang inisiatif datang bergabung.

Gocing (14)

KASUS pencatutan nama oleh Bonarman kuceritakan kepada teman-teman baikku. “Aku curiga, jangan-jangan dia tidak hanya minta uang lebaran pada kepala polisi, bisa jadi walikota dan humas pemerintah juga ditipu pakai nama kita.”

Damin yang sejak dulu geram terhadap Bonarman, langsung setuju usulanku untuk menyelidiki perilaku Bonarman. “Kita harus ketemu walikota,” kataku. Pak Rosyid dan Prilia sepakat.

Lalu, aku menelepon walikota untuk minta waktu ketemu. Pada waktu ditanya ajudan untuk keperluan apa kami menemui walikota, aku bilang ingin wawancara terkait dengan lebaran. Dengan begitu, bisa lebih gampang menemuinya.

Hari yang ditentukan tiba. Kamu datang ke balaikota. Kebetulan pada waktu kami tiba di ruang walikota, dia sedang bersantai. Mungkin karena suasana lebaran. Jadi, tidak banyak pekerjaan.

Setelah ngobrol sana-sini, barulah masuk ke tujuan utama kami. Pertama-tama, aku tanya kepada walikota mengenai perilaku para wartawan di saat lebaran tiba. Walikota yang suka blak-blakan ini langsung tertarik untuk menanggapi.

“Di meja itu banyak banget permohonan permohonan sumbangan tunjangan hari raya dari LSM. Dari teman-teman kalian juga banyak,” katanya.

“Siapa di antara teman-teman kami yang minta uang lebaran, pak,” kataku. Kemudian, walikota menyebutkan sekitar lima nama kelompok wartawan, di antaranya grup pers yang dibentuk Bonarman.

Karena kedatangan kami ke kantor walikota sebenarnya untuk memeriksa perilaku Bonarman, kami langsung minta walikota menunjukkan surat yang mengatasnamakan kelompok wartawan yang diberikan si Bonarman alias si Gigi itu.

“Ternyata benar, nama kita dicatut dia,” bisikku kepada Prilia yang duduk di sampingku. Lalu, Prilia panggil Pak Rosyid dan Damin agar mendekat. Kami semua saling pandang.

“Tiga hari lalu, Bonarman datang sama dua temannya. Sebenarnya wartawan itu agamanya apa sih. Tiap ada hari raya, minta uang THR terus. Dia minta supaya semua nama yang ditulis di suratnya itu dikasih jatah merata,” kata walikota.

Rupanya walikota tidak paham dengan penjelasanku pada waktu aku bertemu dia bulan lalu atau ketika si Gigi datang bersama fotografer untuk menjual foto. Waktu itu, aku minta walikota jangan pernah memberi uang pada jurnalis. Dalam hati, aku mengumpat walikota, kenapa dia mesti takut kepada wartawan. Jangan-jangan walikota ini memang punya kasus besar yang mengancam jabatannya.

Aku gondok juga. Kalau begini caranya, aku harus menjelaskan lagi kepada dia. Bahwa, aku dan teman-temanku ini bukan wartawan seperti Bonarman yang tidak punya malu untuk minta uang kepada narasumber. Kami wartawan yang masih memegang kode etik jurnalistik.

“Pak walikota, tolong lain kali kalau ada wartawan bawa-bawa nama kami untuk minta uang, jangan dituruti,” kataku. “Ini masa lebaran, pastinya banyak kelompok wartawan minta jatah.”

Pada saat itu, timbul niatku untuk mengerjai si Bonarman Gigi dan kawan-kawannya. Aku berpikir keras bagaimana caranya. Aku dapat ide. Karena aku dan walikota sudah kenal baik, aku berani minta tolong agar diatur waktu untuk pertemuan dengan para wartawan Gunung Jaya.

Awalnya, walikota keberatan. Karena kalau tidak ada kepentingan buat pemerintah, buat apa ketemu wartawan. Tapi setelah aku jelaskan ini untuk kepentingan bersama. Tujuannya supaya tidak ada pejabat yang diperas dan tidak ada wartawan yang dicatut namanya oleh kelompok pers.

Tapi akhirnya walikota setuju. Dia minta rincian rencana pertemuan. Kusarankan kepada dia bahwa acaranya nanti harus bertema seputar lebaran, misalnya halal bihalal. Aku yakin semua wartawan akan dengan senang hati datang.

Walikota menganggul-angguk tandak paham maksudku. Dia minta aku, Pak Rosyid, dan Prilia yang jadi semacam koordinator untuk mengumpulkan wartawan. Kami siap. Setelah walikota sepakat semuanya, kami pergi dari kantornya.

Tidak terlalu sulit mengundang wartawan di Gunung Jaya. Undangan tidak perlu formal. Cukup dilontarkan dari mulut ke mulut atau lewat pesan singkat. Tidak butuh waktu lama, rencana acara halal bihalal yang bertempat di kantor walikota sudah sampai ke semua telinga wartawan.

Sepekan setelah lebaran, acara silaturahmi antara walikota dan pers dilaksanakan. Seperti dugaanku, acara ini dihadiri oleh banyak wartawan. Bahkan, aku kaget, jumlah orang yang datang melebihi jumlah media yang selama ini kuketahui.Ternyata, banyak sekali nama media yang masih asing di telinga yang tercatat di buku pendataan yang dipegang humas pemerintah.

“Busyet, kang. Banyak sekali media di Gunung Jaya ini ternyata ya,” kataku kepada pegawai humas yang bawa buku data tamu wartawan.

“Iya, aku juga tidak tahu, media ini terbit di mana, sepertinya tidak pernah ada di ruang humas,” kata staf humas yang sudah lama akrab denganku itu. “Kebanyakan media mingguan. Coba lihat, ini ada juga nama media yang mirip dengan mediamu, Cing.”

Aku geli juga. Aku bisa menebak. Ini pasti kebanyakan wartawan jadi-jadian. Wartawan bodrek. Asal sebut nama media. Kalau ada acara seperti ini, kata staf humas temanku, humas pemerintah kota selalu pusing. Soalnya, tiap selesai acara, wartawan memburu pegawai humas untuk minta uang transportasi.

“Pernah aku hampir dipukuli, Cing. Gara-gara tidak memberi uang,” katanya sambil menunjuk ke beberapa orang yang duduk di barisan kursi paling belakang di ruangan pertemuan. Orang-orang itulah yang akan memukuli temanku ini.

Di bagian depan kursi yang diperuntukkan bagi wartawan, kulihat si Gigi, Tudji, dan si fotografer yang pernah menjual foto walikota. Mereka selalu bergerombol. Benar-benar teman sejati.

Begitu mengetahui posisiku dekat dengan staf humas, Bonarman dan Tudji melambai-lambaikan tangan untuk menyapa.

Tidak butuh waktu lama, ruangan aula balaikota berubah berkabut. Asap rokok mengepul. Aku ingat suasana seperti ini juga terjadi kalau di salah satu rumah di kampungku ada kondangan. Semua orang merokok. Pakaian jadi bau tengik.

Di depan sana, walikota didampingi sekretaris daerah yang dari tadi duduk di kursi menghadap ke tempat duduk wartawan mulai berdehem. Itu pertanda dia segera membuka acara. Dia bicara seperti sedang meresmikan jembatan baru. Formal sekali. Tetapi, intinya, dia ingin mengantarkan acara ini ke inti yang sebenarnya.

Yaitu, untuk acara bebas berpendapat bagi wartawan Gunung Jaya. Boleh mengritik pemerintah, boleh juga menyanjung pemerintah.

Tiba waktunya untuk tanya jawab antara wartawan dan walikota. Tudji berdiri. Dia seperti mewakili teman-temannya. Dia menyanjung-nyanjung pencapaian pembangunan pemerintah. Dia juga minta agar walikota dan humas lebih memperhatikan wartawan Gunung Jaya yang setiap hari meliput acara-acara pejabat.

Geli juga mendengar Tudji bicara seperti itu. Tapi, itulah dia. Si Tudji, wartawan kaki tangan si Gigi. Usai Tudji bicara, kelompok wartawan lainnya secara bergilir juga angkat suara. Apa yang mereka sampaikan tidak jauh-jauh dari yang disampaikan Tudji.

Menanggapi hal itu, walikota tertawa senang. Dia menyampaikan banyak terima kasih kepada pers yang selama ini jadi mitra pemerintah. Tapi, dia juga minta pers juga harus bisa berperan sebagai pihak yang kritis. Sebab, kalau pers tidak kritis, tidak banyak kelalaian pejabat di lapangan yang terungkap.

Walikota memuji tulisanku soal pembangunan waduk. Dia bilang, itu contoh tulisan bagus. Menjelaskan secara gamblang proyek pembangunan. Tapi juga sekaligus mengkritisi. Sehingga pemerintah bisa berbenah agar pembangunan tidak terlalu merugikan masyarakat.

Setelah walikota selesai bicara, tiba giliranku untuk menyampaikan uneg-uneg. Aku bicara keras. Aku membalikkan kata-kata walikota tadi. Dia minta wartawan kritis, tapi di satu sisi dia senang memberi uang pada pers. Berarti itu sama artinya menjebak wartawan untuk melempem.

Di sisi lain, kataku, wartawan juga yang nakal dan suka memanfaatkan kekuasaannya. Kusebut nama Bonarman. Dia suka minta uang ke pejabat. Kusebut juga dia suka mencatut nama wartawan untuk minta uang.

Perilaku macam ini, kataku, sangat memalukan dan merugikan. Memalukan nama wartawan yang dicatut dan memalukan pers. Aku sudah bertekad untuk membikin Bonarman malu setengah mati. Sehingga aku tidak perlu tedeng aling-aling lagi.

Lalu, kusebut namaku serta media tempatku bekerja. Kalau lain kali ada wartawan yang berani-berani mencatutku lagi, wartawan yang bersangkutan akan kulaporkan ke polisi.

Aku juga menyinggung kebiasaan wartawan di Gunung Jaya yang minta jatah tiap hari Jumat ke humas. Mereka datang ke humas dengan membawa klipingan berita tentang pembangunan pemerintah. klipingan berita itu jadi semacam tanda bukti untuk dan ditukar dengan uang.

Bahkan di Gunung Jaya ini juga kerap kali terjadi kasus pemerasan. Misalnya setelah wartawan ramai-ramai memberitakan suatu kasus, kemudian mereka mendatangi pihak yang diserang untuk minta uang. Ada istilah untuk menggertak pejabat atau pengusaha di Gunung Jaya, “mau panjang atau mau pendek.”

Masih di depan alat pengeras suara, aku bilang humas juga ikut terlibat dalam memberi peluang terjadinya kebobrokan sebagian besar wartawan di Gunung Jaya. Karena ada anggaran yang disediakan pemerintah kepada pers. Maka, sebagian wartawan mengejarnya. Mereka merasa berhak mengambil uang. Sebab, kalau tidak diambil, nanti uangnya bisa dikorupsi staf humas.

Kudengar, hanya Pak Rosyid, Damin, Prilia, pegawai humas dan walikota yang tepuk tangan begitu aku selesai bicara. Wartawan lain diam saja. Aku tidak tahu, apakah para wartawan itu marah padaku atau malu. Kulirik Bonarman. Dia cuma celingak-celinguk.