Friday, January 7, 2011

Kau Tolak Jale, Jatahmu Kuambil

NAMANYA Aa Dudun. Entah mengapa dia suka sekali dipanggil demikian. Mungkin karena kebiasaan di daerah asalnya seperti itu, jadi ketika dipindah tugas liputan ke pusat kota, masih kebawa-bawa.

Sebagai wartawan daerah yang baru dapat penugasan liputan di instansi baru, Aa Dudun harus mencari teman wartawan lain yang sudah mengenal medan. Kalau bisa, koordinator wartawan, karena biasanya bisa menjadi sumber informasi bila ada acara-acara penting.

Setelah beberapa hari aktif di instansi itu, akhirnya Aa Dudun pun bisa berkenalan dengan salah satu korlap. Dengan cepat Aa diterima di lingkungan itu.

Selanjutnya, Aa selalu mendapat sms berisi info-info acara dari korlap. Hingga suatu waktu, si AA ditawari amplop oleh korlap usai acara yang diselenggarakan pejabat instansi itu.

Korlap: "Nih jatah lo Aa, mau ga..."

Aa Dudun: "Wah ga bang, makasih..."

Korlap: "Oke jatah Aa buat abang yah..."

Aa Dudun: "Ambil ajah, tapi kalo ada info-info acara jangan lupa SMS Aa."

Senang betul si korlap hari itu. Dapat limpahan jatah amplop dari si Aa Dudun. Aa Dudun sih tidak peduli soal begituan, bagi dia yang terpenting dapat informasi-informasi liputan yang bagus agar berita untuk redaksinya juga baik.

Di lain hari, si korlip tiba-tiba menelpon Dudun. Dia bilang ada acara bagus. Dia menawari si Aa untuk ikut rombongan pejabat ke luar daerah. Kebetulan hari itu ada sidak.

Sebenarnya isunya bagus dan si Aa berpikir sayang juga kalau acara itu dilewatkan. Namun karena jauh, si Aa memutuskan tidak ikut. Lagi pula, ada liputan lain yang harus dia kejar.

Menjelang keberangkatan rombongan sidak, si korlap menelepon lagi. Dia merayu Dudun agar ikut. Tapi, tetap ditolak Aa.

Lama - lama Aa Dudun menaruh curiga. Kenapa si korlap sampai mendesaknya seperti itu. Lalu dia bertanya kepada korlap, media apa saja yang ikut ke dalam rombongan sidak.

Korlap mengaku mendapat mandat untuk mengerahkan sejumlah media besar untuk meliput. Karena saat itu, tidak ada media besar yang mau ikut. Karena si Aa Dudun tetap memilih tidak mau, si korlap bilang begini.

Korlap: "Tapi nama Aa tetep gw tulis yah? nanti gw kirim releasenya aja."

Aa Dudun: "Terserah lo dah."

Korlap: “Aa memang baik deh. Aa kan gak mau nerima (amplop), kan yah. Makasih yah.”

Belakangan, ternyata korlap juga bersikap seperti itu ke sejumlah wartawan yang tidak mau ikut rombongan sidak.

2 comments:

criminallanguagelab said...

wehwehwehweh......

iwan slow said...

parah parh emang tuh korlap