Monday, July 26, 2010

Duo Wartawan Pilih Push Up Daripada Ditilang

SUATU hari ada razia kendaraan motor di jalan protokol. Soalnya, belakangan ini, banyak terjadi kasus pencurian kendaraan di kota wisata itu. Berhentilah si wartawati karena diminta minggir oleh polisi lalu lintas.

Nah, di belakang si wartawati, ada dua wartawan yang berboncengan satu sepeda motor yang ternyata juga diberhentikan. Ooohh, rupanya mereka duo wartawan yang sering nongkrong di kantor Dinas Pekerjaan Umum atau kantor Humas, pikir wartawati itu.

Si duo wartawan melempar senyum nakal kepada si wartawati. Tapi wartawati tidak mau menanggapinya, lagipula waktu itu dia harus menjawab pertanyaan polisi dulu.

Sebelum menjawab pertanyaan polisi dan menunjukan SIM dan STNK, si wartawati membuka helm lebih dulu. Ternyata, polisi sudah kenal sama si wartawati.

Karena si wartawati memiliki surat-surat kendaraan lengkap, petugas polisi makin menaruh hormat pada wartawati. Senyum lebar, dilemparkan petugas kepadanya.

Karena sudah dipersilahkah kembali melanjutkan perjalanan, wartawati memasukkan lagi SIM dan STNK-nya ke dompet. Iseng-iseng dia melirik ke arah duo wartawan yang juga tengah diperiksa polisi.

“Mohon izin Ndan (komandan). Saya wartawan pers Ndan,” kata wartawan yang membawa sepeda motor sambil merendah-rendahkan badannya di depan polisi.

Tapi, polisi tidak menghiraukannya. Polisi mengeluarkan buku tilang dari celana. Soalnya, wartawan tadi tidak punya SIM. STNK-nya pun sudah dua tahun lalu mati.

“Aduh Ndan. Mohon izin Ndan. Izin melintas Ndan, kami pers nih,” kata wartawan sambil terus memohon-mohon agar petugas tidak menilangnya.

Karena polisi terus berjalan menuju mobil untuk mencatat pelanggaran wartawan, duo wartawan itu terus berusaha mencegahnya. Mereka sampai mengeluarkan semua identitas yang terkait pers kepada polisi. Ada ID card undangan liputan, ada ID card liputan konser musik, sampai ID card kelompok kerja wartawan kantor polisi.

Tapi, polisi tetap tidak peduli. Akhirnya, dua wartawan bilang kalau mereka temannya si wartawati. “Kita semua mitra Ndan. Mohon ijin Ndan. Kok dia (wartawati) tidak diapa-apain,” kata wartawan.

Kata polisinya, "Sudah-sudah, tidak usah nunjuk-nunjuk orang. Ini surat tilangnya, jadwal sidangnya tolong dilihat.”

"Please, Ndan. Apa kami push up aja Ndan. Mohon perintahnya. Tapi jangan ditilang lah, Ndan," kata wartawan.

Akhirnya, duo wartawan cuma bisa cengar-cengir di pinggir jalan. Mereka pikir bisa lepas dari tilang seperti sebelum-sebelumnya. Tapi, ternyata polisi tetap menilang kendaraan. Sialan, pikir mereka.

Si wartawati tertawa dalam hati. “Rasain kalian, suka aji mumpung sih lo pada. Mentang mentang wartawan, sok kebal hukum.”

3 comments:

criminallanguagelab said...

Wahahaha....
Ini pengalaman pribadi apa gimana mas?
n_nv
Tapi keren ceritanya.
:beer:

Siswanto said...

pengalaman teman teman bro. hahaha

criminallanguagelab said...

waahahah...
sipsipsip...
keren mas.
ditunggu pengalaman teman lainnya....
hohoho