Tuesday, January 18, 2011

Insiden di Lapo

SEHABIS liputan siang itu, sejumlah wartawan langsung berkumpul di salah satu lapo. Mereka agak lemas. Di tempat makan ini mereka saling menukar berita atau istilahnya kloning-kloningan.

Salah satu wartawan tampak ribut. Tahu enggak siapa panggilan anak ini? Dia paling senang dipanggil Ronaldo. Entah apa maksudnya. Tapi teman-temannya justru memanggil Brawok.

Si Brawok yang dikenal agak telmi itu bertanya ke salah satu teman, si Malikin. Dia menanyakan kesimpulan hasil wawancara narasumber tadi.

Setelah dijawab, si Brawok tanya lagi nama jabatan narasumber. Kemudian, bertanya lagi soal umur. Lalu, minta dikasih tahu lagi soal tempat acara tadi berlangsung.

Awalnya, setiap kali bertanya, si Malikin menjawab terus. Lama-lama, karena si Brawok bertanya tak henti-hentinya, si Malikin jadi kesal.

“Loe nanya mulu. Padahal tadi wawancara bareng,” kata si Malikin dengan wajah kusut.

Si Brawok menjawab, “Iya, gue lupa euy.”

Si Brawok menambahkan, “Namanya siapa???”

Si Malikin bilang, “Loe lihat aja tuh amplopnya. Biasanya ada nama orangnya tuh.”

"Amplop? Emang ada? Asyiiikkkk," jawab Brawok. "Tapi, kayaknya kagak ada jale tadi."

Jawaban si Malikin dan reaksi si Brawok ini diketahui oleh teman-teman lain. Lalu mereka ger geran. Si Malikin lagi kesal bukan main. Liputan tadi benar-benar ‘kering,’ eh si Brawok yang suka datang terlambat liputan itu, bertanya-tanya terus macam anggota polisi saja.

2 comments:

criminallanguagelab said...

wehwehwewhewh.....
korlap yang baik...
:))
Asas keterbukaan...

Siswanto said...

ehhehe. maka jadilah kamu korlap