Thursday, June 3, 2010

Gocing (15)

PERNYATAANKU dalam pertemuan di aula balaikota dianggap sikap perang terhadap kebebasan wartawan nakal di Gunung Jaya. Heboh sudah barang tentu terjadi setelah itu. Bonarman membenciku.

Bahkan, dia menghasut teman-temannya untuk ikut-ikutan menjauhiku, Pak Rosyid, dan Prilia. Aku tidak peduli soal itu. Pikirku, tanpa merekapun sebenarnya aku bisa bekerja sendirian.

Aku tahu kelemahan Bonarman. Si Gigi ini wartawan yang sama sekali tidak kreatif, kecuali mengakali narasumber agar mau memberi hadiah.

Pernyataan kerasku di balaikota, mungkin hanya membuatnya jera untuk tidak menjual namaku dan mediaku untuk kepentingan pribadinya. Tapi, aku yakin, dia tetap tidak tahu malu untuk menerima amplop atau meminta uang pada narasumber.

Dan kalau itu yang terjadi, sudah pasti teman-temannya selalu dia jadikan tumbal. Menggunakan nama kelompok, biasanya memang lebih mudah untuk membuat narasumber atau pihak tertentu memberi uang.

Aku ingin mengerjai Bonarman lagi. Wartawan yang suka cari proyek dari dinas –dinas pemerintah ini harus dijauhkan dari teman-teman lainnya. Ingin kupecah belah kelompoknya.

Terpikir untuk melakukan itu karena suatu siang si Suroso bilang kepadaku kalau dia sesungguhnya marah pada Bonarman. Apa yang sampai bikin orang yang selama ini setia pada Bonarman ini? Tiap kali si Gigi memperoleh uang dari narasumber, kata Suroso, lebih sering disimpan sendiri, dari pada dibagi secara adil. Kalaupun dibagi-bagikan, jumlah uangnya pasti sudah dikurangi.

Suroso ini dulu pegawai pabrik di Kabupaten Brajasara. Lewat teman, dia mulai kenal dunia publistik. Karena dia anaknya rajin, tidak lama kemudian, Suroso diangkat jadi wartawan radio. Aku kenal anak yang selalu sisiran dengan membelah tengah rambutnya ini lewat Tudji.

Tak hanya soal jatah yang sering ditilep Bonarman yang membuat Suroso kesal. Sebenarnya Bonarman sudah tidak bekerja di media lagi. Dia dipecat karena berkelahi dengan redaktur kantor pusat. Setelah diselidiki, pangkal masalahnya ialah karena redaktur itu tidak pernah dapat bagian dari uang amplop yang selama ini Bonarman terima dari narasumber. Sehingga redaktur marah.

“Astaga,” kataku.

“Tapi, dia sampai sekarang masih petentang-petenteng dengan kartu pers di kantor walikota dan kantor polisi,” kata Suroso.

Menurut Suroso, Bonarman sangat keterlaluan. Dia masih berani minta uang pejabat dengan selalu membawa nama teman-teman yang biasa bermarkas di kantor polisi, tentu saja termasuk Suroso.

Saking marahnya, Suroso menyebut-nyebut Bonarman sebagai wartawan bodong atau gadungan. “Bloon.”

Aku bilang kepadanya, kenapa masih mau bergabung dengan si Gigi itu. Lalu Suroso jawab karena dia masih butuh Bonarman. Sebab, informasi berita dari kepala polisi selalu lewat si Gigi.

“Cing, jangan bilang ke Bonarman soal yang kukatakan tadi. Sebenarnya aku salut sama kamu. Konsisten.” Aku mengangguk dan menaruh tangan kananku di pundaknya. Lalu kami jalan ke luar dari warung kopi yang terletak di dekat lapangan sepak bola.

Di lain hari, pada waktu ada liputan di salah satu kampung, aku bertemu Tudji. Tidak biasanya si Tudji jadi pendiam seperti itu. Kemana si Bonarman. Kemana pula si fotografer penjual foto walikota itu. Aku jadi curiga.

“Sudah berani liputan sendiri kamu Dji. Katanya takut kalau tidak bareng teman-temanmu.” Tudji tidak jawab.

Setelah kudesak-desak, barulah dia mulai sedikit-sedikit menceritakan permasalahannya. Isi ceritanya kurang lebih sama dengan yang disampaikan Suroso tempo hari.

“Sial betul bang Bonarman, dia suka pakai nama mediaku juga kalau mau ketemu narasumber,” katanya sambil mengumpat.

Aku tertawa terbahak-bahak. “Bukannya itu sudah biasa Dji. Apa kamu tidak kebagian uang dari dia.”

“Masalahnya, dia itu sudah tidak kerja di media. Tapi masih kelayapan cari dana. Kamu tahu sendirilah, Cing.”

Kataku, “tentu saja aku tahu. Makanya aku berani teriak-teriak di balaikota soal bosmu itu.”
Tudji diam saja. Tudji mirip wartawan pemula yang masih culun. “Memangnya enak namamu dijual-jual si Gigi, Dji,” kataku sambil menertawakannya. Akhirnya kami pergi. Dia ke kantor polisi dan aku ke warnet.

Tibalah waktunya rencana memecah belah kelompok Bonarman, pikirku begitu sampai di depan warnet.

Beberapa hari kemudian, aku menemui Suroso dan Tudji agar kalau mengetik berita di warnet tempatku saja. Semula mereka keberatan. Tapi setelah kubilang, teman-temanku semuanya baik dan tidak pelit informasi.

“Aku, Pak Rosyid, dan Prilia juga selalu dapat informasi dari polisi seperti Bonarman itu,” kataku.

Kuceritakan pada mereka bahwa teman-teman di warnet justru lebih jago dan lebih kreatif dalam mengembangkan berita. Tidak melulu berita peristiwa kriminal. Jaringan narasumber anak-anak warnet juga lebih luas, buka cuma di kepolisian, masuk ke semua lini di Gunung Jaya.

Suroso dan Tudji seperti baru dengar pernyataan seperti itu. Kulihat wajah mereka tidak sesuram sebelumnya. Akhirnya kedua teman ini mau kuajak mengetik di warnet.

Sejak itu, mula-mula tiga hari sekali si Suroso dan Tudji mau mengetik di warnet. Lama-lama makin sering. Sampai akhirnya, beberapa teman Bonarman lainnya juga gabung di warnet.

Ternyata, keinginanku ‘mengobrak-abrik’ kelompok Bonarman berjalan mulus. Tidak sampai empat bulan setelah pertemuan besar yang diadakan walikota di balaikota, mereka mencoret nama masing-masing dari grup wartawan polres.

Ada kabar baru lagi setelah wartawan kantor polisi tercerai berai. Aku dapat kabar Bonarman sudah dapat kerjaan baru. Dia kerja di salah satu media bidang ekonomi. Kantor pusatnya di Jakarta. Sebenarnya dia akan dipekerjakan di Jakarta, tetapi entah bagaimana dia beralasan, akhirnya redaksi membiarkan dia bertugas di Gunung Jaya.

Tetapi, kelompoknya sudah tidak eksis lagi. Sebagian besar teman-temannya tidak mau lagi begadang di markasnya. Mereka pindah tempat nongkrong di warnet. Tinggal beberapa wartawan mingguan yang kadang medianya terbit kadang tidak terbit, yang gabung dengan si Gigi.

Keadaan itu betul-betul tidak menguntungkan Bonarman. Dia tidak punya otoritas untuk memaksa teman-temannya kembali ke grup yang pernah dia bangun.

Si Gigi kini bukan lagi wartawan kriminal, melainkan fokus ke ekonomi. Mau tidak mau dia harus belajar lebih banyak tentang permasalahan pembangunan di Gunung Jaya yang merupakan kawasan yang sedang berkembang. Isu soal pembangunan, teman-temankulah yang menguasai.

Sejak dia pindah media, aku berkali-kali menemukannya sedang murung di komplek walikota. Mungkin karena dia sering kebobolan berita penting tentang kebijakan publik. Kalau sudah begitu, pasti dia juga sering dimarahi redaktur.

Dalam keadaan seperti itu, aku yakin dia ingin berteman denganku dan teman-temanku yang biasa liputan tentang permasalahan pembangunan. Tetapi, aku yakin, dia tidak nyaman untuk minta pendapat pada kami. Aku membiarkannya sampai dia yang inisiatif datang bergabung.

2 comments:

eri said...

udah dijajakn gocingnya bos???

Siswanto said...

lagi diedit mulai dari awal lagi di.