Tuesday, July 17, 2012

Perjuangan 86 yang Hampa


SORE itu, di tempat nongkrong,  para wartawan tertawa terpingkal-pingkal. Sebab musababnya ialah cerita curhat salah satu wartawan yang baru saja mendapatkan pengalaman kecewa yang paling berat.

Begini ceritanya:

Di siang yang terik. Seorang wartawan muda yang dikenal kawan-kawannya sebagai jurnalis yang gemar berburu amplop tengah berada di instansi A. Saat itu ia baru selesai wawancara dengan seorang narasumber. Tiba-tiba, ia mendapat kiriman SMS dari teman yang memberitahukan ada konferensi pers di instansi B.

Teman-temannya di instansi A mengingatkan agar tidak usah pergi. Mereka menduga, acara ini tidak ada amplopnya. Apalagi, saat itu cuacanya sangat panas. Dan lalu lintas sangat macet. Jarak antara kantor A dan B pun puluhan kilometer. Tapi, wartawan muda ini tetap nekad pergi. Yang membuatnya tetap semangat ialah karena tiap kali bikin acara, instansi B ini biasanya memberi amplop tebal.

Perjalanannya penuh rintangan. Ban sepeda motornya bocor karena kena paku. Setelah itu, ia kehabisan bensin dan harus mendorong dua kilometer ke SPBU.

Dua setengah jam kemudian, ia tiba di TKP. Ternyata, informasinya tidak akurat. Di instansi B tidak ada gelar jumpa pers. Ia hanya mendapat kertas rilis siaran pers dari salah satu pegawai kantor. Isinya pun cuma berita peringatan HUT.

Sudah kepalang tanggung. Jauh-jauh datang, masa sih tidak ada amplop. Ia pun duduk di lobi. Maksudnya, menunggu giliran dibagi amplop. Siapa tahu, ada. Lama menunggu, ternyata apa yang ditunggu tidak datang jua.

Pegawai tadi pun bingung. "Ada apalagi mas," katanya. 

Karena malu, si wartawan muda pun pamit. "Oh ga, saya pulang dulu ya.”

Sambil berjalan, ia masih berharap-harap ada seseorang yang memanggil. Karena yang terjadi sebelum-sebelumnya, sehabis pamit, pasti ada yang berteriak untuk memberi amplop. Tapi, kali ini tidak. Apes.

“Wedus. Seharusnya, aku menuruti kata kawan-kawan tadi.”

PENGUMUMAN-PENGUMUMAN!
Klik kategori Etika dan Moral di bar sebelah kanan blog. Di sana ada kumpulan cerita-cerita lucu seputar wartawan amplop, bodrek, juga wartawan yang mencoba tetap idealis.
Kamus Besar Wartawan Amplop

No comments: