Friday, September 10, 2010

Wartawan Gemetaran Ketemu Jubir Bos Judi

TAK SEMUA wartawan gemar mencari amplop. Ada juga yang menolaknya. Biasanya, juru warta model ini lurus pikirannya karena tetap memegang kode etik jurnalistik.

Salah satu contohnya si wartawan muda ini. Suatu hari, ia mendapat tugas dari redaksi untuk menulis soal judi di daerah liputannya. Setelah selesai mereportase sebuah tempat judi terkenal di sana, ia berencana untuk wawancara pengusaha judi. Ini penting untuk memenuhi keseimbangan informasi.

Ia sempat bingung untuk mencari pemilik usaha judi yang baru diliputnya. Karena sangat susah menemui bos judi itu, si wartawan minta bantuan teman yang juga wartawan. Wartawan yang diminta bantuan ini dikenal sangat dekat dengan bos judi. Lewat temannya itu, akhirnya ia bisa bertemu dengan tokoh masyarakat yang dikenal sering mewakili pengusaha judi untuk bicara kepada pers.

Setelah wawancara lengkap, si wartawan muda yang hanya dibayar redaksinya per berita yang dimuat itu undur diri. Tetapi sebelum pergi, si juru bicara bos judi masuk kamar dan keluar lagi membawa amplop tebal.

Si jubir berkepala botak itu hanya memberi amplop kepada si wartawan yang selama ini dikenal sering hutang uang kepada temannya untuk bayar kos itu. Sedangkan kepada si wartawan satu lagi -- teman si wartawan muda -- si jubir hanya bilang, jatah buatnya baru cair akhir bulan.

Si wartawan muda menolak amplop itu. Alasannya, hal itu tidak diperkenankan di kewartawanan. Ia bilang bahwa dengan jubir mau memberikan keterangan kepadanya, itu sudah lebih dari cukup.

Tapi, ternyata si jubir berperut buncit memaksanya menerima. Sebagai pertemanan, katanya. Karena tetap ditolak, si jubir pun tersinggung. Melihat perubahan sikap si jubir, si wartawan muda jadi gemetaran. Karena takut, akhirnya si wartawan menerima amplop. Setelah itu, ia cepat pergi.

Sesampai di tengah jalan, si wartawan mengajak temannya berhenti. Lalu, ia keluarkan amplop dan langsung menyerahkannya kepada temannya yang telah membantunya bertemu jubir tadi. Setelah itu, ia merasa ada kepuasan tersendiri.

Thursday, September 9, 2010

Akal Bos Media Lindungi Pemodal

ADA seorang wartawan yang lurus pikirannya pusing dengan bosnya. Masalah itu membikinnya paham, ternyata permainan redaksi level atas lebih ‘mengerikan’ dibanding yang biasa terjadi di kalangan wartawan kelas lapangan.

Kenyataan pahit itu ia ketahui setelah pada suatu kali ia membuat berita yang temanya menyangkut hajat hidup orang banyak. Tema berita yang ia kerjakan itu, selama ini selalu jadi berita utama di media-media baik lokal maupun nasional.

Awalnya, ia sangat bangga. Pertama, karena data yang dipunyainya jauh lebih lengkap dibandingkan dengan teman-temannya. Kedua, narasumbernya pun berkualitas dan sangat layak untuk bicara soal tema yang ia garap.

Pokoknya, waktu itu di hati sanubarinya mengatakan ia ingin ikut membela kepentingan kaum lemah dalam menemukan keadilan di negeri besar ini.

Ia sangat yakin atasan-atasannya akan senang dengan karya jurnalistiknya ini. Sisi human interest terpenuhi, sisi faktual pun terpenuhi. Pokok dan tokoh tulisan pun kuat.

Ia pun mengirimkan tulisan itu ke redaksi. Legaaaaaaa… Setelah beberapa hari mengumpulkan data, akhirnya kelar. Ada rasa puas secara bathin.

Tapi, ternyata tangan atasan berkehendak lain. Tulisan itu dinilai tidak layak muat. Alasannya, sangat bertolak belakang. Tulisan itu dianggap tidak memenuhi kode etik jurnalistik. Bahkan, ia menakut-nakuti si wartawan kalau sampai tulisan dimuat bisa kena gugat.

Si wartawan kecewa bukan main. Alasan bosnya dinilai mengada-ada alias dibuat-buat.

Wartawan itu tambah sesak karena media-media lainnya pun memuat berita itu besar-besar. Sementara, hasil kerjanya cuma dibuang ke tempat sampah oleh bosnya.

Lalu, si wartawan curhat ke temannya yang merupakan wartawan senior dan selama ini sering mendapat penghargaan di tingkat nasional atas karya-karya jurnalistiknya.

Si senior bisa memahami perasaan si wartawan temannya. “Aku tahu lah berita kau itu sebenarnya mantap dan sebenarnya juga layak muat karena sudah sesuai etika jurnalistik,” katanya.

Tapi, lanjutnya, “Sebenarnya kaulah yang tak punya etika.”

“Hah, bagaimana ceritanya aku yang tak punya etika, bang,” sahut si wartawan itu.

“Bah, kau tak tahu rupanya. Tentu saja bos kau tak mau ambil tulisan itu karena itu ibarat mengorek borok sendiri. Tulisan kau itu mengkritik pengusaha yang menghidupi kalian selama ini. Jadi, kaulah yang tak tahu etika.”

“Asu, kirik.”

Salah Ngomong, Dua Kali Keluar Amplop

LAGI-LAGI ini cerita tentang Pak Bronto, petinggi di bidang olah raga yang banci tampil di media. Hari itu, wajahnya sumringah setelah bisa bicara di depan wartawan. Ia bicara soal organisasi olah raga lagi dengan harapan besar dapat dimuat.

Seperti biasanya, wartawan mesti kerja dua kali kalau wawancara dengan dia. Soalnya, kalimatnya sama sekali tidak sistematis, kadang-kadang kata-katanya terbalik-balik. Jika diibaratkan tulisan, kalau ia menulis, tulisannya seperti ceker ayam dan tidak logis.

Setelah selesai memberi wawancara, seperti hari-hari sebelumnya, tanpa berat hati, Pak Bronto membagi-bagikan uang amplop. Kadang, wartawan menolakpun, ia paksa untuk menerimanya. Sebagai pertemanan, katanya.

Singkat cerita, keesokan hariinyaaaa. Datang-datang, ia panik bukan main. Wajah dan lehernya berkeringat. Kepada wartawan ia bilang begini, “Ah, aku kena tegur lagi dari atasan.”

Lalu, ia melanjutkan, “Maksud omonganku itu begini, bukan begitu seperti yang ada di media. Aduh, bagaimana ini ya.”

Rupanya dipernyataannya kemarin, ia bermaksud menyanjung organisasi. Tetapi, ia mengakui mungkin salah bicara sehingga tertangkap media secara lain. Sehingga ketika jadi berita, seolah-olah Pak Bronto sedang menghajar organisasinya. Pantas bosnya murka.

Begitu selesai bicara soal penyebab kegelisahannya, lantas Pak Bronto yang dikenal bicaranya belepotan itu mengajak wartawan untuk konferensi pers lagi. Intinya untuk meluruskan pernyataannya yang telah mengundang makian dari atasan.

Usai memberi keterangan, ia bilang, “Tolonglah, aturlah bahasaku jadi yang baik-baik ya. Maksudku begini, bukan begitu, ya.” Setelah itu, Pak Bronto membagi-bagikan amplop kepada wartawan.

HIKMAH: Jangan salah ngomong, biar tidak mengeluarkan amplop sampai dua kali.

Banci Tampil, Tapi Royal Amplop

ADA seorang petinggi di bidang olah raga yang oleh para wartawan dikenal banci tampil. Maksudnya banci tampil ialah orang yang paling senang diliput media massa. Orang itu kita sebut saja namanya Pak Bronto.

Di hari yang cerah, Pak Bronto memanggil-manggil juru warta yang biasa meliput di daerah kekuasannya. Ia bilang punya bahan berita yang sangat menarik dan layak untuk konsumsi media. Wartawan pun berkumpul dan mengerubunginya.

Pada waktu itu, ia bicara seputar manajemen organisasi olah raga. Seperti biasa, setelah cas cis cus, ia pun merogoh kantong dan membagi-bagikan uang kepada juru warta. Ada yang menerima, ada juga yang tidak mau menerima uang itu.

Satu wartawan, kira-kira dikasih uang Rp200 ribu oleh Bronto yang terkenal royal itu. Setelah semuanya kebagian jatah, bubarlah acara konferensi pers dadakan. Pak Bronto senang dirinya akan tampil di banyak media.

Keesokan harinya, seperti biasa, Pak Bronto mendatangi para wartawan. Tapi, air mukanya tidak secerah kemarin. Ia tampak panik. Lantas, curhatlah Pak Bronto kepada para juru warta. Katanya, ia habis kena semprot atasan.

Gara-garanya, pernyataan-pernyataannya kepada media massa dianggap atasan terlalu mendeskriditkan organisasi.

“Aduuuh, pusing aku. Gimana ini kawan-kawan. Kita buat lagi konferensi perslah ya. Buat meluruskan berita.”

Kemudian, mulailah Pak Bronto yang kalau bicara kalimatnya sama sekali tidak terstruktur itu cas cis cus lagi. Selesai itu, ia berharap agar tayangan maupun terbitan di media tak lagi segalak kemarin sehingga ia tak kena maki atasan.

Seperti kemarin, selesai bicara, ia rogoh kantong. Dibagikanlah uang kepada wartawan. Walau ia harus dua kali kuras dompet untuk satu kebodohannya saja, Pak Bronto tak nampak rugi. Soalnya, sepertinya yang terpenting baginya bisa tampil di media.

Wednesday, September 8, 2010

Petinggi Media Nyambi Jadi Broker Jabatan

KONON cerita, ada seorang petinggi media yang jadi broker jabatan. Ia menawarkan kepada seorang saudagar kaya raya kenalan agar masuk lingkaran kekuasaan. Istilahnya, ia membukakan jalan agar si saudagar bisa menjadi bagian dari panggung kekuasaan.

Berceritalah si petinggi media itu kepada pengusaha kenalannya. Manfaatnya besar sekali, kalau nanti saudagar bisa duduk di panggung kekuasaan. Di antaranya, untuk kelancaran dan keamanan bisnis. Lalu, lama-lama terpupuklah semangat sang saudagar.

Kepada pedagang besar itu, si petinggi media tadi juga berjanji akan ikut mengupayakanya lolos. Tapi, tentu saja tidak gratis.

Salah satu cara yang dipakai ialah si petinggi media itu akan menghembus-hembuskan profil si pengusaha kepada pengambil kebijakan yang punya otoritas untuk merekrut orang-orang baru untuk memperkuat lembaganya.

Di berbagai kesempatan pertemuan dengan petinggi lembaga, si orang media nakal itu selalu memuji-muji habis-habisan si saudagar yang dijagokannya.

Tujuannya ialah, agar si petinggi lembaga tertarik dan memasukan si pengusaha di jajarannya. Lewat kemasan berita dan lewat lobi-lobi kelas tinggi dilakukan.

Lama-lama si petinggi di panggung kekuasaan itu terpengaruh juga dengan strategi komunikasi yang dimainkan orang media tadi.

Mengapa kemudian ia tertarik, selain karena profil si pengusaha itu bagus, juga karena pengaruh yang dimiliki si petinggi media. Karena bagaimanapun juga level si orang media ini cukup berpengaruh.

Si petinggi lembaga itu berpikir, kalau suatu saat nanti si pengusaha itu ternyata bermasalah setelah masuk lingkaran kekuasaan, maka si orang media yang kuat ini diharapkan bisa ikut memback up.

Bukan cuma memback up si pengusaha tadi, melainkan juga lembaganya, terutama jika ada kasus menghadang. Biar aman. Atau paling tidak, semua kesalahan si pengusaha maupun jajarannya kelak tidak akan diungkap semuanya secara detail ke publik.