Tuesday, July 27, 2010

Jungkir Balik, Usai 86

ADA seorang wartawan senior yang sudah bertahun-tahun ditugaskan oleh pimpinannya di kejaksaan. Biasanya, wartawan yang sudah sampai tahap demikian, banyak dikenal oleh pejabat setempat, mulai dari tingkat bawah sampai atas.

Wartawan senior satu ini beda dengan yang lainnya. Kalau yang lainnya memanfaatkan kedekatan dengan narasumber untuk berita-berita ekseklusif, sedangkan dia, tidak begitu. Ia memanfaatkannya untuk keuntungan di luar jurnalistik.

Di mata para wartawan yang biasa liputan di kantor itu, si senior ini benar-benar kacau. Meminta uang kepada narasumber bagi dia sudah tidak canggung lagi. Todong sana todong sini, di depan teman-teman, maupun ketika lagi sendirian.

Suatu pagi, tumben dia tidak kelihatan. Padahal ada sidang kasus besar yang sedang berlangsung. Teman-temannya heran. Kemana wartawan senior bersembunyi.

Baru pada siang harinya, dia datang dari parkir mobil. Ia masuk kantor kejaksaan dengan tergopoh-gopoh. Temannya bertanya, “Dari mana bro.”

Si senior tidak menoleh. Baru pada panggilan kedua, dia dengar panggilan rekan-rekannya yang duduk di bangku tunggu. Sambil menoleh, si senior bilang, “Spion mobil gue rusak, mau menghadap bos dulu.”

Rekan-rekan wartawan lain saling pandang. Mereka tidak terlalu kaget. Sudah pasti, si senior mau ketemu salah satu pejabat kejaksaan. Kalau tidak untuk minta uang buat ganti spion, apalagi.

Seperempat jam kemudian, si senior turun dari lantai empat. Dengan wajah sumringah, ia bilang pada teman-temannya. “Lancaaaaaar.” “Sukses.”

Ia turun sambil menari-nari dan memperlihatkan beberapa lembar uang pecahan Rp100 ribu di kantong celana bagian kanannya. Karena saking senangnya, ia lupa sedang turun tangga.

Akibatnya, ia terpeleset dan jatuh terguling-guling. Sampai di bawah, ia menjerit kesakitan. Ikat pinggangnya putus dan celananya melorot. Akhirnya, kejadian ini menjadi tontonan banyak tamu kantor jaksa siang itu.

“Gak papa lu, bro. Yang penting sukses dan lancar, kan yak,” kata temannya sambil cekikikan. “Sialan,” umpat si senior.


No comments: