Thursday, September 24, 2009

Selamat Bergabung di Bumi Adik Kecil

Aku senang juga mendengar kabar kakak dari Miss Curcol sukses melahirkan. Katanya, dia melahirkan di salah satu rumah sakit di Jakarta. Walau tidak berada di sana, aku sudah bisa membayangkan betapa bahagianya mereka pada waktu itu, hari-hari ini, dan masa mendatang.

Kehadiran manusia baru di tengah keluarga. Betapa tidak senang. Sembilan bulan lamanya hidup menunggu-nunggu dan pada akhirnya yang mereka nantikan itu lahir juga. Mungkin tangisan pertama anak itu bagi mereka seperti gelegar suara yang menggetarkan hati lalu menjelma menjadi kebahagiaan tiada tara.

Selamat ya Miss Curcol. Aku ikut senang mendengar kamu mengabarkan berita kegembiraan itu. Apalagi ini masih hari lebaran. Hari dimana bagi umat muslim dianggap sebagai hari kemenangan. Hari penuh kesenangan. Kemudian disusul lagi kehadiran si kecil yang tiba-tiba dimunculkan di antara keluargamu.

Ini sudah pasti kado istimewa. Aku punya beberapa teman baik. Yang satu kakaknya Yosephine, mantan pacarku. Kemudian Suska-Blues, teman wartawan di Suara Merdeka. Ketiga, Mbak Yuli, teman wartawan Pos Kota yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Mereka sudah berkeluarga cukup lama. Bahkan Mbak Yuli itu sudah bertahun-tahun lamanya, mereka mendambakan kelahiran anak. Tapi hingga sekarang, mereka belum juga bisa mengandung bayi. Rupa-rupa cara mereka tempuh supaya bisa punya anak. Tapi belum juga dikaruniai apa yang mereka sangat inginkan di dunia ini.

Aku ingat usaha Mbak Yuli yang pernah diceritakannya secara khusus kepadaku beberapa tahun silam. Dia mengadopsi bayi dari seorang ibu dari keluarga miskin. Dia hampir gagal. Tapi akhirnya berhasil juga. Dia sangat bahagia. Sangat-sangat bergembira. Dan hidupnya penuh warna setelah bisa menggendong dan menyayangi bayinya.

Bayi itu kemudian sakit. Mbak Yuli tentu tidak tinggal diam. Dia ingin bayi ini sehat dan apapun dia lakukan untuk itu. Tapi cerita berkata lain. Bayi itu meninggal dalam pelukannya. Padahal, belum genap setahun dia merawat bayinya.

Dia sangat sedih. Dia sampai mengalami semacam luka jiwa dan penyelasan. Kehilangan yang amat sangat. Foto bayi itu dia bawa kemana-mana. Bahkan pada waktu dia menceritakan pengalaman kejatuhan jiwanya, dia memperlihatkan foto jenazah bayi yang sangat sangat dia sayangi itu padaku.

Maka itu, aku senang dengan kabar Miss Curcol. Adikmu harus dijaga baik-baik. Diberikan sarana kehidupan yang baik sehingga pertumbuhan fisik dan jiwanya kuat. Dalam masa pertumbuhan, berikanlah anak itu kebebasan dan janganlah dikekang dengan banyak aturan main manusia dewasa.

Aku setuju dengan pemberian pendidikan dan pengawalan etika kepada anak. Tapi, aku tidak setuju ketika anak terlalu dikotak-kotakkan dengan pengalaman-pengalaman orang tuanya. Aku lebih setuju, biarkanlah anak berkembang dengan kebebasan pribadinya. Sepanjang kebebasan itu merupakan kebebasan yang mempertimbangkan kebebasan orang lain di dunia ini.

Bayi lahir dengan kekosongan. Tuhan tidak bekerja lagi setelah itu. Misalnya Tuhan mentakdirkannya ini itu. Menurutku itu tidak betul. Bayitu kelak akan bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri. Dan dia akan mengisi kekosongan itu dengan kemampuannya. Orang dewasa tugasnya mendukung, bukan memberi aturan main yang dapat menghambat kebebasan anak.

Tentu saja akan ada orang yang protes tentang cara berpikirku tentang kebebasan anak. Tapi aku punya pengalaman di masa kecil yang buruk soal itu. Aku pernah jadi anak kecil yang hidup penuh kesunyian dan kesepian. Itu semua karena aturan main orang dewasa yang sebenarnya kutolak. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku kecil.

Miss Curcol tidak banya cerita soal adik kesayangannya ini. Dia hanya bilang adiknya lahir dengan selamat dan sehat. Itu juga karena kutanya. Tapi aku paham, mungkin dia lagi senang atau lagi sibuk sekali di rumah sakit sehingga tidak punya waktu bercerita lebih banyak sehingga aku punya gambaran utuh tentang adiknya.

Selamat bergabung dengan kami adik kecil. Adik akan menetap di bumi. Kita akan tinggal di salah satu planet dalam galaksi Bimasakti ini. Adik perlu tahu, posisi bumi kita ini ibarat sebutir pasir di pesisir pantai. Bumi kita ini hanyalah satu benda di antara miliyaran benda yang berada di Bimasakti.

Dan di alam semesta yang sampai sekarang ini belum ada manusia yang tahu batasannya itu, ada jutaan galaksi semacam galaksi tempat bumi kita ini mengambang. Membayangkan betapa sangat kecilnya manusia kita ini di galaksi ini, maka adik harus menjadi manusia yang bijaksana. Betapa kecil dan tidak banyak daya yang kita miliki, maka kita harus pintar dan menyintai alam.

Friday, September 11, 2009

Kesendirian

Aku berpikir momentum terbaik untuk meningkatkan hidupku di dunia ialah ketika sedang sendiri. Ketika sadar sedang menyendiri dibalik hiruk pikuk manusia, aku menemukan kebebasan. Bebas untuk berpikir. Berpikir tentang apapun yang sudah kucapai, sedang kucapai, dan apa yang sedang ingin kucapai.

Sendirian berarti aku bebas menempatkan posisiku. Apakah aku berfungsi sebagai manusia ataukah sama sekali tidak mampu berfungsi. Aku juga bebas menilai bagaimana pencapaian kehidupanku selama ini. Aku benar-benar dalam situasi bebas untuk apakah membuang masa lalu atau tidak.

Dalam kesendirian itu, aku bebas menentukan bagaimana posisiku sebagai manusia di sekarang atau masa depan. Aku juga bebas untuk malas. Karena malas adalah hakku. Malas untuk meningkatkan kualitasku posisi hidupku sekarang atau masa depan.

Tentu saja hal yang paling menarik ialah ketika aku sadar bahwa aku harus merancang masa depanku. Masa depan yang tidak sebatas hidup hidupan. Tidak sekedar mengalir seperti air sungai. Tetapi punya sikap hidup yang tegas.

Menyendiri itu nikmat sekali. Senikmat orang-orang yang berdiskusi sambil minum kopi di sebuah kafe. Aku dapat mengekpresikan jiwaku sesuai kehendakku. Kehedak untuk mengarahkan bagaimana bersikap dan bertindak.

Melalui sendirian, aku dapat melenyapkan orang lain dari kehidupanku. Dan tinggalah aku sendiri dalam dunia ini. Dunia dimana tidak ada lagi campur tangan orang lain. Tanpa mata orang lain. Tanpa suara orang lain. Tanpa penilaian-penilaian orang lain.

Atau sebaliknya, aku bisa menghadirkan orang lain dalam kehidupanku. Dan dapat menulis tentang mereka sekehendak hatiku. Karena sendirian adalah kebebasan, maka aku bisa membentuk orang lain, mempermainkan orang lain, dalam imajinasiku.
Sendiri dalam konteks kebebasan pribadi adalah kesempatan yang paling mahal dalam kehidupan di Jakarta.

Sunday, September 6, 2009

Mengapa Berkerudung

Phasmina putih. Itu Miss Curcol kenakan hari itu. Kainnya dia gunakan untuk menutup pundak sampai lengan. Tadinya kupikir phasmina yang dia pakai itu adalah kerudung. Kain yang biasa dipakai untuk menunjukkan identitas sebagai seorang muslimah.

Pada waktu masih berpikir bahwa kain putih itu adalah kerudung, aku bertanya-tanya dalam hati sambil bekerja sore itu. Mengapa dia tidak mengenakan kerudung itu. Bukankah dengan berkerudung, dia akan menciptakan kondisi dimana timbul perasaan sangat dekat dengan tuhan. Bukankah dia taat beragama.

Ataukah dia menganggap kerudung merupakan benda yang bakal membatasi kebebasan berekspresi. Kerudung tidak penting karena hanya mengurangi mode dan identitas sebagai perempuan modern jaman ini. Mungkinkah dia punya alasan semacam itu sehingga memutuskan tidak mengenakan kerudung itu.

Kupikir-pikir daripada aku sibuk mempertanyakan dalam hati, lebih baik kutanyakan langsung kepada Miss Curcol. Tapi dia masih sibuk sekali bekerja. Berjalan ke sana, berjalan ke sini. Aku jadi ingat waktu aku menjuluki dia sebagai Miss Setrika. Sebab, cara bekerjanya seperti alat penghalus pakaian.

Begitu dia duduk di depan komputer, entah waktu itu dia sedang menghitung angka-angka atau tidak, aku pertanyakan soal kerudung itu lewat YM. Dia menjawab dan barulah kuketahui bahwa yang dikenakannya itu sesungguhnya phasmina.

Dia mengenakan phasmina untuk membantunya mendapatkan suasana kehangatan di waktu kedinginan akibat air conditioner yang sangat dingin di kantor kami. Phasmina memang bentuknya mirip kerudung. Kain ini memang lebih tepat dipakai untuk bergaya atau meningkatkan estetika pemakainya. Jaman sekarang ini, penampilan memang menjadi tolak ukur kesuksesan. Miss Curcol ini termasuk penyuka penampilan trendi. Sehari-hari dia selalu tampil modis. Menarik sekali.

Kalau begitu tidak perlu kuperdebatkan lagi mengenai alasan dia tidak memakai phasmina cantik itu di rambut berukir Miss Curcol. Sebab, tentu saja tidak tepat. Tidak sesuai asas fungsi. Phasmina bukan untuk alat berkerudung.

Tapi, bagaimana tentang ide berkerudung. Kutanyakan itu kepadanya. Dan dia mengakui bahwa berjilbab bukanlah sekedar cara menunjukkan identitas sebagai muslimah. Nilainya labih dari itu. Berkerudung punya tujuan untuk mendekatkan diri kepada suasana religious dalam kehidupan Islam. Selain itu, memang ada anjuran bagi muslimah untuk mengenakannya. Ini dicontohkan oleh kehidupan para istri nabi dan sahabat-sahabatnya.

Memilih jalan hidup dengan mengenakan kerudung bukanlah suatu keputusan yang mudah. boleh dibilang sangatlah serius. Sebab, ketika seseorang menetapkan untuk berkerudung, maka dia harus menemukan kesadaran akan kebebasannya untuk berjalan di rel rohani.

Tetapi, pengetahuan soal makna berkudung saja tidak cukup. Sebab keputusan mengenakan jilbab juga membutuhkan suatu keikhlasan dan komitmen lahir dan batin. Kira-kira begitu pemikiran Miss Curcol yang diungkapkan kepadaku.

Aku masih penasaran dengan pikirannya. Dia bilang kesadaran saja belum cukup, sebab masih dibutuhkan keikhlasan dan komitmen. Apa maksudnya. Menurutku, ketika orang sudah mencapai tahap kesadaran untuk berkerudung, berarti sesungguhnya sudah final.
Bukankah pengertian kesadaran itu sebagai keadaan dimana seseorang sudah sampai tingkat mengerti dan memahami hal-hal yang dialaminya. Dalam konteks berkerudung ini, berarti keiklasan dan komitmen berada di dalam kesadaran itu sendiri.

Miss Curcol menjelaskan tentang komitmen dan keikhlasan. Memutuskan hidup berkerudung berarti harus rela meninggalkan sebagian kenikmatan dan keindahan duniawi. Contoh sederhananya bercelana dan berkaus ketat yang sedang digandrungi sebagian perempuan-perempuan pada jaman ini.

Selain itu, banyak jebakan prilaku sehari-hari yang kemudian tidak mencerminkan lagi kekerudungannya. Seperti merokok dan lain sebagainya.

Dia takut, kalau orang belum sampai tahap kerelaan meninggalkan hal-hal semacam itu, maka di tengah jalan akan menyesal seumur hidup telah mengenakan kerudung. Itulah inti pikiran Miss Curcol tentang keikhlasan dan komitmen itu.

Kutanya lagi. Miss Curcol sudah tahu makna dan tujuan sekaligus resiko-resikonya. Dan Miss Curcol adalah muslim yang taat. Mengapa tidak berjilbab. Dia menegaskan bahwa memegang komitmen itu super berat. Mengapa orang harus memaksa, kalau memang secara sadar dia belum siap.

Baiklah. Aku mulai memahami bahwa memutuskan mengenakan kerudung yang sederhana itu, memang membutuhkan niat yang sungguh-sungguh. Membutuhkan perenungan yang mendalam. Membutuhkan niat lahir dan bathin. Keiklasan dan komitmen.

Sebab, dewasa ini banyak orang tidak menaruh rasa simpati kepada sebagian perempuan berkerudung. Sebab, motivasi mereka mengenakan kerudung dinilai hanyalah untuk gaya-gayaan dan tidak konsisten. Bahkan tidak tahu tujuan awal dari berkerudung.

Misalnya, kerudung didesain sedemikian rupa mengikui mode yang sedang panas dewasa ini. rambutnya berkerudung, tetapi pakaian padanannya sangat ketat. Fisiknya menyembul ke sana dan ke sini. Itu memang ekspresi dari rasa seni dan kebebasan. Tidak ada yang bisa melarang dan membatasi.

Hmmm, tapi menurutku, realitas itu sama sekali berlawanan dengan pikiran Miss Curcol yang mengatakan bahwa tujuannya berkedurung ialah untuk menutupi aurat. Selain itu, meningkatkan kualitas keimanan di mata tuhan.

Thursday, September 3, 2009

Sensasi Menjelang Kematian di Lantai 31

Langit di Ibukota Jakarta berawan. Awannya seolah ingin memeluk erat gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak di segala penjuru pusat peradaban Indonesia ini.

Di kantor redaksiku, vivanews.com, lantai 31. Teman-temanku asyik menulis berita. Sesekali kami bercanda. Mbak-mbak di ujung sana sibuk mengerjakan keuangan kantor. Sedangkan mbak-mbak di sebelah sana lagi terdengar tertawa-tawa sambil membicarakan buka puasa yang tinggal tiga jam lagi.

Ketenteraman hilang ketika memasuki pukul 14.55 WIB. Aku merasakan tempat dudukku bergoyang pelan sekali. Tapi, goyangannya terus-terusan. Aku sadar gempa sedang terjadi. Lama-lama getarannya makin terasa. Badanku sampai ikut goyang sana-goyang sini seperti sedang berayun-ayunan di taman.

Penutup dinding kaca seperti dihempas angin ke sana kemari. Gemeretak plafon dan kaca-kaca dinding kantorku terdengar makin keras. Tidak lama kemudian, puluhan karyawan, baik dari vivanews dan antv, bergerak buru-buru menuju pintu darurat. Pintu darurat itu tepat berada di belakang meja kerjaku.

Kepanikan mulai terjadi ketika pengelola gedung melalui pengeras suara mengingatkan gempa sedang menghajar gedung ini. Kami dipandu untuk tenang dan bergerak menyelamatkan diri melalui tangga darurat. Wajah-wajah pegawai-pegawai kulihat pucat-pucat.

Suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang ketika sirine tanda bahaya dibunyikan pengelola gedung. Ada yang lari tunggang langgang. Ada yang berjalan cepat-cepat menuju pintu darurat. Ada yang berteriak agar berjalan lebih cepat karena gedung berlantai 35 ini benar-benar sedang bergetar hebat.

Aku berdiri dan aku mencoba jalan. Hampir-hampir terjatuh. Kulihat gedung-gedung pencakar langit di luar sana, masih tetap kokoh. Tidak ada yang roboh. Berarti gempa ini pasti tidak akan merobohkan gedung tempat kerjaku.

Aku memutuskan tidak ikut turun lewat tangga darurat. Aku kembali duduk di kursi kerjaku. Sirine membikin suasana menjadi panik. Apalagi peringatan dari pengelola gedung yang disampaikan berkali-kali bahwa lift sudah dimatikan.

Waktu itu, beberapa temanku ikut memutuskan untuk tidak ikut turun. Kami memutuskan untuk membikin berita peristiwa gempa ini. Kami media online, tentu kami tidak boleh kehilangan momentum. Walau ini merupakan keputusan yang sangat konyol.

Ya ampun. goyangan ini tidak juga berhenti. Malah terasa makin menghebat. Ayunannya makin jauh. Gemeretak gedung yang seluruhnya berdinding kaca ini sangat keras. Makin keras. Aku menekan meja kerjaku agar tidak pusing.

“Hayo, berhentilah gempa. Berhentilah. Pasti ini tidak akan lama. Tidak akan lama dan semuanya akan baik-baik saja,” pikirku. Aku melihat wajah teman-temanku mulai pucat pasi di depanku.

Radio pemberitaan Elshinta mulai menyiarkan peristiwa alam ini. Televisi tvone juga mulai membuat siaran langsung tentang gempa ini. Gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang. Gempa ini tergolong sangat kuat. Pusat gempa berada di Tasikmalaya. Dan berpotensi tsunami.

Aku makin panik ketika radio menyiarkan gempa yang masih kurasakan ini ternyata membuat kerusakan infrastruktur publik di Tasikmalaya dan Garut. Gempa juga dirasakan di Jabodetabek, bahkan Yogyakarta dan Bali ikut merasakannya. Aku mulai membayangkan, sebentar lagi gedung tempatku duduk ini akan rusak. Akan pecah dan kami tumpah ke permukaan bumi dari lantai 31.

Getaran terasa kuat pada waktu aku mendengar siaran radio itu. Sial. Gempa ini tidak juga berhenti. Kalau ini tidak berhenti, sebentar lagi aku pasti mati. Pengelola gedung kembali mengingatkan penghuni gedung ini yang masih bertahan di lantai masing-masing agar bersembunyi di bawah meja dan menjauh dari dinding kaca.

Brengsek. Sebentar lagi pasti gedung ini akan miring atau ambles. Kalaupun aku memutuskan lari lewat tangga darurat, pasti aku tidak akan berhasil mencapai tanah. Aku akan mati terjepit reruntuhan gedung. Kemudian, aku memutuskan untuk tenang dan bertahan di depan komputer.

Pada titik itu, kemudian aku memilih untuk disana agar dapat merasakan fantasi menjelang kematian. Aku ingin membuat sebuah penjelasan tentang proses menjelang tutup usia lewat cerita. Itu kalau aku berhasil hidup dengan melewati gempa ini. Tapi, kalau sore ini aku harus mati, sudahlah, ini pasti memang jalan hidupku.

Kemudian, aku membayangkan tentang batas akhir kehidupanku. Inilah detik-detik menuju penjemputan jiwaku. Dinding beton. Konstruksi baja gedung ini akan segera menimpaku. Akan menjepitku sampai remuk. Tulang-tulangku hancur. Kemudian darahku keluar semua.

Tidak ada yang tahu proses kematianku, kecuali aku sendiri yang merasakannya. Kepanikan, ketegangan, sekaligus rasa penasaran untuk merasakan sensasi menjelang kematian kuresapi benar. Nenekku, ibukku, adikku di Jawa Tengah, kemungkinan juga merasakan gempa ini. Dan mungkin saja mereka sempat berpikir tentangku di Jakarta.

Mungkin mereka akan segera tahu kabarku setelah aku mati. Dan mereka tidak akan bertemu denganku lagi karena aku sudah mati. Mereka tentu merindukanku. Aku juga demikian. Aku akan melihat mereka dari duniaku yang lain. Aku hanya bisa melihat, tapi tidak bisa berjabat tangan atau berbicara.

Aku mengatakan kepada diriku, beruntunglah pegawai-pegawai tadi yang berhasil mencapai tanah di bawah sana. Mereka pasti akan melihat dengan sangat jelas proses runtuhnya gedung 35 lantai ini dari kejauhan. Mereka mungkin akan histeris. Kaca-kaca berhamburan. Baja mencuat kemana-mana dan terlontar ke tanah. Tapi kalian berhasil mempertahankan hidup.

Kukatakan pada diriku lagi, sekarang ini, aku masih berada di lantai 31. Waktu gedung yang kalian lihat sedang hancur itu, aku meregang nyawa dengan teman-temanku di sini. Mau lompat seperti seorang pegawai yang loncat dari gedung WTC yang dibom teroris itu. Mustahil. Tentu aku tidak akan melakukan aksi konyol itu. Karena sama akan mati.

Tiba-tiba aku disadarkan dari bayangan akan kematian itu oleh suara radio dan televisi yang dengan ramai menginformasikan kepanikan yang penduduk di sejumlah tempat akibat gempa yang pada saat bersamaan sedang kurasakan ini.

Ya ampun. Aku sudah tidak rasional. Tidak. Aku tidak mau terjebak pada imajinasi. Sekarang ini aku masih hidup. Aku berusaha berpikir rasional. Aku masih di lantai 31. Memang ratusan pegawai gedung ini sekarang ini tentu sudah di bawah sana. Mereka melihat ke arah gedung yang sedang dihajar gempa ini.

Ketidakrasionalanku ini hanya karena melihat suasana yang sama sekali baru. Dua orang temanku yang masih bertahan di lantai 31 ini terlihat sangat tidak bahagia. Panik. Tapi mereka pasti sedang hidup dalam dunia kepasrahan di tengah-tengah gempa yang menggoyang gedung.

Tapi pintu kematian itu rasanya telah mengalahkan rasionalitasku. Yang ada adalah ketegangan luar biasa. Getaran hebat di gedung ini seperti meruntuhkan kesadaranku. Gempa ini benar-benar menghancurkan kebebasanku sebagai manusia.

Aku sepertinya tidak diberi pilihan untuk meneruskan kehidupanku. Aku hanya punya satu pilihan. Duduk di kursiku. Menanti kehancuran dan kematian. Sementara orang-orang menonton gedung ini yang bergoyang-goyang dari tanah di kejauhan sana.

Kekosongan sepertinya sudah di depan mataku. Tidak ada kehidupan. Aku seperti akan segera terlepas dari dunia tempatku bertahan sejak aku dikeluarkan dari rahim ibuku. Sepertinya aku sedang tersedot ke dalam dunia gelap. Getaran di lantai 31 seperti ingin mendorong kesadaranku ke sebuah gua yang sangat dalam, tanpa batas, dan tanpa dasar. Mati.

Detik-detik puncak gempa membuatku sangat pusing. Mulas. Tapi aku tidak pingsan. Inilah situasi ketika kebebasan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan direnggut. Kebebasan untuk bisa berjalan-jalan dengan rasa aman, kebebasan untuk tersenyum bahagia direnggut. Kebebasan untuk bertemu lagi dengan orang-orang yang dicintai dihabisi.

Kesadaranku atas kebebasanku sekarang ini hanya tinggal untuk melihat, mendengar, dan merasakan gemeretak gedung kaca ini. Betapa tidak. Apa lagi yang dapat kuperbuat lagi selain itu. Aku berpikir untuk menuliskan kata-kata cinta terakhir kepada orang-orang yang kusayangi dalam hidupku lewat facebook, yahoo messanger, email, dari jaringan internet yang masih aktif ini. Jaringan teleponku sekarang ini sudah mati.

Di perbatasan antara kehidupan dan kematian, aku sempat berpikir. Yah, internet ini merupakan jalan satu-satunya yang diberikan oleh teknologi ciptaan manusia untuk berkomunikasi yang terakhir kalinya dengan dunia di luar gedung yang segera roboh ini.

Lewat YM, aku juga kepikiran ingin menulis kata-kata terakhir kepada Miss Curcol. Aku ingin mengakui bahwa selama ini sesungguhnya aku sangat menyukainya. Tetapi, karena aku berpikir bahwa dia sedang menyayangi orang lain, maka aku mengurungkan niat untuk menulis pesan itu kepada Miss Curcol.

Aku berkata pada diriku, Miss Curcol beruntunglah kau sekarang ini berada di luar lantai 31 gedung yang sedang berayun-ayun ini. Gedung yang sekarang ini ingin mengantarkanku ke suatu suasana yang berada di luar duniamu. Gedung yang penuh suara gemeretak dan jendelanya bergerak seperti dihempas angin keras.

Rasanya aku ingin melihat foto Miss Curcol. Aku membuka facebooknya sebentar. Aku berkata kepada diriku sendiri, beruntunglah aku ketika sedang berangkat ke kematian, aku masih berkesempatan melihat orang yang kusukai.

Aku berpikir bahwa beruntunglah aku bahwa aku masih sadar sedang berjalan meninggalkan dunia manusia, dunia yang memberikan Miss Curcol kehidupan. Dunia tempat di mana manusia bisa berpikir dan bebas berkreasi serta mencari eksistensinya.

Aku tersadar kembali dari imajinasiku. Aku berusaha tetap rasional. Aku pasti hidup. Adakah bukti bahwa gempa sialan ini akan mengantarkanku ke kematian. Bukankah imajinasiku ini hanya dilandasi suatu kesadaran tertentu yang sama sekali baru. Tapi aku harus sadar juga bahwa kesadaran akan kematian bukan berarti aku segera akan mati.

Seiring dengan kembalinya rasionalitasku, getaran gempa melemah. Melemah dan akhirnya berhenti. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengumumkan bahwa meski masih ada gempa susulan, tapi kekuatannya makin rendah. Akhirnya gedung kantorku berhenti bergetar. Semuanya masih utuh.

Pintu kematian tiba-tiba tertutup rapat. Aku dilarang untuk mengetahui dibalik pintu kematian itu. Aku hanya diberi kesempatan sedikit mendekatinya, dan tidak mampu mengetahui lebih banyak.

Gempa itu hanya terjadi sekitar 3-5 menit. Tapi rasanya seperti berjam-jam. Ketegangan dan penasaran terhadap bagaimana rasanya menghadapi detik-detik membuat ketakutan bercampur kebanggaan. Ketakutan membuat waktu seakan-akan molor.

Sebab, takut adalah sesuatu masih akan terjadi di masa depan, tetapi dibayangkan sedang terjadi sekarang. Ketakutan yang menakutkan membuat orang ingin segera keluar dari lingkaran itu, makanya waktu terasa lama sekali.

Sedangkan kebanggaanku karena telah berhasil merasakan sensasi kematian yang kucari itu, membikinku memiliki suatu kekuatan keberanian. Keberanian untuk secara bebas menyadari bahwa aku sedang berjalan menuju batas kehidupan. Aku memutuskan untuk tetap bertahan di lantai 31 dengan kesadaran.

Aku membiarkan diriku diliputi berbagai macam perasaan. Kengerian, kekawatiran, kekesalan, kerinduan, dan penyesalan. Semua itu membangun sebuah pengetahuan baru yang selama ini tidak kudapati dalam hidupku. Rasa detik-detik menjelang kematian.

Sunday, August 30, 2009

Berdebat dengan Ya dan Tidak

Ya dan tidak. Ya sekaligus tidak. Jawaban yang sangat abstrak. Jawaban itu muncul ketika aku bertanya kepada Miss Curcol tentang apakah dia sudah punya pacar. Pada waktu itu, posisiku tidak dapat mendesaknya untuk menjawab dengan jujur. Tetapi, aku akan menganalisa jawaban yang sangat membingungkan kehidupanku malam itu.

Menurutku. Boleh jadi, dia punya alasan sederhana mengapa mengungkapkan jawaban pendek itu. Mungkin, dia berpikir bahwa bukankah kami ini tidak terlalu mengenal kehidupan masing-masing. Aku datang dalam lingkungan hidupnya baru-baru ini saja. Baginya mungkin tidak ada kesan-kesan menarik. Kecuali membosankan.

Walaupun dalam beberapa kali kesempatan, aku sudah menjelaskan posisi hidupku, mungkin saja dia tidak terlalu peduli dengan perkenalan itu. Memang kehidupan di Ibukota Jakarta yang agak modern ini cenderung memaksa orang untuk tidak terlalu peduli. Lalu, dengan dasar itu dia berpikir, mengapa harus menjawab dengan jujur pertanyaanku. Lagipula, itu kan pertanyaan yang bersifat sangat pribadi.

Malahan, mungkin dia berpikir bahwa pertanyaanku itu terlalu kurang ajar. Tidak seharusnya aku menanyakan tema seperti itu. Sebab, kebebasan pribadinya terganggu. Tidak ada pentingnya buat masa depannya. Jadi, dia memilih dengan kesadarannya untuk tidak menjawab dengan tepat. Jadi lebih baik, ya dan tidak.

Iya. Memang itu pertanyaan pribadi sifatnya. Tapi, kupikir karena kami sudah saling mengenal, walau perkenalan kami terbilang lucu dan minim, jadi aku merasa tidak ada salahnya untuk bertanya tentang apakah dia sudah punya pacar. Toh, pertanyaan itu kukatakan dengan jujur dan dengan kesadaran bahwa dia tidak harus menjawabnya.

Baiklah. Kembali kepada upaya mengungkap misteri mengapa Miss Curcol idolaku itu menjawab seperti itu. Mungkinkah dia sedang mengujiku dengan jawaban mengambang semacam itu. Lalu, secara tidak langsung aku dimintanya untuk menemukan sendiri jawabannya.

Kalau begitu maksudnya, aku tidak akan putus asa. Akan kukerahkan kemampuanku untuk mencari jawabannya. Hanya saja, aku berpikir, apa dasarku mengatakan bahwa dia sedang mengujiku. Kalau dia mengujiku, tentu ada tujuan tertentu yang intinya dia mengharapkan sesuatu yang khusus dariku sehingga dia merencanakan dengan kesadarannya untuk mengujiku. Rasanya mustahil.

Timbul pertanyaan lagi dalam pikiranku. Apakah dia ini termasuk manusia yang menyukai cara berpikir filsafat sehingga jawabannya sangat abstrak semacam itu. Sebuah jawaban yang harus dijelaskan dengan melewati terlebih dahulu metode perenungan yang mendalam untuk menemukan penjelasannya.

Kalau itu alasannya, memang aku tidak salah telah mengaggumi sekaligus mengidolakannya. Kelak, aku akan memutuskan untuk belajar padanya tentang pemikiran-pemikirannya sehingga dia selalu menyukai untuk memilih jawaban-jawaban abstrak dan membutuhkan perenungan untuk menjelaskannya. Jawaban khas seorang pemikir yang dipenuhi pikiran.

Tapi, aku sudah menanyakan itu dan dia menjawab dia tidak suka berfilsafat. Tapi kalau dia tidak suka dunia pemikiran, mengapa menyukai inti pikiran Rene Descartes tentang cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Aku mampu meragukan, maka aku adalah manusia.

Atas dasar itu, aku sempat mencoba menyimpulkan jawabannya ya dan tidak itu, apakah dia bermaksud mengatakan iya. Iya, yang dimaksudkannya dalam konteks pertanyaanku tadi adalah tidak. Yang berarti dia tidak punya pacar. Atau sebaliknya.

Begini. Rasanya penjelasan itu belum memuaskanku. Masih tidak terjelaskan dengan jelas. Ya dan tidak. Ya sekaligus tidak. Apa maksudnya. Mmm. Jangan jangan sebenarnya dia sedang menyayangi seseorang. Tetapi dia masih diliputi keraguan tentang proses menjadi pacar. Dia sayang sama A. Tetapi dia tidak yakin apakah A akan atau telah menerimanya.

Atau dia meragukan tentang A. Ragu tentang apakah A ini sudah punya pacar atau belum. Ragu tentang apakah A ini sebenarnya sayang sama temanku ini ataukah tidak. Ragu apakah A ini nanti akan bisa memahaminya ini ataukah tidak. Ragu apakah A ini mau pindah agama seperti yang dipeluknya ataukah tidak.

Atau mungkin begini. Sebenarnya dia tahu sedang disukai sama si A. Tetapi dia masih ragu dengan ketulusan cinta si A itu. Dia masih menaruh curiga dengan alasan-alasan yang membuat hidupnya dipenuhi ketidakyakinan.

Kalau itu alasannya sehingga dia menjawab pertanyaanku dengan ya dan tidak, aku bisa memahaminya. Kehati-hatian untuk memutuskan atau memberikan cinta itu perlu, karena kehidupan orang Timur memang ditempa demikian.

Aku jadi ingat penjelasan tentang cinta dari guru filsafatku di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Perasaan cinta adalah hadiah khusus dari tuhan. Cinta lalu diberikan manusia ke manusia lain dengan gratis. Karena gratis, maka orang lain bebas menerimanya atau menolaknya. Kita tidak boleh marah karena ditolak. Karena memang itu gratis.

Sebab, kalau sampai timbul kemarahan, berarti dia tidak betul-betul memahami orang yang disayanginya. Karena selain gratis, cinta itu harus didasari rasa memahami. Memahami berarti menghormati. Memahami berarti berpikir bahwa dia tidak berhak memaksakan kehendak. Memahami berarti mengerti bahwa orang lain punya kebebasan pribadi yang tidak dapat dicampuri.

Tapi, ada juga guruku yang lain bilang dengan ganas, cinta itu adalah kehendak untuk menguasai orang lain agar mereka mengikuti kemauan dan cita-cita kita. Cinta adalah tuntutan. Orang yang saling jatuh cinta adalah orang yang sesungguhnya saling menuntut satu dengan yang lainnya. Baguslah kalau dua-duanya menyadari itu. Tapi kalau tidak itu bisa timbul masalah. Maka, ketika yang satu tidak meluluskan kehendak yang lain, timbulah persoalan.

Maka dengan itu, disadarkanlah manusia tentang makna kebebasan pribadi. Kalau cinta adalah memaksakan kehendak, maka betapa mengerikannya orang lain. Mereka hanya ingin memaksakan kehendak atas diriku, dan kebebasanku akan sirna oleh kehendak itu. Maka orang lain adalah neraka bagiku.

Ah, aku jagi ngelantur. Kembali ke persoalanku tentang ya dan tidak. Bisa jadi sebenarnya Miss Curcol sedang berpacaran sekarang ini. Tetapi, dalam situasi pertengkaran menuju jurang perpisahan. Dia berusaha memahami pacarnya, tetapi putus asa selalu melandanya. Hari-harinya diliputi dengan keraguan tentang apakah pacarnya itu serius atau tidak.

Dalam situasi seperti itu, dia berpikir, mengapa makin lama pacaran, pacar bukan tambah dewasa, tetapi tambah seperti anak kecil. Bukankah tanda-tanda keseriusan menjalin hubungan itu adalah ketika semakin lama, semakin menunjukan tanda kenyamanan, bukan sebaliknya siksaan.

Maka itu, Miss Curcol tidak terlalu fokus menjawab pertanyaanku. Yah, aku tahu, pertanyaan apakah sudah punya pacar atau belum, tentu sulit dijawab kalau orang sedang dalam suasana tidak bebas. Tidak bebas yang kumaksud adalah dia menganggap aku adalah orang lain yang tiba-tiba bertanya hal yang bersifat pribadi. Tentu saja kebebasannya akan sangat terusik.

Aku masih penasaran. Mengapa dia tidak menjawab secara tepat saja. Toh aku orang lain dan tidak penting. Atau dia membohongiku saja dengan mengatakan sudah punya pacar sehingga selesailah persoalah. Hmmm. Mungkinkah dia malu untuk jujur. Malu. Tapi mengapa harus malu. Toh dia tidak peduli denganku, apa dasarnya malu.

Ooohh. Sampai alenia ini, ternyata aku tidak mampu menjelaskan dengan tepat makna ya dan tidak. Tapi, aku yakin, ada penjelasan soal itu yang tepat. Mungkin aku harus meminta secara khusus kepada Miss Curcol untuk mengungkap misteri jawaban itu. Ah, Miss Curcol seperti main solitaire saja kau.

Tapi, seandainya waktu itu Miss Curcol mengatakan jawaban ya. Mungkin aku masih meragukan kebenarannya. Dan perlu diperdebatkan lagi. Karena bagiku jawaban ya dalam konteks kasus ini, pastinya dia belum menjawab dengan baik.

Kalau jawabanmu ya, yang berarti menyatakan setuju bahwa dia telah punya pacar, pasti aku masih akan bertanya lagi. Ya itu maksudnya, ya untuk yang di Jakarta. Ya untuk yang di Bandung, Ya untuk yang di Depok, atau Ya untuk yang di Bekasi. Kalau begitu, banyak sekali pacarmu di dunia ini. Kalau begitu, aku tidak percaya bahwa jawabannya diberikan secara jujur.

Atau seandainya kau katakan tidak. Tidak berarti adalah sebuah pengingkaran dari dari jawaban ya. Maka akan kutanyakan lagi, maksudnya tidak untuk yang di Jakarta, tapi ya untuk yang di Bekasi. Tidak untuk yang di Bekasi, tapi ya untuk yang di Depok dan seterusnya. Ya ampun. Miss Curcol, ternyata betapa rumitnya menjelaskan jawabanmu, ya dan tidak.