Wednesday, December 2, 2009

Filosofi Jembatan Semanggi

Jembatan Semanggi. Bangunan fisiknya berupa jalan layang yang melingkar-lingkar. Karena bentuknya mirip struktur daun lalapan, semanggi, maka kemudian meresap dan menjadi nama jembatan itu sendiri.

Pada perkembangannya, kawasan Jembatan Semanggi menjadi ciri khas Ibukota Jakarta. Jembatan ini menjadi semacam poros lalu lintas Ibukota Jakarta sekaligus sebagai simbol kemakmuran perekonomian.

Lokasi jembatan terkenal ini berada di kawasan Karet, Semanggi, Setia Budi. Pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Proses pembangunan Jembatan Semanggi tidaklah mudah. Presiden Soekarno tidak begitu saja mendapat restu dari rakyat. Sebab, pada waktu itu orang sudah mulai berpikir kritis terhadap ide-ide pembangunan fisik.

Pada masa itu, anggota masyarakat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah menilai bahwa gagasan Bung Karno ini hanyalah proyek mubazir. Proyek yang hanya akan menghabiskan keuangan negara dan tidak ada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat.

Bung Karno tentu saja memahami apresiasi yang disampaikan masyarakat. Dia menampung semua protes itu. Bung Karno mengolahnya.

Tapi, bukan Bung Karno namanya kalau kemudian mundur oleh berbagai kritik. Dia tetap mantap pada pendirian, yakni merealisasikan pembangunan Jembatan Semanggi. Tahun 1961 proyek dimulai.

Waktu itu, Jembatan Semanggi hanyalah salah satu dari paket pembangunan fasilitas publik yang akan dibangun pemerintah. Proyek lain yang juga didirikan, antara lain Gelora Senayan (Gelora Bung Karno) dan Hotel Indonesia.

Mengenai nama Semanggi, Bung Karno punya cerita sendiri. Dalam satu kesempatan, dia pernah bicara filosofi tentang daun semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan, dalam bahasa Jawa dia menyebut “suh” atau pengikat sapu lidi. Tanpa “suh” sebatang lidi akan mudah patah.

Sebaliknya, gabungan lidi-lidi yang diikat dengan “suh” menjadi kokoh dan bermanfaat menjadi alat pembersih.

Itulah sejarah singkat Jembatan Semanggi yang kini tetap berdiri kokoh dan mengimbangi pesatnya pembangunan infrastruktur Ibukota Jakarta.

Bila menilik sejarahnya, pantas memang bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan kawasan Jembatan Semanggi sebagai tempat wisata bernilai sejarah.

(Bahan tulisan diolah dari berbagai data kepustakaan)

7 comments:

veecla said...

klo saya sih suka ke plaza semanggi... gmn tuh filosofinya?? hehe...

S I S W A N T O said...

kan memang kamu penunggu plaza semanggi vir.. P

SuperGaL said...

Pertanyaan gue mas Sis, kalau untuk Pancoran Soekarno menjual mobilnya, Kalau untuk Jembatan Semanggi adakah harta pribadinya yang dia korbankan untuk negara? ;)

S I S W A N T O said...

aku belum tahu ya Luh apakah dia jual hartanya ato tidak. tp yang kutahu dia jual ide itu lalu diprotes orang. tapi tetap dikerjakan je... )

GaL said...

Soekarno...
Gue nggak baca banyak soal dia, tapi krn temen gue pernah sesekali mengulik2 Soekarno di ceritanya jadi tau beberapa. Termasuk Istiqlal dan Monas :)

Ada yang paling gue inget waktu gue nulis soal view GBK dr lantai 31. gue lagi cari-cari bahan soal GBK dr wiki dan nemu bahwa nama GBK sempet diganti waktu ORBA berkuasa singkat kata , de-Soekarnoisasi. menghilangkan jejak2 Soekarno dimasa itu. hehehehe kok jadi membahas ini ???

S I S W A N T O said...

yoa luh... tulisanmu kamu posting dimana soal GBK je

GaL said...

FB, cuma tebak-tebakan ga penting sih mas. :D
klik disini, Landmark Barat Gedung Ini