Friday, December 16, 2011

Kisah Dua Ibu Positif HIV

8 Desember 2011. Udara cerah siang itu. Kami mengunjungi Yayasan Kerti Praja (YKP), Denpasar, Bali. YKP adalah lembaga non-pemerintah. Salah satu aktivitasnya mengedukasi dan menanggulangi sebaran HIV. Saat berbincang-bincang dengan teman-teman aktivis YKP, kami dipertemukan dengan Mbak W dan Ibu P.  Beliau ini dua orang yang telah positif HIV yang menjadi dampingan yayasan ini. 

Mbak W mengenakan kaos putih dengan tas kecil yang diselempangkan ke dada. Ia tampak sehat dan bersemangat.  Setelah duduk di antara kami dan berkenalan, Mbak W tak sungkan untuk bercerita mengenai dirinya dan keluarganya.

Mbak W ini dinyatakan positif HIV tahun 2007. Waktu itu, ia sempat mengalami shock berat. Tapi, ia segera sadar bahwa hidupnya harus terus dilanjutkan. Harus bangkit. Lantas, Mbak W pun memutuskan untuk mengikuti kelompok dukungan sebaya atau biasa disingkat KDS. Di kelompok ini ada forum untuk saling berbagi pemahaman, penerimaan  serta penemuan jati diri. Selain itu, di sana juga ada berbagai informasi mengenai kesehatan.

Singkat cerita. “Saya langsung merasa nyaman,” katanya.

Itulah salah satu manfaat bergabung dengan KDS. Di kelompok ini, terdiri dari Orang Dengan HIV (ODHIV) juga sehingga satu sama lainnya bisa saling berbagai. Kebersamaan inilah yang telah menguatkan Mbak W.

Mbak W ini sudah punya dua anak. Ia terkenang. Waktu itu, ia sangat berharap anak yang dikandungnya tak tertular HIV. Setelah anak itu besar dan di tes darahnya, ternyata positif. Saat bercerita soal anak ini, ia sempat termenung sejenak. Saat ini, anak itu sudah berusia dua  tahun.

Anak keduanya?  “Yang anak kedua belum dites karena usianya baru 1.4 tahun,” ucapnya. Ia berdoa, agar anak keduanya yang manis itu tidak tertular.

Baginya, HIV bukan kiamat. Karena ia tetap dapat meningkatkan kesehatannya agar kekebalan tubuhnya baik. Ia bisa berbagi dengan orang lain, khususnya ODHIV, agar hidup tetap semangat, sehat, dan bermanfaat bagi orang lain. Ia juga berusaha untuk tetap membuat anak-anaknya sehat.

Tingkat ekonomi Mbak W tergolong rendah. Tapi, ia tidak putus asa. Ia bekerja keras untuk menjalani hidup yang memang keras ini. Ia sedikit beruntung karena sampai sekarang masih mendapatkan sumbangan makanan bergizi untuk anaknya dari yayasan.

Maka ketika ditanya harapan. Mbak W mengatakan, “Saya ingin punya usaha sendiri. Biar anak gak sama kayak kita"

“Saya pengennya, jaga anak sebisa saya. Kayak gitu aja.”

Ia menyimpan harapan besar. Menyehatkan anak-anaknya hingga mereka mandiri. Mengantarkan mereka untuk mendapatkan apa yang harus mereka dapatkan.

Sifat Mbak W lebih blak-blakan dibanding Ibu P. Ibu P cenderung pendiam, kecuali ditanya-tanya.  Ibu yang memiliki tahi lalat ini tampak lebih kurus.

“Selamat siang mbak-mbak, mas-mas,” kata Ibu P saat memperkenalkan diri.

Ibu P yang saat itu mengenakan jilbab hitam bercerita. Pertama-tama mengatakan soal tubuhnya yang kurus itu.  “Ini karena saya tidak selera makan,” katanya sambil tertawa.

Lalu, ia pun bercerita tentang HIV itu.

“Suami saya duluan yang kena.”

Awalnya, suaminya terserang sakit. Waktu itu, gangguan kesehatan yang dialami suami Ibu P dikira hanya masalah biasa.

“Lalu kita disuruh periksa darah.”

“Mungkin ada masalah terkait urine. Terus disanggupi aja tes darahnya, biar tahu penyakitnya, kan gitu.”

“Hasil tes darahnya ditunggu sampai lima hari. Lima hari kemudian diberitahu, ternyata positif kena itu.”

Waktu itu, Ibu P sempat pingsan begitu tahu suaminya positif HIV. Ia pikir ini suatu penyakit yang akan segera membuat suaminya meninggal dunia. Padahal masih harus tangung jawab mengurusi anak. Benar-benar, Ibu P, tidak menyangka sama sekali masalah ini akan menimpa keluarganya. Tapi, apa daya.

Oleh petugas, kemudian Ibu P juga disarankan untuk ikut memeriksakan diri secara medis untuk mengetahui apakah dirinya aman. Ia pun ikut saran itu. Ibu P diperiksa di YKP.

“Saya sanggup. Mudah mudahan jangan kena.”

Tapi ternyata saya juga positif,” ujar Ibu P sambil tersenyum.

“Tapi, enggak apa, jalan saja.”

Itu kejadian dua tahun lalu. Namun, Ibu P merasa bersyukur, walau ia dan suaminya positif HIV, empat orang anaknya tidak satupun yang terinfeksi.

Dunia terus berputar mengikuti hukum-hukumnya. Tak ada waktu lama-lama untuk susah. Ibu P bangkit. Harus melangkahkan kaki dan menegakkan kepala.  

Dua perempuan ini sama-sama berasal dari keluarga berekonomi lemah. Walau seperti itu kondisinya, mereka tetap bersemangat. Menjalani hidup sebaik-baiknya. Menghargai dan mensyukuri setiap kesempatan yang dijalani bersama keluarga.

Pada kesempatan pertemuan itu, sebetulnya saya ingin menggali lebih banyak sisi-sisi human interest kedua perempuan kuat ini. Mengungkap lebih banyak semangat hidup mereka agar menginspirasi semua orang. Tapi sayang, waktunya sangat terbatas karena rombongan kami yang didampingi AusAID dan VIVAnews.com harus segera kembali ke Jakarta. Usai bincang-bincang, kami menyalami Mbak W dan Ibu P. Kami saling mendoakan sebelum pamit.

CONTACT

KERTI PRAJA FOUNDATION 
Jalan Raya Sesetan 270 Denpasar
Bali, Indonesia 80223
Ph. +62 361 728916, +62 361 728917
Fax. +62 361 728504

Dr. Dewa N. Wirawan
Director
ykpdps@dps.centrin.net.id
Mobile. +62 0811 394306

A.A. Raka
Relife Coordinator
ayu.ajiykp@gmail.com
Ph. +62 817 066 3814

Bacaan penting lainnya:
Bila 3,2 Juta Blogger Turun Tangan Cegah HIV
Djenar: Teman-teman ODHIV Penulis Hebat
Oz Awards Indonesian Bloggers For AIDS Awareness
Siapa Tiga Penulis Pilihan AusAID

8 comments:

juanx criex said...

sebuah harapan besar bagi penderita HIV hanya sebuah kehidupan yang bisa di pertahankan.semoga yan Kuasa memberikan dan mengabulkan doanya mbak W.
sebuah kisah menarik gan
di tunggu kunjungan baliknya.

Siswanto said...

semoga bro. dukung kampanye penanggulangan hiv/aids ;0 matur nuwun yo

endha said...

ketika harapan itu di ucapkan , maka sebuah do'a itu terlontarkan, semoga beliau beliau tetap kuat, dan terus semangat menjalani hidup ^_^

peri pardona said...

tetap semangat buat mbk'2...
niat yang baik akan menimbulkan semangat yg baru...

Siswanto said...

terima kasih. tetap semangat. mari mendukung kampanye penanggulangan hiv dan penghilangan diskriminasi dan stigma pada teman teman ODHIV :)

terapi qolbu said...

bahwa hidup merupakan hasil anyaman dan tenunan pasitif dan negatif terus menerus itu yang harus kita pahami. jika sakit kita cenderung menendangnya dan hanya menginginkan sehat, kita masih belum bisa melihat sehat dan sakit merupakan rangkaian hidup. sama seperti penderita hiv mereka seakan-akan tidak diinginkan, padahal itu adalah bagian dari hidup. karena mereka kita lebih mengerti arti kesehatan .

Siswanto said...

sangat setuju :) terima kasih

Ejawantah's Blog said...

Sebuah cerita dan harapan dalam kisi kehidupan yang seringkali tidak dipedulikan dalam kehidupan. Semoga dengan diangkatnya cerita ini dapat membantu pola pikir masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS.

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog