BERIKUT INI cerita seorang office boy di sebuah kantor redaksi. Kebetulan, anak ini, selalu kebagian piket untuk bersih-bersih di toilet. Mengapa begitu, soalnya ia sering terlambat masuk kerja sehingga bosnya selalu menugaskannya di ruangan itu.
Aneh benar, suatu hari, ia datang pagi-pagi ke kantor. Satpam yang melihatnya sampai heran. Ia langsung ambil peralatan bersih-bersih seperti lap kaca dan ember. Masuklah ia ke toilet. Rajin sekali anak ini, biasanya ia merokok dulu baru mulai kerja.
Kemudian ia mengisi ember dan mencelupkan lap ke dalamnya. Ia ingin membersihkan kaca yang tampak buram dan berminyak. Wartawan memang jorok, masa kaca sampai berminyak. Ngapain saja di kamar mandi kok sampai jorok begini kacanya, kira-kira begitu pikirnya.
Untuk memudahkan pekerjaannya, ia menurunkan kaca itu. Untuk menurunkannya, ia pakai kursi agar posisinya seimbang. Begitu ia angkat kaca yang menempel di dinding, tiba-tiba jantungnya berdegub kencang.
Dari balik kaca itu, bertebaran puluhan amplop putih. Umumnya amplop-amplop itu sudah sobek. Amplop itu jatuh berantakan memenuhi permukaan wastafel.
Karena office boy ini sering bergaul dengan wartawan di redaksi, ia cepat tanggap. Ini pasti bekas amplop jalean alias hasil membodrek selama liputan.
Pantas saja, tiap kali sepulang liputan, sebelum mulai kerja, sebagian wartawan di redaksi pasti mampir dulu ke toilet. Pikir si office boy, ruangan toilet ini telah menjadi saksi bisu para wartawan amplop membuka hasil jalean. Sehabis mengambil isinya, amplop diselipkan lewat sela-sela dengan harapan tidak ada yang tahu soal amplop itu. Soalnya kalau dibuang ke tempat sampah, bisa-bisa muncul berbagai kecurigaan.
Sunday, September 5, 2010
“Oper Doooong (Amplopnya)”
RUPANYA, sore itu di sebuah ruangan gedung wakil rakyat ada sekitar sepuluh wartawan. Tumben-tumbenan. Biasanya, jam-jam segitu, semua sudah pulang atau kembali ke redaksi masing-masing.
Macam sidang saja. Di ujung bangku, duduklah wartawan yang selama ini dikenal sebagai korlap alias koordinator lapangan. Korlap itu biasanya diperankan wartawan yang lihai membikin panitia acara atau humas cair alias bisa mengeluarkan uang amplop.
Sementara itu, teman-temannya duduk berderet mengelilingi meja kayu. Ada yang senyum-senyum, ada yang cekikikan, ada yang sepertinya tak sabaran. Entahlah.
Usut punya usut, ternyata di bawah meja, tangan korlap dengan cekatan menghitung amplop yang didapat tadi siang dari anggota dewan yang menggelar konferensi pers tentang program fraksi.
Walau para wartawan ini sudah sangat familiar dengan amplop, tetap saja kalau urusan hitung-menghitung atau pembagian jatah, masih malu-malu alias sok jaga image. Entah image apa yang sedang dijaga.
Begitu yakin jumlah amplop cukup untuk semua wartawan di ruangan itu, korlap mulai membagi-bagikan. Cara pembagian amplop mengingatkan pada pengawas ujian yang membagikan lembar soal kepada siswa.
Amplop di berikan ke teman terdekat, lalu dioper lagi ke teman sebelahnya sampai ke tangan wartawan yang duduk paling ujung. Begitu seterusnya sampai tinggal satu amplop di tangan korlap. Karena korlap sudah yakin seyakinnya bahwa semua kebagian rejeki, ia langsung memasukan amplop bagiannya ke kantong celana.
Ketika rapat rahasia dan tanpa suara itu hendak disudahi, tiba-tiba seorang wartawan yang duduk sebelah kiri ujung berteriak lirih. “Oper doooong.” Semua langsung kaget. Rupanya, wartawan itu belum kebagian operan.
Macam sidang saja. Di ujung bangku, duduklah wartawan yang selama ini dikenal sebagai korlap alias koordinator lapangan. Korlap itu biasanya diperankan wartawan yang lihai membikin panitia acara atau humas cair alias bisa mengeluarkan uang amplop.
Sementara itu, teman-temannya duduk berderet mengelilingi meja kayu. Ada yang senyum-senyum, ada yang cekikikan, ada yang sepertinya tak sabaran. Entahlah.
Usut punya usut, ternyata di bawah meja, tangan korlap dengan cekatan menghitung amplop yang didapat tadi siang dari anggota dewan yang menggelar konferensi pers tentang program fraksi.
Walau para wartawan ini sudah sangat familiar dengan amplop, tetap saja kalau urusan hitung-menghitung atau pembagian jatah, masih malu-malu alias sok jaga image. Entah image apa yang sedang dijaga.
Begitu yakin jumlah amplop cukup untuk semua wartawan di ruangan itu, korlap mulai membagi-bagikan. Cara pembagian amplop mengingatkan pada pengawas ujian yang membagikan lembar soal kepada siswa.
Amplop di berikan ke teman terdekat, lalu dioper lagi ke teman sebelahnya sampai ke tangan wartawan yang duduk paling ujung. Begitu seterusnya sampai tinggal satu amplop di tangan korlap. Karena korlap sudah yakin seyakinnya bahwa semua kebagian rejeki, ia langsung memasukan amplop bagiannya ke kantong celana.
Ketika rapat rahasia dan tanpa suara itu hendak disudahi, tiba-tiba seorang wartawan yang duduk sebelah kiri ujung berteriak lirih. “Oper doooong.” Semua langsung kaget. Rupanya, wartawan itu belum kebagian operan.
Korlap Berteriak Tak Kebagian Amplop
SEPERTI BIASA, semua wajah kelompok wartawan ini ceria usai memenuhi undangan salah satu anggota dewan di salah satu kota Tanah Air. Wartawan yang selama ini dikenal sebagai koordinator lapangan alias korlap berjalan enerjik dengan wajah sumringah.
Sambil berjalan, tangannya masuk ke dalam tas. Semua teman-temannya sudah tahu kalau korlap ini sedang menghitung isi amplop. Pelan namun pasti, lembar demi lembar rupiah dihitung. Sebab, pembagian harus merata agar tidak muncul suara-suara sumbang di kemudian hari.
Dengan kode tertentu, ia panggil temannya. Begitu teman mendekat, tangan korlap masuk ke kantong celana teman yang baru dipanggilnya. Karena sudah tahu ada pencairan dana, teman-teman lain walau sebenarnya belum dipanggil, mereka mulai mendekat satu persatu ke korlap.
Proses pembagian uang amplop pun selesai dengan lancar. Korlap sudah bisa bernafas lega karena tugasnya selesai tanpa cek cok dengan temannya. Biasanya ada saja grundelan karena jatah kekecilan, mungkin setelah kena potong korlap.
Sesampai di luar gedung, keheningan suasana tiba-tiba terpecah oleh teriakan si korlap. Kontan teman-temannya yang tadi sudah mulai pergi, kaget dan berhenti begitu dengar korlap mereka histeris.
Sambil membuka-buka tas untuk meneliti isinya, si korlap bilang, ia tidak kebagian jatah. Agaknya, ia tidak akurat saat menghitung jatah tadi. Dipikirnya, sudah ambil jatah untuk diri sendiri. Tapi, ternyata belum.
Sambil berjalan, tangannya masuk ke dalam tas. Semua teman-temannya sudah tahu kalau korlap ini sedang menghitung isi amplop. Pelan namun pasti, lembar demi lembar rupiah dihitung. Sebab, pembagian harus merata agar tidak muncul suara-suara sumbang di kemudian hari.
Dengan kode tertentu, ia panggil temannya. Begitu teman mendekat, tangan korlap masuk ke kantong celana teman yang baru dipanggilnya. Karena sudah tahu ada pencairan dana, teman-teman lain walau sebenarnya belum dipanggil, mereka mulai mendekat satu persatu ke korlap.
Proses pembagian uang amplop pun selesai dengan lancar. Korlap sudah bisa bernafas lega karena tugasnya selesai tanpa cek cok dengan temannya. Biasanya ada saja grundelan karena jatah kekecilan, mungkin setelah kena potong korlap.
Sesampai di luar gedung, keheningan suasana tiba-tiba terpecah oleh teriakan si korlap. Kontan teman-temannya yang tadi sudah mulai pergi, kaget dan berhenti begitu dengar korlap mereka histeris.
Sambil membuka-buka tas untuk meneliti isinya, si korlap bilang, ia tidak kebagian jatah. Agaknya, ia tidak akurat saat menghitung jatah tadi. Dipikirnya, sudah ambil jatah untuk diri sendiri. Tapi, ternyata belum.
Wednesday, September 1, 2010
Tak Dapat Parcel, Wartawan Minta Mentahan
CERITANYA begini, suatu siang, ada acara bagi-bagi parcel menjelang lebaran di salah satu kantor dinas pejabat. Ternyata wartawan yang hadir banyak sekali sehingga sebagian di antaranya tidak dapat bagian.
Nah, wartawan yang tidak dapat jatah, padahal sudah capek-capek datang ke sana, akhirnya memutuskan untuk menghadap ke panitia. Intinya, mereka minta dikondisikan alias diadakan lagi parcel untuk mereka. Paling tidak mentahannya alias uang tunai.
Salah satu petinggi di kantor itu yang sekaligus menjadi panitia acara bingung. Ia pikir semua sudah kebagian. Tapi apa mau dikata. Sekarang, semua parcel sudah ludes.
Tapi, karena ia tidak ingin membuat rekan-rekan wartawan kuciwa alias kecewa, akhirnya ia memutuskan untuk memberi hadiah wartawan berupa mentahan sesusai keinginan. Mungkin dipikirannya, kalau mitra wartawan sampai kuciwa, besok-besok instansinya kena hajar berita.
“Sorry bro, gue ga tau kalo lu pada kagak dapet, ya udah lu gue kasih mentahnya aja yah cepek satu orang,” ujarnya.
Walau harus menahan kecewa karena nilainya terhitung sedikit, para wartawan yang menghadap petinggi tadi akhirnya tetap menerima uang itu. Senyum mereka tidak begitu mengembang.
Begitu sampai di luar ruang, mereka merasa lega. Soalnya, kalau dihitung-hitung, nilai uang yang baru diterima dari si panitia tadi setara dengan harga parcel.
"Alhamdulilah masih dapet, daripada lu manyun," kata salah satu wartawan kepada temannya.
Nah, wartawan yang tidak dapat jatah, padahal sudah capek-capek datang ke sana, akhirnya memutuskan untuk menghadap ke panitia. Intinya, mereka minta dikondisikan alias diadakan lagi parcel untuk mereka. Paling tidak mentahannya alias uang tunai.
Salah satu petinggi di kantor itu yang sekaligus menjadi panitia acara bingung. Ia pikir semua sudah kebagian. Tapi apa mau dikata. Sekarang, semua parcel sudah ludes.
Tapi, karena ia tidak ingin membuat rekan-rekan wartawan kuciwa alias kecewa, akhirnya ia memutuskan untuk memberi hadiah wartawan berupa mentahan sesusai keinginan. Mungkin dipikirannya, kalau mitra wartawan sampai kuciwa, besok-besok instansinya kena hajar berita.
“Sorry bro, gue ga tau kalo lu pada kagak dapet, ya udah lu gue kasih mentahnya aja yah cepek satu orang,” ujarnya.
Walau harus menahan kecewa karena nilainya terhitung sedikit, para wartawan yang menghadap petinggi tadi akhirnya tetap menerima uang itu. Senyum mereka tidak begitu mengembang.
Begitu sampai di luar ruang, mereka merasa lega. Soalnya, kalau dihitung-hitung, nilai uang yang baru diterima dari si panitia tadi setara dengan harga parcel.
"Alhamdulilah masih dapet, daripada lu manyun," kata salah satu wartawan kepada temannya.
Cara Jitu Wartawan Menang Doorprize
DI SALAH satu gedung kapitalis Ibukota, berlangsunglah peluncuran konten sepak bola luar negeri. Acara ini diselenggarakan oleh salah satu provider telepon genggam.
Banyak sekali wartawan yang diundang ke sana. Namanya juga peluncuran produk. Dibutuhkan media komunikasi yang cepat dan efektif untuk memfamiliarkan produk itu di tengah masyarakat. Ya, lewat media massa salah satu jalannya.
Agar acara ini juga memberi penghiburan kepada wartawan, di salah satu bagian program peluncuran, panitia menyelinginya dengan doorprize.
Di antara puluhan orang yang hadir, hanya seorang wartawan bidang IT yang punya cara kelewat kreatif untuk jadi pemenang doorprize. Ketika ia mendaftarkan medianya ke panitia, ia sengaja secara diam-diam memasukkan banyak sekali kartu namanya ke box kaca. Maksud hati, agar kartunya potensial nongol saat pengocokan. Semuanya ia lakukan dengan rahasia. Cara model itu selama ini sangat ampuh, tidak ada yang tahu.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu. Pengocokan kartu nama. Ternyata, apa yang jadi pengharapan wartawan IT itu terealisasi. Kartu namanya menang. Ia bangga sekali mendapatkan hadiah telepon genggam.
Pengocokan tahap pertama selesai. Kemudian, dilanjutkan pengocokan tahap kedua. Tuing… tuing, wartawan-wartawan yang hadir berharap-harap cemas. Akankah jadi pemenang.
Begitu tangan panitia keluar dari box kartu nama, ia membacakan nama yang tertera di kartu nama. Ternyata, nama si wartawan IT tadi lagi yang menang. Begitu namanya disebut, wartawan itu terlihat senyum-senyum. Ia sepertinya tidak enak hati, apalagi para wartawan lainnya menyorakinya dengan nada kesal.
Tetapi, karena si wartawan IT itu sudah dapat hadiah di tahap pertama tadi, maka ia tidak lagi punya hak mendapat hadiah di tahap kedua. Karena namanya dobel, maka pengocokan pun diulang lagi.
Kocok, kocok, kocok. Jrenggggggg. Tangan panitia mengambil satu kartu nama dan mengangkatnya. Lalu, ia membacakan nama pemenang. Nama si wartawan IT itu lagi yang menang.
Semua orang kaget lagi. Terutama para wartawan, mulailah mereka protes. Panitia acara sampai bercanda. “Mas ini kenapa bisa menang terus ya, berapa banyak kartu nama yang tadi dimasukkan ke box.”
Mendengar reaksi yang demikian riuhnya, si wartawan IT pelan-pelan bangkit dan meninggalkan arena pengocokan. Ia sepertinya sangat malu. Karena, rahasia menangnya diketahui oleh semua orang. Ia sama sekali tidak pernah menduga. Karena, di acara-acara doorprize sebelumnya, tidak pernah terjadi kasus seperti ini.
Banyak sekali wartawan yang diundang ke sana. Namanya juga peluncuran produk. Dibutuhkan media komunikasi yang cepat dan efektif untuk memfamiliarkan produk itu di tengah masyarakat. Ya, lewat media massa salah satu jalannya.
Agar acara ini juga memberi penghiburan kepada wartawan, di salah satu bagian program peluncuran, panitia menyelinginya dengan doorprize.
Di antara puluhan orang yang hadir, hanya seorang wartawan bidang IT yang punya cara kelewat kreatif untuk jadi pemenang doorprize. Ketika ia mendaftarkan medianya ke panitia, ia sengaja secara diam-diam memasukkan banyak sekali kartu namanya ke box kaca. Maksud hati, agar kartunya potensial nongol saat pengocokan. Semuanya ia lakukan dengan rahasia. Cara model itu selama ini sangat ampuh, tidak ada yang tahu.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu. Pengocokan kartu nama. Ternyata, apa yang jadi pengharapan wartawan IT itu terealisasi. Kartu namanya menang. Ia bangga sekali mendapatkan hadiah telepon genggam.
Pengocokan tahap pertama selesai. Kemudian, dilanjutkan pengocokan tahap kedua. Tuing… tuing, wartawan-wartawan yang hadir berharap-harap cemas. Akankah jadi pemenang.
Begitu tangan panitia keluar dari box kartu nama, ia membacakan nama yang tertera di kartu nama. Ternyata, nama si wartawan IT tadi lagi yang menang. Begitu namanya disebut, wartawan itu terlihat senyum-senyum. Ia sepertinya tidak enak hati, apalagi para wartawan lainnya menyorakinya dengan nada kesal.
Tetapi, karena si wartawan IT itu sudah dapat hadiah di tahap pertama tadi, maka ia tidak lagi punya hak mendapat hadiah di tahap kedua. Karena namanya dobel, maka pengocokan pun diulang lagi.
Kocok, kocok, kocok. Jrenggggggg. Tangan panitia mengambil satu kartu nama dan mengangkatnya. Lalu, ia membacakan nama pemenang. Nama si wartawan IT itu lagi yang menang.
Semua orang kaget lagi. Terutama para wartawan, mulailah mereka protes. Panitia acara sampai bercanda. “Mas ini kenapa bisa menang terus ya, berapa banyak kartu nama yang tadi dimasukkan ke box.”
Mendengar reaksi yang demikian riuhnya, si wartawan IT pelan-pelan bangkit dan meninggalkan arena pengocokan. Ia sepertinya sangat malu. Karena, rahasia menangnya diketahui oleh semua orang. Ia sama sekali tidak pernah menduga. Karena, di acara-acara doorprize sebelumnya, tidak pernah terjadi kasus seperti ini.