Monday, October 25, 2010

Bos Media Sumringah Terima Oleh-oleh

ADA salah satu petinggi media yang selalu berteriak-teriak kepada para wartawan untuk selalu meningkatkan citra media. Kesannya, bos ini sangatlah idealis. Menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan lain sebagainya.

Para wartawan di redaksi media pada awalnya sangat segan kepadanya. Mereka berpikir, inilah sosok wartawan ‘sejati’ yang patut jadi cermin. Seorang senior.

Belakangan, kantor redaksi silih berganti kedatangan orang. Pengamat, pejabat, pengusaha, dan lain sebagainya, datang untuk kepentingan masing-masing.

Salah satunya yang menarik terjadi di musim penghujan itu. Datanglah beberapa orang ke kantor redaksi. Ternyata, orang-orang ini datang dari salah satu perusahaan swasta.

Mereka datang untuk silaturahmi sekaligus mempromosikan produk. Mungkin, persahabatan semacam itu juga merupakan strategi cantik perusahaan agar jika kelak mereka kena bermasalah, media ini tidak terlalu banyak mengungkit-ungkitnya.

Usai, ngobrol dan cekakak-cekikik di salah satu ruangan, tamu-tamu itu pamit. Sambil salaman dengan salah satu bos media itu, salah seorang yang kemungkinan besar adalah marketing menyerahkan bungkusan mirip kado seukuran televisi 14 inchi.

Di salah satu kado itu, ada tulisan nama produk-nya. Sumringah betul petinggi media itu setelah menerimanya oleh-oleh. Setelah mengantar tamu keluar pintu, dia buru-buru menyembunyikan kado ke bawah meja kerja.

Para wartawan yang menyaksikan pemandangan itu cuma bisa saling pandang sambil bisik-bisik. “Apa bedanya amplop yang diterima wartawan di lapangan dengan oleh-oleh yang diterima buat bos kita ini yak.”

Kejadian semacam itu di kantor redaksi ternyata tidak hanya sekali itu terjadi.

5 comments:

joe said...

mungkin maksudnya adalah kalau wartawan tidak boleh terima amplop, sedangkan kalau bos boleh. jadi kalau juru warta mau menerima amplop harus menjadi bos dulu...

salam, thanks telah mampir di blog saya ...

Piacerre Sinyorin ☺ said...

hahahah soal 'salam tempel' kaya gitu sih udah hal yang lumrah buat para petinggi ck. ga usah dibingungin lagi yang ada cuma bisa geleng-geleng kepala :))))

ReBorn said...

semakin senior semakin besar amplopnya. ghehehe.

Siswanto said...

Joe: hahaha bro Joe tahu aja... bos mah bukan amplop lg, tapi bantal..

Sinyorin: terima kasih atas pengertiannya ya. wkwkkw

ReBorn: yoa bro, makin senior makin gede bantalnya.

Ferdinand said...

Setuju sama ata.. klo dikalangan petinggi kayanya itu udah lumrah terjadi Sob..... tapi alangkah lebih baiknya klo mau nerima kado.. ya jgn didepan anak buahnya hhe.....

aku ikut Follow(Dj SIte)... maaf telat.. happy blogging...