Thursday, October 16, 2008

Optimis

Ada pengalaman menarik tentang bagaimana memunculkan semangat mengelola media online. Menarik karena setiap individu punya wajah cerah saat mengerjakan tugas jurnalistik, baik di redaksi maupun di lapangan.

Awak redaksi bukan sekedar memenuhi perintah ataupun asal ada laporan berita. Tetapi, bekerja berdasarkan kesadaran. Kesadaran untuk meningkatkan kualitas. Lalu, tim redaksi mempunyai rasa optimis. Optimis bahwa media ini pasti maju dan punya reputasi bagus.

Pertama, kesadaran semacam itu terbentuk melalui energi yang disalurkan dari roh pengelola media. Roh di sini ialah semangat pemimpin redaksi, redaktur dan reporter. Bentuk energi ini macam-macam. Misalnya, pimpinan mengamati secara detail hasil jurnalistik. Selalu membaca berita-berita yang sudah dipublikasi.

Dengan demikian, para pengampu itu selalu dapat mengikuti perkembangan. Lagipula, bila tim redaksi mengetahui pimpinan serius membaca tulisan-tulisan, tentu mempunyai pengaruh psikologi pada yang lain. Anak buah pasti senang dan tambah semangat.

Pimpinan bersedia memuji hasil kerja yang baik. Ia memberi masukan pada karya yang mesti diperbaiki. Membedakan pengaruh pimpinan yang baik dan yang biasa saja ialah ketika mereka tidak pernah memuji atau mengritik secara konsisten. Kepala yang baik selalu mengeluarkan kata-kata penilaian terhadap karya. Itu artinya ia punya respek.

Pujian atau kritikan dari pimpinan redaksi akan dilihat sebagai wujud kerja oleh redaksi. Meskipun pernyataannya hanya kata-kata sifat, tapi akan membuktikan bahwa ia mengikuti irama kerja. Lalu, pasti redaksi akan tertanam rasa tanggung jawab. Tanggung jawab untuk meningkatkan jurnalistik. Jujur dan menjaga reputasi.

Memberi toleransi pada kesalahan yang masih bisa diralat. Tapi, ia mesti tidak memberi toleransi pada pelanggaran-pelanggaran kode etik jurnalistik. Disiplin semacam ini akan menumbuhkan etika dalam diri awak redaksi. Tentu dampaknya akan menjalankan pekerjaan secara serius, tapi gembira. Bukan sekedar asal memampang berita. Tapi ada semangat untuk mencari-cari berita mempunyai manfaat bagi publik.

Pimpinan tidak segan-segan turun untuk mengontrol sekaligus mengedit karya yang kurang bermutu. Hasilnya Kontrol itu dijelaskan di depan ruang redaksi sehingga semua orang melihat dan belajar dalam waktu bersamaan. Upaya semacam ini biasanya dilakukan dengan mengadakan milis redaksi. Tapi, itu tidak cukup. Harus disampaikan secara langsung.

Pimpinan mesti menunjukan sikap seorang intelektual. Bersedia mendengarkan argumentasi. Memberi argumentasi. Mau membudayakan diskusi setiap saat. Sebab, sebagian pengelola media di Indonesia tidak punya ketabahan semacam itu. Mereka cenderung otoriter demi kepentingan tertentu yang tidak memihak etika jurnalistik.

Harus konsisten untuk menerapkan kode etik jurnalistik. Membudayakan akurat, mendekati lengkap sehingga pembaca tahu kontek berita. Sebab, sebagian besar media online sering mengorbankan syarat berita itu demi mengisi halaman dan mendahului publikasi media lain. Itulah sebabnya, karya berita sering kacau.

Tentu saja pimpinan mesti mempunyai sifat humoris. Dunia jurnalistik merupakan profesi yang bebas. Semua disiplin ilmu pengetahuan bisa bergelut di sini. Dibilang serius, ya serius. Sebab, karya jurnalistik punya tanggung jawab hukum. Punya tanggung jawab sosial. Tapi dibilang santai, ya santai. Kalau terlalu serius, cepat tua. Jadi serius tapi santai.

Yang penting lagi ialah pimpinan mesti sering membawa kabar baik. Misalnya, cerita tentang hal-hal yang optimis bahwa media ini pasti berkembang. Biasanya cerita-cerita semacam ini didapat bila ia banyak mengikuti perkembangan di luar redaksi. Banyak mengikuti diskusi-diskusi bermanfaat. Membaca peta bisnis media di dunia dan lain-lain.

Bila pimpinan media hanya seperti katak dalam tempurung, awak redaksi tentunya tidak optimal semangatnya.

Nah, tidak bagus juga bila awak redaksi terlalu bergantung pada pimpinan. Mereka mesti aktif mengembangkan sumber daya diri. Mau memainkan keahliannya semaksimal mungkin untuk mengoperasikan media.

Artinya di sini ialah, antara awak redaksi dengan pimpinan media mesti berjalan bersama dengan semangat menyala. Tetap semangat untuk maju. Dan percaya diri.

1 comment:

kebenaran said...

jamu psikologi kunjungi www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit