Monday, July 15, 2013

Humas Kok Rebutan Amplop

INI kejadian yang jarang ditemui oleh wartawan satu ini. Kata dia, kalau biasanya yang rebutan amplop itu wartawan, ini kok malah humasnya.
Sumber gambar: commons.wikimedia.org

Kok bisa. Begini ceritanya. Waktu itu, ada perusahaan yang sedang meresmikan  proyek pembangunan. Karena ini proyek mercusuar, pihak perusahaan pun mengundang pejabat penting dari instansi A untuk meresmikan.  Tapi ternyata, si pejabat instansi A tak bisa hadir.

Walau sang pejabat tidak bisa hadir, humas tetap saja datang ke acara. Bahkan, ia juga mengajak rombongan wartawan untuk ikut menghadiri peresmian proyek mercusuar tadi.

Sementara peresmian proyek mercusuar pun diwakilkan ke pejabat penting instansi B. Seperti biasa, kalau orang nomor satu di instansi B diundang menghadiri suatu acara, humas sudah pasti ikut dan membawa rombongan wartawan pakai mobil dinas.

Singkat cerita, proses peresmian proyek pembangunan itu pun berjalan mulus.

Tapi ternyata, tidak ada kemulusan pada urusan belakang. Humas instansi A dan instansi B agak bersitegang. Humas B kecewa berat karena seharusnya ini jatahnya dan jatah rombongan wartawan yang ia bawa, mengingat merekalah yang secara resmi diundang untuk menggantikan pihak instansi A yang tidak bisa datang. Kok malah humas instansi A ikut-ikutan datang, sudah begitu bawa rombongan wartawan pula.

Kedua humas pun rebutan pengaruh di depan pihak penyelenggara acara. Sampai-sampai humas instansi A mencatat daftar nama rombongan serta media untuk ditunjukkan ke pihak penyelenggara. Intinya, mereka ingin menguasai dana yang biasa mereka sebut sebagai anggaran komunikasi dan transportasi.

Tapi akhirnya, perang dunia di antara keramaian acara seremonial itu pun dimenangkan si humas dari instansi B. Untungnya tidak sampai terjadi pertumbahan keringat.

Usai acara, masing-masing rombongan pun pulang.  Di tengah jalan, humas instansi B masih ngedumel pada humas instansi A tadi. Sambil ngedumel, ia minta bantuan seorang wartawan lugu  untuk menghitung jumlah amplop yang diserahkan penyelenggara acara tadi.

Ternyata, jumlah amplopnya lebih banyak dibandingkan jumlah anggota rombongan. Gembiralah para wartawan. Tapi, tidak bagi wartawan lugu yang disuruh menghitung amplop. Ia tetap tegar, tidak mau terima amplop. Dalam hati, ia misuh-misuh karena membikin dirinya malu saja.

PENGUMUMAN-PENGUMUMAN!
Klik kategori Etika dan Moral di bar sebelah kanan blog. Di sana ada kumpulan cerita-cerita lucu seputar wartawan amplop, bodrek, juga wartawan yang mencoba tetap idealis.
Kamus Besar Wartawan Amplop

No comments: