Sunday, August 15, 2010

Wartawan ‘XX Muda Terus’ Antri Amplop 2 X

SEORANG WARTAWAN muda usia terheran-heran ketika menyaksikan pemandangan yang tak biasa. Kala itu di akhir pekan. Di salah satu kantor humas sedang digeruduk para wartawan bodrek atau nama bekennya di lingkungan itu para 'Kapsul.’

Saking banyaknya wartawan bodrek yang terus berdatangan, membikin staf humas kuwalahan. Bahkan, sampai menutup pintu humas agar si kapsul tak rebutan masuk. Humas mintanya agar mereka itu tertib antri untuk ambil jatah mingguan.

Pokoknya, pemandangan di sana sudah seperti warga mengantri bantuan langsung tunai (BLT).

Di antara aksi saling desak-desakan, ada wartawan yang bilang begini. "Coba kau lihat koran ku lae, aku sikat itu orang-orang (pejabat di kantor humas ini), ini BB-nya (barang bukti), biar nanti menghadap langsung cair."

Makin lama, ternyata wartawan datang terus. Antrian semakin panjang sekali. Sebagian sudah tidak sabar. Soalnya, jatah uang Rp50 ribu itu pun tak kunjung didapat.

"Pak tolong jangan dorong-dorong terus nanti pintu kacanya bisa pecah," pinta si staf humas yang bertugas membagikan jatah.

Tibalah waktu yang sangat dinantikan. PEMBAGIAN alias PENCAIRAN. Situasi makin tidak kondusif. Aksi dorong mendorong pun tak terhindarkan.

Suasananya bukan lagi mirip pembagian BLT. Kini, mirip pembagian zakat yang kerap kali ricuh.

Di antara wartawan itu, ada yang curang. Setelah dapat jatah, mereka kembali berdiri mengantri sambil mempertontonkan rompi bertuliskan pers dan macam-macam nama media yang hampir tidak bisa ditemukan di loper koran.

"Lae, aku sudah dapat jatah, pinjamlah rompi kau, aku mau antri lagi, mana cukup kalau hanya Rp50rb saja," kata si salah satu wartawan sambil berbisik-bisik kepada kawannya.

Namun sialnya, saat kembali mengantri, salah satu staf humas menyadari jika beberapa wartawan itu sudah dua kali mengantri. "Lah bukannya bapak sudah dapat tadi," tanyanya.

"Itu tadi media saya XX, kalau antrian yang sekarang XX Muda," ujarnya dengan logat daerah.

Dengan pasang muka kesal, staf humas itu cuma bisa pasrah dan memberikan selembar uang lagi kepada wartawan bodrek itu. "Nanti kalau ngantri yang ketiga sekalian aja tambahin medianya jadi 'XX Muda Terus," ujarnya ketus.

Si wartawan muda yang sejak tadi menonton peristiwa itu, akhirnya pergi pelan-pelan. Ia takut kalau-kalau terjadi aksi anarkis di kantor humas itu.

5 comments:

fitri said...

wartawan XX, apa tuh???hahhaaa...di sensor ya mas...*blognya bagus, aku iri..huhhh... :P

Siswanto said...

weeee, jangan belajar dari isi blogku ya. awas lho. wkwkwk

Anonymous said...

mas...xx tua nya blm ambil lho mass...

Siswanto said...

nyusul minggu depan ya. wkwkkk. jatah udah abis

sutaryo said...

untung saya bukan wartawan.
cuma pedagan kecil2an spt di bawah ini;

1. SARANG SEMUT PAPUA
2. MADU ALAM SUPER
3. NAME CHEMISTRY
4. FOTO JADI KARTU LEBARAN
5. UMROH, HAJI & INVESTASI
6. REKLAME & PERCETAKAN
7. PRIVAT ENGLISH & SERTIFIKAT
8. FREEWARE – SHOPPING CART
9. FREEWARE - MESIN EMAIL
10. KURSUS GRATIS
11. IKLAN BONAFID
http://www.sutaryo.net/promosi.htm