Sunday, August 30, 2009

Berdebat dengan Ya dan Tidak

Ya dan tidak. Ya sekaligus tidak. Jawaban yang sangat abstrak. Jawaban itu muncul ketika aku bertanya kepada Miss Curcol tentang apakah dia sudah punya pacar. Pada waktu itu, posisiku tidak dapat mendesaknya untuk menjawab dengan jujur. Tetapi, aku akan menganalisa jawaban yang sangat membingungkan kehidupanku malam itu.

Menurutku. Boleh jadi, dia punya alasan sederhana mengapa mengungkapkan jawaban pendek itu. Mungkin, dia berpikir bahwa bukankah kami ini tidak terlalu mengenal kehidupan masing-masing. Aku datang dalam lingkungan hidupnya baru-baru ini saja. Baginya mungkin tidak ada kesan-kesan menarik. Kecuali membosankan.

Walaupun dalam beberapa kali kesempatan, aku sudah menjelaskan posisi hidupku, mungkin saja dia tidak terlalu peduli dengan perkenalan itu. Memang kehidupan di Ibukota Jakarta yang agak modern ini cenderung memaksa orang untuk tidak terlalu peduli. Lalu, dengan dasar itu dia berpikir, mengapa harus menjawab dengan jujur pertanyaanku. Lagipula, itu kan pertanyaan yang bersifat sangat pribadi.

Malahan, mungkin dia berpikir bahwa pertanyaanku itu terlalu kurang ajar. Tidak seharusnya aku menanyakan tema seperti itu. Sebab, kebebasan pribadinya terganggu. Tidak ada pentingnya buat masa depannya. Jadi, dia memilih dengan kesadarannya untuk tidak menjawab dengan tepat. Jadi lebih baik, ya dan tidak.

Iya. Memang itu pertanyaan pribadi sifatnya. Tapi, kupikir karena kami sudah saling mengenal, walau perkenalan kami terbilang lucu dan minim, jadi aku merasa tidak ada salahnya untuk bertanya tentang apakah dia sudah punya pacar. Toh, pertanyaan itu kukatakan dengan jujur dan dengan kesadaran bahwa dia tidak harus menjawabnya.

Baiklah. Kembali kepada upaya mengungkap misteri mengapa Miss Curcol idolaku itu menjawab seperti itu. Mungkinkah dia sedang mengujiku dengan jawaban mengambang semacam itu. Lalu, secara tidak langsung aku dimintanya untuk menemukan sendiri jawabannya.

Kalau begitu maksudnya, aku tidak akan putus asa. Akan kukerahkan kemampuanku untuk mencari jawabannya. Hanya saja, aku berpikir, apa dasarku mengatakan bahwa dia sedang mengujiku. Kalau dia mengujiku, tentu ada tujuan tertentu yang intinya dia mengharapkan sesuatu yang khusus dariku sehingga dia merencanakan dengan kesadarannya untuk mengujiku. Rasanya mustahil.

Timbul pertanyaan lagi dalam pikiranku. Apakah dia ini termasuk manusia yang menyukai cara berpikir filsafat sehingga jawabannya sangat abstrak semacam itu. Sebuah jawaban yang harus dijelaskan dengan melewati terlebih dahulu metode perenungan yang mendalam untuk menemukan penjelasannya.

Kalau itu alasannya, memang aku tidak salah telah mengaggumi sekaligus mengidolakannya. Kelak, aku akan memutuskan untuk belajar padanya tentang pemikiran-pemikirannya sehingga dia selalu menyukai untuk memilih jawaban-jawaban abstrak dan membutuhkan perenungan untuk menjelaskannya. Jawaban khas seorang pemikir yang dipenuhi pikiran.

Tapi, aku sudah menanyakan itu dan dia menjawab dia tidak suka berfilsafat. Tapi kalau dia tidak suka dunia pemikiran, mengapa menyukai inti pikiran Rene Descartes tentang cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Aku mampu meragukan, maka aku adalah manusia.

Atas dasar itu, aku sempat mencoba menyimpulkan jawabannya ya dan tidak itu, apakah dia bermaksud mengatakan iya. Iya, yang dimaksudkannya dalam konteks pertanyaanku tadi adalah tidak. Yang berarti dia tidak punya pacar. Atau sebaliknya.

Begini. Rasanya penjelasan itu belum memuaskanku. Masih tidak terjelaskan dengan jelas. Ya dan tidak. Ya sekaligus tidak. Apa maksudnya. Mmm. Jangan jangan sebenarnya dia sedang menyayangi seseorang. Tetapi dia masih diliputi keraguan tentang proses menjadi pacar. Dia sayang sama A. Tetapi dia tidak yakin apakah A akan atau telah menerimanya.

Atau dia meragukan tentang A. Ragu tentang apakah A ini sudah punya pacar atau belum. Ragu tentang apakah A ini sebenarnya sayang sama temanku ini ataukah tidak. Ragu apakah A ini nanti akan bisa memahaminya ini ataukah tidak. Ragu apakah A ini mau pindah agama seperti yang dipeluknya ataukah tidak.

Atau mungkin begini. Sebenarnya dia tahu sedang disukai sama si A. Tetapi dia masih ragu dengan ketulusan cinta si A itu. Dia masih menaruh curiga dengan alasan-alasan yang membuat hidupnya dipenuhi ketidakyakinan.

Kalau itu alasannya sehingga dia menjawab pertanyaanku dengan ya dan tidak, aku bisa memahaminya. Kehati-hatian untuk memutuskan atau memberikan cinta itu perlu, karena kehidupan orang Timur memang ditempa demikian.

Aku jadi ingat penjelasan tentang cinta dari guru filsafatku di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Perasaan cinta adalah hadiah khusus dari tuhan. Cinta lalu diberikan manusia ke manusia lain dengan gratis. Karena gratis, maka orang lain bebas menerimanya atau menolaknya. Kita tidak boleh marah karena ditolak. Karena memang itu gratis.

Sebab, kalau sampai timbul kemarahan, berarti dia tidak betul-betul memahami orang yang disayanginya. Karena selain gratis, cinta itu harus didasari rasa memahami. Memahami berarti menghormati. Memahami berarti berpikir bahwa dia tidak berhak memaksakan kehendak. Memahami berarti mengerti bahwa orang lain punya kebebasan pribadi yang tidak dapat dicampuri.

Tapi, ada juga guruku yang lain bilang dengan ganas, cinta itu adalah kehendak untuk menguasai orang lain agar mereka mengikuti kemauan dan cita-cita kita. Cinta adalah tuntutan. Orang yang saling jatuh cinta adalah orang yang sesungguhnya saling menuntut satu dengan yang lainnya. Baguslah kalau dua-duanya menyadari itu. Tapi kalau tidak itu bisa timbul masalah. Maka, ketika yang satu tidak meluluskan kehendak yang lain, timbulah persoalan.

Maka dengan itu, disadarkanlah manusia tentang makna kebebasan pribadi. Kalau cinta adalah memaksakan kehendak, maka betapa mengerikannya orang lain. Mereka hanya ingin memaksakan kehendak atas diriku, dan kebebasanku akan sirna oleh kehendak itu. Maka orang lain adalah neraka bagiku.

Ah, aku jagi ngelantur. Kembali ke persoalanku tentang ya dan tidak. Bisa jadi sebenarnya Miss Curcol sedang berpacaran sekarang ini. Tetapi, dalam situasi pertengkaran menuju jurang perpisahan. Dia berusaha memahami pacarnya, tetapi putus asa selalu melandanya. Hari-harinya diliputi dengan keraguan tentang apakah pacarnya itu serius atau tidak.

Dalam situasi seperti itu, dia berpikir, mengapa makin lama pacaran, pacar bukan tambah dewasa, tetapi tambah seperti anak kecil. Bukankah tanda-tanda keseriusan menjalin hubungan itu adalah ketika semakin lama, semakin menunjukan tanda kenyamanan, bukan sebaliknya siksaan.

Maka itu, Miss Curcol tidak terlalu fokus menjawab pertanyaanku. Yah, aku tahu, pertanyaan apakah sudah punya pacar atau belum, tentu sulit dijawab kalau orang sedang dalam suasana tidak bebas. Tidak bebas yang kumaksud adalah dia menganggap aku adalah orang lain yang tiba-tiba bertanya hal yang bersifat pribadi. Tentu saja kebebasannya akan sangat terusik.

Aku masih penasaran. Mengapa dia tidak menjawab secara tepat saja. Toh aku orang lain dan tidak penting. Atau dia membohongiku saja dengan mengatakan sudah punya pacar sehingga selesailah persoalah. Hmmm. Mungkinkah dia malu untuk jujur. Malu. Tapi mengapa harus malu. Toh dia tidak peduli denganku, apa dasarnya malu.

Ooohh. Sampai alenia ini, ternyata aku tidak mampu menjelaskan dengan tepat makna ya dan tidak. Tapi, aku yakin, ada penjelasan soal itu yang tepat. Mungkin aku harus meminta secara khusus kepada Miss Curcol untuk mengungkap misteri jawaban itu. Ah, Miss Curcol seperti main solitaire saja kau.

Tapi, seandainya waktu itu Miss Curcol mengatakan jawaban ya. Mungkin aku masih meragukan kebenarannya. Dan perlu diperdebatkan lagi. Karena bagiku jawaban ya dalam konteks kasus ini, pastinya dia belum menjawab dengan baik.

Kalau jawabanmu ya, yang berarti menyatakan setuju bahwa dia telah punya pacar, pasti aku masih akan bertanya lagi. Ya itu maksudnya, ya untuk yang di Jakarta. Ya untuk yang di Bandung, Ya untuk yang di Depok, atau Ya untuk yang di Bekasi. Kalau begitu, banyak sekali pacarmu di dunia ini. Kalau begitu, aku tidak percaya bahwa jawabannya diberikan secara jujur.

Atau seandainya kau katakan tidak. Tidak berarti adalah sebuah pengingkaran dari dari jawaban ya. Maka akan kutanyakan lagi, maksudnya tidak untuk yang di Jakarta, tapi ya untuk yang di Bekasi. Tidak untuk yang di Bekasi, tapi ya untuk yang di Depok dan seterusnya. Ya ampun. Miss Curcol, ternyata betapa rumitnya menjelaskan jawabanmu, ya dan tidak.

Friday, August 28, 2009

Tentang Mengeluh

Bekerja di manapun di dunia dan apapun bidangnya pasti akan menemukan hal-hal yang tidak disukai secara pribadi. Ketidaksukaan atau ketidakpuasan semacam itu kemudian akan muncul dalam bentuk keluhan-keluhan.

Dan keluhan-keluhan itu biasanya tidak akan lama tersimpan oleh orang yang merasakannya. Mereka pasti akan mengutarakannya dengan orang-orang lain di sekitarnya yang sekiranya sama-sama merasakan dunia pekerjaan yang tidak mengenakkan itu.

Dan aku sebenarnya paling tidak suka mendengar keluhan-keluhan tentang pekerjaan. Tapi itu tidak dapat kuhindari seratus persen karena sekarang ini aku berada di antara mereka. Berada di antara orang-orang yang sudah sampai pada puncak emosi sehingga semua keluhan mereka itu seperti sudah wajib dimuntahkan.

Yang paling sering kudengar adalah keluhan tentang sistem pekerjaan dan perasaan beratnya menjalankan pekerjaan. Yang paling sering lagi adalah ketidakpuasan dengan aturan-aturan main yang dikeluarkan oleh atasan.

Menurutku, pada intinya keluhan itu muncul karena harapan dari mereka akan sesuatu dalam pekerjaan yang selama ini dibayangkan, tetap semua itu tidak menjadi nyata. Akhirnya kecewa, tidak puas, marah, dan memuntahkannya dalam bentuk mengeluh.

Hampir tiap hari aku berada dalam suasana seperti itu. Pada titik tertentu, aku mampu membayangkan dalam kehidupan mereka itu dunia ini seperti sudah tidak memunculkan harapan. Seolah-olah semua dipandang oleh mereka secara pesimis.

Seolah-olah sudah hidup ini sudah selesai hanya sampai pada system pekerjaan yang mereka anggap memuakkan itu. Aku membayangkan, mereka ini sebagai manusia yang tidak mampu melihat jalan keluar. Kadang aku terpengaruh dan aku ikut menjadi putus asa.

Tetapi, aku berusaha menyadari bahwa aku punya kebebasan. Hidupku tidak ditentukan oleh siapapun. Aku bebas memilih jalanku dan aku akan dapat menghormati pilihanku. Hidupku tidak buntu pada bidang pekerjaan ini.

Aku berusaha menanamkan pikiran tentang kebebasan itu ketika aku ditempatkan pada situasi putus asa. Frustasi karena berada di dalam lingkaran orang-orang yang suka mengeluh. Aku merasa kasihan dengan mereka yang mengeluh-mengeluh itu, mereka tidak tahu bahwa mereka itu orang bebas memilih.

Ketika mendengar mereka mengeluh, aku memikirkan pikiran mereka. Mereka ini seolah-olah telah menjadi orang yang terjebak dalam sistem kapitalis ini. Mereka menjadi orang-orang yang telah terlindas oleh kapitalisme. Merasa tidak berharga. Merasa tidak punya pilihan. Merasa tergantung kehidupannya kepada pabrik.

Berkali-kali kuungkapkan kepada mereka bahwa mengeluh bukanlah jalan keluar yang rasional. Jalan keluar yang masuk akal adalah membangun sumber daya manusia diri sendiri. Caranya, antara lain, kuliah lagi. Kita harus membuat lompatan karena jaman bergerak terus.

Lompatan yang kita lakukan adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia diri sendiri itu. Bukan pindah kerja, bukan soal pekerjaan. Karena dunia kerja itu sama saja, hanya beda sebutan. Sesuatu yang akan membuat kita bosan, marah, tidak puas, makan hati, itu tetap akan ditemui dimanapun itu.

Situasi perasaan itu terjadi karena mereka tidak percaya diri. Itu terjadi karena mereka merasa tidak punya pilihan. Itu terjadi karena sumber daya mereka merasa lemah. Itu terjadi karena mereka merasa tidak berdaya. Itu terjadi karena mereka merasa tidak punya kebebasan.

Kuliah lagi, itu caraku paling rasional. Dan itu yang sedang kurancang sekarang. Tahun depan, aku harus sudah kuliah di bidang yang paling kusukai. Tentunya masih banyak cara lainnya yang intinya untuk meningkatkan sumber daya diri sendiri.

Selesai kuliah, tentu saja aku masih akan bekerja. Mungkin saja masih bekerja dalam sistem kapitalis. Tapi, ketika aku dijepit oleh sistem itu, aku akan dapat berteriak lantang dan berdebat dengan percaya dengan penjepit kebebasanku itu.

Lompatan. Mengapa kusebut demikian. Dewasa ini, manusia makin kehilangan eksistensinya. Manusia makin tergantung dengan mesin yang diciptakannya. Manusia sudah terlindas oleh industrialisasi. Maka itu, manusia butuh pemupukan pikiran lagi untuk menumbuhkan kesadaran sebagai manusia yang sejati.

Kesadaran tentang kebebasan pribadi di tengah modernisasi akan menjadikan manusia percaya diri. Dan menemukan kesejatiannya sebagai manusia. Akan membangun manusia yang tidak terlindas jaman. Akan menjadikan manusia sadar selama ini telah dikendalikan modernisasi.

Mengeluh. Aku sudah bosan mendengar orang mengeluh. Mengeluh itu ibarat hanya menuntut segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya, tapi tanpa usaha untuk menguatkan diri agar menjadi dirinya sendiri dalam dunia bekerja yang memang sudah tidak dapat dihindari.

Aku sebenarnya bukan pula manusia yang antimengeluh. Tetapi, aku menginginkan mengeluh itu harus dengan solusi bagaimana mengatasi mengeluh itu. Maksudku, mengeluhlah dengan optimis bahwa ada jalan keluar yang jangka panjang. Bukan mengeluh yang justru menumpulkan diri sendiri.

Sekarang tinggal memilih, tetap mengeluh dan tidak keluar-keluar dari kesempitan. Atau membuat lompatan untuk menyadari bahwa manusia punya pilihan, kebebasan, dan mampu melihat dunia ini tidak selebar kertas buku, melainkan begitu luas dan member peluang bagi yang kreatif.

Thursday, August 27, 2009

Puasa dan Facebook

Puasa ialah disiplin hidup beragama tertinggi dalam Islam. Bukan hanya lapar dan haus, melainkan segala emosi keduniawian harus dapat dikendalikan oleh mereka yang berkomitmen untuk menjalani puasa. Itu sebabnya, betapa seriusnya berpuasa itu. Kesanku adalah keangkeran.

Tapi, aku senang, teman-teman di kantorku ternyata lucu-lucu dalam menjalani hidup berpuasa ini. Mereka berhasil menjelaskan kepadaku bahwa puasa itu tidak angker dan tidak harus membuat jarak pemisah dengan orang yang tidak berpuasa agar suci.

Teknologi facebook memungkinkanku mengetahui isi pikiran dan hati mereka. Karena mereka bisa menuliskan kata singkat yang biasanya mewakili suasana hati dan pikiran si pemilik facebook yang mempublikasikan tulisannya itu. Dan tema yang mereka tuliskan biasanya mengikuti apa yang berkembang di masyarakat.

Nah, karena ini bulan puasa, status facebook yang kuamati selalu seputar pernak-pernik mereka dalam menjalani puasa. Tiba-tiba ada temanku memasang status deskripsi tentang makanan pada jam makan siang. Isinya begini, es jeruk yang dingin, nasi anget dan sambal trasi, ditambah lalapan.

Status itu ingin menjelaskan dalam keadaan lapar dan haus seperti ini, betapa enaknya makan dan minum yang segar. Tentu saja status itu menuai banyak respon dari pemilik facebook lain. Mereka ramai-ramai komentar temanku tadi itu.

Status semacam itu tidak satu dua saja kutemui. Tapi banyak betul yang memasangnya untuk memancing emosi teman-teman lainnya agar berkomentar di bawahnya. Dalam hati, ini bercanda yang keterlaluan. Tentu saja semua orang jadi berimajinasi kepada makanan kalau dalam keadaan kelaparan seperti ini. Kadang-kadang mungkin saking tidak tahannya, temanku yang memasang status itu dianggap makanan dan diserang melalui komentar-komentar pedas.

Ada lagi beberapa temanku yang selalu memasang status soal pengalamannya yang katanya selama puasa ini selalu membaca kitab suci dan rajin salat di tempat ibadah. Padahal aku tahu betul, dia ini tidak pernah ke masjid, sebelum masuk bulan puasa ini. Salat lima waktu pun, dia tidak pernah.

Aku terpancing juga ikut berkomentar di facebooknya. Kukatakan, memang bulan puasa ini malaikat pembantu Tuhan pasti sibuk sekali mendata hamba-hambanya. Karena jumlah amal yang masuk ke data para malaikat tiba-tiba membludak tajam. Bagaimana tidak, tiba-tiba semua orang jadi religious.

Tapi setelah puasa berlalu, biasanya data amal merosot tajam. Karena hamba-hamba yang tadinya tiba-tiba religious, akan sadar dan mereka kembali ke jalan yang salah. Jadi, kubilang, religious dadakan. Hanya di bulan puasa saja menjadi ustad, kalau di luar bulan puasa, jadi pendosa lagi.

Tiba-tiba beberapa temanku yang tidak pernah salat menulis pengalamannya gagal ikut salat ke masjid karena masjidnya penuh. Karena dia yakin Tuhan pasti memahami alasannya itu, maka dia memilih lebih baik pulang dan tidur.

Ada sejumlah teman lainnya yang kemudian berkomentar agar jangan membawa-bawa nama Tuhan untuk alasan kemalasan datang ke masjid. Lebih baik mengaku malas, karena Tuhan lebih menyenangi hamba-hambanya yang berlaku jujur dalam bulan suci ini daripada mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahannya.

Komentar langsung meluncur terus. Katanya, paling-paling hanya sepekan saja masjid penuh, setelah itu akan jadi sepi lagi karena pada dasarnya hamba-hamba ini malas. Pergi ke masjid hanya menjadi tradisi setahun sekali dan hanya menjadi syarat saja.
Setelah itu, semuanya tertawa-tawa saling mengejek. Dan aku tambahi, lebih baik tidak usah ke masjid kalau hanya terpaksa. Daripada Tuhan murka karena merasa dipermainkan umatnya, lebih baik jujur kepada Tuhan, malas ya mengaku malas saja.

Biasanya tidak pernah ada perdebatan lebih serius lagi, walau tema-tema yang diangkat dalam facebook itu kadang menarik untuk diperdebatkan. Tapi dasar, teman-temanku memang tujuannya bukan ke arah itu, melainkan hanya untuk bergembira, jadi semuanya mengalir begitu saja.

Aku sendiri kemudian memasang status. Kutulis begini, aku sedang merencanakan untuk memberikan penghargaan kepada teman-temanku yang sukses menjalani puasa sepekan tanpa bolong. Tujuanku tidak lain hanya memotivasi temanku, meningatkannya, sekaligus menghibur mereka.

Aku malah kena hajar. Katanya, mereka lebih memilih mengharapkan pahala dan percaya kepada yang di atas sana, ketimbang menerima penghargaanku. Penghargaan dari orang yang tidak berpuasa. Lalu kujawab lagi, nah, itulah tujuanku membuat status, supaya temanku ini introspeksi dan agak serius untuk menyempurnakan ibadahnya.

Teman lainnya malah membalik logika statusku. Kata dia, lebih baik hadiahnya diberikan kepadaku kalau aku bisa ikut berpuasa sepekan penuh. Teman-temanku mengangkat soal statusku ini sebagai tema terfavorit hari itu. Bagaimana tidak, kata mereka, tiba-tiba aku peduli orang berpuasa.

Temanku yang satu ini memang unik. Kalau tidak di bulan puasa biasanya status facebooknya pasti yang selalu bernada seks dan perselingkuhan. Tapi tiba-tiba, statusnya selalu religious semenjak memasuki puasa. Hanya saja, seringkali dia sepertinya lupa, kalau dia sedang puasa, seks dan perselingkuhan sering lolos di facebooknya.

Walau begitu, umumnya status yang dia pasang telah berubah menjadi lebih alim dan rohani. Misalnya, dia menulis begini, sore ini menunggu buka puasa bersama siapa lagi ya… Hari ini, ingin makan bersama lagi di suatu tempat. Temanku ini sesungguhnya sudah beristri, tetapi dia selalu mengarah-arah ke perempuan yang buka istrinya.

Maka itu, aku sering iseng dengan memberinya komentar yang membuatnya tidak enak hati. Kadang-kadang, dia sampai menelponku agar tidak lagi mengganggu statusnya yang mengarah ke perempuan-perempuan untuk diajaknya bertemu itu. Aku tertawa karena dia merasa terganggu begitu.

Tetapi aku tahu, teman-temanku ini sebenarnya termasuk manusia yang agak bertanggung jawab dengan ibadahnya. Yang mereka ungkapkan dalam status itu bagiku hanya sebagai keinginan menertawakan rasa lapar mereka dan menjelaskan bahwa mereka tidak fanatic dengan agamanya.

Kalau mereka tidak bertanggung jawab, tentu saja tidak berubah seperti itu. Aku beberapa kali mengingatkan kepada teman-temanku agar puasa yang dilakukan ini bukan sekedar tradisi, melainkan didasarkan atas kesadaran dan kebebasan untuk memilih menjalankan hidup berupasa.

Dengan demikian, kuharap makna puasa yang mereka lakukan betul-betul melekat dalam kehidupan di masa mendatang. Saling memaafkan, saling memahami, dan lebih dalam sifat-sifat kemanusiaannya di masyarakat yang makin terlindas modernitas seperti sekarang ini.

Sunday, August 23, 2009

Jangan Menyerah

Menyerah atau tidak menyerah
Tentulah engkau tidak memilih menyerah
Janganlah berpikir menyerah
Karena menyerah berarti mundur
Menyerah berarti kalah
Walau menyerah bukan berarti hina
Tetapi ingat, orang muda hukumnya ialah kuat
Kuat berarti tidak mudah menyerah
Maju bergerak pantang takut
Yang dimaksud tak menyerah dan pantang takut di sini ialah
Tetap gunakan akal sehat
Tetap gunakan rasionalitas
Tetapi percayalah engkau punya kebebasan
Engkau punya banyak hal untuk mencapainya
Janganlah takluk dulu sebelum betul-betul berjuang nyata

Kemayoran Jumat 8 Agustus 2009

Engkau Bebas

Orang muda begitu banyak ruang untuk engkau
Pergunakanlah itu semua sekuat-kuatnya
Pakailah peluang yang ada pada engkau sepenuhnya
Muda adalah lambang kebebasan, maka itu gerakkan kemudaanmu
Nyatakanlah sumber dayamu
Jangan engkau simpan-simpan sampai membusuk
Karena kalau itu yang terjadi, menyesallah hidupmu kelak
Menangislah hari-hari tuamu karena putus asa
Maka itu pikirkan dari sekarang
Tapi ingat jangan engkau hanya berhasrat
Karena hasrat itu sama saja belum bergerak
Tapi berusahalah. Usaha berarti bergerak
Nah, tentukan kemana engkau bergerak
Ingat engkau pasti bisa karena kebebasan ada pada engkau sekarang

Kemayoran, Agustus 2009