Kalau malam, tempat parkir di gedung Standard Chartered biasanya gelap. Walau ada beberapa lampu kecil yang dibiarkan pengelola gedung tetap menyala, penerangannya tidak mampu mencapai semua area.
Ada cerita mistik yang berkembang di sana, di antara para security, office boy, tukang parkir, dan wartawan yang piket malam. Katanya ada penunggu di basement. Beliau adalah seorang perempuan. Haks. Ada yang percaya, ada pula yang tidak percaya.
Kebetulan malam itu aku sedang piket malam di redaksiku yang berada di lantai 31. Ada seorang temanku yang baru datang sekitar jam 23.00 WIB. Wajahnya agak pucat, lehernya berkeringat setelah keluar dari lift. Agaknya dia juga sedang menyimpan amarah.
Dia bercerita kepadaku. Tadi sewaktu masuk ke basement untuk memarkirkan kendaraan, tiba-tiba dia sangat ketakutan. Yang membikin dia setengah mati kaget ialah suara kuntilanak tertawa yang bunyinya seperti di film-film hantu. Bahkan, setelah turun dari kendaraan dia lari sekencang-kencangnya di tengah gelap.
Sampailah dia di tempat terang. Rasa takut bukan kepalang mulai hilang. Dan dia menemui tukang parkir di lantai atas. Belakangan temanku ini tahu kalau suara kuntilanak yang baru saja menghantuinya itu bukan betulan, melainkan sengaja dibunyikan oleh security iseng lewat telepon genggam.
"Monyet," kata temanku.
Read More..
C e r i t e r a
Jejak-Jejak
Tuesday, November 3, 2009
Saturday, October 31, 2009
Lupa Topi Bundar
Sabtu pagi anak-anak kecil berkumpul di rumah kosku. Ada Tasya, ada Runay, dan ada Susi. Mereka bernyanyi-nyanyi rame-rame. Misalnya yang dinyanyikan lagu berjudul Bintang Kecil, dan Topi Bundar.
Si Susi : "Topi saya bundar. Bundar topi saya. Kalo saya besar..."
Si Tasya: "Salah itu Sus"
Si Susi langsung diam dan melihat Tasya. Mungkin dia merasa salah karena meski sudah berusaha keras menghafal lagu itu, tetap saja tidak pas. Lalu si Tasya yang anaknya lebih percaya diri mulai tampil menyanyi.
"Topi saya bundar, bundar topi saya. Topi saya bundar, bundar topi saya, topi saya bundar, bundar topi saya, saya topi bundar..."
Maksudnya Tasya semula mungkin ingin menunjukkan kalau dia lebih jago dan hafal. Tapi entah kenapa dia tidak mampu menyelesaikan lagu secara baik.
Setelah itu gantian Susi yang langsung menyanyi.
"Topi saya bundar. Bundar topi saya. Kalo saya besar... kalo saya besar... kalo saya besar"
Begitulah cerita anak-anak manis di kosku. Aku tidak tahu apa sebabnya secara pasti, cuma terakhir-terakhir si Susi dan si Tasya menangis. Eh si Runay yang pendiam juga nangis.
Dari perkataan ibunya yang kudengar dari kamarku, rupanya kedua anak baik itu sudah putus asa karena tidak berhasil menghafal lagu Topi Bundar.
Read More..
Si Susi : "Topi saya bundar. Bundar topi saya. Kalo saya besar..."
Si Tasya: "Salah itu Sus"
Si Susi langsung diam dan melihat Tasya. Mungkin dia merasa salah karena meski sudah berusaha keras menghafal lagu itu, tetap saja tidak pas. Lalu si Tasya yang anaknya lebih percaya diri mulai tampil menyanyi.
"Topi saya bundar, bundar topi saya. Topi saya bundar, bundar topi saya, topi saya bundar, bundar topi saya, saya topi bundar..."
Maksudnya Tasya semula mungkin ingin menunjukkan kalau dia lebih jago dan hafal. Tapi entah kenapa dia tidak mampu menyelesaikan lagu secara baik.
Setelah itu gantian Susi yang langsung menyanyi.
"Topi saya bundar. Bundar topi saya. Kalo saya besar... kalo saya besar... kalo saya besar"
Begitulah cerita anak-anak manis di kosku. Aku tidak tahu apa sebabnya secara pasti, cuma terakhir-terakhir si Susi dan si Tasya menangis. Eh si Runay yang pendiam juga nangis.
Dari perkataan ibunya yang kudengar dari kamarku, rupanya kedua anak baik itu sudah putus asa karena tidak berhasil menghafal lagu Topi Bundar.
Read More..
Label:
Sosialita
Kucing dan Si Boim Berbagi Tempat
Setiap malam, setiap pulang dari redaksi, anak kucing berbulu hitam di kos selalu menyambut kedatanganku. "Miauww.. miauwww." Mungkin dia bilang, selamat datang kembali. Sepertinya dia senang betul melihatku.
Malam itu, setelah melompat dari pojokan teras rumah, dia mendekatiku. Lalu menggelendot ke kakiku. Aku sampai tak enak harus menjauhkan badannya dari kakiku supaya aku bisa jalan masuk rumah.
Mungkin dia ingin mengobrol denganku. Cerita-cerita melalui bahasa belaian. Dan dia menjawab dengan. miauwww.. Menyenangkan memang punya teman seperti ini. Setia kawan.
Karena agak ngantuk, aku tidak bisa membelai kepala kucing hitam dan berbulu putih di dada itu. Aku masuk dan menutup pintu rumah. Tumben saja, kucing ini tidak ikut masuk. Dia rupanya ingin tidur di luar atau di kain teras.
Oh, rupanya di teras tetanggaku ada si Boim. Dia ini pria kurang waras yang tinggal di lingkungan sekitar rumah kosku. Boim yang gemar tertawa terbahak-bahak itu sedang tidur-tiduran. Kucingku tadi berjalan mendekati Boim.
Begitu sampai di dekat tempat tiduran Boim, si Boim tersenyum pada kucing. Kurasa kedua makluk tuhan ini ada kontak komunikasi. Tiba-tiba Boim tertawa lebar. Dan kucingku mengeong.
Aku memperhatikan mereka dari jendela. Wow.. si Boim memberi tempat kepada kucingku. Dia menggeser badan lalu kucingku langsung menempati ruang kosong di dekat si gila itu.
Setelah itu, Boim mulai fokus pada dunianya sendiri. Ngawang-awang entah apa yang dikhayalkan. Sementara kucingku langsung melingkar malas sambil menggerakkan ekornya. Bahagianya mereka. Begitu bebasnya jiwa mereka menjadi makluk hidup sehingga tidak ada lagi saling curiga.
Read More..
Malam itu, setelah melompat dari pojokan teras rumah, dia mendekatiku. Lalu menggelendot ke kakiku. Aku sampai tak enak harus menjauhkan badannya dari kakiku supaya aku bisa jalan masuk rumah.
Mungkin dia ingin mengobrol denganku. Cerita-cerita melalui bahasa belaian. Dan dia menjawab dengan. miauwww.. Menyenangkan memang punya teman seperti ini. Setia kawan.
Karena agak ngantuk, aku tidak bisa membelai kepala kucing hitam dan berbulu putih di dada itu. Aku masuk dan menutup pintu rumah. Tumben saja, kucing ini tidak ikut masuk. Dia rupanya ingin tidur di luar atau di kain teras.
Oh, rupanya di teras tetanggaku ada si Boim. Dia ini pria kurang waras yang tinggal di lingkungan sekitar rumah kosku. Boim yang gemar tertawa terbahak-bahak itu sedang tidur-tiduran. Kucingku tadi berjalan mendekati Boim.
Begitu sampai di dekat tempat tiduran Boim, si Boim tersenyum pada kucing. Kurasa kedua makluk tuhan ini ada kontak komunikasi. Tiba-tiba Boim tertawa lebar. Dan kucingku mengeong.
Aku memperhatikan mereka dari jendela. Wow.. si Boim memberi tempat kepada kucingku. Dia menggeser badan lalu kucingku langsung menempati ruang kosong di dekat si gila itu.
Setelah itu, Boim mulai fokus pada dunianya sendiri. Ngawang-awang entah apa yang dikhayalkan. Sementara kucingku langsung melingkar malas sambil menggerakkan ekornya. Bahagianya mereka. Begitu bebasnya jiwa mereka menjadi makluk hidup sehingga tidak ada lagi saling curiga.
Read More..
Label:
Sosialita
Misuh-misuh
Ini masih kisah Bahrul, temanku yang lagi kuliah S2 jurusan Ekonomi di UGM, Menteng. Acara ngumpul-ngumpul usai kuliah sering mereka lakukan. Biasanya tempatnya di kafe. Hari itu, teman-teman Bahrul memutuskan ngerumpi ekonomi di Tebet.
Masing-masing mahasiswa bawa mobil sendiri-sendiri. Kecuali Bahrul. Mungkin sekalian mereka akan pulang setelah selesai acara di Tebet. .
Bahrul: "Din, ayo Kita bareng saja. Daripada kamu capek bawa mobil sendiri. Macet pula."
Dina: "Mmmm. Boleh juga sih. Nanti kamu antarin Din ke kampus lagi yah."
Bahrul: "Okay hun, apa sih yang enggak buat kamu."
Bahrul temanku ini masih jomblo. Dia tidak pernah tinggal diam kalau melihat perempuan yang menurut perspektifnya layak dikejar. Diam-diam sejak lama dia ingin menembak Dina.
Sampai di pelataran parkir, Bahrul buru-buru menghidupkan sepeda motornya. Setelah bayar parkir, dia membawa motor ke depan lobi kampus tempat si Dina menunggu.
Bahrul: "Hai hun, marilah."
Dina agak kaget. Dan menjawab, "Aduh, mamaku marah kalau aku naik motor. Kulitku sama rambutku bisa kotor."
Semula Bahrul pikir Dina bercanda saja. Tapi ternyata serius. Dina menolak Bahrul dan motornya. Setelah minta maaf, Dina membawa mobilnya sendiri.
"Monyet-monyet," kata Bahrul dalam hati. "Asu."
Read More..
Masing-masing mahasiswa bawa mobil sendiri-sendiri. Kecuali Bahrul. Mungkin sekalian mereka akan pulang setelah selesai acara di Tebet. .
Bahrul: "Din, ayo Kita bareng saja. Daripada kamu capek bawa mobil sendiri. Macet pula."
Dina: "Mmmm. Boleh juga sih. Nanti kamu antarin Din ke kampus lagi yah."
Bahrul: "Okay hun, apa sih yang enggak buat kamu."
Bahrul temanku ini masih jomblo. Dia tidak pernah tinggal diam kalau melihat perempuan yang menurut perspektifnya layak dikejar. Diam-diam sejak lama dia ingin menembak Dina.
Sampai di pelataran parkir, Bahrul buru-buru menghidupkan sepeda motornya. Setelah bayar parkir, dia membawa motor ke depan lobi kampus tempat si Dina menunggu.
Bahrul: "Hai hun, marilah."
Dina agak kaget. Dan menjawab, "Aduh, mamaku marah kalau aku naik motor. Kulitku sama rambutku bisa kotor."
Semula Bahrul pikir Dina bercanda saja. Tapi ternyata serius. Dina menolak Bahrul dan motornya. Setelah minta maaf, Dina membawa mobilnya sendiri.
"Monyet-monyet," kata Bahrul dalam hati. "Asu."
Read More..
Label:
Sosialita
Gagal ke Perpustakaan
Siang itu, Bahrul, temanku baru selesai mengikuti kuliah di jurusan Magister Manajemen UGM, Menteng. Dia tidak langsung pulang ke kosan di Kali Pasir yang tak jauh dari kampus S2 UGM itu. Melainkan ngobrol dengan Putri.
Mereka ngobrol seputar rencana tesis. Maklum semester depan sudah masuk masa tesis. Bahrul yang dasarnya jago pidato itu memberitahu kalau bahan-bahan tesis mudah dicari di perpustakaan UI. Lengkap.
Dibalik itu, dalam dasar hati si Bahrul sebenarnya juga menyimpan cinta untuk Putri. Makanya, begitu semangat si Bahrul menawarkan diri menemani pujaan hati ke perpustakaan UI.
"Oke, ayo kita ke sana Rul," kata Putri.
Bahrul sangat senang. Inilah kesempatan mendekati Putri, pikir Bahrul. Girang bukan main hatinya. Ibarat mendapat kiriman uang dari orang tua di saat dompet benar-benar kosong.
Bahrul pamitan dulu kepada Putri untuk pergi ke belakang sebentar. Maksud hati melihat sepeda motor apakah bensinnya masih ada atau tidak. Lega hatinya, tangki penuh. Lancar.
Dia menemui Putri lagi di ruang lobi kampus. Putri tetap berdiri di sana sejak Bahrul pergi. "Rul, kamu yang nyetir mobilku ya," kata Putri.
Bahrul agak kaget. "Aku tidak bisa bawa mobil, Put."
Gara-gara itu, rencana ke perpustakaan dibatalkan Putri. Sebenarnya Bahrul agak kecewa juga. Dan setelah itu, Putri agak menjauhi Bahrul.
Dalam hati Bahrul bilang, "Nanti kalau aku sudah selesai tesis dan punya pekerjaan baik, lihat saja, mobilku banyak." "Kok ada manusia seperti ini. Menjauhiku hanya karena tidak bisa nyopir."
Read More..
Mereka ngobrol seputar rencana tesis. Maklum semester depan sudah masuk masa tesis. Bahrul yang dasarnya jago pidato itu memberitahu kalau bahan-bahan tesis mudah dicari di perpustakaan UI. Lengkap.
Dibalik itu, dalam dasar hati si Bahrul sebenarnya juga menyimpan cinta untuk Putri. Makanya, begitu semangat si Bahrul menawarkan diri menemani pujaan hati ke perpustakaan UI.
"Oke, ayo kita ke sana Rul," kata Putri.
Bahrul sangat senang. Inilah kesempatan mendekati Putri, pikir Bahrul. Girang bukan main hatinya. Ibarat mendapat kiriman uang dari orang tua di saat dompet benar-benar kosong.
Bahrul pamitan dulu kepada Putri untuk pergi ke belakang sebentar. Maksud hati melihat sepeda motor apakah bensinnya masih ada atau tidak. Lega hatinya, tangki penuh. Lancar.
Dia menemui Putri lagi di ruang lobi kampus. Putri tetap berdiri di sana sejak Bahrul pergi. "Rul, kamu yang nyetir mobilku ya," kata Putri.
Bahrul agak kaget. "Aku tidak bisa bawa mobil, Put."
Gara-gara itu, rencana ke perpustakaan dibatalkan Putri. Sebenarnya Bahrul agak kecewa juga. Dan setelah itu, Putri agak menjauhi Bahrul.
Dalam hati Bahrul bilang, "Nanti kalau aku sudah selesai tesis dan punya pekerjaan baik, lihat saja, mobilku banyak." "Kok ada manusia seperti ini. Menjauhiku hanya karena tidak bisa nyopir."
Read More..
Label:
Sosialita
Friday, October 30, 2009
Tertawa
Tertawa. Ini jenis kegiatan manusia yang menjelaskan suasana hati. Suasana bahagia dari dasar hati atau bahagia dengan berpura-pura.
Bahagia. Kalau yang bahagia betulan itu berarti jiwanya sedang bebas. Karena pada waktu mereka bekerja untuk tertawa, muntahlah semua kesusahan yang ditanggungnya.
Makanya, banyak manusia yang mengakui kalau tertawa itu obat yang manjur serta mujarab, obat terbaik awet muda, atau meditasi yang hebat. Sebab, tertawa jadi alat memulihkan jiwa-jiwa yang sedang sakit.
Karena itu tadi, sampah-sampah yang menyesaki hati beterbangan bersama energi yang keluar bersama ekspresi tertawa.
Tertawa, tertawa dan tertawa. Saking dahsyatnya pengaruh tertawa, ada juga manusia yang menggunakannya untuk kegiatan politik. Mulai dari politik tingkat kecil-kecilan sampai tingkat tinggi.
Kenapa tertawa bisa jadi alat politik, karena efek tertawa ini mereka harapkan dapat memaksa orang lain mengikuti atau mempercayai kehendak lainnya.
Kalau yang terakhir itu tergolong tertawa yang berpura-pura. Bolehlah dikatakan tertawa jenis itu adalah tertawa yang menabrak sejatinya fungsi tertawa.
Baiklah, tulisan ini bukan untuk memperdebatkan hakikat tertawa. Takutnya nanti justru mengecilkan makna tertawa. Maksud hati hanya untuk mengatakan bahwa tertawa itu penting untuk kehidupan. Tertawa sehat seperti lari pagi.
Read More..
Bahagia. Kalau yang bahagia betulan itu berarti jiwanya sedang bebas. Karena pada waktu mereka bekerja untuk tertawa, muntahlah semua kesusahan yang ditanggungnya.
Makanya, banyak manusia yang mengakui kalau tertawa itu obat yang manjur serta mujarab, obat terbaik awet muda, atau meditasi yang hebat. Sebab, tertawa jadi alat memulihkan jiwa-jiwa yang sedang sakit.
Karena itu tadi, sampah-sampah yang menyesaki hati beterbangan bersama energi yang keluar bersama ekspresi tertawa.
Tertawa, tertawa dan tertawa. Saking dahsyatnya pengaruh tertawa, ada juga manusia yang menggunakannya untuk kegiatan politik. Mulai dari politik tingkat kecil-kecilan sampai tingkat tinggi.
Kenapa tertawa bisa jadi alat politik, karena efek tertawa ini mereka harapkan dapat memaksa orang lain mengikuti atau mempercayai kehendak lainnya.
Kalau yang terakhir itu tergolong tertawa yang berpura-pura. Bolehlah dikatakan tertawa jenis itu adalah tertawa yang menabrak sejatinya fungsi tertawa.
Baiklah, tulisan ini bukan untuk memperdebatkan hakikat tertawa. Takutnya nanti justru mengecilkan makna tertawa. Maksud hati hanya untuk mengatakan bahwa tertawa itu penting untuk kehidupan. Tertawa sehat seperti lari pagi.
Read More..
Label:
Sosialita
Film Korea Dipikir Film Jepang
Aku senang karena dapat kiriman film tentang cerita perjuangan anak sekolah. Temanku yang mengirim film itu bilang ini tontonan bermutu sekaligus untuk memudahkan belajar nihongo, bahasa Jepang. Kata dia, dialog-dialog dalam film ini berlangsung sederhana dan pendek-pendek. Jadi mudah mengingat dan memahaminya.
Lalu, kusimpan baik-baik di laptopku itu film. Walaupun senang punya koleksi film baru, aku tidak langsung menontonnya. Kupikir, nanti saja setelah libur kerja, baru kutonton film Jepang special ini sampai selesai.
Singkat cerita pada suatu hari aku pamer kepada temanku kalau punya film Jepang asli dan bagus. Kuceritakan apapun yang pernah diceritakan temanku yang memberikan film itu kepada teman yang akan kuberi rekaman film itu. Soalnya, aku tahu dia sangat suka nonton film-film Jepang. Dia sedang cari beasiswa ke Jepang.
Ternyata dia suka. Kubilang ada lima belas potongan film. Jadi, untuk memindahkan dari laptopku ke laptopnya harus pakai fleshdisk. Transfer film berlangsung ribet. Maklum, memori flesdisiknya terlampau kecil sehingga harus berulang-ulang memindahnya.
Tapi tidak mengapa, kata temanku. Karena dia sangat senang dapat film baru. Semuanya kami lakukan dengan senyum. Berkeringat juga karena tempat kerjanya agak jauh dari meja kerjaku.
Selesalah sudah proses pemindahan. Aku bahagia karena merasa menjadi bagian dari kebahagiaannya. Aku kembali duduk dan menulis di meja redaksi.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba temanku mengirim pesan lewat YM sambil berteriak. “Bro, ini sih bukan film Jepang, ini film Korea.”
Read More..
Lalu, kusimpan baik-baik di laptopku itu film. Walaupun senang punya koleksi film baru, aku tidak langsung menontonnya. Kupikir, nanti saja setelah libur kerja, baru kutonton film Jepang special ini sampai selesai.
Singkat cerita pada suatu hari aku pamer kepada temanku kalau punya film Jepang asli dan bagus. Kuceritakan apapun yang pernah diceritakan temanku yang memberikan film itu kepada teman yang akan kuberi rekaman film itu. Soalnya, aku tahu dia sangat suka nonton film-film Jepang. Dia sedang cari beasiswa ke Jepang.
Ternyata dia suka. Kubilang ada lima belas potongan film. Jadi, untuk memindahkan dari laptopku ke laptopnya harus pakai fleshdisk. Transfer film berlangsung ribet. Maklum, memori flesdisiknya terlampau kecil sehingga harus berulang-ulang memindahnya.
Tapi tidak mengapa, kata temanku. Karena dia sangat senang dapat film baru. Semuanya kami lakukan dengan senyum. Berkeringat juga karena tempat kerjanya agak jauh dari meja kerjaku.
Selesalah sudah proses pemindahan. Aku bahagia karena merasa menjadi bagian dari kebahagiaannya. Aku kembali duduk dan menulis di meja redaksi.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba temanku mengirim pesan lewat YM sambil berteriak. “Bro, ini sih bukan film Jepang, ini film Korea.”
Read More..
Label:
Sosialita
Mahasiswa Filsafat Main Catur
Dua orang mahasiswa filsafat ingin main catur ketika tiba waktunya istirahat kuliah. Sebab, perpustakaan kebetulan sangat penuh pengunjung hari itu. Tapi masalahnya, catur satu-satunya yang ada di unit kemahasiswaan sedang dipakai mahasiswa lainnya.
Mahasiswa : "Bagaimana caranya ini supaya kita bisa bahagia dengan catur"
Mahasiswi: "Hmmm, aku juga sedang berpikir keras"
Mahasiswa: "Aku punya ide cemerlang"
Mahasiswi: "Oh ya, semenarik apakah idemu"
Mahasiswa: "Kita tidak memerlukan bidak beneran dalam arti fisik. Kita main catur pakai imajinasi saja"
Mahasiswi: "Wow"
Mahasiswa: "Yeah... ini nyata"
Mahasiswi: "Mmm. oke, kupikir sangat menarik itu. Kalau begitu, marilah kita mulai main catur dengan sudut pandang filsafat."
Jadilah mahasiswa dan mahasiswi itu bermain catur siang itu. Seru sekali karena diselingi juga dengan perdebatan. Misalnya mengapa kuda harus selalu jalan membentuk huruf L. Mengapa raja justru hanya boleh berjalan satu langkah saja.
Lama-lama permainan mereka jadi perhatian mahasiswa-mahasiswa lainnya. Jadilah permainan catur dengan sudut pandang filsafat itu tontonan yang ramai. Masing-masing orang kemudian ikut berdebat. Gilakah atau menggilakah kedua mahasiswa ini, kata para mahasiswa yang mengerubungi pemain catur filsafat.
Read More..
Mahasiswa : "Bagaimana caranya ini supaya kita bisa bahagia dengan catur"
Mahasiswi: "Hmmm, aku juga sedang berpikir keras"
Mahasiswa: "Aku punya ide cemerlang"
Mahasiswi: "Oh ya, semenarik apakah idemu"
Mahasiswa: "Kita tidak memerlukan bidak beneran dalam arti fisik. Kita main catur pakai imajinasi saja"
Mahasiswi: "Wow"
Mahasiswa: "Yeah... ini nyata"
Mahasiswi: "Mmm. oke, kupikir sangat menarik itu. Kalau begitu, marilah kita mulai main catur dengan sudut pandang filsafat."
Jadilah mahasiswa dan mahasiswi itu bermain catur siang itu. Seru sekali karena diselingi juga dengan perdebatan. Misalnya mengapa kuda harus selalu jalan membentuk huruf L. Mengapa raja justru hanya boleh berjalan satu langkah saja.
Lama-lama permainan mereka jadi perhatian mahasiswa-mahasiswa lainnya. Jadilah permainan catur dengan sudut pandang filsafat itu tontonan yang ramai. Masing-masing orang kemudian ikut berdebat. Gilakah atau menggilakah kedua mahasiswa ini, kata para mahasiswa yang mengerubungi pemain catur filsafat.
Read More..
Label:
Sosialita
Thursday, October 29, 2009
Kisah Cicak Melawan Buaya
Tiba-tiba terjadi ketegangan antara cicak dan buaya. Ini terjadi ketika cicak menemukan ketidakadilan yang melibatkan buaya. Ceritanya, kata cicak ini hanya untuk menjelaskan posisi yang lemah (KPK). Sedangkan buaya untuk menggambarkan posisi yang lebih garang (polisi).
Cicak: “Aku ingin memeriksamu”
Buaya: “Cicak kok memeriksa buaya, mana bisa”
Cicak: “Kamu mau mendukung tegakkan hukum di negeri ini tidak?”
Buaya: "Bagaimana ceritanya. Tidak mau, karena kamu mau memenjarakanku”
Cicak tidak hilang akal. Dia memancing buaya dengan kata-kata agak pedas. Tujuannya agar Buaya sadar. “Masyarakat juga tahu kok kalau kamu ini buaya”
Buaya: “Emang. Kan bukan rahasia umum.”
Cicak: “Misalnya buaya darat.”
Buaya: “Buktinya apa”
Cicak tidak menjawab karena berpikir panjang. Sebab, tiba-tiba kepalanya ditodong pakai tombak yang sangat tajam.
Buaya: “Jadi, kesimpulannya apa. Jawab! Kamu ngerecokin saja. Buaya kok dicicakin”
Cicak: “Benar-benar kriminalisasi”
Maka di negeri tempat para hewan ini hidup sepanjang tahun selalu terjadi pelanggaran hukum.
Read More..
Cicak: “Aku ingin memeriksamu”
Buaya: “Cicak kok memeriksa buaya, mana bisa”
Cicak: “Kamu mau mendukung tegakkan hukum di negeri ini tidak?”
Buaya: "Bagaimana ceritanya. Tidak mau, karena kamu mau memenjarakanku”
Cicak tidak hilang akal. Dia memancing buaya dengan kata-kata agak pedas. Tujuannya agar Buaya sadar. “Masyarakat juga tahu kok kalau kamu ini buaya”
Buaya: “Emang. Kan bukan rahasia umum.”
Cicak: “Misalnya buaya darat.”
Buaya: “Buktinya apa”
Cicak tidak menjawab karena berpikir panjang. Sebab, tiba-tiba kepalanya ditodong pakai tombak yang sangat tajam.
Buaya: “Jadi, kesimpulannya apa. Jawab! Kamu ngerecokin saja. Buaya kok dicicakin”
Cicak: “Benar-benar kriminalisasi”
Maka di negeri tempat para hewan ini hidup sepanjang tahun selalu terjadi pelanggaran hukum.
Read More..
Label:
Sosialita
Kera Menolak Kembali Ke Hutan
Seekor kera di Jawa menolak dikembalikan pengelola perhewanan pemerintah ke habitatnya di hutan. Tiap kali diangkut dan ditinggal di hutan, keesokan harinya kera besar itu selalu kembali ke kandang.
Rupa-rupa cara digunakan manusia agar kera itu tidak kembali. Misalnya hewan ini ditinggalkan di tengah hutan belantara dengan harapan dia tidak tahu cara kembali ke kandang milik pemerintah. Tapi kenyataannya masih saja kera ini bisa kembali.
Akhirnya pengelola perhewanan putus asa. Petugas yang mampu memahami prilaku kera pun didatangkan ke pusat perhewanan itu untuk mengetahui apa yang terjadi.
Kemudian, terjadilah dialog antara petugas khusus dan kera. Hanya mereka berdua yang paham komunikasi itu. Setelah selesai, petugas khusus prilaku kera ini bercerita.
“Alasan kera ini tidak mau kembali ke hutan karena merasa percuma saja,” katanya.
Kepala bidang perhewanan yang penasaran bertanya kepada petugas itu. “Kenapa percuma, bukankah ini langkah yang baik.”
Petugas khusus prilaku kera menjawab. “Menurut kera, soalnya tidak lama lagi hutan ini toh dibabat juga oleh manusia, dan kera-kera ditangkapi lagi. Jadi lebih baik tetap tinggal di kandang.”
Read More..
Rupa-rupa cara digunakan manusia agar kera itu tidak kembali. Misalnya hewan ini ditinggalkan di tengah hutan belantara dengan harapan dia tidak tahu cara kembali ke kandang milik pemerintah. Tapi kenyataannya masih saja kera ini bisa kembali.
Akhirnya pengelola perhewanan putus asa. Petugas yang mampu memahami prilaku kera pun didatangkan ke pusat perhewanan itu untuk mengetahui apa yang terjadi.
Kemudian, terjadilah dialog antara petugas khusus dan kera. Hanya mereka berdua yang paham komunikasi itu. Setelah selesai, petugas khusus prilaku kera ini bercerita.
“Alasan kera ini tidak mau kembali ke hutan karena merasa percuma saja,” katanya.
Kepala bidang perhewanan yang penasaran bertanya kepada petugas itu. “Kenapa percuma, bukankah ini langkah yang baik.”
Petugas khusus prilaku kera menjawab. “Menurut kera, soalnya tidak lama lagi hutan ini toh dibabat juga oleh manusia, dan kera-kera ditangkapi lagi. Jadi lebih baik tetap tinggal di kandang.”
Read More..
Label:
Sosialita
Subscribe to:
Posts (Atom)
