Sunday, May 1, 2011

Refleksi May Day Si Korlap Amplop

HARI INI, berjuta-juta buruh di seluruh dunia turun ke jalan, terutama di Tanah Air.

Mereka yang turun ke jalan terdiri dari buruh pabrik sepatu, buruh pabrik elektronik, buruh pabrik berita, sampai buruh kantoran lainnya.

Walau beda-beda bidang, persoalan yang mereka rasakan sebenarnya sama.

Masalah status kerja. Kontrak melulu. Honor kecil. Gaji tidak naik-naik. Pemberangusan serikat pekerja. Ketika masalah ini disampaikan, eh, dianggap membangkang oleh perusahaannya.

Khususnya buruh pabrik berita. Berprofesi sebagai wartawan mungkin kelihatan keren. Menulis dan wawancara para bos dan pejabat penting, tapi coba perhatikan, problemnya juga sama seperti profesi di bidang lain.

Misalnya saja soal gaji. Ini sering jadi alasan para wartawan untuk menerima amplop dari narasumber. Atau main proyek. Suatu tindakan yang dilarang keras di profesi ini. Tapi, mereka punya alasan, bertahan hidup.

Menerima amplop gara-gara gaji kecil diakui banyak wartawan bahwa sebenarnya bukanlah alasan yang kuat. Karena toh masih banyak wartawan bergaji kecil tapi ternyata tetap sekuat tenaga menjunjung kode etik profesi. Tapi, bagaimanapun juga kesejahteraan tetaplah yang paling utama.

Rasanya tidak ngaruh, ukuran standar gaji layak wartawan yang selama ini gencar dikampanyekan oleh media –bahkan media yang menggaji kecil pegawainya- itu sendiri. Umumnya, gaji profesi yang sering bersinggungan dengan marabahaya demi mengejar informasi ini, masih di bawah standar yang dibuat organisasi mereka sendiri. Soalnya, sebagian besar pabrik berita masih berpikir panjang untuk merealisasikannya.

Betul. Itu semua memang masalah yang tidak mudah. Perusahaan punya pertimbangan-pertimbangan mengapa semua tuntutan pegawainya belum segera direalisasikan.

Tetapi, mereka tentunya juga tidak boleh terlalu lama membiarkan masalah-masalah tadi berkembang. Bayangkan, betapa hancur lebur citra dan reputasi pabrik media ini bila wartawannya gemar menerima dan mencari amplop di lapangan. Apa yang terjadi kalau misalnya para pegawai akhirnya bekerja tidak ikhlas?

Kalau citra dan reputasi hancur, bukannya malah tambah sulit bagi perusahaan untuk memenangkan kompetisi industri media yang kian berat ini.

3 comments:

ezzat said...

saya baru tau blog ini setelah mmbaca di koran republika. tidak tau mau komen apa krn saya bkn dr media. yg jelas mantep.tulisannya berbobot bgt dah

Siswanto said...

siap. makasih kunjungannya bro

Siswanto said...
This comment has been removed by the author.