Friday, November 18, 2011

Kisah Gay Pendamping Orang Dengan HIV/AIDS

DI tulisan sebelumnya, saya telah menceritakan pengalaman Yosef. Ia orang yang positif HIV. Ia sempat frustasi, sendiri, ingin mati karena merasa hidup ini tidak ada guna lagi. Pergulatan batin itu berlangsung cukup lama sampai kemudian ia bangkit. Didukung oleh teman-teman pendamping ODHA  ia semakin kuat. Bahkan, setelah berhasil melewati masa masa krisis itu, pria ini menjadi pendamping bagi ODHA lainnya. (cerita itu klik di sini)

Nah, dalam seri tulisan kali ini, saya akan mengangkat cerita dari perspektif seorang remaja yang menjadi pendamping ODHA di kalangan gay.  Namanya Way Mazsyant. Mazsyant menceritakan awal mula keterlibatannya di kegiatan ini. Ia punya banyak pengalaman. Tapi ada satu yang paling tragis. Seorang teman terdekatnya positif HIV/AIDS dan meninggal pada 2009 karena dari awal terlambat mendeteksinya. Tak hanya sedih tapi juga menyesal karena merasa gagal mendampingi. Bagaimana ceritanya?

Siapa Dia

Saya menemui Mazsyant di kantor Mitra Sehati di Jalan Perjuangan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 15 November 2011 siang. Mahasiswa fakultas hukum semester 4 di salah satu universitas di Jakarta Timur ini usianya baru 21 tahun. Ia anak bontot dari enam bersaudara.

Mazsyant adalah aktivis dari LSM Gaya Patriot Bekasi di Margahayu, Kota Bekasi. LSM ini masih berada di bawah naungan Mitra Sehati. Ia bertugas untuk kampanye dan pendampingan bagi ODHA di kalangan gay Kota bekasi yang jumlahnya antara 2.000-3.000 orang.

Di luar aktivitas di LSM Gaya Patriot, Mazsyant juga seorang pekerja di bidang entertainment, misalnya menjadi MC di acara-acara party atau apapun.
Sumber gambar : pokdisusaids.wordpress.com

Awal Jadi Pendamping

Saya dan Mazsyant duduk di atas karpet ruang depan kantor Mitra Sehati. Mazsyant yang mengenakan celana jeans dan kaos putih ketat itu menyender ke tembok. Tak lama kemudian, saat kami masih berbincang-bincang, tiba-tiba temannya datang. Lalu mencubit Mazsyant. Pecahlah tawa mereka. Tapi, setelah selesai mengambil rokok milik Mazsyant, teman yang juga anggota komunitas gay itu masuk lagi ke ruang utama kantor.

Bincang-bincang pun kami lanjutkan. Mazsyant bercerita tentang awal mulanya menjadi pendamping ODHA.  “Awalnya dari pergaulan. Karena pergaulanku di lingkungan yang berpotensi tinggi tertular HIV/AIDS.  Jadi, timbul dari kemauan aku sendiri untuk bergabung dengan LSM,” katanya dengan mimik muka serius.

Secara kebetulan juga, pada waktu itu ia memiliki kenalan seorang aktivis LSM pemerhati HIV/AIDS. Banyak informasi yang ia dapatkan tentang kegiatan LSM, aktivitasnya, sampai manfaatnya bagi masyarakat, khususnya orang yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Mazsyant semakin tertarik untuk ikut terlibat lebih jauh. Waktu itu, usianya baru 16 tahun.

“Teman-teman LSM fungsinya untuk menyadarkan perilaku yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS,” katanya dengan nada lemah gemulai.

Begitu menjadi aktivis LSM pemerhati masalah HIV/AIDS, Mazsyant merasakan keadaan yang sebenarnya. Misalnya, ternyata untuk menyadarkan perilaku teman-teman, khususnya mereka di kalangan remaja agar hidupnya jauh dari lingkungan yang berisiko tertular HIV/AIDS tidak mudah.

Untuk membuat remaja menyadari akan risiko penularan, dibutuhkan orang-orang yang betul-betul memahami dunia mereka. Misalnya, dunia remaja dari kalangan gay dan remaja dari kalangan pengguna narkoba suntik, cara pendekatannya akan berbeda.

“Kan engga mungkin aku yang dari kalangan gay, harus masuk ke kelompok penasun, misalnya. Sementara kan aku engga ngerti pergaulan mereka seperti apa,” katanya. “Walau semuanya sebenarnya sama-sama untuk penanggulangan HIV. Cuma pendampingnya saja yang beda-beda. Mereka dari kalangan itu sendiri supaya mudah masuk.”

Respon keluarga

Hujan deras di Kabupaten Bekasi. Tiba-tiba, teman Mazsyant datang lagi dengan membawa kopi panas untuk kami. Mazsyant teriak lirih dan girang bukan main. Kami pun menyeruput kopi masing-masing. Cerita dilanjutkan.

Semula, orang tua Mazsyant sempat kaget ketika mendengar dirinya terlibat dalam kegiatan LSM pemerhati masalah HIV/AIDS ini.

“Usia elo masih muda. Dan karena masih muda tidak harus terjun ke dunia seperti ini,” kata ibu yang ditirukan Mazsyant.

Menanggapi hal itu, “Aku coba jelasin. Baru dengar kata HIV/AIDS saja mereka sudah takut. Serem. Nglarang. Jangan entar begini begitu,” katanya.

Tapi lambat laun, orang tua dapat memahami kegiatan Mazsyant. Itu karena kekeuh-nya sikap Mazsyant, selain itu juga karena ia mampu memberikan penjelasan yang baik kepada mereka tentang aktivitas pemerhati HIV/AIDS dan kenyataan yang dihadapi para ODHA di Indonesia.

“Bagi aku sih itu hal yang wajar, ketika diawalnya takut mendengar kata HIV/AIDS. Tapi begitu sudah tahu, mereka akan biasa saja. Mereka akan tahu bahwa orang HIV adalah orang special. Dalam arti kata, dia butuh dukungan, butuh uluran tangan dari kita,” ujar Mazsyant.

Biasanya orang yang baru di awal-awal tahu dirinya positif HIV/AIDS, apalagi yang tidak memiliki teman yang memahaminya, pikiran akan stres. “Kemudian ngeblank. Lalu berpikir memutuskan untuk finish. Makanya, kita perlu datang untuk memberi semangat kepada para ODHA.”

Lama-lama keluarga , terutama ibu Mazsyant, mendukung. Setelah itu, Mazsyant makin yakin pilihannya memang benar. Ia mengikuti berbagai pelatihan, bahkan mendapatkan sertifiikat. “Dan nyokap aku jadi bangga.”

Pengalaman Mendampingi

Ada satu kisah yang sampai sekarang tidak pernah bisa dilupakan Mazsyant. Pada tahun 2009, ia mendampingi salah seorang dari anggota komunitas gay. Teman Mazsyant terlambat memeriksakan kesehatannya. Dan baru tahu setelah positif AIDS. Ia meninggal dalam perawatan.

“Itu yang susah banget (menerimanya).  Orang itu adalah orang terdekat aku,” kata  Mazsyant  memelankan suara dan terlihat matanya berkaca-kaca.

“Orang yang udah banyak ngebantu aku. Orang yang udah aku anggap kakak sendiri,” katanya, sementara di luar hujan deras dan terdengar petir menggelegar.

Waktu teman terdekat itu sakit, Mazsyant mendampingi dia mulai dari rumah, sampai dirawat inap di RSKO, sampai berobat jalan. Sampai tiga bulan lamanya. “Aku tetep ngedampingin dia, tetep satu kamar ama dia. Ngedampingin dia tidur (di RSKO). Sampai dia balik lagi ke rumah. Sampai kemudian ia enggak ada.”

Ia melanjutkan, “Aku ngerasa, gila ya, aku dengan orang terdekat aku saja bisa gagal. Aku merasa itu kesalahanku. Amat amat teramat sangat menyesal mengingatnya.”

Saat saya wawancara, rasanya Mazsyant ingin memutar waktu untuk kemudian betul-betul mendorong teman dekatnya itu untuk memeriksakan diri ke dokter sehingga tidak terlambat.

“Sebenarnya, aku udah sering  ngingetin dan nyuruh dia tes HIV. Cuma dia sepertinya masih yang takut-takut gitu,” katanya sambil menyedot rokok dalam-salam.

“Kalau sudah begitu, kita tidak bisa paksakan. Kan kesadaran itu datang dari diri sendiri. Tapi ketika dia sudah sakit ngedrop dan positif AIDS, baru dia sadar.”

“Aku rasanya kecewa. Karena aku ngerasa gagal. Ngerasa gagal menyadarkan dia untuk tes HIV secepatnya.”

Tapi, ada satu hal yang juga masih ada dalam ingatan Mazsyant. Yaitu semangat hidup teman terdekatnya itu saat sakit. Mengingat soal itu, Mazsyant yang tadinya terlihat sedih sepanjang wawancara dengan saya, kini menjadi lebih ceria.

“Aku juga bangga ama dia. Karena setelah dia tahu AIDS itu, dia masih bisa ketawa, senyum, bercanda-canda,” katanya.

“Dia sendiri sih yang suka ngeluarin celotehan-celotehan," kata Mazsyant. 

"Ah baru HIV, belum jantung, belum kanker," kata Mazyan menirukan celotehan teman dekatnya waktu itu.

"Jadi, dia sendiri yang semangat,” tambah Mazsyant dengan gerakan gemulai.

“Karena mungkin ia ngerasa, gw engga sendiri. Masih Ada orang di samping gw. Ada yang peduli sama gw.”


Sebagai orang yang memiliki pengalaman mendampingi ODHA, Mazsyant tak ingin terlihat sedih di depan temannya. Ia sering bercerita tentang ODHA lainnya yang tetap dapat melakukan banyak hal untuk orang lain. “Banyak loh orang yang kayak gini, tapi masih bisa berkarya, kerja dll.”

“Aku bangga ama dia dengan semangatnya. Cuma karena memang telat periksa sehingga lewat semuanya,” ujarnya.

Sebentar kemudian mata Mazsyant kembali terlihat berkaca-kaca. “Aku ngedampingin dia, sampai dia enggak ada. Jadi bener-bener…” Matanya makin berkaca-kaca.

Tekad

Dari pengalaman kehilangan seorang teman terdekat, kemudian Mazsyant bertekad untuk mengabdikan sebagian besar hidupnya bagi kegiatan kampanye tentang HIV/AIDS, khususnya kalangan remaja gay yang gaya hidupnya berisiko tinggi tertular. Ia ingin berbuat lebih banyak untuk memberikan kesadaran tentang betapa pentingnya hidup sehat dan menghindari bahaya penularan HIV/AIDS.

“Karena aku merasa sedih dengan pengalaman itu. Pengalaman itu kayak pukulan buatku. Maka aku tidak ingin ada kasus seperti itu lagi,” ucapnya.

Itu sebabnya, Mazsyant mengharapkan siapapun orangnya yang merasa berada pada lingkungan yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS untuk selalu memeriksakan kesehatannya agar tidak terlambat.

Tapi dari pengalaman Mazsyant memang pada kenyataannya tidak semua orang ikhlas melakukan itu. Karena ada sebagian orang yang sudah ketakutan dulu dengan hasil tesnya. Sikap itu tidak tepat, justru dengan mengetahui kondisi kesehatan diri, maka dapat diketahui langkah-langkah selanjutnya. Yang negatif HIV dapat lebih hati-hati. Sedangkan yang positif HIV bisa mendapatkan pendampingan dari teman-teman pemerhati HIV/AIDS.

Bahkan, sebagian ODHA pun masih memilih untuk tertutup, khususnya kepada pendamping. Menangani kasus semacam ini, biasanya Mazsyant akan bersabar menunggu sampai ia mau terbuka. “Kita tidak bisa paksa dia untuk curhat. Tapi, lain waktu kita ajak dia ngobrol lagi, curhat lagi. Banyak banget yang nganggep apaan sih sharing,” katanya.

Sharing dengan pendamping penting sekali fungsinya bagi ODHA. Karena dari sharing itu, pendamping dapat memutuskan seperti apa pendampingannya atau kemana merujuknya. Penting juga untuk ODHA sendiri.

Sharing ini juga supaya tetap survive. Jangan stress. Lakuin yang bisa dilakuin. Jangan lupa untuk terus terapi. Periksa kesehatan. Jaga kesehatan. Dan tidak menularkan lagi,” katanya.

Umumnya, orang yang baru dinyatakan positif HIV/ADS itu sangat malu, sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi mereka tidak punya teman. Maka, kata Mazsyant, kita harus merangkulnya. Lakukan layaknya dia seperti orang biasa. Kita tidak perlu takut tertular karena penularan HIV/AIDS tidak gampang.

“Kita berbagi alat makan dengan temen-teman ODHA tidak apa-apa. Kita berciuman dengan mereka tidak apa-apa. Karena HIV itu masuk lewat proses pertukaran darah dan seks,” katanya.

“Jadi kalau kita ngobrol dengan teman ODHA perlakukan dia seperti orang biasa. Atau kita pura-pura aja ngobrol seperti orang tidak tahu kalau dia itu ODHA. Itu akan membuat dia nyaman. Merasa masih banyak orang yang peduli.  Mereka tidak sendirian dengan care-nya kita.”

Harapan

Kepada pemerintah, Mazsyant berharap agar layanan untuk para ODHA ditingkatkan. Tetapi yang lebih penting, semua dipermudah dan diperingan. “Jangan diberatkan. Karena tidak semua ODHA itu punya uang. Beri layanan yang komprehensif atau one day service dalam arti pemeriksaan satu atap. Ada HIV ada IMS juga.”

Kepada masyarakat, Mazsyant berharap agar jangan pernah merasa takut dengan ODHA. Jangan mengucilkan atau mendiskriminasi mereka.  “Karena mereka sama seperti kita. Karena sebetulnya mereka adalah korban. Jangan pernah takut berikan rasa kepedulian kita kepada mereka. Jangan pernah merasa takut  untuk beri uluran tangan ke mereka. Karena mereka adalah orang orang yang butuhkan itu dari kita. Itu aja.”

Uluran tangan yang dimaksud Mazsyant ialah perhatian berupa dukungan moral. Dan yang lebih terpenting lagi ialah menjalani kehidupan ini dengan sehat agar diri kita dan keluarga yang kita cintai tidak tertular HIV/AIDS. Bukan hanya kalangan gay, tapi masyarakat secara umum.

Kepada ODHA, Mazsyant berharap jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. “Seberapa berat beban itu, kita bisa menjalani, bisa survive, bisa berkarya. Karena kalian adalah sesuatu yang special.”

Kepada keluarga, Mazsyant berharap perlakukan anggota keluarga yang termasuk ODHA seperti layaknya anggota keluarga yang lain. “Jangan dibedakan. Tetap beri dukungan. Tetap beri uluran tangan ke dia. Tetap kasih semangat."

Tulisan ini saya dedikasikan untuk memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 
1 Desember

Kemayoran, Jakarta Pusat

Tulisan terkait: 
Kisah Yosef Bangkit dari Frustasi Positif HIV 

4 comments:

Ejawantah's Blog said...

Sebuah artikel perjalanan seorang aktifis yang dapat menggugah hati setiap nurani manusia dlam hal mengenal lebih jauh lagi tentang HIV/AIDS.

Suskses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Siswanto said...

Semoga bang Ejawantah. thanks ya

Jun said...

Semoga harapan Mazsyant bisa segera terwujud ya :)

Salam

Siswanto said...

Semoga terwujud :) Makasih ya