Kami sama-sama senang setelah menonton film Zombieland di bioskop 21 Plaza Semanggi. Kami berdiskusi sambil berjalan kaki sepanjang jalan menuju tempat parkir di gedung Standard Chartered, Jakarta Selatan.
“Manusia butuh saling kerjasama dengan yang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri,” kata Vira. Aku setuju dengan bagaimana dia menerjemahkan pesan film Zombieland ini.
Kira-kira kalau film ini dideskripsikan berdasarkan alur ceritanya, begini. Seorang pemuda penakut bernama Columbus terpaksa bergabung bersama pembasmi zombie dadakan bernama Tallahassee.
Saat Tallahassee sedang dalam misi mencari Twinkie yang tersisa di bumi, keduanya bertemu dengan Wichita dan Little Rock, kakak beradik yang sudah bersembunyi di banyak tempat untuk terhindar dari kekacauan ini. Itulah deskripsi sederhana dari Zombieland.
Sebenarnya tidak ada pengalaman hidup yang baru yang ingin ditawarkan pembuat film ini kepada publik. Jadi, menurutku, ceritanya hanya lebih pada keinginan mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang betapa pentingnya menghormati dan menghargai orang lain yang ada di sekeliling kita.
Misalnya hal itu ditunjukkan oleh Columbus dan Tallahassee. Pada awalnya mereka menolak untuk untuk saling bekerjasama. Mereka merasa sudah sangat percaya diri untuk dapat menangani kekacauan dan semua permasalahan mereka.
Situasi kacau yang dimaksud ialah dimana sistem tata krama sudah tidak berfungsi. Manusia sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan. Menganggap yang lain sebagai ancaman. Sebenarnya ini lebih tepat untuk menjelaskan situasi kemasyarakatan dunia modern dewasa ini. Dimana sebagian anggota masyarakat berpikir kita harus mencurigai orang lain akan berbuat jahat kepada kita.
Tetapi toh pada akhirnya kekuatan kekacauan jauh lebih berkuasa daripada sifat egois yang dimiliki Columbus dan Tallahasse. Situasi sangat tidak menguntungkan dan akhirnya menempatkan mereka pada kondisi untuk tetap saling membutuhkan satu sama yang lainnya. Untuk kembali pada kerinduan saling percaya dan dipercayai.
Pulau zombie menurutku merupakan terjemahan dari suatu sistem yang diciptakan oleh pemilik modal atau oleh penguasa yang membangun kerajaan sendiri. Mereka menciptakan rupa-rupa aturan main yang tentu saja mendukung keinginan mereka untuk mencapai keuntungan dan kenikmatan sebesar-besarnya.
Entah secara sadar atau tidak mereka telah mempersempit ruang gerak masyarakat melalui aturan-aturan main. Sehingga masyarakat terjebak pada aturan itu. Masyarakat tidak lagi memiliki kebebasan karena semuanya sudah diatur lewat sudut pandang sistem pemilik modal.
Ketika yang berjalan di lapangan tidak lagi sesuai sistem yang diatur itu, kemudian masyarakat dianggap telah melakukan suatu pelanggaran. Singkat cerita akhirnya yang terjadi ialah saling memakan satu sama lainnya. Rasa saling memanusiakan, memahami, menghormati, dan menghargai telah hilang dari muka bumi dan selanjutnya tergantikan oleh aturan main bikinan pemodal itu.
Sistem baru yang tercipta ialah segala sesuatu kemudian diukur dengan prestasi kerja, penampilan fisik, kecerdasan berbicara, dan lain-lain. Kerjasama kini tidak lagi didasari rasa saling memanusiakan, memahami, sopan santun, saling mempercayai, melainkan kemudian tergantikan oleh ukuran-ukuran itu tadi.
Columbus dan Tallahassee dalam perjalanannya ke negara bagian yang lain secara tidak sengaja bertemu dengan Wichita dan Little Rock. Kakak beradik ini cerdik dan pemberani. Berkali-kali mereka berhasil memperdayai Tallahassee yang sangat percaya diri dan terkenal tidak pernah takut pada zombie.
Kecerdikan ini, menurutku, penjelasan dari usaha mati-matian manusia dari rasa terancam oleh keberadaan orang lain. Karena mereka sudah terjebak pada sistem yang mewajibkan bahwa orang lain itu harus dicurigai, mereka harus mempertahankan diri dengan cara memperdayai dan lari, lari, dan lari.
Apakah lari dari kenyataan bahwa kita harus mengenal orang lain itu merupakan solusi?
Kecerdikan dan kepintaran kakak beradik ini pun tidak bisa mempertahankan hidup mereka sendiri. Toh, pada akhirnya mereka tetap butuh hidup kerjasama dengan Columbus dan Tallahassee. Itu ditunjukkan ketika film ini akan selesai.
Bersama-sama kemudian mereka berjuang melawan para mayat hidup atau melawan sistem. Mereka ingin menjelaskan kepada dunia modern ini bahwa jangan sampai terjebak pada sistem-sistem yang justru menempatkan manusia untuk tidak saling mengenal satu sama lainnya. Jadi, buang ungkapan bahwa orang lain itu jahat. Karena sebelum kita mau mengenal orang lain, bagaimana tahu dia jahat.
Senin 14 Desember 2009
Wednesday, December 2, 2009
Filosofi Jembatan Semanggi
Jembatan Semanggi. Bangunan fisiknya berupa jalan layang yang melingkar-lingkar. Karena bentuknya mirip struktur daun lalapan, semanggi, maka kemudian meresap dan menjadi nama jembatan itu sendiri.
Pada perkembangannya, kawasan Jembatan Semanggi menjadi ciri khas Ibukota Jakarta. Jembatan ini menjadi semacam poros lalu lintas Ibukota Jakarta sekaligus sebagai simbol kemakmuran perekonomian.
Lokasi jembatan terkenal ini berada di kawasan Karet, Semanggi, Setia Budi. Pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Proses pembangunan Jembatan Semanggi tidaklah mudah. Presiden Soekarno tidak begitu saja mendapat restu dari rakyat. Sebab, pada waktu itu orang sudah mulai berpikir kritis terhadap ide-ide pembangunan fisik.
Pada masa itu, anggota masyarakat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah menilai bahwa gagasan Bung Karno ini hanyalah proyek mubazir. Proyek yang hanya akan menghabiskan keuangan negara dan tidak ada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat.
Bung Karno tentu saja memahami apresiasi yang disampaikan masyarakat. Dia menampung semua protes itu. Bung Karno mengolahnya.
Tapi, bukan Bung Karno namanya kalau kemudian mundur oleh berbagai kritik. Dia tetap mantap pada pendirian, yakni merealisasikan pembangunan Jembatan Semanggi. Tahun 1961 proyek dimulai.
Waktu itu, Jembatan Semanggi hanyalah salah satu dari paket pembangunan fasilitas publik yang akan dibangun pemerintah. Proyek lain yang juga didirikan, antara lain Gelora Senayan (Gelora Bung Karno) dan Hotel Indonesia.
Mengenai nama Semanggi, Bung Karno punya cerita sendiri. Dalam satu kesempatan, dia pernah bicara filosofi tentang daun semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan, dalam bahasa Jawa dia menyebut “suh” atau pengikat sapu lidi. Tanpa “suh” sebatang lidi akan mudah patah.
Sebaliknya, gabungan lidi-lidi yang diikat dengan “suh” menjadi kokoh dan bermanfaat menjadi alat pembersih.
Itulah sejarah singkat Jembatan Semanggi yang kini tetap berdiri kokoh dan mengimbangi pesatnya pembangunan infrastruktur Ibukota Jakarta.
Bila menilik sejarahnya, pantas memang bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan kawasan Jembatan Semanggi sebagai tempat wisata bernilai sejarah.
(Bahan tulisan diolah dari berbagai data kepustakaan)
Pada perkembangannya, kawasan Jembatan Semanggi menjadi ciri khas Ibukota Jakarta. Jembatan ini menjadi semacam poros lalu lintas Ibukota Jakarta sekaligus sebagai simbol kemakmuran perekonomian.
Lokasi jembatan terkenal ini berada di kawasan Karet, Semanggi, Setia Budi. Pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Proses pembangunan Jembatan Semanggi tidaklah mudah. Presiden Soekarno tidak begitu saja mendapat restu dari rakyat. Sebab, pada waktu itu orang sudah mulai berpikir kritis terhadap ide-ide pembangunan fisik.
Pada masa itu, anggota masyarakat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah menilai bahwa gagasan Bung Karno ini hanyalah proyek mubazir. Proyek yang hanya akan menghabiskan keuangan negara dan tidak ada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat.
Bung Karno tentu saja memahami apresiasi yang disampaikan masyarakat. Dia menampung semua protes itu. Bung Karno mengolahnya.
Tapi, bukan Bung Karno namanya kalau kemudian mundur oleh berbagai kritik. Dia tetap mantap pada pendirian, yakni merealisasikan pembangunan Jembatan Semanggi. Tahun 1961 proyek dimulai.
Waktu itu, Jembatan Semanggi hanyalah salah satu dari paket pembangunan fasilitas publik yang akan dibangun pemerintah. Proyek lain yang juga didirikan, antara lain Gelora Senayan (Gelora Bung Karno) dan Hotel Indonesia.
Mengenai nama Semanggi, Bung Karno punya cerita sendiri. Dalam satu kesempatan, dia pernah bicara filosofi tentang daun semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan, dalam bahasa Jawa dia menyebut “suh” atau pengikat sapu lidi. Tanpa “suh” sebatang lidi akan mudah patah.
Sebaliknya, gabungan lidi-lidi yang diikat dengan “suh” menjadi kokoh dan bermanfaat menjadi alat pembersih.
Itulah sejarah singkat Jembatan Semanggi yang kini tetap berdiri kokoh dan mengimbangi pesatnya pembangunan infrastruktur Ibukota Jakarta.
Bila menilik sejarahnya, pantas memang bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan kawasan Jembatan Semanggi sebagai tempat wisata bernilai sejarah.
(Bahan tulisan diolah dari berbagai data kepustakaan)
Mengapa Mereka Bunuh Diri
Bunuh diri merupakan tindakan mengakhiri hidup sendiri tanpa bantuan aktif orang lain. Alasan melakukan ini banyak macamnya, tapi umumnya didasari oleh rasa bersalah yang sangat besar, karena merasa gagal untuk mencapai sesuatu harapan.
Hal itu diungkapkan ahli psikologi Sani B Hermawan kepadaku Rabu 2 Desember 2009 untuk menanggapi beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia selama sepekan terakhir, dua di antaranya terjadi di pusat belanja Jakarta.
Selain dilanda putus asa karena tidak mampu memecahkan masalah, ada juga diakibatkan oleh kepribadian tertentu. Salah satunya depresi. Jadi, kata Sani, orang yang tidak puas dan tidak kuat menahan cobaan hidup, bisa memilih jalan bunuh diri.
“Jadi, orang yang punya kepribadian seperti itu, dia memiliki kecenderungan untuk bunuh diri,” kata Sani.
Ditanya mengenai motif bunuh diri sebagaimana ilmu sosiologi jelaskan, yaitu karena ingin berjuang melalui keyakinan yang dianut, Sani mengatakan kasus semacam itu memang ada.
Dia menyontohkan bunuh diri dalam budaya Jepang yang dikenal istilah hara-kiri. Hara kiri, kata dia, didasari semangat untuk mencapai suatu kehormatan. Karena mati dianggap lebih terhormat daripada hidup tidak punya harga diri.
Kemudian bunuh diri karena ideologi tertentu, misalnya dengan meledakkan diri di tempat publik.
“Alasan pelaku kan karena ada yang ingin dia perjuangkan. Tapi menurut saya, itu paradigma yang keliru,” katanya. “Karena yang tewas bukan hanya dia sendiri, orang lain juga jadi korban.”
Sani mengatakan tidak melihat kasus bunuh diri di Indonesia dilakukan karena didasari semangat pencapaian kehormatan seperti dalam hara-kiri. Sebab, budaya Indonesia dengan Jepang beda. Apalagi, masyarakat Indonesia umumnya taat pada agama dan agama melarang bunuh diri.
Jadi, Sani lebih menangkap kasus bunuh diri di Indonesia hanya sebatas karena mereka tidak mampu memecahkan masalah pribadi dengan baik.
Nah, kalau persoalannya itu, Sani mengatakan salah satu cara mencegahnya ialah dengan memahami mereka yang sedang menjalani cobaan hidup. Dan ini merupakan tanggung jawab teman dan keluarga. Mereka harus membantu, mendengar, memahami, mendukung, dan mencari solusi bersama.
Hal itu diungkapkan ahli psikologi Sani B Hermawan kepadaku Rabu 2 Desember 2009 untuk menanggapi beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia selama sepekan terakhir, dua di antaranya terjadi di pusat belanja Jakarta.
Selain dilanda putus asa karena tidak mampu memecahkan masalah, ada juga diakibatkan oleh kepribadian tertentu. Salah satunya depresi. Jadi, kata Sani, orang yang tidak puas dan tidak kuat menahan cobaan hidup, bisa memilih jalan bunuh diri.
“Jadi, orang yang punya kepribadian seperti itu, dia memiliki kecenderungan untuk bunuh diri,” kata Sani.
Ditanya mengenai motif bunuh diri sebagaimana ilmu sosiologi jelaskan, yaitu karena ingin berjuang melalui keyakinan yang dianut, Sani mengatakan kasus semacam itu memang ada.
Dia menyontohkan bunuh diri dalam budaya Jepang yang dikenal istilah hara-kiri. Hara kiri, kata dia, didasari semangat untuk mencapai suatu kehormatan. Karena mati dianggap lebih terhormat daripada hidup tidak punya harga diri.
Kemudian bunuh diri karena ideologi tertentu, misalnya dengan meledakkan diri di tempat publik.
“Alasan pelaku kan karena ada yang ingin dia perjuangkan. Tapi menurut saya, itu paradigma yang keliru,” katanya. “Karena yang tewas bukan hanya dia sendiri, orang lain juga jadi korban.”
Sani mengatakan tidak melihat kasus bunuh diri di Indonesia dilakukan karena didasari semangat pencapaian kehormatan seperti dalam hara-kiri. Sebab, budaya Indonesia dengan Jepang beda. Apalagi, masyarakat Indonesia umumnya taat pada agama dan agama melarang bunuh diri.
Jadi, Sani lebih menangkap kasus bunuh diri di Indonesia hanya sebatas karena mereka tidak mampu memecahkan masalah pribadi dengan baik.
Nah, kalau persoalannya itu, Sani mengatakan salah satu cara mencegahnya ialah dengan memahami mereka yang sedang menjalani cobaan hidup. Dan ini merupakan tanggung jawab teman dan keluarga. Mereka harus membantu, mendengar, memahami, mendukung, dan mencari solusi bersama.
Hai, Panggil Aku Mo
Suatu sore aku dan temanku Vira main di Taman Ismail Marzuki. Sehabis membeli buku tentang tokoh filsafat, Freud, Sartre, dan ilmu tentang Kosmologi, di toko buku milik Pak Jose Rizal Manua, kami nongkrong di salah satu kafe.
Di sana, tiba-tiba calon dokter gigi dari UI ini mengeluarkan sesuatu yang terbungkus plastik dari dalam tas trendinya. Lalu, dia memberikan sesuatu itu kepadaku. Setelah kuambil dan kulihat, ternyata seekor monyet. Wow lucunyaaa. Eh, tentu saja ini bukan monyet sungguhan, melainkan sebuah boneka.
Bulunya coklat dan sangat tebal. Dan kalau dilihat dari depan, kepala teman baruku ini tampak botak. Dan justru menurutku itulah salah satu letak kelucuannya. Ditambah lagi dia selaaaaaaalu menyunggingkan senyum kepadaku dan tentu saja kepada siapapun yang berjumpa dengannya.
Vira bilang boneka lucu ini mirip seorang fisikawan bernama Albert Einstein. Kok bisa, pikirku. Oh, rupanya karena kepala boneka monyet ini botak, lalu dia membayangkan monyet ini sebagai Einstein. Hahahhaha.
Selesai makan di kafe itu, aku dan Vira nonton film New Moon. Film yang lagi disukai banyak orang sekarang ini. Film yang menjelaskan tentang hakikat cinta. Cinta berarti memahami. Memahami ciri-cirinya ialah memberi kebebasan kepada pasangan. Cinta bukanlah sesuatu yang sudah tersedia dan mereka tinggal menjalaninya. Bukan seperti itu. Menyintai berati kita bekerja. Bertindak untuk mewujudkannya. Dan itu berlangsung sepanjang hidup. Oh cinta. hahaha.. Eh, monyet temanku ikut nonton. Hehehe.
Dia duduk di tengah, di antara kami para manusia. Mungkin dia satu-satunya monyet yang beruntung malam itu. Beberapa orang sepertinya keheranan padaku. Soalnya, aku duduk jejer boneka. Orang melihat ini seperti langsung memikirkan sesuatu. Ya ya ya ya… Tidak mengapa.
Usai nonton film, kami makan, lalu pulang. Vira bilang monyet ini mesti dikasih nama. Mmm. Betul juga, pikirku. Tapi siapa namanya. Vira bilang ya namanya monyet saja. Masa sih namanya monyet saja. Tapi lama-lama kupikir bener juga. Kenapa monyet harus dikasih nama yang aneh-aneh, paijo, paimin, macan, dan lain-lain.
Sepanjang perjalanan pulang, aku mikir-mikir. Kuberi nama apa ya si teman lucuku ini. Ada beberapa pilihan. Tapi lama menentukannya. Sesampai di kos, aku baru memutuskannya. Yah, kuberi dia nama Mo saja. Dua huruf yang kuambil dari kata monyet. Singkat dan lucu.
Yoi, malam itu akhirnya aku punya teman baru di kamar kos. Pada waktu Vira memberiku hadiah boneka ini, dia bilang supaya temanku bukan cuma buku-buku saja. Mesti ada sesuatu yang lain atau yang baru. Hahahah. Sesuatu itu mungkin maksudnya sesuatu yang menawarkan semacam pengetahuan atau pemandangan yang baru sama sekali.
Memang selama ini sama sekali tak pernah terpikir olehku untuk membeli boneka untuk hiburan di kamar kos. Pasti aneh menurut sudut pandang teman-temanku yang main ke tempatku. Mereka akan pikir, wow Sis sudah menjadi pria gemulai. Haghaghag.
Nah, aku juga berpikir bahwa di situlah letak menariknya. Mungkin saja Vira berpikir demikian. Dia sengaja menghadiahiku sebuah boneka sekaligus untuk menantang konsep yang menyebut mainan semacam ini hanyalah untuk anak perempuan. Vira mungkin mau menjelaskan bahwa Boneka adalah mainan yang universal. Benda ini bisa menjadi teman bagi siapapun, pria dan wanita, besar dan kecil.
Bisa jadi Vira juga berpikir begini. Boneka monyet ini hanyalah cara bagi dia untuk berkomunikasi dengan orang lain agar masyarakat lebih tergugah hatinya dan menyayangi satwa. Mungkin Vira termasuk pengagum Ahimsa, ajaran Buddhisme dan Hinduisme, yang berarti manusia tidak boleh melukai, apalagi membunuh makluk hidup. Ajaran itupula yang diikuti oleh Mahatma Gandhi. Gandhi menempuh jalan hidup pelayanan.
Wokay, si Mo. Kau sudah jadi temanku sekarang. Kini kau telah kuberi jiwa. Kau kumonyetkan atau dalam bahasa manusia kau telah dimanusiakan. Aneh kedengarannya. Diberi jiwa. Maksudku, kau kuberi makna sebagai teman.
Mo, kini kau perlu tahu. Viralah yang telah menyelamatkanmu dari pertokoan di Taman Safari, Cisarua, Bogor. Waktu kau masih di sana, pastilah kau hanyalah seonggokan benda yang hanya dimaknai sebagai barang dagangan. Kini, kau dikeluarkan dari sana ketika Vira dan keluarganya berekreasi di tempat asalmu.
Dan kini kau tinggal di tempat yang jauh lebih terhormat yaitu di kosku. Kau kutempatkan di dekat buku-bukuku. Kau tau, bagi manusia, buku adalah salah satu jalan untuk membuka pikiran dan membuka kecerdasan. Walau kau tak membaca, setidaknya kau berada di dekat buku-buku kelas beratku. Hehhe.
Hmmmm… Ngomong-ngomong soal monyet. Ternyata bukan aku saja yang suka monyet. Si Vira pun agaknya suka sekali. Hahaha… Jepret.. jepret… jepret… beberapa foto berhasil diambilnya di Taman Safari sore itu. Bahkan, mungkin saking bangganya, dia memampangnya di facebook.
Dia bercerita telah berhasil menjepret salah satu monyet yang agak kurus ketika mobil yang ditumpanginya dicegat. Ada lagi satu monyet diambil fotonya ketika sedang meminta-minta kepada para pengunjung taman. Okeh.
Kembali pada Si Mo yang manis. Si bulu coklat yang tebal. Kepalanya agak plontos bergaya Einstein. Dia adalah makluk yang kusebut sebagai pemilik senyum abadi. Kusebut demikian karena struktur mukanya memang akan selalu membikin dia tetap ngguyu terhadap apapun yang terjadi.
Di sana, tiba-tiba calon dokter gigi dari UI ini mengeluarkan sesuatu yang terbungkus plastik dari dalam tas trendinya. Lalu, dia memberikan sesuatu itu kepadaku. Setelah kuambil dan kulihat, ternyata seekor monyet. Wow lucunyaaa. Eh, tentu saja ini bukan monyet sungguhan, melainkan sebuah boneka.
Bulunya coklat dan sangat tebal. Dan kalau dilihat dari depan, kepala teman baruku ini tampak botak. Dan justru menurutku itulah salah satu letak kelucuannya. Ditambah lagi dia selaaaaaaalu menyunggingkan senyum kepadaku dan tentu saja kepada siapapun yang berjumpa dengannya.
Vira bilang boneka lucu ini mirip seorang fisikawan bernama Albert Einstein. Kok bisa, pikirku. Oh, rupanya karena kepala boneka monyet ini botak, lalu dia membayangkan monyet ini sebagai Einstein. Hahahhaha.
Selesai makan di kafe itu, aku dan Vira nonton film New Moon. Film yang lagi disukai banyak orang sekarang ini. Film yang menjelaskan tentang hakikat cinta. Cinta berarti memahami. Memahami ciri-cirinya ialah memberi kebebasan kepada pasangan. Cinta bukanlah sesuatu yang sudah tersedia dan mereka tinggal menjalaninya. Bukan seperti itu. Menyintai berati kita bekerja. Bertindak untuk mewujudkannya. Dan itu berlangsung sepanjang hidup. Oh cinta. hahaha.. Eh, monyet temanku ikut nonton. Hehehe.
Dia duduk di tengah, di antara kami para manusia. Mungkin dia satu-satunya monyet yang beruntung malam itu. Beberapa orang sepertinya keheranan padaku. Soalnya, aku duduk jejer boneka. Orang melihat ini seperti langsung memikirkan sesuatu. Ya ya ya ya… Tidak mengapa.
Usai nonton film, kami makan, lalu pulang. Vira bilang monyet ini mesti dikasih nama. Mmm. Betul juga, pikirku. Tapi siapa namanya. Vira bilang ya namanya monyet saja. Masa sih namanya monyet saja. Tapi lama-lama kupikir bener juga. Kenapa monyet harus dikasih nama yang aneh-aneh, paijo, paimin, macan, dan lain-lain.
Sepanjang perjalanan pulang, aku mikir-mikir. Kuberi nama apa ya si teman lucuku ini. Ada beberapa pilihan. Tapi lama menentukannya. Sesampai di kos, aku baru memutuskannya. Yah, kuberi dia nama Mo saja. Dua huruf yang kuambil dari kata monyet. Singkat dan lucu.
Yoi, malam itu akhirnya aku punya teman baru di kamar kos. Pada waktu Vira memberiku hadiah boneka ini, dia bilang supaya temanku bukan cuma buku-buku saja. Mesti ada sesuatu yang lain atau yang baru. Hahahah. Sesuatu itu mungkin maksudnya sesuatu yang menawarkan semacam pengetahuan atau pemandangan yang baru sama sekali.
Memang selama ini sama sekali tak pernah terpikir olehku untuk membeli boneka untuk hiburan di kamar kos. Pasti aneh menurut sudut pandang teman-temanku yang main ke tempatku. Mereka akan pikir, wow Sis sudah menjadi pria gemulai. Haghaghag.
Nah, aku juga berpikir bahwa di situlah letak menariknya. Mungkin saja Vira berpikir demikian. Dia sengaja menghadiahiku sebuah boneka sekaligus untuk menantang konsep yang menyebut mainan semacam ini hanyalah untuk anak perempuan. Vira mungkin mau menjelaskan bahwa Boneka adalah mainan yang universal. Benda ini bisa menjadi teman bagi siapapun, pria dan wanita, besar dan kecil.
Bisa jadi Vira juga berpikir begini. Boneka monyet ini hanyalah cara bagi dia untuk berkomunikasi dengan orang lain agar masyarakat lebih tergugah hatinya dan menyayangi satwa. Mungkin Vira termasuk pengagum Ahimsa, ajaran Buddhisme dan Hinduisme, yang berarti manusia tidak boleh melukai, apalagi membunuh makluk hidup. Ajaran itupula yang diikuti oleh Mahatma Gandhi. Gandhi menempuh jalan hidup pelayanan.
Wokay, si Mo. Kau sudah jadi temanku sekarang. Kini kau telah kuberi jiwa. Kau kumonyetkan atau dalam bahasa manusia kau telah dimanusiakan. Aneh kedengarannya. Diberi jiwa. Maksudku, kau kuberi makna sebagai teman.
Mo, kini kau perlu tahu. Viralah yang telah menyelamatkanmu dari pertokoan di Taman Safari, Cisarua, Bogor. Waktu kau masih di sana, pastilah kau hanyalah seonggokan benda yang hanya dimaknai sebagai barang dagangan. Kini, kau dikeluarkan dari sana ketika Vira dan keluarganya berekreasi di tempat asalmu.
Dan kini kau tinggal di tempat yang jauh lebih terhormat yaitu di kosku. Kau kutempatkan di dekat buku-bukuku. Kau tau, bagi manusia, buku adalah salah satu jalan untuk membuka pikiran dan membuka kecerdasan. Walau kau tak membaca, setidaknya kau berada di dekat buku-buku kelas beratku. Hehhe.
Hmmmm… Ngomong-ngomong soal monyet. Ternyata bukan aku saja yang suka monyet. Si Vira pun agaknya suka sekali. Hahaha… Jepret.. jepret… jepret… beberapa foto berhasil diambilnya di Taman Safari sore itu. Bahkan, mungkin saking bangganya, dia memampangnya di facebook.
Dia bercerita telah berhasil menjepret salah satu monyet yang agak kurus ketika mobil yang ditumpanginya dicegat. Ada lagi satu monyet diambil fotonya ketika sedang meminta-minta kepada para pengunjung taman. Okeh.
Kembali pada Si Mo yang manis. Si bulu coklat yang tebal. Kepalanya agak plontos bergaya Einstein. Dia adalah makluk yang kusebut sebagai pemilik senyum abadi. Kusebut demikian karena struktur mukanya memang akan selalu membikin dia tetap ngguyu terhadap apapun yang terjadi.
Tuesday, November 3, 2009
Ada Kuntilanak di Kantorku
Kalau malam, tempat parkir di gedung Standard Chartered biasanya gelap. Walau ada beberapa lampu kecil yang dibiarkan pengelola gedung tetap menyala, penerangannya tidak mampu mencapai semua area.
Ada cerita mistik yang berkembang di sana, di antara para security, office boy, tukang parkir, dan wartawan yang piket malam. Katanya ada penunggu di basement. Beliau adalah seorang perempuan. Haks. Ada yang percaya, ada pula yang tidak percaya.
Kebetulan malam itu aku sedang piket malam di redaksiku yang berada di lantai 31. Ada seorang temanku yang baru datang sekitar jam 23.00 WIB. Wajahnya agak pucat, lehernya berkeringat setelah keluar dari lift. Agaknya dia juga sedang menyimpan amarah.
Dia bercerita kepadaku. Tadi sewaktu masuk ke basement untuk memarkirkan kendaraan, tiba-tiba dia sangat ketakutan. Yang membikin dia setengah mati kaget ialah suara kuntilanak tertawa yang bunyinya seperti di film-film hantu. Bahkan, setelah turun dari kendaraan dia lari sekencang-kencangnya di tengah gelap.
Sampailah dia di tempat terang. Rasa takut bukan kepalang mulai hilang. Dan dia menemui tukang parkir di lantai atas. Belakangan temanku ini tahu kalau suara kuntilanak yang baru saja menghantuinya itu bukan betulan, melainkan sengaja dibunyikan oleh security iseng lewat telepon genggam.
"Monyet," kata temanku.
Ada cerita mistik yang berkembang di sana, di antara para security, office boy, tukang parkir, dan wartawan yang piket malam. Katanya ada penunggu di basement. Beliau adalah seorang perempuan. Haks. Ada yang percaya, ada pula yang tidak percaya.
Kebetulan malam itu aku sedang piket malam di redaksiku yang berada di lantai 31. Ada seorang temanku yang baru datang sekitar jam 23.00 WIB. Wajahnya agak pucat, lehernya berkeringat setelah keluar dari lift. Agaknya dia juga sedang menyimpan amarah.
Dia bercerita kepadaku. Tadi sewaktu masuk ke basement untuk memarkirkan kendaraan, tiba-tiba dia sangat ketakutan. Yang membikin dia setengah mati kaget ialah suara kuntilanak tertawa yang bunyinya seperti di film-film hantu. Bahkan, setelah turun dari kendaraan dia lari sekencang-kencangnya di tengah gelap.
Sampailah dia di tempat terang. Rasa takut bukan kepalang mulai hilang. Dan dia menemui tukang parkir di lantai atas. Belakangan temanku ini tahu kalau suara kuntilanak yang baru saja menghantuinya itu bukan betulan, melainkan sengaja dibunyikan oleh security iseng lewat telepon genggam.
"Monyet," kata temanku.