Thursday, May 22, 2008

Nostalgia

Kemarin, ada kejutan. Aku dan nenekku bisa ngobrol lagi. Kami ngobrol lewat telpun. Sudah lama sekali kami tidak bercakap-cakap. Mungkin sudah empat tahun. Nenekku bertanya seperti sedang menginterogasi dan aku memakluminya. Keingintahuan perkembangan pencapaian cucunya pasti melebihi apapun di dunia ini.

Aku ceritakan tentang kemajuan yang sudah kuperoleh. Dan aku katakan apa saja alasanku tidak menelpunnya selama ini.

Aku senang sekali saat itu. Nenekku mencoba mengajakku ke masa lalu. Misalnya diceritakan tentang kebiasaan-kebiasaanku semasa kecil. Yang bandel dan nakal. Aku terseret sebentar ke jaman dulu.

Jaman ketika aku masih hidup bersama dengan dia di kampung. Tiap hari aku makan masakannya yang sederhana dan bersih, mencari rumput buat kambing nenekku yang jumlahnya banyak sekali. Berenang di sungai, mencuri uang nenekku dan lain sebagainya.

Tapi, sekarang umurku sudah 28 tahun. Hampir semuanya sudah berubah. Cara bercakap-cakap kami juga sudah berubah. Cara berpikir berubah. Mungkin akan sulit mengulang masa itu lagi.

Nenekku sekarang masih seperti dulu. Memelihara kambing yang jumlahnya makin banyak. Mencari rumput dan bergotong royong membungkus tempe dengan embah-embahku yang lain. Mungkin cara berpikir dan pengetahuannya masih seperti dulu. Dia tidak banyak terlalu terlibat modernisasi. Modernitas tidak berdampak pada orang seperti nenekku.

Yang ada dalam pikiran embahku mungkin begini. Hidup saling bertetangga, membantu sesama tanpa mengharakpkan pembayaran, semuanya sukarela. Senang susah yang penting bisa saling membantu satu sama lain. Sederhana dan mendalam cara pandang nenekku.

Mau mencari filsafat hidup seperti itu di Jakarta. Tidak mungkin. Sulit menemukannya. Maka, beruntunglah nenekku menetap seumur-umur di kampung halaman. Tidak perlu berlomba-lomba mencari laba, tidak perlu bersaing mengejar karier, tidak memikirkan hak gaji, hak kesehatan, hak libur. Sebab, semuanya diatur sendiri.

Nenek membuatku iri. Meskipun aku tahu, wawasanya tentang ilmu pengetahuan lebih sempit dibandingkan kami di Jakarta. Misalnya, dalam hal melihat peluang-peluang pekerjaan, peluang nasib dan sebagainya.

Tapi, nenek tetap eksis hingga kini.

No comments: