Monday, September 1, 2008

Wartawan Media Online Melaporkan Berita

Sifat berita media online yang menuntut lebih cepat dalam penyajian telah mengekalkan atau memperkenalkan sejumlah teknik melaporkan data ke redaksi.

Salah satu yang paling umum ditempuh ialah mengirimkan data dalam keadaan mentah. Artinya, benar-benar kutipan langsung dari narasumber yang disampaikan ke kantor masing-masing.

Cara seperti ini merupakan cara yang sangat mudah. Reporter yang mendapat penugasan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, umpamanya. Setelah berhasil merekam seluruh ungkapan pejabat yang akan mendapat pemeriksaan tim penyidik, mereka akan mentranskrip suara itu di atas kertas catatan. Setelah selesai, kutipan-kutipan tadi langsung dilemparkan secara utuh ke tempat kerjanya.

Ada juga jalan lain untuk menyiasati kecepatan berita. Contohnya, wartawan melakukan liputan siaran pers di Komisi Pemilihan Umum. Ia duduk di dekat alat pengeras suara. Redaksi media menghubungi telepon genggam wartawan tadi. Lalu reporter tinggal menaruh telepon yang sudah terhubung dengan kantor itu di dekat pengeras suara. Tujuannya, agar redaktur dapat mendengar langsung seluruh isi pernyataan narasumber sambil menulis di komputer.

Bisa juga begini. Media online ini membutuhkan kecepatan memberitakan fakta pengamatan di sebuah tempat. Reportase. Wartawan tidak mencatat dan menyusunnya. Melainkan tinggal menceritakan apa-apa yang ia tangkap melalui penglihatan. Ia tinggal bercerita melalui telepon. Karena, redaktur sendiri yang mengetiknya di redaksi.

Sebagian wartawan online yang kebetulan memiliki fasilitas internet. Misalnya komunikator, laptop, atau komputer di ruang wartawan, memilih mengetik semua hasil wawancara lebih dulu. Selanjutnya, ia mengirimkan melalui email ke redaksi. Agar cepat, mereka tidak menyusun bahan itu menjadi tulisan lebih dulu. Melainkan masih berupa data mentah.

Kadang-kadang, apabila diketik lebih dulu dinilai terlalu memakan waktu lama. Kalau sudah begitu, redaksi memutuskan untuk tetap memilih laporan secara lisan melalui telepon. Semua teknik itu, dilakukan supaya laporan segera tersaji kepada pembaca media online.

Berita-berita yang dilaporkan melalui teknik seperti yang disebutkan di atas, biasanya yang bersifat penting. Misalnya, laporan fakta tentang peristiwa atau pernyataan yang sangat penting untuk diketahui publik. Khususnya bidang ekonomi, politik, kriminal dan hukum.

Tetapi, ada juga bahan berita yang tidak bernilai penting dilaporkan mentah. Biasanya model semacam ini dilakukan wartawan yang sedang malas.

Namun, tidak semua redaksi media online memberikan kebijakan memperbolehkan cara melaporkan berita semacam itu. Mereka lebih menyukai laporan-laporan yang sudah tersusun atau jadi dari lapangan. Pengelola media ini memilih mengorbankan kecepatan untuk mencoba menghasilkan laporan yang jauh lebih akurat.

Di samping melatih kemampuan reporter dalam menulis, hal itu juga meminimalisir terjadinya salah penafsiran terhadap bahan berita itu. Sebab, pernah terjadi beberapa kasus, penulis di kantor media online mengalami kekeliruan dalam memaknai bahan mentah tadi saat proses penulisan. Maksudnya A, ternyata ditafsirkan B.

Karena itu, sebagai wartawan yang terjun langsung di lapangan ada baiknya proaktif berkomunikasi dengan redaktur yang bertugas menerima berita. Menceritakan sebaik-baiknya. Kalau perlu, menjelaskan pernyataan-pernyataan narasumber tadi meluncur keluar setelah mendapat pertanyaan tentang masalah apa. Latar belakang masalah juga sebaiknya dijelaskan. Meski, redaktur umumnya sudah lebih mengetahui.

Satu hal lagi yang sebaiknya tetap dilakukan. Disiplin melatih menulis berita. Ada cara menyiasati apabila redaksi selalu menuntut laporan data mentah. Data yang tidak terlalu mendesak untuk dilaporkan, lebih baik dijadikan latihan menyusun struktur berita. Ini bisa dilakukan di sela-sela liputan.

Apabila cara itu dilakukan secara rutin, lama kelamaan, ia pasti mampu menulis berita cepat. Bahkan, ia dapat laporan dari lapangan tanpa perlu menulis lagi. Bahan berita akan tersusun secara otomatis di kepala. Saat laporan lisan, data-data itu sudah membentuk struktur berita.

No comments: