Wednesday, October 13, 2010

Dosen Pun Di-86-kan

MINGGU itu memang minggu yang kering. Mana tagihan sudah menumpuk. Hari-hari tidak ada amplop yang bisa dibawa pulang. Tapi dasar wartawan hobi amplop, idenya selaaaalu muncul di saat krisis seperti masa itu.

Datanglah si wartawan ini ke rumah seorang dosen. Sampai di rumah yang asri itu, disambutlah dia oleh dosen. Pengajar ini, dulunya adalah dosen si wartawan itu. Dosen ini terkenal suka jahil dan genit dengan mahasiswi.

Kemudian, mereka duduk di teras. Benar-benar mereka langsung akrab. Si wartawan pun tanya sana tanya sini sambil sesekali menyelingi obrolan dengan kelakar garing.

“Bapak ini ngetop, lho,” kata si wartawan yang selama ini dikenal sebagai korlap amplop.

Mendengar pujian itu, si dosen setengah kaget. Untung tidak sampai menjerit.

“Bidang yang bapak geluti sangat menyentuh kemanusiaan dan strategis,” tambah wartawan.

Si dosen tersipu-sipu malu. Lalu ia minum teh manis untuk mengusir perasaan yang bergejolak karena dapat perhatian dari mantan mahasiswanya.

“Sayangnya cuma satu yang kurang saja. Padahal nama bapak bisa melejit,” kata wartawan lagi.

“Ah, adik bisa aja,” kata dosen yang makin termakan rayuan gombal si korlap amplop.

“Betul, pak. Bapak ini kalau sering muncul di koran. Mantaplah nama bapak. Coba lihat abang A, abang B, abang C, mereka sering nongol di koran, namanya besar banget sekarang. Saya sering tukar pikiran dengan beliau-beliau.”

“Aduuuh, apalah bapak ini dik. Sudah cukuplah bapak seperti sekarang.”

“Coba lihat putra putri bapak, pasti bangga sekali kalau bapaknya terkenal,” kata wartawan yang kebetulan melihat foto keluarga lewat kaca jendela.

“Bapak mesti diprofilkan. Atau bapak nanti diwawancara saja biar bisa masuk koran.”

Lalu, sambil kelimpungan dosen bilang, “Ah adik. Silahkan lho, dicicipi dulu masakan ibu dan diminum teh angetnya.”

Posisi si wartawan memang berada di atas angin. Ia memonopoli suasana terus. Singkat cerita, setelah semua pujian dilemparkan ke si dosen sampai dosen serasa terbang, si wartawan pun hendak pamit.

Tapi, sebelum si wartawan pergi, si dosen memanggil-manggil istri yang berada di dapur. “Bu, bu, tadi yang bapak kasih ke ibu mana. Kesinikan dulu, bu.”

Dari dalam rumah, si istri dosen dengan suara agak keras menjawab. “Bukannya untuk belanja ibu, pak. Ini ibu baru mau ke supermarket.”

“Kesinikan dululah, bu, bapak lagi perlu sekali.”

Karena si ibu tak juga keluar dari dapur, si dosen pun segera masuk. Tidak lama kemudian keluar lagi.

“Dik, makasih atas kedatangannya ya. Bapak senang lho dikunjungi,” kata si dosen sambil menyelipkan uang ke kantong celana si wartawan.

Setelah itu, si wartawan pun pergi. Idenya berhasil. Dan si dosen senyum-senyum sendiri. Mungkin dia membayangkan, dalam waktu dekat namanya akan ditulis oleh bekas mahasiswanya itu.

1 comment:

Anonymous said...

wakakakakakak, untung gw gak separah itu.


by dewi athena