Thursday, January 26, 2012

Novel Negeri 5 Menara Terinspirasi Galau

forum.vivanews.com
DI markas Kaskus, gedung Menara Palma, Jalan HR. Rasuna Said, Kav. 6 Blok X-2, Kuningan, Jakarta Selatan, kemarin, Selasa 25 Januari 2012 sore, kita bertemu dengan para tokoh yang berada di balik pembuatan Film Negeri 5 Menara. Sebuah film yang akan segera tayang serentak di bioskop-bioskop Tanah Air pada tanggal 1 Maret 2012.

Siapa saja mereka? Siapa lagi kalau bukan Ahmad Fuadi. Pria berkacamata yang tak lain adalah si penulis novel Negeri 5 Menara. Salman Aristo, seorang penulis yang berhasil menerjemahkan novel Negeri 5 Menara menjadi skenario film. Kemudian, Yovie Widianto, produser Original Sountrack dari film ini. Ikang Fauzi, penyanyi dan suami dari tokoh publik Marissa Haque, yang dalam film ini berperan sebagai Pak Kyai.

Di depan para jurnalis dan anggota komunitas social media yang memenuhi Lounge Kaskus, para seniman itu menceritakan pengalaman masing-masing di balik penggarapan novel yang termasuk ke dalam jajaran best seller di Gramedia dan film yang disebut-sebut akan menjadi film terlaris di awal tahun ini.

Pertama-tama, ada baiknya kita ketahui dulu mengenai apa yang melatar belakangi penulisan buku novel ini dari penulisnya langsung. Ternyata latarnya simpel. “Berawal dari satu kata. Galau,” kata Fuadi yang kemudian disambut ger-geran para pengunjung.
Ahmad Fuadi (showbiz.vivanews.com)

Kegalauan yang dialami Fuadi pada waktu itu terjadi karena banyak sekali impiannya yang belum tercapai. Ditambah lagi, karena sebagai warga negara dirasakannya belum mampu memberikan kontribusi yang nyata dan positif bagi masyarakat Indonesia, padahal  sudah bersekolah jauh-jauh ke luar negeri.

Selain itu, derita galau terjadi karena Fuadi mengaku selalu terngiang dengan pesan guru. Bahwa, “Orang yang baik itu adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Di tengah kegalauan itu tadi, Fuadi kemudian berpikir cukup keras  mengenai bagaimana mencari cara agar menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat bagi orang lain. Di situlah kemudian tercetus ide untuk menulis novel. “Lalu saya nulis. Nulis pengalaman yang berguna ke orang lain,” katanya.

Proses kreatif yang dijalani Fuadi penuh perjuangan yang liku dan cukup panjang. Ia menulis pelan-pelan setiap hari. Dengan tekad yang kuat untuk menjadi orang yang bermanfaat, ditambah dengan dorongan serta bantuan dari istri yang sekaligus sebagai editor. Lahirlah buku Negeri 5 Menara.

“Setelah jadi, saya ketemu Aristo,” tuturnya.

Naskah ditawarkan kepada Aristo, apakah layak menjadi sebuah skenario film. “Walau awalnya sempat ragu, tapi akhirnya jadi,” katanya dan tersenyum.
Kaskus The Lounge (Twitter The Hermesian)

Satu yang selalu tertanam di dalam diri Fuadi dan ini menjadi semacam spirit tersendiri untuk maju. “Man Jadda Wajada.” Artinya, siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Satu hal lagi yang diungkapkan Fuadi. Karya ini pun menginpirasi untuk merealisasikan lagi mimpinya untuk bermanfaat bagi sesama. Ia  mendirikan Yayasan Komunitas 5 Negeri. Yang kini sudah berjalan sekitar satu tahun ini bergerak di bidang sosial kemanusiaan, di antaranya di bidang pendidikan.

Aristo yang duduk bersebelahan dengan Fuadi di kantor Kaskus, yang desainnya disebut-sebut mengadopsi desain Kantor Google dan Facebook, menyampaikan apresiasi kepada novel Negeri 5 Menara ketika disodorkan kepadanya. Setelah melalui permenungan, ia pun mulai mengerjakan penulisan.  Ternyata banyak tantangannya juga. Maklum, ini pekerjaan menerjemahkan esensi buku ke dalam film. Kata-kata tertulis ke dalam cerita peristiwa.

Ia pun membuka rahasia dapurnya. Sebetulnya, kata dia, proses adaptasi dari buku ke film secara teknis, tantangannya sama dari pengalaman sebelum-sebelumnya  ketika menggarap skenario. Tapi ada tantangan lain yang harus dijawab sebagai penulis skenario. “Seberapa sensitif sebagai seorang penulis mampu menangkap esensi dari karya orang lain,” katanya.

Pasalnya, terjadi perpindahan medium, yakni membawa esensi karya sebelumnya menjadi karya baru, dimana esensinya harus tetap merefleksikan karya sebelumnya.

Sementara bagi Yovie, menggarap musik untuk film ini juga merupakan tantangan yang luar biasa. Senada dengan Aristo bahwa sebelum menggarap karya film, kita harus yakin pada skill kita dulu. “Meningkatkan skil dalam bermusik ini penting. Ini bukan sekedar untuk laku di pasar. Laku itu cuma efek saja. Skill ini akan terkait kualitas. Jadi, kita harus banyak belajar, memperkarya ilmu.”

“Film ini tantangan luar biasa. Karena sejujurnya baru pertama kali menangani musik dengan nuansa Arabian seperti ini,” katanya.

“Tapi, buku ini menginspirasi saya untuk terus belajar.”

Yovie mempersiapkan kurang lebih 10 lagu dengan single pertama berjudul “Man Jadda Wajadda" yang dibawakan oleh Yovie dan Nuno.

Nah demikianlah teman-teman. Di kantor Kaskus - kantor yang mendapat banyak pujian dari teman-teman yang katanya seperti berada di taman bermain itu - acara sore itu berjalan lancar. Semoga tulisan pendek ini dapat memberi manfaat dan inspirasi untuk berani berkarya dan berani tampil mengikuti jejak teman-teman di atas.

Mengutip Fuadi: “Man Jadda Wajadda."

7 comments:

Galuh Pramono said...

:)
Foto Pas Di #KASKUSthelounge masukin di Twitternya @TheHermes

Siswanto said...

Siaaap

Widya Usodo said...

kalo nonton besok ajak-ajak ya... hehehe!

Siswanto said...

siap kakak. nanti nobar nyooook... :D

Dede said...

Good Post..

Manfaatkan kegalauan menjadi berguna untuk orang lain.. hahah super sekali si Bang Fuadi.

saya nunggu bnaget nih filmnya.. :D penasaran.

Siswanto said...

Siap. thanks De. Sama nih, penasaran liat karya Bro Fuadi. :)

Iskandar Zulkarnaen said...

Wah.. makasih mas, ma ulasanya saat berada di kantor kaskus hadiri acara bocoran filem negeri 5 menara..

Saya juga sangat ingin kesana tapi saya terlalu jauh di Makassar.

Salam :)