Tuesday, February 21, 2012

Apa Yang Ingin Disampaikan Film Negeri 5 Menara?

(Pemain Negeri 5 Menara/Suara Pembaruan)
“APAPUN bidangnya, sudah pasti yang namanya produsen akan bekerja keras untuk mempromosikan produknya agar diterima masyarakat. Demikian pula dengan film Negeri 5 Menara. Sebagai film baru, pembuatnya tentu menerapkan rupa-rupa cara untuk memenangkan hati masyarakat. Padahal belum tentu berisi. Film keren dan mengena itu ya dari Hollywood-lah”

Itu yang menjadi obrolan beberapa teman saya ketika ikut menghadiri undangan nonton screening film yang diangkat dari novel Negeri 5 Menara di bioskop XXI fX Lifestyle X’nter, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu 18 Februari 2012. Bahkan, teman-teman ini makin tidak percaya dengan film itu ketika salah seorang tokoh di balik layar film, yakni salah satu penulis skenario Rino Sarjono, menyampaikan sambutan sebelum pemutaran dimulai. Dalam sambutan, ia memuji-muji bahwa karya ini merupakan karya yang penuh manfaat.

Namun, ketika pemutaran film yang dihadiri komunitas VIVAnews blog (VIVAvlog) dan Kaskus dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, suasana berubah. Beberapa teman yang tadinya sibuk diskusi pun terdiam. Perhatian mereka disedot oleh panorama alam Sumatera Barat dan kehidupan masyarakat di sana, yang menjadi pembuka Negeri Lima Menara.

Film yang diangkat dari novel A. Fuadi ini mengisahkan perjalanan anak desa bernama Alif yang diperankan Gazza Zubizzaretha untuk merealisasikan cita-citanya bersekolah di Pulau Jawa. Hanya saja, apa yang diinginkannya berbeda dengan yang dimaui ibunya. Alif ingin sekolah di SMU Bandung lalu masuk ITB. Sementara, ibunya berkeras agar ia masuk sekolah agama atau pondok pesantren di Al Madani, Jawa Timur.

Dua pandangan yang berbeda, walaupun semangatnya sama yaitu maju dalam peningkatan sumber daya manusia.  Namun, karena masing-masing bersikeras bahwa pikirannyalah yang paling benar, maka bukan kesamaan pikiran yang didapat, justru sebaliknya, konflik. Untung ada orang yang menjadi penengah yaitu ayah Alif.

Peran ayah di sana menyontohkan tentang bagaimana konflik harus disikapi dengan sikap bijaksana. Walau, sebetulnya, ia setuju dengan pendirian ibu Alif bahwa anaknya harus pintar, tapi juga harus taat agama. Namun, cara menyikapinya berbeda dengan istrinya. Ayah Alif punya cara yang tersendiri untuk menawarkan pilihan kepada Alif.

Misalnya dengan pengalaman menjual kerbau di pasar ternak untuk persiapan biaya sekolah. Tradisi jual beli ternak di tempat tinggal Alif adalah dengan berjabatan tangan di balik kain sebelum diambil keputusan. Di balik kain tadi, yang terjadi bukan sekedar jabat tangan, namun berlangsung transaksi. Nah, bila harga sudah disepakati, barulah hewan tadi berpindah tangan.

Ayah meminta Alif merenungkan arti jabat tangan tadi. Kejadian itu mengandung makna bahwa kita harus menjabat tangan dulu untuk tahu berapa nilainya, baru kemudian diputuskan.  Dengan kata lain, kita harus menjalani dulu apapun itu, termasuk sekolah di pesantren, baru selanjutnya mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Atau bisa juga diartikan, jangan berpikir buruk dulu sebelum menjalaninya karena setelah menjalani pengalaman dan wawasan kita akan bertambah luas, sebelum akhirnya membuat keputusan.   Akhirnya, Alif pun memutuskan untuk masuk pesantren Al Madani.

Oh, iya. Beberapa teman penonton saya yang tadinya meremehkan film ini, nampaknya mulai emosional. Mata mereka terlihat berkaca-kaca setelah menyaksikan adegan yang sarat pesan moral tadi.

Adegan film yang membuat teman-teman saya tadi semakin berkaca-kaca ialah saat menyaksikan tulisan “Apa Yang Kau Cari” di tembok Pondok Pesantren Al Madani.  Adegan ini ketika Alif pada akhirnya setuju masuk pesantren. Menurut saya, kalimat itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar yang menuntut kita yang untuk betul-betul mengetahui, memahami, dan mempunyai tujuan hidup, khususnya ketika kita menuntut ilmu. Pertanyaan itu benar-benar menggugat. Rasanya, cerdas sekali penayangan kalimat ini. Pantas saja, teman-teman penonton tadi ingin mewek.

Tak lama kemudian, beberapa teman yang tadinya menganggap film ini tidak bagus, sepertinya semakin tak kuasa membendung air mata. Itu terjadi saat adegan di kelas, Ustad Salman menunjukkan kepada Alif dan teman-teman lainnya tentang esensi belajar melalui pertunjukkan mematahkan kayu dengan sebilah pedang panjang yang sudah berkarat di depan kelas.

Yang ingin ditunjukkan Ustad Salman bukan soal keberhasilannya mematahkan kayu. Tapi, usahanya. Bukan bukan juga soal pedang itu sangat tajam atau karatan yang menentukan apakah kayu tadi putus atau tidak. Namun, semuanya bergantung pada seberapa serius kita bekerja dan berusaha mengerjakannya. Man jadda wajadda. Artinya, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Dan di situlah letak jiwa Negeri 5 Menara yang akan tayang secara serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Maret 2012 itu.

Adegan itu cukup berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Antara emosi tentang rasa penyesalan karena dulu tidak serius belajar dan emosi semangat baru. Dan nampak, air mata terus menetes dari mata  teman-teman saya yang menonton.

Derai air mata teman saya yang selama ini selalu mengagung-agungkan film asal Amerika Serikat semakin tak terbendung. Yaitu ketika masuk ke dalam adegan tentang pesan kebersamaan dan kepolosan serta semangat Alif dan teman-teman  sekamar di pondok pesantren.  Terutama ketika Alif, Said asal Surabaya, Baso asal Gowa, Atang asal Bandung, Dulmadjid asal Sumenep, dan Raja asal Medan saling berkomitmen untuk mengejar cita-cita bersekolah tinggi kelak setelah keluar dari Al Madani. Di bawah Shahibul Menara, mereka mengucapkan lima negara yang menjadi impian mereka. Alif yang sebenarnya masih bimbang dengan pilihan sekolah di Bandung pun kemudian larut dalam semangat teman-temannya.

Film ini tidak melulu menampilkan anak pesantren yang kehidupannya penuh kepatuhan pada orang dewasa. Di sana, ditampilkan juga sifat nakal yang menjadi khas anak-anak sehingga adegan film tidak ada kesan dibuat-buat. Ditambahi unsur kocak, spontanitas, ambisi, serta muncul juga sikap berani menuntut hak. Lalu, digambarkan juga bagaimana respon pimpinan pesantren terhadap anak-anak ini. Walaupun tegas, sikap orang-orang dewasa di pesantren tetap mau menghargai sudut pandang anak-anak.  Dan semuanya tergambar secara alami. Sehingga film ini cukup berhasil menyampaikan pesan bahwa semua orang memang mempunyai kebebasan pribadi, tapi karena kita hidup bermasyarakat, maka tetap harus disiplin dan mengikuti aturan sosial yang berlaku.

Wah, berkali-kali teman-teman saya yang duduk di samping saya terus mengambil tisu untuk mengelap air matanya.

Teman-teman semakin sesenggukan begitu menyaksikan penggambaran perasaan kehilangan. Yaitu ketika salah satu anggota kelompok “Shahibul Menara” yang selama ini sudah banyak ikut suka dan duka, si Baso, memutuskan untuk meninggalkan pesantren karena harus merawat neneknya di kampung.

Tayangan perpisahan berhasil menyentuh emosi. Adegan itu dapat diterjemahkan bahwasannya  kita sebagai anak harus tetap menyayangi dan menghormati orang tua yang telah membesarkan kita. Adegan ini sekaligus juga dapat ditangkap sebagai kritik bahwa sekarang ini, nilai-nilai seperti itu sudah agak luntur. Banyak anak yang suka melawan orang tua.

Sepanjang film, mulai dari pertengahan teman saya terus menangis. Puncak tangis mereka terjadi saat Alif dan teman-teman saling bergotong royong untuk mempersiapkan pentas teater pesantren. Dimana, teater ini sekaligus juga untuk mengenang si Baso. Di sini terasa sekali nilai-nilai kesetiakawanan. Berkat perjuangan yang tak kenal lelah, akhirnya teater berhasil dipentaskan, bahkan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari hadirin, khususnya pimpinan pesantren. Nilai kesungguhan sekaligus perjuangan keras terasa sekali di bagian ini.

Film ini berakhir dengan happy ending, sebagaimana telah diduga. Dimana Alif dan teman-temannya berhasil merealisasikan cita-citanya bersekolah di Negara yang dulu dicita-citakan. Mungkin kritikus film akan mengatakan endingnya kurang greget karena begitu tiba-tiba mereka dewasa dan berhasil sekolah, tapi menurut saya sebagai penikmat film, sudah cukup baik. Karena pesan utama dari film ini sudah tersampaikan.  Man jadda wajadda. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.  Film yang sangat cocok ditonton ayah dan ibu serta anak-anak! tentunya akan memberi pelajaran tentang pentingnya orang dewasa menghargai perspektif anak, kesetiakawanan, ketabahan, mengejar cita-cita, dan taat agama.

Oh iya, setelah film selesai. Plastik yang dibawa teman saya yang awalnya menganggap film ini tidak mengandung pesan apa-apa, ternyata sudah penuh tisu yang digunakan untuk mengelap air mata.

Tulisan lainnya:
Negeri 5 Menara Terinspirasi Galau

5 comments:

Galuh Pramono said...

Untung nggak taruhan nyuci baju smeinggu untuk nagis ato nggak nonton film ini :D

ryu_stik said...

:D hehe..
jadi penasaran mau tonton filmnya..semoga pesan yang disampaikan bermanfaat dan sesuai seperti dalam bukunya..

terima kasih pak dapat bocoran sebelum tonton filmnya..

Nurfahmi Budi Prasetyo said...

Waahh, mantab masbro dh nntn duluan. Gak sabar euy nunggu 1 Maret:)

Siswanto said...

seru bro bri, bisa bikin nangis sekaligus tertawa :D :D :( :(

shanti yulianti said...

subhanalloh kang udah gak sabar pengen nonton filmnya