Tuesday, May 27, 2008

Sudut Pandang Tentang Media Portal

Aku mempunyai sahabat bernama Rena. Dia alumni Unpad konsentrasi studi jurnalistik yang menyatakan mempunyai perhatian khusus terhadap perkembangan media berbasis internet di Indonesia atau sering kita sebut media portal.

Suatu pagi di Jakarta, kami online dan berdiskusi mengenai perkembangan media semacam ini. Dia menyoroti dari segi pendalaman terhadap sebuah masalah yang dipublikasikan. Bahwa di Indonesia, media portal belum menggarap dari sisi itu.

Yang terjadi sekarang adalah pengemasan berita yang mempunyai kecenderungan hanya menyampaikan laporan bersifat sepotong atau kering alias tidak investigatif. Dia mempunyai kesimpulan bahwa karakter pemberitaan media portal di Indonesia hanya sifatnya informasi judul. Maksudnya, sekedar melaporkan judul.

Pendapat teman ini benar. Penggarapan redaksi di mediaku misalnya, sejauh ini belum terlalu melihat dari sisi indepth. Hampir semua laporan sifatnya breaking news. Sepotong-potong dan tidak terlalu lengkap. Malah aku menyebutnya, media yang sangat terburu-buru dalam penyajian berita.

Meskipun sebenarnya, pemikiran untuk menghadirkan berita-berita mendalam atau tulisan yang panjang memang selalu ada. Buktinya, sudah ada kanal liputan khusus. Cuma memang kanal ini yang menggarap belum wartawan redaksiku sendiri, melainkan tulisan dari media sinergi kami.

Hal itu yang menjadi perhatian sahabatku itu. Dia pernah bertemu dengan teman-teman jurnalis dari sejumlah negara dan mendiskusikan masalah pencapaian media online di dalam negeri. Konsep media portal di Indonesia yang sekarang ini, sebenarnya sudah ditinggalkan oleh redaksi-redaksi di sejumlah negara yang sudah lebih dulu menyelenggarakan bisnis semacam ini.

“Wartawan online Indonesia terkesan hanya mengejar kekinian peristiwa unsur standar 5 W 1 H memang terpenuhi, tapi hanya terpaku di situ. Tidak ada kedalaman dari segi peristiwa yang dikabarkan. Berbeda dengan media online di negara lain, yang tidak lagi hanya mengandalkan kekinian atau kecepatan menyampaikan berita,” kata temanku yang bekerja di DAAI TV ini.

Di sana sudah menggarap teknik berita mendalam. Soalnya, kebutuhan pembaca dan pembaca potensial di negara-negara itu sudah di level informasi yang lengkap. Mereka menyukai dunia membaca.

Dalam pikiranku saat ini, masyarakat di Indonesia belum begitu familiar dengan internet. Memang, sudah beberapa tahun terakhir, utamanya di kota-kota besar sudah gampang mengakses jaringan internet.

Namun, sebagian besar penduduk, belum memahaminya. Bukan itu saja, ada karakter pembaca yang sudah dapat menjangkau internet, mereka suka membaca berita pendek-pendek dan informatif saja sekedar memenuhi keingintahuan.

Karena itu, redaksi-redaksi media online belum menseriusi penggarapan berita mendalam di media portal.

Pikiranku mengatakan bahwa ini baru masanya penyajian informasi yang pendek-pendek atau yang inti saja. Aku optimis nanti akan berkembang menjadi lebih mendalam, mengikuti karakter pembaca.

Tapi, menurut Rena, argumentasiku itu masih bisa diperdebatkan. Internet sudah cukup lama dapat mengakses jaringan berita di internet. Artinya, sebenarnya internet sudah cukup familiar. Jadi, singkat ceritanya, jurnalistik online masih payah dan cenderung memberikan pembenaran atas kekurangannya ini.

Aku setuju dengan argumentasinya. Tapi, kondisi riilnya ternyata tidak sesederhana itu. Idealisme seperti yang pernah kutelan tiap hari di sekolah jurnalistik, sepertinya tidak terlalu berlaku.

Dulu, di bangku kuliah, aku dan teman-teman juga dosen sering membahas soal bagaimana menyajikan berita yang mendalam dan sesuai kode etik jurnalistik.

Bahwa berita itu harus lengkap. Wartawan memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan pembaca. Wartawan tidak boleh membuat opini dalam menulis berita. Media itu harus ekstrim, idealis dan independen. Tidak boleh menyuarakan kepentingan pemilik modal saja. Macam-macam bahwa media massa harus bebas nilai, kami bahas.

Kenyataannya, media itu sebenarnya bisnis untuk mencari laba dan kepentingan eksistensi pihak tertentu yang memiliki akses dan kepentingan. Media itu dimiliki oleh beberapa orang. Pemerintah, militer, pemilik modal.

Singkat cerita, mau berbicara mengenai idealisme. Sulit. Wartawan-wartawan terbaik di Indonesia, menurutku, sekarang ini lebih berorientasi untuk menghidupi keluarganya daripada di luar itu.

Karena itu, sekarang ini sering terjadi rotasi wartawan dari satu media ke media lain. Motivasinya, antara lain untuk mendapatkan gaji yang lebih besar dari tempat kerja sebelumnya.

Ini yang ditangkap para pemilik modal, mereka akan direkrut dengan bayaran tinggi supaya nanti bersedia menggarap bisnis media sesuai tuntutan pemodal atau pemilik otoritas.

Seperti di media tempat kerjaku, misalnya. Wartawan dituntut memberikan laporan sebanyak-banyaknya, soal kualitas itu nomor dua. Wartawan dituntut oleh redaksi. Redaksi dituntut pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi dituntut oleh pemilik modal. Saling menuntut, saling menggencet.

Tujuan pemilik modal adalah untuk sukses dalam berbisnis. Aku juga baru tahu bahwa ukuran sukses ditentukan oleh perusahaan analisa, namanya Alexa. Makin traffic kita memuncak, berarti jualan berita kita laku keras. Kalau jumlah page view banyak sekali, maka itu bisa mendatangkan iklan dalam jumlah yang banyak pula.

Jualan media online adalah judul berita. Apabila pembaca sudah mengklik judul, berarti sudah menyumbang angka page view tadi.

Kembali ke diskusiku dengan Rena. Cerdas sekali, tadi Rena mengatakan bahwa konsep media online di Indonesia itu hanya judul saja.

Tapi, aku optimis, pembaca akan berkembang menuntut berita yang berkualitas. Minat baca pasti akan bertambah. Kalau sudah begitu, media-media online tentunya akan mengikuti kecenderungan karakter pembaca Indonesia.

1 comment:

redrena said...

Perubahan itu tetap harus dilakukan. Sekecil dan sesulit apapun. Karna saya percaya manusia cukup cerdas untuk keluar dan mendapatkan jawaban dari sekadar debat soal idealisme dan urusan perut.

Dan ini tidak hanya berlaku bagi wartawan online, tapi juga untuk siapapun yang menyandang label wartawan di pundaknya.

rena