Monday, November 14, 2011

Air Minum untuk Rusa Monas

BERAWAL dari obrolan di twitter tentang nasib rusa di Taman Monumen Nasional (Monas), yang diberitakan media massa mengalami kekurangan makan dan  minum.  Teman-teman yang selama ini sama-sama memiliki perhatian kepada satwa pun terpikir untuk ikut andil dalam membantu memecahkan masalah itu.

Termasuk beberapa teman yang aktif di media sosial. Seperti Mbak Anny Djati, Bang Iwan Piliang, Mbak Lidia, dan Bang Dani. Secara spontan, mereka sepakat kopi darat. Tujuannya untuk berdaya bareng-bareng mengkonkritkan gagasan menyalurkan air minum bagi rusa di Taman Monas.

Dan pada hari H, Senin, 14 November 2011, mereka pun bertemu di area parkir Stasiun Gambir pada jam 14.00 WIB. Usai berkoordinasi singkat, teman-teman langsung bergerak menuju kandang puluhan rusa Monas. Mereka membawa air bersih sebanyak lima jerigen ukuran jumbo.

“Kita menyayangi satwa. Makanya begitu mendengar banyaknya media yang memberitakan nasib rusa Monas, kita langsung tergerak untuk ikut membantu,” kata Bang Iwan, mantan wartawan dan pemerhati media.

Bang Dani menambahkan, “Dari informasi-informasi media, kami menjadi tersentuh dan kami ingin berbuat sesuatu pada masalah kelestarian alam dan kehidupan satwa-satwa ini.”

“Nasib rusa-rusa ini harus mendapatkan  perhatian serius. Kasihan mereka hidup di tengah kota seperti ini,” kata Mbak Anny, penulis novel ‘Dilema Perempuan dan Kabut Pantai Anyer.’

Semangat teman-teman ini ialah semangat untuk menyayangi rusa, jenis satwa yang sudah tergolong langka di Tanah Air.

Kedatangan teman-teman mendapat sambutan positif para petugas pengawas rusa yang kebetulan sedang kumpul di depan kandang rusa. Mereka memberi apresiasi.  Kemudian, air yang dibawa teman-teman itupun langsung dimasukkan ke bak penampungan yang selama ini memang telah disediakan petugas.

Begitu air tertuang, beberapa rusa tampak mulai mendekat pelan-pelan ke arah bak. Tapi mereka tidak langsung meminumnya, mungkin mereka masih takut dengan kehadiran teman-teman yang baru pertama kali ini masuk ke kandangnya

***

Di depan kantor pengawas kandang rusa, teman-teman ngobrol dengan bapak-bapak petugas. Di antaranya Pak Gito dan Pak Ahyar yang tadi membantu memindahkan air.  Pada kesempatan itu, teman-teman mendengarkan langsung pendapat dari sudut pandang petugas mengenai nasib rusa Monas yang sekarang menjadi perhatian masyarakat.

Bapak-bapak ini mengatakan bahwa selama ini petugas sudah berusaha sebaik mungkin untuk merawat dan mengawasi kehidupan rusa.  Bahkan, ketika pompa air untuk persediaan minum rusa bermasalah sejak beberapa bulan terakhir, mereka tidak tinggal diam. Mereka menyediakan bak khusus air minum, dimana setiap dua hari sekali diisi dari tangki yang di datangkan ke taman.

Masalah kerusakan pompa air inilah yang kemudian memicu media massa memberitakannya secara besar-besaran. Pesan yang disampaikan media ialah kritik kepada pemerintah Jakarta yang dinilai tidak bisa mengurus rusa. Dan Monas bukanlah tempat yang layak untuk hewan-hewan ini.

Pak Gito sebenarnya senang dengan perhatian media. Tapi, menurutnya, ada sedikit kesalahpahaman yang berkembang. Misalnya, ada yang memberitakan bahwa rusa-rusa itu tidak mendapatkan perawatan semestinya sehingga ada yang terluka dan mati.

Menurutnya itu kurang benar karena kenyataannya selama ini belum ada rusa yang mati. Kesehatan rusa juga selalu dicek. Untuk masalah pangan rusa juga demikian. Selama ini tidak mengalami kendala. Pemberian makanan sehari dua kali sudah mereka lakukan.

Kendati makanan dan minuman untuk rusa dikatakan tidak mengalami kekurangan pada saat ini, kenyataannya bapak-bapak petugas kandang rusa Monas itu tidak menolak bila ada orang yang menyumbangkan air minum dan makanan.

Seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, setelah rusa Monas menjadi berita utama di berbagai media massa, kandang rusa seakan-akan kebanjiran bantuan air minum dan makanan. Air dan makanan datang dari anggota masyarakat yang merasa prihatin dengan nasib rusa.

Saat ini, jumlah rusa yang ada di Taman Monas mencapai 59 ekor. Tadinya ada 61 ekor. Berkurang, karena dua di antaranya luka pada kaki sehingga perlu dikirim ke Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, untuk mendapatkan perawatan.

Pak Ahyar menjelaskan luka yang dialami dua rusa ini akibat terperosok. Awalnya, luka itu sudah sembuh, tapi rupanya belakangan kambuh lagi. Jalannya jadi pincang-pincang. Maka dari itu, diperlukan perawatan kesehatan di Ragunan.

***

Berita mengenai buruknya nasib rusa Monas sudah tersiar luas. Anggota masyarakat yang merasa prihatin dan pesimis terhadap tanggung jawab pemerintah, khususnya dalam menangani masalah kelestarian satwa dan taman kota Jakarta, tanpa pikir panjang langsung ikut turun tangan memberikan kontribusi untuk mengurangi permasalahan itu.

Hampir setiap hari, ada yang datang untuk menyumbang minuman dan makanan.Seperti aksi teman-teman dengan memberikan bantuan air minum yang dilakukan pada hari ini. Rencananya, aksi ini tidak akan berhenti sampai pompa air minum di kandang rusa Monas normal lagi.

Walau pihak pengelola kandang rusa mengaku tidak kekurangan air dan makanan rusa, rencananya dalam waktu dekat teman-teman akan kembali datang untuk memberikan sayuran. Dengan harapan, agar kesehatan rusa-rusa itu semakin terjaga baik. Semua ini dilakukan atas kecintaan pada satwa-satwa dilindungi itu.

Nah, di sela bincang-bincang di depan kandang rusa, Mbak Anny  menyampaikan harapan-harapannya untuk pemimpin Jakarta yang akan datang. Ia membayangkan seorang pemimpin masa depan ialah yang benar-benar seorang memiliki perhatian pada kelestarian alam dan satwa. Contoh sederhananya ialah peduli pada rusa yang dipelihara di Monas. 

Walau demikian, Mbak Anny juga menyadari bahwa tanggung jawab untuk menciptakan kelestarian alam, satwa, dan keindahan kota, bukan hanya milik pemimpin saja, tapi juga masyarakat.

“Harapan saya, pemimpin yang akan datang, jangan kayak gubernur yang sudah-sudah.  Jangan meniru.  Ia harus mampu belajar dari kesalahan gubernur lama,” katanya.

3 comments:

Galuh Parantri said...

Salut buat mbak-mbak n mas-mas.kalo ada agenda lg pas wiken mau ikutan

Attia Nurani said...

Sedikit bicara langsung bertindak. Mari budayakan langsung bertindak.

Siswanto said...

Makasih. hayukkkk :)