Monday, September 12, 2011

Wartawan Kok Dimintai Amplop

ADA dua wartawan tengah minum kopi di kedai kopi pinggir taman, sore itu. Tiba-tiba, wartawan A berteriak lirih. Ia terkejut setelah membaca artikel berita di Kompas.com melalui link di wall facebook-nya.

Ini artikel yang dibaca oleh si wartawan A itu:

“Sejumlah wartawan yang hendak meliput sumber air bawah tanah Bribin di Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, akhirnya mengurungkan niat untuk mengabadikan sungai bawah tanah dengan debit air 750 liter per detik itu.

Sebab, petugas Satuan Kerja Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak yang bertugas menjaga tempat tersebut meminta sejumlah uang. Untuk turun ke sungai bawah tanah dengan kedalaman 104 meter itu, wartawan diminta membayar Rp300 ribu.  Petugas beralasan, uang itu untuk biaya pengganti solar pengoperasian lift yang digunakan untuk turun ke dalam sungai bawah tanah.  "Kita sama-sama tahu, lah. Ini sudah prosedur," ucapnya.

Awalnya, A bersama dua rekannya meminta biaya Rp300 ribu. Namun, selang beberapa menit, mereka menurunkan biaya menjadi Rp250 ribu sebelum akhirnya turun lagi menjadi Rp200 ribu karena para wartawan merasa keberatan dengan tawaran mereka.

Sungai bawah tanah Bribin merupakan proyek penyediaan air bersih hasil kerja sama antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Jerman melalui Universitas Karlsruhe serta didukung beberapa perguruan tinggi, seperti UGM, UNS, UII, dan ITB.


Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/09/11/19265918/Liput.Sumur.Bribin..Wartawan.Dipungut.Rp.300.000

****

Selesai membaca artikel berita di media online itu, wartawan B ngekek. Tertawa terbahak-bahak. Ia menepuk-nepuk kepala wartawan A. Wartawan A jadi heran, kenapa si B seperti itu. Lantas, ia bertanya. “Kenapa eluuuu….”

Jawab si wartawan B. "Sekarang dunia sudah terbalik".

Wartawan yang selama ini biasa terima amplop dari narasumber ini melanjutkan, “Gile tenan kuwi. Wartawan kok di-86-kan sama petugas hahhaa. Kacauuuuuu. Yang ada, ya sebaliknya,”

Si A baru ngeh setelah itu. “Iya ya, bener kowe ahahahhahhaa. Untung mereka tidak mau, ya” sahut wartawan A sambil tepok-tepok jidat.

NB: Di-86-kan, hanyalah plesetan dari dimintai amplop alias dimintai uang. Klik kamus.






6 comments:

Lutfie Tutor said...

he he baru tau nihh ko bisa yahh?

Said Arsyad said...

sekarang emang dunia penuh dengan uang pelicin sob, rusaklah moral bangsa kita..

Siswanto said...

@Lutfie: hehe kadang2 kiding2 juga begitu tq ya
@Said: betul bro, hampir semua lini seperti ini. mudah2an semakin baik. tq ya

HeruLS said...

hmm, baru tahu bener saya.
Pernah lihat sih foto-foto dari Bribin itu, memang bagus-bagus.

Anonymous said...

So sad...
Hidup kok nunggu dari nunggu amplop...
Sering tuh ke kantor ada wartawan bawa koran terus minta duit...
Ini adalah citra wartawan pada umummya... rubah dong

Siswanto said...

salam kenal abang. tengkyu kunjungannya